TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 82


__ADS_3

Braheim dan ketujuh raja dari tujuh benua akhirnya sepakat menemui Daxraj Natesh, tiga puluh satu hari kemudian, pasca rapat darurat rahasia di Rona* berakhir. Sebelumnya mereka berpuasa selama satu bulan penuh dengan hanya mengonsumsi air dan nasi putih. Mereka berharap itu setara dengan berendam di Badaal*. Dan pagi itu, tepat di hari ketiga puluh satu, kedelapan raja bersama-sama menuju Hutan Mook.


Rona* adalah tempat di mana raja dan ratu akan diadili jika terbukti berbuat dosa yang berkaitan dengan rakyat. Rona terletak di tengah-tengah delapan benua termasuk Kumari Kandam. Dan orang yang akan menjadi hakim di Rona adalah setiap pemimpin dari delapan benua tersebut.


Baadal* adalah salah satu danau keramat di Kumari Kandam. Konon Baadal dijaga oleh ikan raksasa bernama Ghinauna. Mereka yang berendam di Baadal akan disucikan dari sisa perbuatan kotor manusia, sisa makanan serta minuman haram, atau racun yang mengendap di tubuh. Namun Ghinauna dikenal tidak ramah, sehingga hanya sedikit sekali orang yang bisa berendam di sana.


Namun tentu saja perjalanan mereka tidak semulus itu. Bukan. Bukan karena tidak menemukan portal tempat tinggal suku pengembara. Justru portal berlatar malam hari itu kini tengah menganga, seolah mempersilakan siapa saja untuk masuk. Ternyata portal itu tidak lagi dilindungi mantra, karena si pemilik mantra yang telah menutup usia. Ya, si pemilik mantra sekaligus orang yang ingin ditemui kedepalan raja, Daxraj Natesh, sudah tiada.


"Ini belum pernah terjadi sepanjang sejarah suku pengembara. Bayi yang belum genap berumur satu hari sudah memiliki tanda ...."


Braheim beserta rekan-rekan sesama rajanya masih membisu, berusaha setengah mati mencerna setiap kata yang dilontarkan wakil pemimpin suku pengembara, Aryesh Farorz.


"Tanda lahir hitam langsung muncul di tubuhnya setelah dia lahir. Di mana itu artinya dia sudah bisa menerima kekuatan. Dan sesuai tradisi, Pemimpin kami pun mewariskan kekuatannya, lalu wafat tak lama setelah itu," imbuh Aryesh, seraya mengusap air matanya.


Braheim menepuk pundak Aryesh. "Ikhlaskanlah. Sejatinya kita semua akan kembali kepadaNya. Dan ketahuilah, dia sudah menjalankan tugasnya."


Aryesh menggeleng-geleng. "Dia belum menjalankan tugasnya, Yang Mulia."


"Apa maksudmu? Penerusnya sudah lahir dan akan menyelamatkan kita semua dalam perang kebinasaaan di masa depan."


"Bukankah Anda sudah sering melihatnya? Tentang seberapa dahsyat kekuatan yang dimiliki pemimpin suku pengembara? Penerusnya bisa menjadi ancaman alih-alih pahlawan. Karena dia tidak bisa mengendalikan kekuatannya," balas Aryesh pada Braheim.


"Kalau begitu ajarkanlah dia. Setidaknya seorang Wakil sepertimu pasti memiliki kekuatan yang sama dahsyatnya, bukan?"


Aryesh menoleh menanggapi Raja Padachihn. "Hamba hanya bisa mengajarkan cara meramu. Tidak lebih dari itu, Yang Mulia."


"Pasti ada cara lain."


Aryesh berganti menoleh menanggapi Raja Garjan. "Ini juga belum pernah terjadi sepanjang sejarah suku pengembara. Biasanya Pemimpin kami baru akan berpulang satu atau dua tahun, setelah berhasil mengajarkan cara mengendalikan kekuatan pada penerusnya."


Lagi. Braheim dan ketujuh raja lagi-lagi membisu. Jangankan mendapat jawaban perihal musuh yang akan mereka hadapi dalam perang kebinasaan di masa depan, sekarang malah muncul tanya yang lain yang lebih rumit. Bagaimana jika penerus Daxraj Natesh tidak bisa mengendalikan kekuatannya? Dan bagaimana pula jika bayi yang belum genap berumur satu hari itulah yang ternyata musuh yang mereka duga-duga selama ini?


"Mari lanjutkan pembahasan ini di lain waktu. Karena yang lebih tepat untuk kita lakukan sekarang adalah bergabung dalam upacara duka cita."


Ketujuh raja mengangguk bersamaan menyetujui usulan dari Braheim. Mereka pun bergantian mendoakan Daxraj Natesh sesuai kepercayaan masing-masing. Lalu setelahnya mereka bergantian pula menemui Haala untuk menyampaikan rasa bela sungkawanya. Raja Hathelee yang mendapat giliran pertama menemui Haala, lupa akan kata-kata bela sungkawa yang akan dikatakannya, karena terpukau dengan sosok bayi dalam gendongan Haala.

__ADS_1


Bayi berbalut kain hitam itu seperti permata langka yang paling indah di antara permata lainnya dalam lautan permata. Sungguh bukan main tampannya, dan sungguh sejuta kali lipat lebih tampan dari mendiang sang ayah. Lalu berbeda dengan bayi pada umumnya yang hanya bisa menggeliat seperti ulat, penerus Daxraj Natesh itu malah sudah sibuk membangun tembok pertahanan pada orang-orang asing seperti Raja Hathelee.


"Salam, Yang Mulia," ujar Haala pada Raja Hathelee.


"Salam. Selamat atas kelahiran putra pertamamu. Lalu aku juga turut berduka cita atas berpulangnya Daxraj Natesh. Dia adalah pahlawan kita semua. Dewa pasti memberinya tempat yang paling baik di akhirat."


"Terima kasih, Yang Mulia."


"Sudah seharusnya. Lalu daripada itu, ada yang ingin kusampaikan."


"Silakan, Yang Mulia."


Raja Hathelee diam, bergidik merasakan tatapan tajam putra Haala. "Aku tidak bermaksud mengusirmu dan putramu. Tapi putramu yang kemungkinan besar tidak bisa mengendalikan kekuatannya jelas akan menjadi ancaman di masa depan. Kau pasti mengerti maksudku. Katakan apapun yang kau butuhkan. Aku akan menyiapkan semuanya."


Haala berganti diam, terkejut dengan informasi yang baru didengarnya hari ini. Raja Hathelee yang merasa telah mengatakan seuatu yang canggung pun undur diri, digantikan Raja Jvaala.


"Waalaikumussalam," sahut Raja Jvaala pada Haala.


"Sepertinya Anda juga ingin menyampaikan sesuatu."


Jantung Haala mendadak berdegup sedikit lebih cepat. Entah berdegup karena mendengar nama itu, atau berdegup karena tak sabar mendengar usulan apa yang diberikan kubu Braheim padanya. Jika bukan diusir, mungkinkah dipenjara? Atau malah, dihukum mati?


"Pada dasarnya segala sesuatu diciptakan dengan tali kendali. Aku, Raja Braheim, dan Raja Arshaq akan berusaha mencarikan guru untuk membantu putramu. Jadi jangan terlalu khawatir," tambah Raja Jvaala.


Kali ini pun Haala tak melontarkam sepatah balasan pun. Hingga Raja Jvaala keluar dari tenda, digantikan Raja dari Benua Shushk.


" ... Bagaimana mungkin mengusirmu dan makhluk sekecil ini jauh dari delapan benua?"


"Hamba akan memikirkannya, Yang Mulia."


Raja Shushk menghela napas. "Memang apa yang perlu kau pikirkan? Ini adalah tanah kelahiranmu. Tentu saja di sinilah kau harus tinggal. Tapi masalahnya, putramu memang bisa menjadi ancaman."


Spontan Haala menunduk memandangi putranya. Mahkluk sangat kecil dan ringkih di pelukannya yang bahkan belum genap berumur satu hari sudah disumpahi menjadi ancaman? Oleh lebih dari satu orang raja?


"Devraaj Narvinder."

__ADS_1


"Panjang umur dan terberkatilah selalu, matahari Kumari Kandam."


Braheim menghampiri ranjang Haala. "Kau suka?"


"Maaf?"


"Aku baru saja memberinya nama. Kudengar dari Aryesh siluman itu tidak sempat memberikan nama pada anaknya."


Senyum Haala lolos begitu saja, membuat sang putra ikut serta. Pun Braheim.


"Biarkan aku menggendongnya."


Haala mengangguk, lalu menyerahkan putranya dengan hati-hati.


"Sepertinya dia menyukai nama yang kuberikan. Maka nama itu menjadi milikmu mulai hari ini," imbuh Braheim.


"Terima kasih, Yang Mulia."


"Kau terlihat terpukul. Sama seperti saat Daxraj Natesh mati di masa lalu. Jujur saja saat itu aku tidak terpukul. Tapi kali ini aku merasakannya. Itu berarti dia benar-benar mati."


"Benar, Yang Mulia. Sepertinya kali ini sungguhan."


"Aku tidak akan membiarkannya tumbuh tanpa sosok ayah jadi aku akan menjadi ayahnya."


Haala tampak terkejut, berbeda dengan putranya yang kembali tersenyum.


"Lihat. Dia tersenyum lagi. Itu tandanya dia setuju. Bagaimana denganmu?"


Haala diam sesaat, merasakan sisa-sisa keterkejutannya. "Mohon ampuni kekurangan hamba, Yang Mulia. Hamba tidak tahu jawaban seperti apa yang harus hamba be--"


"Aku tidak sedang membicarakan ayah sambung," sela Braheim.


"Maaf?"


"Bersediakah kau mengenakan mahkota Ratu Kumari Kandam dan berjanji tidak akan melepaskannya selamanya?"

__ADS_1


__ADS_2