
PREVIOUS CHAPTER
Vinder tiba-tiba menunjuk Braheim. "Dia matahari." Vinder beralih menunjuk Sanjeev. "Kau kutu." Vinder menunjuk dirinya sendiri. "Dan aku, malapetaka."
Demi apapun. Sanjeev benar-benar ingin mencekik bocah laki-laki yang saat ini tengah memamerkan tatapan angkuhnya itu. Andai saja ada cara untuk menghancurkan pelindung itu, Sanjeev rela menukarnya dengan apapun, dengan putra semata wayangnya sekali pun. Amarah Sanjeev kian bergejolak, dan perlahan, mulutnya kembali merapal mantra. Mantra yang seketika membuat pasukan mayat hidup yang sebelumnya tenang berubah menjadi kesetanan.
Terlihat pasukan mayat hidup yang berada di dalam pelindung berlari menghampiri pasukan tempur delapan benua. Mereka berniat menyerang apapun yang bernapas, seperti yang diperintahkan Sanjeev. Namun ribuan panah berlumur Gandh* yang ditembakkan pada pasukan mayat hidup itu membuat mereka seketika balik kanan, dan mencari target lain. Perlahan teriak dan tangis rakyat kembali terdengar, sebab pasukan mayat hidup yang ternyata memasuki rumah-rumah mereka.
Gandh* merupakan senjata baru buatan Kumari Kandam di masa lalu, berupa campuran garam dan air suci. Garam diketahui ampuh melemahkan Gaana yang setengah lintah, dan air suci memang sudah digunakan untuk mengusir iblis sejak ratusan tahun silam. Reaksi yang akan muncul jika Gandh mengenai tubuh Gaana adalah rasa perih yang perlahan berubah menjadi rasa seperti terbakar.
"Bagaimana?" Sanjeev tampak tak sabar menunggu jawaban Vinder.
"Lumayan."
Spontan Sanjeev kembali terbahak-bahak.
"Tapi jujur saja aku bisa melenyapkanmu dan pasukan kutumu itu hanya dengan satu ayunan tangan," tambah Vinder.
"Apa katamu?"
"Aku hanya menghargai kerja kerasmu. Jadi bagaimana jika kubuat adil?"
Suku pengembara yang bangkit dari kubur itu sudah sama muaknya mendengar keangkuhan Vinder, mereka pun berniat menyerang. Namun langkah mereka lagi-lagi dipukul mundur. Portal suci kembali menganga di tengah medan peperangan, menampakkan wakil pemimpin suku pengembra, Aryesh Farorz, Birousk Zarar, Zerdad Aalam, dan hewan-hewan kesayangan mendiang Daxraj Natesh, Balaavan*, Chammach*, Bandar*, serta Bhookamp*.
Balavaan* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk singa raksasa.
Chammach* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk ular raksasa.
Bandar* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk kera raksasa.
Bhookamp* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk gajah raksasa.
Tak ketinggalan pelindung dari lima benua, Chhota* pelindung Benua Chamakadaar, Ninos pelindung Benua Shushk, Hoo pelindung Benua Hathelee, Ăscut pelindung Benua Garjan, serta peri pelindung Benua Padachihn, yang tampak dari kejauhan sedang menghampiri Sanjeev dan pasukan mayat hidupnya yang ada di luar pelindung. Pun ada pula seorang pria berwajah asing dengan pakaian aneh yang terlihat memimpin jutaan makhluk supernatural itu.
Chhota* atau Faot adalah makhluk berwujud setengah manusia setengah peri dan setengah banteng.
Ninos* adalah manusia setengah kalajengking.
Ăscut* adalah manusia setengah hiu.
Hoo* adalah manusia setengah burung phoenix.
"Buka pelindung ini dan lawan aku dasar pengecut!" seru Sanjeev.
"Bersabarlah sedikit, Kepala Kutu. Masih ada hal penting yang harus kusampaikan pada para matahari." Vinder berbalik menghadap Braheim dan ketujuh raja. "Jasad mereka yang dibangkitkan tidak akan tersisa. Apa tidak masalah?"
Braheim dan ketujuh raja hanya saling melihat ke arah satu sama lain.
"Artinya tidak akan ada apapun di dasar Dhoosar* dan di dalam makam orang-orang muslim. Apa tidak masalah?" tanya Vinder lagi.
Dhoosar* merupakan sungai yang sejak beratus tahun lalu dijadikan tempat pemakaman khusus orang-orang yang berjasa untuk Kerajaan Kumari Kandam.
"Apa tidak ada cara lain?"
"Tentu saja ada. Aku hanya perlu memasukkan Kepala Kutu ke dalam portal suci, dan dia akan mati dengan sendirinya," balas Vinder pada Raja Padachihn.
"Lantas?"
Vinder menoleh pada Raja Shushk. "Lantas setelahnya portal suci akan hancur."
Raja Shusk, Braheim berikut rekan-rekannya kembali saling melihat ke arah satu sama lain.
"Balavaan, Chammach, Bandar dan Bhookamp hanya bisa tinggal di dalam portal suci. Lalu makam para pemimpin suku pengembara juga ada di dalam portal suci." Vinder diam sesaat. "Sejujurnya aku tak masalah kehilangan mereka. Lagipula mereka sudah mati, dan kalian pun sama kehilangannya. Tapi aku tidak bisa lagi kehilangan sukuku."
"Maka jangan lakukan, Nak."
"Berarti tidak masalah?" Vinder berganti menoleh pada Raja Jvaala.
"Apa masih ada pilihan yang kita punya?"
Vinder hanya menggeleng menanggapi Raja Garjan.
__ADS_1
"Lalu apa ada dampak selain kekeringan selama sepuluh tahun?"
"Ya," sahut Vinder pada Braheim. "Kupikir itu akan bertambah menjadi seratus tahun karena suku pengembara dan mereka ikut dibangkitkan."
"Mereka? Mereka siapa yang kau maksud?"
"Raja-raja Kumari Kandam terdahulu," sahut Raja Hathelee pada Braheim sembari memandang ke belakang tanpa berkedip.
"Juga Raja-raja tujuh benua terdahulu." Raja Lagaam menimpali sambil memandang jauh ke depan.
"Sanjeev Rajak benar-benar bukan lagi manusia," gumam Haala.
"Jadi? Haruskah aku memulai perangnnya sekarang?"
...•▪•▪•▪•▪•...
Perang kebinasaan bukanlah perang antara penerus pemimpin suku pengembara dan Sanjeev Rajak saja, melainkan perang semua makhkuk di muka bumi. Terbukti dari kedelapan raja yang akhirnya mengenakan zirahnya, Komandan Perang Kumari Kandam yang kembali mengisi garis terdepan, serta rakyat, para ratu, keluarga kerajaan dan abdi kerajaan yang keluar dari persembunyiannya untuk bergabung menumbangkan pasukan mayat hidup.
Begitu pula dengan Ejlaal Awlya, para Mausam*, serta Kepala Sipir Kumari Kandam yang belum pulih betul itu. Mereka bersikeras turun ke medan perang demi menebus dosa-dosanya. Dalam perang kebinasaan, tak ada pilihan lawan. Siapa pun lawan yang muncul di depan mata, harus dilawan hingga tumbang. Meski lawan itu adalah orang yang sangat dicintai dan dihormati. Sebab satu-satunya cara untuk menang adalah mengacuhkan kenangan dan ketidakikhlasan.
Mausam* adalah pengendali cuaca dan musim.
Seperti suku pengembara yang kini harus melawan sukunya yang telah mati. Haala yang harus melawan mendiang sang ayah, Salmalin Josha berikut leluhurnya, Yusef Bahadir. Dan Braheim, yang harus melawan Raja Khair*. Tak ada pilihan, meski harus melawan dengan air mata yang menetes bak air bah. Semua orang menangis, pun Kumari Kandam. Meski bukan air mata terakhir bagi semua orang, tetapi itu adalah air mata terakhir Kumari Kandam.
Khair* atau lebih lengkapnya Khair Bhaavesh Elhasiq adalah ayah Braheim.
"Jadi, Kepala Kutu, kau ingin kuinjak sampai kapan?" tanya Vinder yang saat ini sedang menginjak leher Sanjeev sambil menenggak Goan Feni*.
Goan Feni* adalah minuman beralkohol yang hanya diproduksi di Goa, India. Goan Feni dibuat dari getah kelapa atau apel mete dan kandungan alkohol di tiap botolnya mencapai 43-45%.
"Sampai kau mencium kakiku."
"Oh, ayolah. Aku hanya akan melakukannya pada Komandan Haala," balas Vinder.
"Maka terkalah sampai kiamat datang."
"Menyebalkan." Vinder berganti menginjak wajah Sanjeev. "Siapa? Durab? Tadeen? Ghutay? Cepat katakan siapa nama aslimu."
"Jangan harap sampai kau mencium kakiku de–"
"Aku mulai mendengar keputusasaan dari nada suaramu itu, Nak. Jadi bagaimana? Masih bersikeras?"
"Santai saja. Aku juga menikmati menginjak-injak wajah Daxraj Natesh."
"Damurah."
Vinder menoleh ke asal suara, pun Sanjeev.
"Damurah Gohar. Itu nama aslinya," imbuh Ejlaal.
"Bocah sialan di–"
"Tutup mulutmu dan berenanglah di jahanam, Damurah Gohar." Vinder menyebut nama asli Sanjeev dengan penuh penekanan.
Sanjeev Rajak pun langsung berubah menjadi abu, abu yang menebarkan aroma terlewat busuk. Dan setelah abu Sanjeev naik ke langit, waktu tiba-tiba saja terhenti.
"Seharusnya kau mati satu detik yang lalu," ujar Vinder sembari meninju salah satu mayat hidup yang hendak menyerang Ejlaal.
"Lantas kenapa?"
"Jika kau mati aku tidak akan memiliki adik perempuan, dan Kumari Kandam akan menjadi terlalu tenang," jawab Vinder.
"Apa?"
"Kumari Kandam ditakdirkan untuk selalu berisik. Jadi hiduplah, dan gantikan Aswin Nadeem."
...•▪•▪•▪•▪•...
Persis seperti yang tertulis di dalam buku kuno milik leluhur suku pengembara, dengan dikomandani putra pemimpin suku pengembara dan penerus sumpah setia Yusef Bahadir, Kumari Kandam berhasil keluar sebagai pemenang dalam perang kebinasaan. Namun tentu saja, tidak ada kemenangan yang diperoleh secara cuma-cuma. Selain air mata dan darah, jiwa pun tak jarang harus dikorbankan.
Banyak jiwa yang gugur dalam perang yang langsung disambut musim kemarau yang ganjil itu. Dan tak cukup ratusan jiwa tetapi ribuan. Hampir seribu jiwa berpulang ke pangkuan Dewa Krpya*. Mereka adalah rakyat Kumari Kandam dan tujuh benua, pasukan tempur tujuh benua, abdi kerajaan delapan benua, para Mausam, Kepala Sipir Kumari Kandam, Aswin Nadeem, Faakhir Samama dan, Jihan Joozher.
__ADS_1
Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.
Prosesi pemakaman itu dilangsungkan di Dhoosar, tepat setelah rintik gerimis di Kumari Kandam digantikan terik yang terlampau menusuk. Sungguh, tak ada rasa mengganjal, pun benci yang tersisa di hati, benar-benar hanya kedukaan yang sangat dalam, meski kematian sebagian dari mereka sudah diramalkan oleh Vinder dan Putri Gaurika Chander dari Kerajaan Narak*.
Kerajaan Narak* merupakan kerajaan pembuat senjata perang terhebat.
*FLASHBACK ON*
"Apakah kau terluka?" Haala meletakkan sisir favorit Vinder di meja di samping ranjang.
"Siapa yang terluka dan siapa yang khawatir. Konyol sekali."
"Aryesh sudah membuatkan ramuan untukku. Aku sudah merasa lebih baik."
Vinder tak mersepon, masih setia membuang pandangannya ke langit-langit kamar.
"Kalau begitu be–"
"Seharusnya biarkan saja mereka menjadi santapan Serigala Jaadoo. Lagipula umur mereka hanya tinggal menghitung hari, jadi tidak ada gunanya sampai keluar dari portal suci dan mempertaruhkan nyawa sendiri."
Haala tersenyum. "Setidaknya masih ada yang bisa mereka lakukan sebelum hari mereka habis, bukan?"
*FLASHBACK OFF*
"Aku yakin hari itu tidak salah mendengar," pungkas Haala sambil memandang Ejlaal yang tengah membantu proses pemakaman.
"Aku menyelamatkannya."
"Kenapa?"
"Kelak hubungannya dengan adik perempuanku akan meramaikan Kumari Kandam," balas Vinder seraya berlalu menghampiri Murat.
*FLASHBACK ON*
"Mohon beri hamba kesempatan untuk membantu Anda menyejahterakan tanah Kumari Kandam, Yang Mulia," imbuh sang putri.
"Biar kutanya pada seseorang, apakah ada dana yang cukup untuk membangun sebuah harem." Braheim menoleh pada Menteri Keuangan.
"Dana yang kita miliki bahkan cukup untuk membangun seratus harem yang seratus kali lipat lebih megah dari istana Yang Mulia Ratu, Yang Mulia."
Braheim mengangguk menanggapi Menteri Keuangan. "Bagaimana menurutmu, Penasihat?"
"Anda harus memikirkannya dengan matang, Yang Mulia," jawab Murat.
Braheim kembali mengangguk. "Lalu bagaimana menurutmu, Komandan?"
"Suatu kehormatan bisa mencoba senjata perang terhebat buatan Kerajaan Narak, Yang Mulia."
Braheim mendecak sembari beranjak. "Kembalilah, putri. Aku tidak membutuhkan selir. Sungguh, Ratu Kumari Kandam sudah lebih dari cukup untukku."
"Tapi Ratu Kumari Kandam tidak akan hidup lama, Yang Mulia."
*FLASHBACK OFF*
"Kupikir saat itu kau hanya menyampaikan omong kosong Sannidhi Hessa."
"Tidak, Yang Mulia. Hamba memang sudah melihatnya sejak pertama kali bertemu dengan Putri Jihan," balas Putri Gaurika pada Braheim.
"Aku memelototinya di hari terakhir kami bertemu." Braheim menggeleng-geleng.
"Hamba bahkan ti–"
Apa yang akan dikatakan Putri Gaurika terjeda, sebab seruan menggelegar Murat. Terlihat dari tempat Putri Gaurika dan Braheim berdiri saat ini, Murat tengah mencengkeram kedua bahu Vinder sambil memamerkan tatapan pilunya yang dihiasi derai air mata. Semua orang pun ikut menjeda tangisnya, dan mengalihkan perhatian pada Murat dan Vinder yang sedang berdiri berhadapan itu.
" … Lantas kenapa kau membiarkannya mati? Bukankah saat kau menghentikan waktu kau bisa menyelamatkannya? Kenapa kau diam saja? Dia sudah bertobat! Dia sudah melakukan banyak hal untuk Kumari Kandam bahkan juga untukmu dan sukumu!"
"Aku tahu. Aku berterima kasih padanya untuk itu."
"Apa katamu? Terima kasih? Hanya terima kasih? Hanya terima kasih balasanmu untuknya ya–"
"Di masa depan hatinya akan kembali menghitam."
__ADS_1
Murat tercekat, dan perlahan, cengkeraman kuat tangannya di kedua bahu Vinder mulai melemah.
"Dia akan memicu perang kebinasaan lain yang tidak akan bisa dimenangkan bahkan olehku sekali pun," imbuh Vinder.