TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 115


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi, tetapi hampir seluruh penduduk Kumari Kandam yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan itu belum juga bergegas menuju laut untuk menjaring ikan makerel. Sama seperti Raja Kumari Kandam yang tak pernah absen menangani keluhan para petinggi, rakyatnya pun sama, mereka tak pernah absen mengais pundi-pundi koin emas meski tahu Kumari Kandam sedang bersiaga perang.


Namun hari ini berbeda. Mereka sepertinya kompak meliburkan diri. Bukan karena lelah mengikuti laju roda kehidupan yang penuh kejutan melainkan karena hendak menghadap Braheim. Dan bukan menghadap untuk berkeluh kesah perihal sandang pangan atau papan melainkan untuk menyampaikan sesuatu. Mereka benar-benar sudah menyesaki gerbang utama Kumari Kandam sedari pukul lima pagi.


"Lihatlah." Penjaga gerbang utama Kerajaan Kumari Kandam menunjuk ke arah matahari terbit. "Bahkan matahari saja masih terlelap. Dan lihatlah." Penjaga itu berganti menunjuk wajahnya yang basah kuyup. "Hujan sangat deras."


"Maka lanjutkan saja pekerjaan Anda, Tuan Penjaga. Kami juga akan melanjutkan pekerjaan kami menunggu Yang Mulia Braheim," balas salah seorang penduduk.


Penjaga itu menghela napas. "Berapa kali lagi harus kukatakan jika beliau baru akan keluar dari istana selatan* pukul tujuh pagi?"


Istana selatan* merupakan istana di mana raja tinggal dan melakukan segala aktivitas yang bersifat pribadi. Istana ini dibangun di atas lahan seluas lima ratus hektar. Meski demikian hanya istana tersebut satu-satunya bangunan yang ada di sana. Selebihnya, istana selatan hanya ditanami pohon bambu.


"Lantas? Memang kami memaksa Anda untuk menggesa-gesakan beliau?" Penduduk lainnya ikut angkat bicara.


Penjaga itu menghela napas lagi, kemudian berlalu kembali ke posisinya. "Terserah kalian saja. Padahal aku hanya khawatir karena hujan sangat deras dan hari masih sangat pagi."


Sejujurnya para penduduk yang memenuhi gerbang utama Kerajaan Kumari Kandam itu akan benar-benar menunggu Braheim selama dua jam jika saja Raja Jvaala yang baru saja kembali dari menunaikan ibadah pagi tidak melewati gerbang utama. Waktu kunjungan mereka tidak tepat, jadi para penjaga tidak bisa memrosesnya. Ditambah lagi ini bukan masalah darurat, jadi tidak mungkin untuk mengusik istirahat singkat Braheim.


" … Kami hanya ingin menghadap Yang Mulia Braheim, Yang Mulia."


Raja Jvaala memanggil penjaga gerbang utama. "Bangunkan Raja Braheim."


"Tapi, Ya–"


"Meski tidak darurat, rakyat tetaplah yang utama. Kita sedang bersiaga perang. Jika mereka sampai jatuh sakit, bagaimana mereka bisa bekerja sama dalam perang? Raja Braheim pasti akan memikirkan hal yang sama. Pergilah."


"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia." Penjaga itu membungkuk dan bergegas memasuki gerbang utama Kerajaan Kumari Kandam.


Tak lama, Braheim pun muncul dengan diekori Murat dan keenam raja. Kumari Kandam tampaknya cocok diberi julukan benua paling bermasalah di antara semua benua. Rasanya setiap satu kali menghela napas lega, masalah lain sudah siap menahan napas. Tanpa membuang waktu lagi, Braheim pun langsung menanyakan maksud kedatangan rakyatnya. Namun tak ada jawaban, mereka malah tiba-tiba bersujud dan terisak kompak.


"Ampuni kami yang berhati jahat ini, Yang Mulia. Seharusnya kami bersyukur memiliki Anda yang begitu mengasihi kami, pun seharusnya kami meyakini apa yang Anda yakini. Tetapi kami malah sibuk menjadi jahat."


"Kami menjadikan Anda dan Komandan Haala sebagai bahan gunjingan setiap hari. Padahal Anda dan Komandan Haala sedang berkorban demi kami. Kami bahkan menyia-nyiakan pengorbanan Anda dan Komandan Haala dengan ikut memercayai penerus pemimpin suku pengembara sebagai ancaman." Penduduk lain menimpali rekannya.


"Bahkan kami pernah mengharap kematian penerus pemimpin suku pengembara. Bagaimana bisa kami menjadi sejahat itu pada Anda, pada Komandan Haala, juga pada penerus penerus pemimpin suku pengembara? Padahal Anda dan Komandan Haala sudah berkorban, pun penerus pemimpin suku pengembara yang malah membuatkan pelindung itu dan menyelamatkan keluarga kami dari bencana tempo hari."


"Kami yang jahat ini pantas mati, Yang Mulia. Mohon berikan hukuman yang setimpal pada kami yang jahat ini."


"Aku sudah lebih dulu memaafkan kalian bahkan sebelum kalian memintanya jadi bangunlah." Breheim berjalan mendekati penduduk yang berjarak paling dekat dengannya.


"Tolong hukum kami, Yang Mulia. Agar kami bisa terbebas dari hati yang jahat ini. Atau kali ini biarkan kami saja yang berkorban. Anda dan Komandan Haala tidak perlu melakukannya lagi. Berbahagialah dengan Komandan Haala, Yang Mulia. Demi Dewa Krpaya*, kami ingin Anda berhenti menangis dan hanya melalui hari dengan kebahagiaan."

__ADS_1


Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.


"Aku setuju, Raja Braheim." Raja Arshaq menghampiri Braheim. "Pelindung ini juga kejadian di laut tempo hari bukankah cukup untuk membuat kita yakin jika Devraaj Narvinder tidak membutuhkan guru untuk mengendalikan kekuatannya?"


"Benar, Raja Braheim. Sudah jelas Devraaj Narvinder bisa mengendalikan kekuatannya pun sudah jelas kita adalah pemenang dalam perang kebinasaan nanti."


"Kami tidak seyakin itu hanya karena Devraaj Narvinder menyelamatkan kami dari musibah tempo hari. Namun respon pengawal bayangan kami berbeda saat melihat Devraaj Narvinder. Mereka bersimpuh, Raja Braheim, bukan meminta izin untuk menyerang," timpal Raja Shushk pada Raja Padachihn.


"Mereka juga memberi salam yang semakin meyakinkan kami bahwa Devraaj Narvinder akan membawa kita dalam kemenangan." Raja Lagaam menyentuh sebelah pundak Braheim. "Jadi menikahlah, Raja Braheim. Sungguh, tidak akan ada yang menghalangi kalian lagi."


Raja Jvaala menyentuh pundak Braheim yang lain. "Jika pun ada halangan, tidak hanya mereka yang akan berkorban, Raja Braheim."


Braheim bingung harus berkata apa. Semua yang dikatakan rakyat Kumari Kandam dan rekan sesamanya hanya membuat jantung Braheim kian berdebar hebat, pun bulu romanya yang kian meremang. Pernikahan? Tentu Braheim sangat menginginkannya. Namun entahlah, perasaan Braheim sangat tidak nyaman. Mungkin karena sudah sering dihunjam takdir dari arah yang tak terduga setiap kali sedang berbahagia.


"Terima kasih. Semoga kalian pun selalu dilimpahi kebahagiaan oleh Dewa Krpaya." Braheim merangkul Raja Lagaam dan Jvaala, sembari tersenyum pada rakyatnya.


Namun hujan di Kumari Kandam malah turun semakin hebat.


...•▪•▪•▪•▪•...


Pintu dan jendela ruang sidang kembali dibuka lebar. Banyak rakyat yang hadir karena penasaran dengan rupa anak Sanjeev Rajak yang ternyata belum mati. Selebaran berisi informasi seputar sidang untuk Ejlaal Awlya, empat orang Mausam*, dan Kepala Sipir Kumari Kandam sudah disebar sejak lama dan selama itu pula rakyat selalu datang memenuhi halaman sidang, berharap bisa melihat wajah Ejlaal Awlya sehari lebih cepat.


Hari yang dinanti pun tiba. Sidang itu digelar pukul tujuh pagi, namun baru dimulai dua puluh menit kemudian karena keterlambatan beberapa orang saksi penuntut. Tokoh utama dalam sidang itu adalah Ejlaal Awlya atas tuduhan bersekongkol dengan iblis. Lalu Mausam yang tersebar di empat penjuru mata angin, atas tuduhan telah menggunakan kekuatannya untuk selain keamanan Kumari Kandam.


Dan tokoh utama terakhir, Kepala Sipir Kumari Kandam atas tuduhan yang sangat memalukan. Benar, pemerkosaan, terhadap bawahannya sendiri, yang juga seorang laki-laki. Padahal Kepala Sipir termasuk dalam golongan pria berparas rupawan, dengan proporsi tubuh yang tak kalah sempurna dengan pasukan tempur Kumari Kandam, serta status yang cukup tinggi. Tapi entah bagaimana nasibnya setelah sidang hari ini berakhir.


"Hari ini aku akan menjadi hakim untuk kasus kejahatan para Mausam, Kepala Sipir Kumari Kandam, dan Ejlaal Awlya. Jika terbukti bersalah, aku berjanji akan menjatuhi hukuman yang setimpal atas nama Dewa Krpaya. Sidang dimulai."


"Hamba bersalah, Yang Mulia." Empat orang pria itu beranjak kompak dari duduknya.


Braheim menoleh ke kursi para saksi pembela yang kosong. "Maka akan langsung kuputuskan hukuman untuk para terdakwa. Ada sanggahan?" Braheim berganti menoleh ke kursi para saksi penuntut.


Seorang saksi penuntut beranjak. "Setidaknya kami ingin mendengar langsung alasannya dari mulut mereka, Yang Mulia."


"Sanggahan diterima." Braheim menoleh pada para Mausam. "Silakan bicara. Perwakilan dari kalian saja."


Seorang Mausam kembali beranjak mantap. Dia sengaja berdeham berulang kali sebelum akhirnya menghadap para saksi penuntut. "Kami baru tahu jika ternyata kami menyukai wanita yang sama, dan kami ingin menarik perhatiannya dengan mengadu kekuatan kami. Yang paling kuatlah yang akan mendapatkan wanita itu."


Semua orang di ruang sidang itu menggeleng-geleng. Wajah mereka kompak menyiratkan, memangnya di mana akalmu sampai masih sempat memperebutkan wanita di detik-detik perang kebinasaan seperti sekarang?


"Ada sanggahan?"

__ADS_1


"Tidak, Yang Mulia," jawab saksi penuntut bersamaan.


"Maka akan langsung kuputuskan hukuman untuk para terdakwa. Berdasarkan hukum Kumari Kandam untuk pemilik kekuatan suci yang menyalahgunakan kekuatannya, aku menjatuhi hukuman kurungan kuil sampai batas waktu yang tidak ditentukan." Braheim mengetuk palu. "Terdakwa selanjutnya, Kepala Sipir Kumari Kandam."


Kegaduhan langsung terdengar di halaman ruang sidang, sesaat setelah putusan hukuman untuk para Mausam sampai ke telinga rakyat yang berjubel di luar sana. Dikurung di kuil? Bukankah itu artinya para Mausam dilarang menggunakan kekuatannya? Kekuatan para Mausam bisa tumpul jika sama sekali tidak digunakan. Jadi hukuman itu tidak ada bedanya dengan mencabut kekuatan para Mausam, bukan?


"Hamba dijebak, Yang Mulia. Oleh mereka." Kepala Sipir menunjuk Jihan dan Faakhir yang duduk di kursi tamu.


Braheim menoleh ke arah Jihan dan Faakhir berada. "Aku memberi kalian izin untuk berbicara."


Jihan melirik Murat sebelum beranjak. "Hamba tidak paham kenapa dia harus menyeret hamba dan kekasih hamba dalam insiden malam itu, Yang Mu–."


"Itu karena kalian sudah bersekongkol! Semuanya tidak akan terjadi jika Anda menepati janji untuk bercinta dengan hamba! Dan pemabuk itu." Kepala Sipir menunjuk Faakhir. "Jika saja Anda mengusirnya, hamba tidak akan keluar dari rumah Anda, mencuri pakaian gelandangan, dan melakukan itu pada selain Anda!"


Sunyi. Jelas saja. Meski bukan lagi hal yang tabu, membicarakan langsung mantan Ratu Kumari Kandam yang gemar menunggangi banyak pria rasanya agak mendebarkan dibandingkan membicarakannya diam-diam di sudut Kerajaan Kumari Kandam.


"Ada sanggahan?"


Jihan menyeringai menanggapi Braheim. "Hamba akui hamba pernah menjanjikannya bercinta, tapi bercinta yang bukan sepihak, Yang Mulia. Dia hampir memerk*sa hamba dan beruntungnya kekasih hamba datang tepat waktu."


"Bohong! Itu bohong, Yang Mulia! Mereka bukan sepasang kekasih. Pria itu hanya pemabuk. Pria itulah yang sebenernya memerk*sa Putri Jihan. Hamba melihatnya dengan mata kepala hamba sendiri, Yang Mulia. Mereka bercinta di atas meja makan. Putri Jihan berteriak sa–"


Braheim tiba-tiba mengetuk palu, tak tahan melihat wajah merah semua orang. Terlebih, tak tahan melihat ketujuh raja yang tengah mati-matian menahan tawanya.


"Anggap saja kau memang tidak memerk*sa Putri Jihan. Tapi apa kau mengakui telah melakukan tindakan tidak terpuji itu pada bawahanmu?"


Kepala Sipir kembali duduk di kursinya, menunduk cukup lama sampai akhirnya menjawab, "Ya, Yang Mulia."


"Ada sanggahan?" tanya Braheim pada para saksi penuntut.


Para saksi penuntut beranjak kompak. "Tidak, Yang Mulia."


"Maka akan langsung kuputuskan hukuman untuk terdakwa. Berdasarkan hukum Kumari Kandam untuk abdi pemegang lencana yang melakukan kejahatan tingkat menengah, aku menjatuhi hukuman Billa*." Braheim mengetuk palu.


Billa* adalah hukuman bercabang. Billa dikhususkan untuk abdi kerajaan saja. Ketika seorang abdi dijatuhi Billa, maka yang didapatkannya tidak hanya pemecatan secara tidak hormat tetapi juga pemotongan gaji sebanyak setengah dari masa pengabdiannya dan tidak bisa mencalonkan diri sebagai abdi kerajaan selamanya.


Ketukan palu itu disambut riuh tepuk tangan semua orang, pun tepuk tangan ketujuh raja. Tidak diragukan lagi, Braheim Bhaavesh memang yang terbaik dalam hal menjatuhi hukuman dengan akhir yang damai untuk terdakwa pun korban.


"Terdakwa terakhir, Ejlaal Awlya," imbuh Braheim.


"Hamba menolak semua tuduhan yang ditujukan pada hamba, Yang Mulia."

__ADS_1


__ADS_2