TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 52


__ADS_3

Braheim mengangguk, memberi izin "mendiang" Ayah Haala, Salmalin Josha, untuk meninggalkan tempatnya. Braheim lalu menoleh ke tempat di mana Daxraj berada. Sosok berpakaian serba putih itu masih berdiri di sana, di balkon ruang kerja Braheim. Tak bersuara, tak bergerak, hanya diam layaknya patung. Tidak. Bahkan patung sekali pun pasti akan basah jika terkena rintik hujan, bukan?


"Masih ada yang ingin kau bicarakan?"


"Ya," balas Daxraj.


"Maka bicaralah."


"Aku tidak ingin mengulang apa yang akan kubicarakan."


Braheim diam, otaknya tengah memproses kata-kata Daxraj. "Maksudmu ada orang lain yang juga harus mendengarnya?"


"Ya."


"Haala?"


Daxraj mengangguk. "Kau tahu dia sedang berduka. Datang dan bicarakanlah saat suasana hatinya sudah sedikit membaik," imbuh Braheim.


"Ini kedatangan terakhirku."


"Kenapa?"


"Aku membutuhkan teman untuk melihat kebinasaan dunia."


"Apa ya--"


Apa yang dikatakan Braheim terjeda, karena kedatangan Penasihatnya, Murat Iskender. Dari luar ruang kerja Braheim, terdengar suara lantang Murat yang memohon izin menghadapnya untuk menyampaikan hasil dari tugas yang diberikannya siang tadi. Spontan Braheim menolak, dan meminta Murat untuk datang lagi nanti karena dirinya sedang berbicara dengan tamu yang sangat penting.


" ... Lalu haruskah hamba juga menyampaikan pada Komandan Haala untuk datang menghadap Anda lagi nanti, Yang Mulia?"


"Tidak. Biarkan dia masuk."


"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia. Silakan, Komandan." Murat membukakan pintu untuk Haala.


"Terima kasih, Penasihat."


Kini Haala sudah berdiri di hadapan Braheim. Haala tak menyangka akan ada Daxraj juga di sana. Niat Haala untuk menolak izin istirahat selama sepekan yang diberikan Braheim pada akhirnya tidak tersampaikan, karena ketegangan yang perlahan merengkuhnya. Atmosfer tegang di ruang kerja raja itu sungguh bukan main. Ketegangan yang seolah berpusat pada sosok bak raksasa itu, Daxraj Natesh.


"Saat portal masa depan hilang nanti, kalian bebas melakukan apapun. Jadi tidak perlu menahan diri lagi."


Braheim dan Haala terdiam. "Aku ingin menunjukkan kebinasaan dunia pada kalian," tambah Daxraj.

__ADS_1


Braheim menghampiri Daxraj. "Apa katamu? Setelah semua usaha yang aku dan rakyatku lakukan, pada akhirnya dunia akan tetap binasa?"


"Ya."


"Lalu apa gunanya kau memutar waktu dan mengirimku kembali ke masa lalu?"


"Setidaknya kau tahu pelaku yang membuat adikmu menderita. Dan yang paling penting, kau tidak memilih pilihan yang sama seperti di masa depan," balas Daxraj pada Haala.


Haala ikut menghampiri Daxraj. "Meski begitu apa bedanya jika dunia akan tetap binasa?"


"Tentu berbeda karena bukan aku yang akan membunuhmu."


Braheim menghalangi Haala. "Di masa depan dia terpaksa membunuhmu karena kau melindungi Gaana yang bersemayam di tubuh adikmu."


"Apa?"


"Setelah membunuhmu dia kehilangan kekuatannya dan tidak bisa melakukan apapun saat perang lain di masa depan pecah. Dan dunia pun binasa."


"Dan dia ingin kita melihat itu? Setelah dia memutar waktu? Setelah kita melakukan semua usaha? Kenapa tiba-tiba?" tanya Haala dengan nada suara setengah berteriak.


"Karena lagi-lagi aku melakukan kesalahan."


Braheim dan Haala kembali diam. "Tugasku adalah mewariskan kekuatan pemimpin suku pengembara pada penerusku. Untuk itu aku hanya perlu menemukan siapa wanitaku. Tidak perlu ada cinta, pun tidak perlu membuatnya mencintaiku. Tidak perlu ada pernikahan, pun tidak perlu membuatnya mengucap janji sehidup semati," imbuh Daxraj.


"Jadi kau marah dan melampiaskannya pada kami dengan cara membuat kami melihat kebinasaan dunia, begitu?"


"Aku tidak marah, Braheim. Aku hanya menyesal karena terlambat menyadari tugasku ya--"


"Padahal kau memutar waktu ke masa lalu untuk memberiku kesempatan agar belajar mencintaimu. Sehingga di masa depan kita bisa menikah dan memiliki penerus yang dilimpahi cinta," sela Haala pada Daxraj.


"Bukankah itu sia-sia saja? Karena tak peduli di masa lalu maupun di masa depan, cintamu hanya untuk Braheim. Hatimu yang hampir selalu goyah adalah buktinya, Haala."


Haala tak kuasa mengelak, karena apa yang dikatakan Daxraj sangat tepat sasaran. Tepat sampai-sampai memorak-porandakan suatu ruang di hati Haala yang paling dalam. Braheim pun membisu, pandangannya hanya tertuju pada air mata Haala yang terus menetes. Daxraj menggeleng seraya melewati keduanya, dan berjalan lurus menuju portal masa depan yang sedikit demi sedikit mulai terbuka.


"Apa yang kulihat di masa depan belum tentu terjadi. Jadi jangan terlalu khawatir. Berbahagialah," ujar Daxraj, beberapa detik sebelum portal masa depan menghilang.


...¤○●¤○●¤○●¤...


Tiga belas bulan kemudian.


"Itulah pemandangan yang seharusnya kita lihat setiap hari."

__ADS_1


"Ya, kau benar. Seorang raja sudah seharusnya menghabiskan waktu dengan selir-selir yang cantik," timpal petugas kebun pada temannya.


"Tapi tetap saja ada yang kurang. Singgasana ratu masih belum juga terisi sejak Yang Mulia Ratu dijatuhi hukuman pengasingan."


"Kau pikir semudah itu mencari ratu? Hanya mawar berduri yang bisa menduduki singgasana ratu."


"Kupikir Komandan Haala adalah mawar berduri terbaik di Kumari Kandam."


"Hati-hati dengan mulutmu jika tidak ingin berakhir di Tamaasha*."


Tamaasha* merupakan alat penggal raksasa yang sering digunakan untuk menghukum para penjahat.


"Kenapa? Sepertinya aku melewatkan banyak gosip."


"Yang Mulia Raja dan Komandan Haala sudah mengakhiri hubungannya," bisik pengurus kebun pada temannya.


Pengurus kebun lain ikut berbisik, "Benarkah? Sayang sekali. Tapi kenapa?"


"Entahlah. Saat itu Yang Mulia Raja tiba-tiba kembali ke istana selatan*. Lalu Komandan Haala, lebih sering bertugas di luar Kumari Kandam dan baru akan pulang tiga sampai empat bulan kemudian."


Istana selatan* merupakan istana di mana raja tinggal dan melakukan segala aktivitas yang bersifat pribadi. Istana ini dibangun di atas lahan seluas lima ratus hektar. Meski demikian hanya istana tersebut satu-satunya bangunan yang ada di sana. Selebihnya, istana selatan hanya ditanami pohon bambu.


"Lalu dari mana kau tahu jika mereka berpisah? Bisa saja mereka sedang bertengkar."


"Kau pikir ada pria yang akan mengirim kekasihnya ke tempat berbahaya seperti itu meskipun sedang bertengkar?"


"Hm? Aku masih tidak mengerti. Memang ke mana Yang Mulia Raja mengirim Komandan Haala?"


"Ke tujuh benua. Tepatnya ke arah tenggara."


"Apa? Bukankah arah tenggara di tiap-tiap benua adalah tempat di mana Ghinauna* tinggal?"


Ghinauna* ikan raksasa penjaga Danau Baadal.


"Karena itulah. Komandan Haala ditugaskan untuk menjaga Ghinauna yang ada di tiap-tiap benua."


"Ya Dewa. Itu tidak ada bedanya dengan menyuruh Komandan Haala untuk mati, bu--"


"Sepertinya aku harus memberi saran pada Yang Mulia Raja untuk memperluas kebun di kerajaan karena pekerjanya yang sepertinya sangat luang."


"Salam, Penasihat."

__ADS_1


"Beruntunglah bukan Yang Mulia Raja yang mendengar pembicaraan kalian. Dengar ini baik-baik. Jangan sampai apapun yang menyangkut Komandan Haala teedengar sampai telinga Yang Mulia Raja." Murat berlalu.


"Baik, Penasihat."


__ADS_2