TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 75


__ADS_3

"Temanmu yang akan segera mati itu tak tahu apapun tentang kita di masa lalu," gumam Jihan.


Memang. Tidak semua orang tahu tentang apa yang terjadi di masa lalu, hanya yang terpilih mengeratkan benang merah saja. Jadi wajar jika orang-orang di masa depan yang tidak muncul di masa lalu, tidak merasakan kengerian sedikit pun ketika mendengar kisah tentang Gaana, tentang antek-anteknya, serta tentang perang kebinasaan di masa depan yang entah melawan siapa.


Tidak penting ada di mana mereka saat waktu diputar ke masa lalu, karena semuanya tidak lebih dari sekadar skenario Daxraj Natesh untuk mengelabui Gaana. Daxraj sengaja membuat Gaana berada sesaat di atas angin, untuk perlahan-lahan menjatuhkannya ke dasar jahanam. Begitu juga dengan latar belakang setiap orang di masa lalu yang sungguh, hanya tuntutan dalam skenario.


Sebagian dari latar belakang mereka sama dengan di masa depan, tetapi sebagian yang lain dibuat sangat berkebalikan. Seperti Jihan misalnya. Di masa lalu, Jihan hanyalah putri angkat seorang peternak susu. Berbanding sangat terbalik dengan di masa depan di mana dirinya adalah putri angkat kesayangan raja dari kerajaan yang paling berpengaruh di Kumari Kandam.


Sedangkan latar belakang sang kakak, Murat Iskender, dibuat tak jauh berbeda dengan di masa depan. Murat di masa lalu pun di masa depan tetap memiliki niat terselubung pada Braheim yang diduga kuat telah dengan sengaja membunuh kedua orangtuanya. Namun sama seperti di masa depan, kebenaran kembali terungkap, dan Murat kembali tunduk pada Braheim.


"Kau tahu hidup ini tidak akan ada artinya tanpamu dan kau memintaku tetap menunggu? Sambil memutihkan hati? Cih." Jihan berlalu, setelah meludahi pusara sang kekasih.


Jihan membiarkan langkahnya yang kehilangan semangat itu menuju ke mana pun. Tidak ada yang dipedulikan Jihan lagi, setelah rasa rindunya yang meluap yang pada akhirnya hanya dibalas dengan air mata berkabung. Lantas? Mengakhiri hidup? Tidak. Agama yang dianut Jihan melaknat itu. Masih lebih baik jika membuat kekacauan untuk kemudian mengemis ampunan pada Tuhan.


"Ah, tempat ini rupanya."

__ADS_1


Jihan tersenyum, memandangi tempat di mana musuh sekaligus tuannya itu mati dan berubah menjadi abu yang menebarkan aroma busuk. Itu adalah pemandangan yang paling indah yang pernah ditangkap mata Jihan yang tak kalah indah, meski saat itu nyawanya tengah berada di ujung tanduk. Jihan melanjutkan langkahnya, setelah kembali meludah di atas tanah lembap itu. Namun.


"Siapa ini?"


Spontan Jihan berbalik ketika mendengar suara yang paling tidak ingin didengarnya.


"Jadi ini yang dinamakan takdir."


Jihan tak menjawab, sibuk mengutuki sosok di depannya dalam hati.


"Orang yang ingin kubunuh tiba-tiba muncul di depanku tanpa perlu susah payah kudatangi. Apalagi namanya jika bukan takdir?"


Sosok itu terbahak. "Benar juga. Baiklah-baiklah, aku akui."


Jihan kembali diam, dan melanjutkan langkahnya yang tak memiliki tujuan.

__ADS_1


"Ke mana kau akan pergi?"


"Bukan urusanmu. Daripada itu, jangan menempel padaku. Aku tidak ingin terlibat dengan tahanan Chamakadaar yang melarikan diri."


"Sayang sekali. Padahal jika kau bersedia terlibat, aku juga bersedia melakukan apapun untukmu."


Jihan mendecak, "Memang apa yang bisa dilakukan orang tolol yang pernah gagal?"


"Entahlah. Biar kupikirkan. Mungkin membuat ramuan yang bisa membangkitkan Sannidhi Hessa?"


Tubuh Jihan tiba-tiba berbalik di luar kehendaknya, pun matanya yang mendadak antusias menatap sosok yang tengah memamerkan tampang terlewat percaya diri itu.


"Jangan sembarangan menyebut nama itu, Sanjeev Rajak."


"Kenapa? Kau takut? Tenang saja. Gaana yang dibangkitkan tidak ubahnya seperti boneka tali."

__ADS_1


"Cih. Kau berharap aku percaya?"


"Tidak sebelum aku membuktikannya." Sanjeev menyeringai sembari mengeluarkan sebotol ramuan dari dalam jubahnya.


__ADS_2