TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 103


__ADS_3

Sambil merasakan remuk di sekujur tubuhnya setelah ditolak portal tempat tinggal suku pengembara atau yang baru-baru ini dikenal dengan sebutan portal suci, Jihan pun kembali pada rencana awalnya, pergi ke Kerajaan Kumari Kandam. Ini adalah yang pertama, Jihan merasa tenang melihat gerbang utama Kerajaan Kumari Kandam. Terlebih saat gerbang raksasa itu menyambut kedatangannya, rasa tenang seketika meledak memenuhi rongga dada Jihan.


"Antarkan aku pada Penasihat Murat."


"Baik, Putri." Seorang pelayan membungkuk pada Jihan dan memimpin perjalanan.


Pelayan itu tidak menuntun Jihan ke istana tenggara*, meski jelas-jelas ini hari libur Murat. Pelayan itu juga tidak memperlambat langkahnya ketika melintas di depan kolam pemandian air panas yang hampir selalu didatangi Murat saat libur. Bahkan pelayan itu malah menambah kecepatan langkahnya di tempat terakhir yang paling mungkin didatangi Murat, perpustakaan. Jelas saja. Sebab saat ini Murat tengah berada di tempat lain.


Istana tenggara* sering disebut istana ratu karena seluruh tugas harian ratu berlangsung di sini. Selain itu, istana tenggara juga menjadi tempat tinggal orang-orang dengan status tinggi seperti penasihat raja, menteri, komandan perang, kepala penyidik, serta tamu-tamu dari luar Kumari Kandam.


"Hah, sia-sia saja aku mengharap kedatangannya." Jihan menggeleng memandangi gerbang utama harem yang baru saja dibukakan si pelayan.


"Salam, Putri." Kepala Pengurus Harem, Leyla Rahsheda, menyambut kedatangan Jihan.


"Antarkan aku pada Penasihat Murat."


"Itu. Sepertinya beliau sedang sibuk me--"


"Ini menyangkut pemimpin suku pengembara yang bangkit dari kubur," sela Jihan.


Spontan Leyla mendongak, dan buru-buru menunjukkan jalan untuk mengantarkan Jihan ke salah satu kamar selir.


"Silakan, Putri. Ini adalah kamar Selir Chadna dari Chamakadaar. Selir yang baru-baru ini diangkat oleh Yang Mulia Braheim bersama Selir Shrila dari Shushk dan Selir Lavali dari Lagaam."


"Ketuk. Tidak. Tunggu. Dobrak."


Leyla tampak terkejut. "Maaf, Putri?"


"Lupakan saja. Berikan saja kuncinya."


"Ah, itu. Sepertinya itu agak be--"


"Oh ayolah, Leyla Rahsheda. Ini benar-benar mendesak," sela Jihan lagi. "Apa kau bersedia bertanggung jawab jika sesuatu yang buruk terjadi di luar sana karena kelambananmu?"


"Mohon ampuni kekurangan hamba, Putri." Segera Leyla merogoh kunci dari dalam sakunya, memilahnya cepat, dan memberikannya pada Jihan.


"Pergilah."


"Maaf, Putri?"


Jihan menghela napas. "Dia pasti sedang bertelanjang bulat dan tidak mau sampai kau melihatnya, Leyla. Bagaimana bisa situasi sesepele itu saja tidak bisa kau pahami? Dan bagaimana bisa dulu aku memercayakan harem padamu?"


Leyla kembali meminta maaf atas kekurangannya, dan segera meninggalkan kamar tidur Putri Chadna. Sementara Jihan, benar-benar memasuki kamar itu tak lama setelah Leyla pergi.


KLEK


Gelap. Tidak. Terlalu gelap. Bahkan jika saat ini Jihan kehilangan kesadarannya setelah terpental dari portal suci, dirinya pasti akan salah paham mengira portal suci itu sudah menerimanya. Tak terhitung berapa kali sudah Jihan menginjak pakaian yang berceceran di lantai. Jihan berjalan mantap ke arah jendela mengikuti intuisinya. Dan tepat, tirai jendela yang menjuntai sepanjang tiga meter itu kini hanya perlu disibak.


Jihan menggeleng-geleng. "Kita memang saudara, Murat Iskender. Benar-benar saudara."

__ADS_1


Terlihat di ranjang mewah yang porak poranda, Murat tengah terlelap dengan dipeluk wanita di sisi kiri dan kanannya. Entah siapa dari kedua wanita itu yang adalah Putri Chadna, yang jelas dia hanyalah tuan putri dengan gangguan kejiwaan akut. Jihan berkeliling kamar, mencari tempat yang layak dijadikan alas duduk. Tetapi percuma saja. Sebab semua sudut di kamar tidur itu benar-benar sudah dijadikan sebagai tempat mengokang berahi.


"Murat Iskender, bangun." Jihan mengambil vas di meja sambil mengulangi perintahnya beberapa kali. "Hah, baiklah. Apa boleh buat." Jihan melempar vas itu ke meja rias.


Spontan Murat terlonjak dari tidurnya, pun kedua wanita yang langsung menarik selimut ketika mendapati keberadaan Jihan di ruangan yang sama dengan mereka. Berbeda dengan Murat yang malah menghela napas lega, kedua wanita yang tak kalah porak-poranda dari ranjang mewah itu tampak ketakutan dan berebut bersembunyi di belakang punggung Murat. Jihan lalu berjalan mendekat ke ranjang sambil melempar pakaian Murat, tepat di wajahnya.


"Pergilah." Murat memerintah kedua wanita itu sembari mengenakan pakaiannya.


Jihan tak henti menggeleng, memandangi dua wanita yang melintas di depannya dengan terbirit. "Aku yakin mereka bukan Putri Chadna dari Chamakadaar." Jihan menoleh pada Murat. "Jadi itu artinya, kau bercinta dengan wanita lain di saat Putri Chadna tidak ada di tempat? Bercinta di kamar tidurnya, dengan dua orang selir milik Raja Kumari Kandam."


"Kenapa kau keluar dari portal suci?"


Jihan mendecak, "Aku sudah menggali liang lahad Daxraj Natesh."


"Melihat air mukamu yang tenang, sepertinya yang sedang berkeliaran di luar sana dengan wujud serupa Daxraj Natesh benar-benar Sanjeev Rajak at--"


"Bukan jasad Daxraj Natesh yang kutemukan tapi jasad seukuran bayi. Padahal jelas-jelas di nisan itu tertulis pemimpin suku pengembara," sela Jihan.


Murat menghentikan gerak malasnya memakai pakaian. "Apa? Maksudmu yang saat ini sedang berkeliaran di luar sana benar-benar Daxraj Natesh, begitu?"


"Entahlah. Aku masih tidak percaya dengan fenomena bangkit dari kubur. Tapi tidak ada gunanya ditampik jika fakta mengatakan sebaliknya, bukan? Aku akan bertemu Braheim untuk menyampaikan ini." Jihan berjalan menuju pintu.


"Dia tidak ada di tempat. Dia pergi ke Chamakadaar untuk menjenguk Raja Arshaq Zamir yang kabarnya diserang beruang tempo hari."


"Kalau begitu aku akan bertemu Haala."


"Hah, yang benar saja. Lalu di mana Sayee? Apa Braheim sudah menjatuhinya hukuman?"


Murat menghela napas. "Sayee dirawat di istana utara*. Dia bunuh diri di hari pertama interogasi."


Istana utara* atau yang lebih dikenal dengan istana gaduh, merupakan istana yang paling banyak dikunjungi. Karena ada rumah sakit, akademi meramu obat, juga kebun tanaman herbal langka. Tabib Kerajaan juga tinggal di sini sebab selain bertanggung jawab pada para pasien selama dua puluh empat jam, dia juga mengajar di akademi.


"Apa? Gila. Ini benar-benar hari yang gila."


"Bagaimana dengan Aryesh Farorz?" tanya Murat.


"Dia masih belum sadarkan diri sampai sekarang. Kadang aku berpikir dia sudah mati karena napasnya sama sekali tidak terdengar. Apa kau percaya? Kau baru bisa mendengar suara napasnya jika menyumpal telingamu ji--."


"Bagaimana dengan suku pengembara? Aku akan mengerahkan orang-orangku sekarang juga untuk mencari mereka," potong Murat.


"Mereka pasti sudah mati sekarang."


Murat berjalan mendekati Jihan. "Apa?"


*FLASHBACK ON*


" ... Mereka jelas sudah kehilangan akalnya. Mereka pikir hanya karena mereka berasal dari suku pengembara lalu Ghinauna akan melunak? Bahkan Raja Kumari Kandam terdahulu dan Yang Mulia Braheim saja hampir mati karena ditolak oleh Ghinauna."


"Kurasa mereka ingin menyucikan diri setelah kabar tentang kebangkitan pemimpin suku pengembara sampai ke telinga mereka."

__ADS_1


"Benar. Itu masuk akal. Pemimpin mereka bangkit setelah mereka mencoba membunuh penerusnya, sudah tentu mereka ketakutan setengah mati, bukan?"


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Mereka akan mati jika dibiarkan berendam di Baadal. Begitu pun dengan kita jika kembali tanpa membawa jawaban yang diinginkan Tuan Ghanzafer."


"Aku lebih memilih menghadap Tuan Ghanzafer dengan hukuman skors dan penyitaan lencana daripada menghadap beliau dengan hanya tinggal nama."


"Aku setuju. Ada satu solusi. Mmm bagaimana jika kita menyampaikan jawaban yang diinginkan Tuan Ghanzafer?"


"Apa? Maksudmu, kau ingin kita membohongi beliau? Itu sama saja dengan menghadap beliau dengan hanya tinggal nama."


"Bukan begitu. Maksudku saat itu suku pengembara diam saja, bukan? Bukankah orang bilang diam sama artinya dengan setuju?"


"Mereka memang diam, tapi raut wajah mereka tidak setuju. Apa kau tidak melihatnya? Padahal terlihat jelas sekali."


"Jelas saja. Memang siapa yang mau menerima tawaran bunuh diri? Tuan Ghanzafer hanya memberikan bantuan untuk menyingkirkan penerus pemimpin suku pengembara tanpa memberikan jaminan keselamatan ...."


*FLASHBACK OFF*


Murat mengangguk-angguk. "Ternyata itu alasan Braheim tiba-tiba menyita lencana Ghanzafer dan menjadikannya tahanan rumah. Tidak biasanya Ghanzafer tertarik pada hal-hal semacam ini. Ada-ada saja."


"Bagaimana bisa dia masih belum mengenal kejelian Braheim? Padahal sudah lama dia bekerja untuknya. Dasar idiot." Jihan tak henti mendecak, "Daripada itu, aku tetap tidak percaya jika manusia yang sudah mati bisa hidup kembali. Seperti yang kau katakan, pria serupa Daxraj Natesh di luar sana itu pastilah Sanjeev Rajak."


...•▪•▪•▪•▪•...


Sementara Jihan dan sang kakak sibuk menyatukan hipotesis masing-masing, orang yang tengah mereka bicarakan, Sanjeev Rajak, ternyata sudah ada di sekitar mereka. Tepatnya di depan portal suci. Sanjeev tampak kagum memandangi portal yang terlihat seperti gelembung air itu, yang meski tampak ringkih tetapi nyatanya berkuasa membunuh tanpa pandang bulu.


"Mantra pelindung yang sangat luar biasa." Sanjeev mendekatkan telunjuknya pada portal suci.


CESS


Telunjuk berwarna pucat itu terbakar. Ya, hanya terbakar. Berbeda dengan yang lain yang akan langsung terpental menabrak salah satu pohon oak. Setiap tempat tinggal suku pengembara dilapisi oleh mantra pelindung. Bahkan jauh sebelum Daxraj Natesh memimpin, pelindung tempat tinggal suku pengembara sengaja dibuat agar tidak bisa dilihat oleh mata telanjang.


Lalu ketika pemimpin suku pengembara menutup usia, mantra pelindung itu akan melemah dan perlahan menghilang. Namun itu tidak berlangsung lama, karena penerus pemimpin suku pengembara akan membuat pelindung yang baru. Pelindung portal suci yang baru saja membakar telunjuk Sanjeev itu membuktikan jika penerus Daxraj Natesh sudah bisa mengendalikan kekuatannya.


"Kudengar usianya belum genap satu bulan, dan dia diprediksi tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Tapi lihatlah pelindung luar biasa buatannya ini. Hmm menarik." Sanjeev terbahak.


Di tengah tawa Sanjeev yang terdengar ambigu, Balavaan* beserta hewan peliharaan Daxraj Natesh yang lain tampak tengah berjalan mendekatinya. Perlahan tawa Sanjeev meluruh, pun perlahan, Sanjeev berubah wujud menjadi Daxraj Natesh. Untuk sesaat langkah Balavaan dan kawan-kawannya terhenti, namun bukan karena terkecoh melainkan karena bersiap untuk menerkam.


Balavaan* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk singa raksasa.


"Jangan marah. Aku hanya lewat. Tujuanku yang sebenarnya ada di sana." Sanjeev menunjuk Kerajaan Kumari Kandam. "Aku ingin bertegur sapa dengan musuhku."


Balavaan berikut kawan-kawannya bergeming, sedang memilih bagian tubuh Sanjeev yang mana yang akan mereka cabik-cabik.


"Apa kalian tahu aturan bersekutu dengan Gaana? Jangan pernah setuju jika bukan kalian yang menjadi tuannya. Menyatulah dengan Gaana, dan milikilah kekuatannya yang maha dahsyat. Salah satunya, meniru wujud Daxraj Natesh tanpa perlu menggali liang lahadnya." Sanjeev kembali terbahak.


Keempat makhluk supernatural berukuran raksasa itu spontan berlari bersamaan ke arah Sanjeev. Sanjeev merentangkan kedua tangannya, menganggap mereka ingin memberinya pelukan. Namun ketika Balavaan dan yang lain hampir menembus portal suci, portal suci lenyap.


"Ah, sayang sekali. Padahal aku belum pernah dipeluk singa, ular, kera dan gajah." Sanjeev berjalan menuju Kerajaan Kumari Kandam. "Daripada itu, jika dalam wujud ini bukankah lebih tepat jika aku berkata ingin bertegur sapa dengan penerusku?"

__ADS_1


__ADS_2