TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 105


__ADS_3

Riuh tawa memenuhi taman lavender milik Ratu Chamakadaar. Terlihat Braheim dan raja dari tujuh benua tengah saling melempar kelakar. Sejak kabar tentang Raja Arshaq yang jatuh sakit setelah diserang beruang menyebar, ketujuh raja pun berinisiatif menjenguk meski sadar tengah berkonflik. Sejujurnya para raja tidak pernah benar-benar berkonflik. Sebab bukan sekali dua kali mereka berniat menghancurkan benua satu sama lain namun pada akhirnya malah berpesta Goan Feni* sampai pagi.


Goan Feni* adalah minuman beralkohol yang hanya diproduksi di Goa, India. Goan Feni dibuat dari getah kelapa atau apel mete dan kandungan alkohol di tiap botolnya mencapai 43-45%.


"Saat Kumari Kandam tidak lagi mengekspor ikan makerel, aku benar-benar sudah kehilangan kesabaran. Tak terhitung sudah berapa kali aku mengunjungi istana prajurit dan menanyakan berapa persen kesiapan mereka untuk berperang." Raja Padachihn terbahak.


Raja Arshaq ikut terbahak. "Demi Tuhan hanya karena ikan makerel dan bukan Devraaj Narvinder."


"Aku pun selalu datang ke menara untuk membelai meriam Garjan saat tahu Jvaala tidak lagi mengekspor ambalnya."


"Bagaimana kita bisa melakukan hal yang sama?" Raja Jvaala menimpali Raja Garjan.


"Padahal seharusnya kita memikirkan kehebohan yang baru-baru ini dibuat pemimpin suku pengembara dan bukan malah sibuk saling tarik-menarik."


Raja Hathelee mengangguk-angguk menimpali Raja Shushk. "Berbicara soal pemimpin suku pengembara. Bukankah dia hanyalah iblis? Mustahil orang mati bisa bangkit kembali."


"Sejak awal kemunculannya aku sudah yakin jika dia hanya penjiplak. Kasihan sekali si tukang pamer itu. Dia pasti sangat jengkel tetapi hanya bisa menonton sambil menerima suapan anggur dari para bidadari."


Raja Lagaam tersenyum menangapi Braheim. "Aku pun tidak percaya. Bangkit dari kubur adalah berita paling konyol melebihi berita Ratu Chamakaadar yang mengandung entah an--"


"Jangan lanjutkan atau aku pun akan mulai membelai meriam Chamakaadar."


Spontan ketujuh raja tertawa bersamaan mendengar kelakar Raja Arshaq.


"Bayangkan jika dia yang akan menjadi musuh kita dalam perang kebinasaan. Dengan kekuatan sedahsyat itu kita semua pasti akan benar-benar binasa."


"Belum lagi jika dia membawa pasukannya," timpal Raja Padachihn pada Raja Lagaam.


"Kita biarkan saja selama dia tidak membuat onar."


Ketujuh raja mengangguk menyetujui apa yang baru saja diusulkan Raja Shushk.


"Jujur saja aku sedikit berharap dia tidak akan menjadi musuh tetapi bantuan yang dikirimkan Dewa Krpaya* untuk membantu kita memenangkan perang kebinasaan."


Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.


Ketujuh raja berganti mengangguk menanggapi Braheim.


"Daripada itu, apa ada yang pernah bertemu langsung dengan dia selain Raja Arshaq dan aku?"


Raja Hathelee dan Raja Jvaala mengangkat gelas alkoholnya, bukan untuk bersulang atau meminta diisi ulang oleh pelayan melainkan untuk menjawab tanya Raja Garjan.


"Jadi bagaimana pendapat kalian setelah bertemu langsung dengannya? Atau, bagaimana pendapat pengawal bayangan kalian?"


Braheim, Raja Padachihn, Raja Shushk serta Raja Lagaam hanya melihat ke arah satu sama lain, memberi kode jika mereka pun tak memahami maksud pertanyaan kedua dari Raja Garjan.

__ADS_1


"Sorot matanya sangat angkuh, seperti merasa bahwa dirinya setara dengan Allah."


"Dan pengawal bayanganku meminta izin untuk menyerangnya." Raja Hathelee menimpali Raja Jvaala.


Braheim dan ketiga raja kembali diam, namun kali ini tanpa bisa menikmati isi gelasnya. Siapa pun yang memiliki pengawal bayangan pasti tahu arti dari mereka yang meminta izin untuk menyerang. Benar, makhluk supernatural yang jahat ada terlalu dekat dengan tuan mereka. Pengawal bayangan memang tidak akan muncul tanpa seizin tuannya, namun lain cerita jika dalam kondisi yang sangat mendesak. Tanpa izin tuannya sekali pun, mereka akan menampakkan diri dan bertarung sampai mati.


"Jujur saja aku hampir memberikan izin. Tapi tiba-tiba saja aku teringat Devraaj Narvinder. Hanya dia satu-satunya lawan yang seimbang."


"Benar. Memberi izin hanya akan membuat kita kehilangan para pengawal bayangan," sahut Raja Garjan pada Raja Arshaq.


Pembicaraan yang tak banyak diketahui orang itu terus berlanjut sampai tak terasa terik sang surya mulai menghangat, dan sampai Penasihat Raja Arshaq datang dengan napas tersengal-sengal.


"Ada apa?" tanya Raja Arshaq.


"Ada surat dari Kumari Kandam, Yang Mulia. Surat itu diberi stempel darurat."


Raja Arshaq mengangguk, dan Penasihatnya buru-buru menyerahkan gulungan surat itu pada Braheim. Braheim pun langsung membacanya, setelah menenggak isi gelas terakhirnya.


...Panjang umur, dan terberkatilah selalu matahari Kumari Kandam....


...Yang Mulia, mohon segera kembali....


...Pemimpin suku pengembara muncul di Kumari Kandam dan putra Komandan Haala kembali menangis....


BRAK


...•▪•▪•▪•▪•...


Perjalanan penuh debaran itu pun berakhir, gerbang Kerajaan Kumari Kandam akhirnya terlihat. Sesaat setelah kereta kuda itu melewati gerbang utama dan sepenuhnya berhenti, Braheim langsung berlari ke istana baru* dengan diekori ketujuh raja. Tidak ada tangis yang terdengar di sepanjang perjalanan menuju kamar tidur Vinder. Entah karena Vinder sudah berhenti menangis atau suara tangisnya yang kembali dikuras habis oleh sang waktu.


Istana baru* istana yang diperuntukkan Braheim khusus untuk Haala dan Vinder. Istana baru dibangun tepat di samping istana selatan*.


Istana selatan* merupakan istana di mana raja tinggal dan melakukan segala aktivitas yang bersifat pribadi. Istana ini dibangun di atas lahan seluas lima ratus hektar. Meski demikian hanya istana tersebut satu-satunya bangunan yang ada di sana. Selebihnya, istana selatan hanya ditanami pohon bambu.


Setelah memasuki kamar beraroma kamomil itu kini Braheim tahu jawabannya. Benar, yang kedua. Suara Vinder habis setelah menangis selama dua jam penuh. Segera Braheim pun mengambil Vinder dari gendongan Kepala Pengurus istana baru. Braheim memeluk Vinder, mencoba menenangkannya tanpa berani menatap. Jelas saja. Memang siapa yang berani menatap mata polos berderai air mata dengan wajah merah dan bibir kecil yang menganga tanpa suara?


"Jelaskan situasinya."


Murat membungkuk pada Braheim. "Sayee baik-baik saja, tapi tidak ada yang tahu kondisi Aryesh Farorz karena portal suci tiba-tiba menghilang, Yang Mulia. Lalu semua suku pengembara ditemukan tewas di Baadal*."


Baadal* adalah salah satu danau keramat di Kumari Kandam. Konon Baadal dijaga oleh ikan raksasa bernama Ghinauna. Mereka yang berendam di Baadal akan disucikan dari sisa perbuatan kotor manusia, sisa makanan serta minuman haram, atau racun yang mengendap di tubuh. Namun Ghinauna dikenal tidak ramah, sehingga hanya sedikit sekali orang yang bisa berendam di sana.


Braheim tampak terkejut, begitu pula dengan ketujuh raja.


Braheim menoleh pada Jihan yang duduk di depan meja rias. "Lalu kenapa kau keluar dari portal?"

__ADS_1


"Karena hamba sudah selesai menggali, Yang Mulia. Liang lahad Daxraj Natesh berisi jasad orang lain," jawab Jihan.


Lagi. Lagi-lagi Braheim dan rekan-rekannya terkejut bersamaan. Namun Braheim mengesampingkan masalah itu dan fokus mencari penyebab tangis Vinder.


"Jadi siapa di antara Aryesh Farorz dan sukumu, hm?" Braheim mengusap-usap punggung Vinder yang bergetar hebat.


"Hamba yakin Aryesh Farorz baik-baik saja, Yang Mulia. Hamba terus memantau kondisinya. Meski perlahan, setiap hari dia semakin membaik. Jadi bukan Aryesh Farorz penyebabnya."


"Hamba setuju, Yang Mulia. Mungkin penyebabnya ada pada suku pengembara. Sebagian besar jasad mereka masih di Baadal. Cukup sulit melakukan evakuasi karena Ghinauna terus menampakkan diri. Sampai sekarang saja baru sembilan jasad yang berhasil dievakuasi," timpal Murat pada Jihan.


"Benar begitu? Hm? Kau menangis karena sukumu?" Braheim masih mengusap punggung Vinder.


"Raja Braheim, kurasa penyebabnya memang karena suku pengembara yang telah tewas. Mungkin dia menangis karena sedang berduka." Raja Shushk ikut mengusap punggung Vinder.


Raja Hathelee mengangguk menanggapi Raja Shushk. "Benar, sepertinya dia memang sedang berduka. Tapi kurasa ada yang diinginkannya, Raja Braheim. Dia hanya tidak bisa mengatakannya karena masih sangat kecil."


"Daripada menduga-duga, akan lebih baik jika menguburkan mereka terlebih dahulu, Raja Braheim."


Spontan Braheim menoleh pada Raja Lagaam. "Itu dia. Yang diinginkan orang yang sedang berduka adalah agar jasad orang yang mereka kenal segera dikebumikan dan didoakan." Braheim menyerahkan Vinder pada Kepala Pengurus istana baru. "Murat."


"Beri hamba perintah, Yang Mulia."


"Segera kremasi jasad suku pengembara dan kumpulkan semua orang di Dhoosar*."


Dhoosar* merupakan sungai yang sejak beratus tahun lalu dijadikan tempat pemakaman khusus orang-orang yang berjasa untuk Kerajaan Kumari Kandam.


"Mereka tidak dikremasi, Yang Mulia. Mereka dikubur di dalam tanah yang sangat dalam dengan pakaian berwarna hitam. Lalu pusara mereka dibuat seperti gundukan dan ditancapi nisan kayu bertuliskan nama mereka dalam bahasa Videsh*.


Videsh* merupakan bahasa kumari kandam yang digunakan para leluhur terdahulu. Sudah tidak digunakan lagi di masa sekarang karena terlalu rumit.


"Itu mirip seperti cara memakamkan orang muslim. Bedanya hanya pada pakaian kuburnya saja," sahut Raja Jvaala pada Jihan.


"Sepertinya aku harus turun tangan." Braheim menggulung lengan pakaiannya.


"Maka kami pun sudah seharusnya ikut turun tangan, Raja Braheim." Raja Padachihn melepas jubah bulunya.


...•▪•▪•▪•▪•...


Proses pengebumian yang tidak biasa itu pun dilaksanakan. Semua orang tampak sibuk termasuk Braheim dan sebagian raja yang kini tengah berkreasi di atas nisan kayu sesuai arahan Raja Jvaala. Lalu sebagian raja yang lain membantu Aswin dan prajurit Kumari Kandam mengevakuasi jasad suku pengembara yang mulai membiru. Sementara Jihan, diberi tugas untuk membunyikan lonceng jika tangisan Vinder mulai mereda.


Jasad pertama mulai dikebumikan, dan bersamaan dengan itu, bunyi lonceng Kumari Kandam menggema. Rasa lega pun seketika menghiasi wajah semua orang. Segera jasad kedua ketiga keempat dan seterusnya menyusul memasuki liang lahad bersamaan dengan gema lonceng Kumari Kandam yang tiada habisnya, menandakan jika kemungkinan besar Vinder sudah berkenan diberi botol susu atau sisir favoritnya.


Suku pengembara dikebumikan di bekas-bekas tempat tinggal mereka mengingat portal suci yang mendadak menghilang. Lagipula sekali pun portal suci masih ada di tempatnya, belum tentu pengebumian bisa dilakukan. Sebab satu-satunya orang yang bisa menembus portal suci itu kini ditolak. Dan jika pun ada orang lain yang bisa, orang itu hanya akan mati kelelahan karena mengurus ratusan jasad seorang diri.


"Yang Mulia, ini adalah jasad yang terakhir."

__ADS_1


Braheim hanya mengangguk menanggapi salah satu prajurit yang bertugas mengambil dan mengantarkan jasad-jasad dari Hutan Mook ke bekas-bekas tempat tinggal suku pengembara. Dan proses pengembumian itu pun berakhir, dengan lonceng Kumari Kandam yang masih menggema.


__ADS_2