
"Aku suka cuaca di Kumari Kandam ini, Raja Braheim."
"Kuharap itu pujian tanpa ada maksud tersembunyi sedikit pun," balas Braheim pada Ratu Chamakadaar.
Spontan Ratu Chamakadaar menoleh pada Braheim, dan tertawa. "Ternyata benar apa kata suamiku, Anda memiliki selera humor yang bagus."
"Kuharap itu bisa membuatmu betah berlama-lama di Kumari Kandam ini, Ratu."
"Sepertinya Anda terlalu sering berharap, Raja Braheim."
"Jujur saja itu hanya basa-basi."
Ratu Chamakadaar kembali menoleh pada Braheim, pun kembali tertawa.
"Katakan saja jika ada yang kau butuhkan, Ratu. Selain hatiku, aku akan menjamin ketersediaannya," imbuh Braheim.
"Oh, itu kata-kata terindah yang pernah kudengar, Raja Braheim."
"Aku mengutipnya dari Penasihatku. Dia cukup tidak waras. Jadi berhati-hatilah jika berada di dekatnya, Ratu. Dia sangat terobsesi dengan c*lana d*lam."
Ratu Chamakadaar tak henti tertawa menanggapi Braheim.
"Kalau begitu selamat beristirahat, Ratu. Akan kujamin cuaca yang kau sukai ini akan terus menemani hari-harimu selama berada di Kumari Kandam." Braheim menghentikan langkahnya di depan gerbang utama istana tenggara*. "Kali ini aku tidak mengutipnya dari siapa pun."
Istana tenggara* sering disebut istana ratu karena seluruh tugas harian ratu berlangsung di sini. Selain itu, istana tenggara juga menjadi tempat tinggal orang-orang dengan status tinggi seperti penasihat raja, menteri, komandan perang, kepala penyidik, serta tamu-tamu dari luar Kumari Kandam.
Tawa Ratu Chamakadaar menggema di sepanjang koridor istana tenggara.
Setelah ketujuh benua menyetujui usulan Braheim untuk menyatukan diri selama perang kebinasaan berlangsung, mereka pun mulai melakukan persiapan yang panjang untuk waktu yang tidak dapat ditetapkan. Perjalanan menuju Kumari Kandam itu dipimpin oleh para ratu dengan pengawalan ketat dari Komandan Perang dan Wakilnya. Sementara para raja dan Penasihat-penasihatnya, masih berada di benua masing-masing.
Para raja membagi tugas dengan para Penasihatnya. Demi menghalau musuh kembali memanfaatkan kelima pelindung seperti di masa lalu, para raja sepakat mendatangi kelima pelindung untuk menawarkan tempat tinggal sementara di Kumari Kandam. Sementara para Penasihat, siaga menanti kedatangan Birousk dan Zerdad. Suku pengembara yang kabarnya diterima oleh Baadal* itu diberi tanggung jawab untuk menyembunyikan Ghinauna di tiap benua.
Baadal* adalah salah satu danau keramat di Kumari Kandam. Konon Baadal dijaga oleh ikan raksasa bernama Ghinauna. Mereka yang berendam di Baadal akan disucikan dari sisa perbuatan kotor manusia, sisa makanan serta minuman haram, atau racun yang mengendap di tubuh. Namun Ghinauna dikenal tidak ramah, sehingga hanya sedikit sekali orang yang bisa berendam di sana.
Ya, Birousk dan Zerdad tahu pasti ke mana harus menyembunyikan makhluk yang jiwa sucinya setara tujuh ribu jiwa suci manusia itu. Saat mencoba menyucikan diri di Baadal, Birousk dan Zerdad sama sekali tidak menyangka jika Baadal akan menerima mereka. Pasalnya mereka adalah pelopor penyerangan Devraaj Narvinder. Saat itu Ghinauna seperti mengatakan sesuatu pada Birousk dan Zerdad, tetapi sayangnya mereka tidak bisa mengingat apapun.
Yang mereka ingat hanya tersadar di sebuah gua dengan langit-langit bertabur batu kristal runcing. Lalu saat mereka menjelajah mencari jalan keluar, mereka malah menemukan Rona* tepat di atas gua itu. Pun ada semacam ingatan aneh yang tertanam di kepala mereka. Ingatan itu seperti peta di bawah air. Mereka pun mencoba mengikuti ingatan itu, dan akirnya menyadari jika danau keramat di ke kedelapan benua berpusat pada Rona.
Rona* adalah tempat di mana raja dan ratu akan diadili jika terbukti berbuat dosa yang berkaitan dengan rakyat. Rona terletak di tengah-tengah delapan benua termasuk Kumari Kandam. Dan orang yang akan menjadi hakim di Rona adalah setiap pemimpin dari delapan benua tersebut.
__ADS_1
"Boleh aku menanyakan sesuatu?"
Birousk dan Zerdad hanya menoleh bersamaan ke arah Penasihat Raja Garjan tanpa menghentikan gerak sibuk tangannya yang kini tengah melucuti pakaian masing-masing.
"Apa Paimaana* benar-benar akan aman di bawah sana?" Penasihat Raja Garjan kembali bertanya.
Paimaana* sejenis Ghinauna yang mendiami salah satu danau keramat di Benua Garjan.
Birousk mengangguk. "Jangan khawatir, Penasihat."
"Tentu saja aku khawatir. Lalu, bagaimana jika Gaana bisa menemukan kedelapan Paimaana di bawah sana? Bukankah di masa lalu yang palsu Gaana berhasil memangsa Namakeen*?"
Namakeen* sejenis Ghinauna yang mendiami salah satu danau keramat di Benua Chamakadaar.
"Itu tidak akan terjadi di masa depan, Penasihat. Anda benar-benar tidak perlu khawatir," balas Zerdad.
"Bukankah keyakinan sekecil apapun itu harus berdasar? Entah mereka yang terlalu angkuh atau kehawatiranku yang memang tidak ada gunanya. Hah, entahlah." Penasihat Raja Garjan memandangi permukaan danau yang bergejolak setelah Birousk dan Zerdad menceburkan dirinya bersamaan.
...•▪•▪•▪•▪•...
Dan di tengah kesibukan semua orang yang berada di dalam pun di luar pelindung, ada saja masalah yang muncul di Kerajaan Kumari Kandam. Entah ini pernah terjadi di masa yang tidak diingat siapa pun atau baru terjadi di masa kepemimpinan Braheim, Kepala Pengurus Dapur tiba-tiba saja memohon izin untuk menghadapnya. Tentu saja Braheim terkejut, penasaran, dan berdebar. Bagaimana tidak? Tahu apa Braheim tentang urusan dapur?
"Kita terus kedatangan tamu setiap hari. Kau pasti sangat sibuk, jadi langsung saja."
"Pencuri?"
"Benar, Yang Mulia. Pencuri itu menghabiskan persediaan makanan kita selama satu bulan, mencuri lilin meja makan, dan membuat dapur lebih berantakan dari kandang kuda."
Braheim membenahi posisi duduknya. "Begitu rupanya."
"Jika Anda berpikir semua kekacauan itu perbuatan tikus, Anda salah besar, Yang Mulia. Hamba berani menjamin kebersihan dapur Kerajaan Kumari Kandam dengan nyawa hamba, Yang Mulia."
"Lalu apa yang kau ingin untuk aku lakukan?"
"Menangkap pencuri itu, Yang Mulia. Demi Dewa Krpaya*, tikus yang meninggalkan remahan keju lebih bernurani daripada pencuri yang membuat wilayah kekuasaan hamba seperti kapal pecah," balas Kepala Pengurus Dapur dengan sorot mata berapi-api.
Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.
"Baiklah. Aku akan segera membentuk tim untuk menyelidiki pencuri yang memorak-porandakan wilayah kekuasaanmu itu."
__ADS_1
Kepala Pengurus Dapur kembali membungkuk. "Terima kasih, Yang Mulia."
"Ada yang lain?"
"Jika pencuri itu sudah tertangkap, mohon percayakan hukumannya pada hamba, Yang Mulia." Sorot mata Kepala Pengurus Dapur kian berapi-api.
"Baiklah-baiklah. Keluarlah. Kau menakutiku."
Kepala Pengurus Dapur hanya kembali membungkukkan badannya dan berlalu keluar dari ruang kerja Braheim. Dan sesuai yang dijanjikan Braheim pada Kepala Pengurus Dapur, sebuah tim dibentuk di bawah pengawasan Kepala Penyidik Kumari Kandam. Terlepas dari tikus ataupun manusia, Braheim berharap Kepala Pengurus Dapur tidak menggunakan pisau pemotong kalkunnya untuk memberikan hukuman pada mereka. Pencuri itu benar-benar salah memilih lawan.
"Hamba akan menyelesaikan masalah ini segera, Yang Mulia."
Braheim mengangguk menanggapi Kepala Penyidik. "Lalu jika pencurinya tertangkap, bawa dia ke hadapanku terlebih dahulu. Jika dia benar bagian dari kita, maka masalah ini akan naik menjadi masalah serius. Karena kekurangan pangan di tanah Kumari Kandam ini merupakan hal yang mustahil."
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."
...•▪•▪•▪•▪•...
Hujan hampir selalu bertambah hebat di jam-jam sepertiga malam seperti sekarang. Mereka yang bukan penduduk asli Kumari Kandam pasti berpikir jika itu hal yang wajar mengingat cuaca selama beberapa tahun terakhir yang memang sulit diprediksi. Namun mereka yang adalah penduduk asli Kumari Kandam malah akan menangis. Sebab mereka tahu apa alasan di balik hebatnya hujan itu. Apalagi? Tentu saja karena luka hati Raja Kumari Kandam yang kembali menganga.
Itu tidak salah. Di jam-jam seperti sekarang ini suasana hati Braheim memang kerapkali menjadi sangat lemah. Namun tidak selemah itu. Buktinya saja Braheim masih bisa tersenyum menikmati riuh di tiap-tiap istana. Kehadiran tamu dari tujuh benua cukup membuat Braheim terhibur, meski tetap saja masih sulit untuk membuatnya hilang siaga. Udara dingin kian menusuk, Braheim pun berniat menyudahi kebiasaan malamnya memandangi rakyatnya di bawah sana. Namun.
"Apa itu?" tanya Braheim dalam hati.
Braheim melihat bayangan di istana baru*. Bukan, bukan hantu. Braheim memercayai hantu tapi kali ini bukan waktu yang tepat. Itu bayang-bayang manusia. Atau kemungkinan terkecilnya, hewan. Braheim fokus mengamati gerak bayangan itu, dan bayangan itu terlihat memasuki kamar tidur Vinder. Braheim pun bergegas menuju istana baru. Saat Braheim tiba, Kepala Pengurus istana baru berikut para pelayan yang berjaga malam langsung menyambut kedatangan Braheim.
Istana baru* istana yang diperuntukkan Braheim khusus untuk Haala dan Vinder. Istana baru dibangun tepat di samping istana selatan*.
Istana selatan* merupakan istana di mana raja tinggal dan melakukan segala aktivitas yang bersifat pribadi. Istana ini dibangun di atas lahan seluas lima ratus hektar. Meski demikian hanya istana tersebut satu-satunya bangunan yang ada di sana. Selebihnya, istana selatan hanya ditanami pohon bambu.
"Panjang umur, dan terberkatilah selalu, matahari Kumari Kandam."
"Lanjutkan saja pekerjaan kalian," balas Braheim pada semua orang seraya berlalu.
Kini Braheim sudah berdiri di depan pintu kamar tidur Vinder. Setelah mengambil napas dalam, Braheim pun menarik gagang pintu itu. Dan betapa terkejutnya Braheim saat mendapati kamar dengan sisa-sisa aroma kamomil itu seperti tempat pembuangan sampah. Sisa tulang daging, ikan dan ayam berserakan di mana-mana. Lalu tempat tidur Vinder dan Haala seperti sengaja dilumuri tanah berlumpur. Dan lagi, banyak sekali lilin di meja rias dan mulut-mulut jendela.
Braheim berjalan ke ranjang Haala, mengamati sesuatu. "Jejak kaki?" Braheim mengukur jejak kaki yang tak lebih besar dari telapak tangannya itu. "Ternyata pencurinya hanya anak kecil. Jika sudah begini Kepala Pengurus Dapur pasti tidak memiliki pilihan selain menyimpan pisau pemotong kalkunnya, bukan?"
Braheim meninggalkan kamar tidur Vinder dengan keyakinan jika pencuri kecil itu adalah anak dari pelayan-pelayan Raja Arshaq atau istrinya, atau bisa juga anak dari pelayan-pelayan Raja Hathelee dan Raja Garjan yang hari ini tiba di Kumari Kandam bersamaan. Anak siapa pun itu, yang terpenting Braheim harus membubarkan tim penyelidik secepatnya. Braheim bersiul menyusuri koridor, dan bersamaan dengan itu, ada sosok yang mengintipnya dari balik tiang penyangga.
__ADS_1
"Lanjutkan saja. Tidak akan ada yang memarahimu. Makanlah dengan baik. Tapi ingatlah untuk berhati-hati pada Kepala Pengurus Dapur karena dia sangat menyeramkan." Braheim melambaikan tangannya tanpa menoleh.
Tidak terlihat jelas siapa sosok itu karena penerangan yang minim. Namun benar terkaan Braheim, sosok itu adalah pencuri kecil. Terlihat pencuri kecil itu tidak mengenakan alas kaki. Kakinya benar-benar dipenuhi lumpur. Lalu terlihat pula kedua tangan kecilnya yang sibuk mencengkeram potongan daging ayam dan, sisir favorit Vinder.