
"Bagaimana?"
Kakek Haala hanya menggeleng menanggapi. "Ya Dewa. Cobaan apalagi ini," imbuh Nenek Haala.
"Tenanglah. Tim pencari masih berusaha."
"Sudah cukup, Ayah. Ayo kita menyerah dan pulang saja. Yang terpenting kita sudah yakin bahwa dia telah pergi dari dunia ini."
"Ibu," lirih Haala seraya memeluk sang ibu.
Tangis histeris perlahan saling bersahutan, mengalahkan gemercik aliran sungai yang deras. Hari ini adalah hari ketiga pencarian jasad Ayah Haala dilakukan, tetapi nihil. Tak peduli berapa kali pun mereka mencari di tempat yang disebutkan Ayah Haala, hanya ada tumpukan kulit ular kobra betina di sana.
Padahal keluarga Haala berencana melakukan pemakaman segera setelah jasad Ayah Haala, Salmalin Josha, ditemukan. Tetapi pada akhirnya tim pencari yang dikirim Raja Kumari Kandam itu hanya kembali dengan membawa hasil berupa ucapan belasungkawa yang kian menambah bingung.
Braheim yang lagi-lagi mendapat kabar tak memuaskan dari tim pencari yang dikirimnya, kehabisan akal hingga terpaksa mengirim pesan pada Raja Chamakadaar*, Arshaq Zamir. Karena Ayah Haala terakhir kali terlihat saat menghadap Braheim untuk meminta izin pergi ke sana.
Chamakadaar* satu dari delapan benua yang hilang termasuk Benua Kumari Kandam.
"Yang Mulia, Raja Arshaq sudah mengirim pesan balasan."
"Bacakan," balas Braheim pada penasihatnya, Murat.
Murat mulai membaca. "Salam, penguasa tanah Kumari Kandam. Sebelumnya aku turut berduka cita. Pria bernama Salmalin Josha yang kau maksud mungkin sudah meninggal dunia. Dia mengeluarkan Gaana* dari Chamakadaar, tapi kemudian membawanya ke tenggara."
Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook.
"Tenggara Chamakadaar sama seperti tenggaranya Kumari Kandam. Di sana ada danau seperti Badaal*."
Baadal* adalah salah satu danau keramat di Kumari Kandam. Konon Baadal dijaga oleh ikan raksasa bernama Ghinauna. Mereka yang berendam di Baadal akan disucikan dari sisa perbuatan kotor manusia, sisa makanan serta minuman haram, atau racun yang mengendap di tubuh. Namun Ghinauna dikenal tidak ramah, sehingga hanya sedikit sekali orang yang bisa berendam di sana.
"Mungkinkah beliau mencoba membunuh Gaana dengan cara menjadikannya makanan Ghinauna? Seperti yang beliau katakan waktu itu?"
"Sepertinya begitu."
"Jadi beliau benar-benar sudah meninggal dunia?"
Braheim beranjak. "Sejak awal dia memang sudah mati."
"Maaf?"
"Tulis surat balasan untuk Raja Arshaq. Sampaikan terima kasihku padanya."
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia." Murat membungkuk, lalu keluar dari ruang kerja Braheim.
"Tunggu."
Spontan Murat menghentikan langkahnya, berbalik, dan kembali membungkuk. "Beri hamba perintah, Yang Mulia."
"Aku mengirim pengawal bayanganku untuk mencari keberadaan ratu. Tapi dia belum juga kembali sampai hari ini."
__ADS_1
"Beri hamba perintah, Yang Mulia."
"Kuharap kita berlayar di kapal yang sama, Murat Iskender."
...¤○●¤○●¤○●¤...
"Instingnya tidak setajam itu. Dia hanya pandai memprovokasi."
"Tidak. Instingnya bahkan terlalu tajam. Dia seperti sudah mengetahui semuanya. Aku bisa merasakannya."
Jihan menghela napas kasar. "Apa aslinya kau memang sepengecut ini, Murat Iskender?"
"Terserah kau saja. Intinya aku sudah memberikan saran."
"Kau anggap itu saran? Memberi tahu di mana jasadnya dengan mulutku sendiri lalu pasrah saja diseret ke Rona*, begitu? Cih."
Rona* adalah tempat di mana raja dan ratu akan diadili jika terbukti berbuat dosa yang berkaitan dengan rakyat. Rona terletak di tengah-tengah delapan benua termasuk Kumari Kandam. Dan orang yang akan menjadi hakim di Rona adalah setiap pemimpin dari delapan benua tersebut.
"Kau tidak akan mati se--"
"Di tempat yang hanya ada satu vonis hukuman mati dan kau bilang aku tidak akan mati?" sela Jihan dengan nada suara setengah berteriak.
"Karena Braheim akan menyelamatkanmu."
Spontan Jihan tertawa. "Braheim? Menyelamatkanku? Untuk alasan apa?"
"Aku tidak bisa memberitahumu sekarang. Aku juga masih memastikannya. Tapi aku berani menjamin. Braheim akan menyelamatkanmu."
Ketakukan Jihan akan kematian membuatnya hanya berpegang pada kecurigaan. Jihan berpikir Murat telah berkhianat padanya dengan memberitahu semua pada Braheim. Itulah mengapa Murat tiba-tiba mendatanginya dan memintanya menyerahkan diri.
Memang benar tanpa pertolongan Murat saat itu, Jihan pasti sudah meregang nyawa di tangan Gaana. Namun tetap saja, bagi Jihan Murat adalah orang yang licik. Bahkan mungkin hanya Jihan satu-satunya orang yang tahu tujuan sebenarnya Murat mengincar posisi penasihat raja.
"Di sini sudah tidak aman."
"Itu karena kau sudah memberitahu Braheim," balas Jihan.
Murat menggeleng. "Ada yang mengikutiku. Kurasa itu pengawal bayangan Braheim."
"Hah, menjengkelkan sekali."
"Jika ingin selamat, ikuti saranku."
Jihan beranjak murka. "Dasar gila! Sampai mati pun aku tidak akan memberitahu di mana jasad Salmalin Josha dan bersujud di hadapan Braheim Bhaavesh!"
"Sayangnya kau harus memberitahunya, dan menukarnya dengan syarat keselamatanmu."
"Apa?"
"Pertama akui kesalahanmu atas insiden kebakaran hutan dan istana tenggara*. Lalu setelahnya minta Braheim membebaskanmu dari hukuman yang menyangkut kedua insiden itu. Jika dia setuju, barulah beritahu di mana jasad Ayah Haala...."
__ADS_1
Istana tenggara* sering disebut istana ratu karena seluruh tugas harian ratu berlangsung di sini. Selain itu, istana tenggara juga menjadi tempat tinggal orang-orang dengan status tinggi seperti penasihat raja, menteri, komandan perang, kepala penyidik, serta tamu-tamu dari luar Kumari Kandam.
Jihan diam, amarahnya mulai meluruh. " ... Tapi ingat, jangan pernah mengaku bahwa kau menyembunyikan jasad Ayah Haala. Katakan saja kau malah menyelamatkan jasadnya dari binatang buas. Setidaknya dengan itu kau akan terhindar dari pasal menghambat proses kremasi pahlawan Kumari Kandam," tambah Murat.
Jihan mengangguk-angguk, seraya berpikir keras. "Tapi bagaimana jika dia menolak?"
"Mana mungkin? Dia bahkan hampir berperang dengan Chamakadaar karena tak tahan melihat wajah Haala yang sangat berduka."
"Masuk akal."
"Yang terpenting di sini adalah, kau tidak akan dikirim ke Rona."
"Kau benar."
Murat mengulurkan tangannya. "Jadi? Haruskah Ratu Kumari Kandam kembali ke tempatnya sekarang?"
...¤○●¤○●¤○●¤...
Semua orang di ruang pertemuan itu tampak mati-matian menahan amarahnya. Tak terkecuali, Braheim Bhaavesh. Bagaimana tidak? Jihan tiba-tiba kembali ke Kerajaan Kumari Kandam, duduk di singgasana ratu dengan pakaian tak senonoh, dan mengakui semua dosanya dengan wajah tanpa penyesalan.
" ... Jadi mari lupakan saja insiden kebakaran hutan dan istana tenggara. Bukankah itu sudah lama berlalu?"
Menteri sosial berdeham, "Mohon izin berbicara, Yang Mu--"
"Tutup mulutmu, Menteri. Hanya aku dan Yang Mulia Raja yang bernegosiasi di sini," sela Jihan.
Braheim menarik napas dalam. "Lanjutkan."
"Akan kuberitahukan di mana jasadnya dengan satu syarat. Bebaskan aku dari segala bentuk hukuman yang berkaitan dengan dua insiden itu."
"Hamba keberatan, Ya--"
Braheim beranjak, membuat apa yang akan dikatakan menteri hukum seketika terjeda. "Seperti yang ratu katakan, hanya aku dan ratu yang bernegosiasi di sini. Lanjutkan."
"Itu saja," balas Jihan.
Braheim menghampiri Jihan. "Sungguh cukup hanya dengan itu?"
"Ya, Yang Mulia."
"Baiklah. Aku terima syaratmu."
"Memang sudah seharusnya begitu."
Braheim menghentikan langkahnya tepat di depan Jihan. "Tapi bagaimana dengan hukuman pengkhianatanmu padaku?"
"Apa maksud pe--"
"Bukankah insiden kebakaran itu bisa terjadi karena kau membayar Mausam* dengan tubuhmu?" sela Braheim seraya mendekatkan wajahnya pada Jihan.
__ADS_1
Mausam* adalah pengendali cuaca dan musim.
DEG! DEG! DEG!