
Waktu masih menunjukkan pukul satu siang, tapi entah ke mana perginya sinar terik sang surya. Angin yang seharusnya berhembus ke timur pun entah bagaimana malah melawan arah. Dan sungai yang tersohor akan kesakralannya itu juga terlihat terlalu tenang.
Bumi berikut antek-anteknya memang sudah menunjukkan gelagat aneh sejak hari pemakaman Salmalin Josha diumumkan ke seluruh penjuru negeri. Mereka seakan ikut tak ikhlas memberikan abu kremasi wakil komandan perang Kumari Kandam itu pada Sungai Dhoosar*.
Sungai Dhoosar* merupakan sungai yang sejak beratus tahun lalu dijadikan tempat pemakaman khusus orang-orang yang berjasa untuk Kerajaan Kumari Kandam.
Dan yang paling membuat mereka tak ikhlas adalah, jasad Salmalin Josha yang diperlakukan tak manusiawi oleh Ratu Kumari Kandam. Mereka sangat tidak terima, dan menyuarakan protesnya dengan membuat suasana hari itu layaknya kiamat.
"Kudengar jasadnya ditemukan di sekitar pohon Maan. Bukankah itu pohon langka yang digunakan untuk mengawetkan?"
"Benar. Ayahku bilang Maan tidak tumbuh lagi sejak delapan puluh tahun terakhir. Tapi setelah insiden kebakaran di Hutan Mook*, Maan tiba-tiba saja tumbuh."
Hutan Mook* nama hutan yang ada di belakang Desa Raseela.
"Tapi Maan hanya digunakan untuk mengawetkan hewan. Beliau kan bukan hewan. Bukankah Yang Mulia Ratu sangat keterlaluan?"
"Entahlah. Aku bingung harus berpendapat apa. Menurutku lebih baik meletakkan jasad beliau di Maan daripada membiarkan binatang buas memakannya."
"Ya, itu ada benarnya. Tapi tetap saja Yang Mulia Ratu sangat keterlaluan. Yang Mulia Ratu seharusnya langsung menyerahkan jasad beliau di hari pencarian. Bukan malah bersembunyi."
"Daripada itu. Aku tidak menyangka selama ini Yang Mulia Ratu bersembunyi di dalam Hutan Mook."
"Aku juga. Kudengar Hutan Mook menjadi sangat angker karena banyak korban jiwa yang jatuh saat insiden kebakaran waktu itu. Tapi bagaimana bisa Yang Mulia Ratu bersembunyi di sana?"
"Hei, yang benar adalah bagaimana bisa kita yang setiap hari melewati Hutan Mook tidak tahu jika Yang Mulia Ratu bersembunyi di sana."
"Benar juga. Padahal Hutan Mook belum sepenuhnya pulih sejak insiden kebakaran. Tapi apa kalian tahu satu pohon yang tumbuh sangat subur? Mungkinkah selama ini Yang Mulia Ratu bersembunyi di sana?"
"Ah, maksudmu pohon itu? Aku tahu. Pohon itu memang sangat subur. Dulunya pohon itu digunakan sebagai tempat persembunyian penduduk saat perang. Karena lebar pohon itu sama dengan satu kamar tidur orang dewasa."
"Aku juga pernah mendengar itu. Berarti tidak diragukan lagi. Yang Mulia Ratu jelas bersembunyi di sana. Dan lagi, jarak pohon itu dan Maan juga sangat dekat, bukan?"
"Benar-benar. Hei, bagaimana jika kita ke sana sekarang? Mungkin saja ada barang berharga milik Yang Mulia Ratu yang tertinggal."
"Ah, benar juga. Kalau begitu ayo kita pergi dan temukan sesuatu."
Braheim menghela napas kasar, sekaligus tersenyum. Ekspresi yang ambigu memang untuk mendeskripsikan suasana hati Braheim. Di satu sisi Braheim senang karena para pelayat yang juga rakyatnya itu ternyata cukup pintar dalam menganalisa. Namun di sisi lain, Braheim kecewa karena mereka tidak memedulikan perasaan Haala dan keluarganya yang sudah pasti mendengar dengan jelas semua yang mereka katakan.
"Murat."
"Beri hamba perintah, Yang Mulia."
__ADS_1
"Hentikan para pelayat itu dan tanyakanlah apa mereka benar-benar membutuhkan uang atau semacamnya."
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia. Kalau begitu hamba mohon undur diri," balas Murat seraya membungkuk.
"Ya. Pergilah. Aku akan di sini sebentar lagi."
Satu per satu pelayat mulai pergi, pun keluarga Haala. Kini tersisa Haala seorang yang masih setia memandangi ujung Sungai Dhoosar. Bumi berikut antek-anteknya pun kian bersemangat menyuarakan protes, ketika akhirnya tangis Haala pecah. Ingin rasanya Braheim berlari menawarkan pelukan. Begitu pun Daxraj, yang ternyata juga hadir dalam upacara berkabung itu dengan menyamar sebagai pelayat.
"Semoga Dewa Krpaya* membukakan gerbang Daraar* untuk ayahmu," gumam Braheim
Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.
Daraar* dipercaya sebagai alam roh.
"Sayangnya Dewa Krpayamu itu belum membukakannya."
Braheim terlonjak, mendapati Daxraj yang tiba-tiba berdiri di sampingnya dengan pakaian serba putih. "Hei, berhenti menghilangkan wibawaku sebagai raja."
"Wibawa? Bukankah kau hanya memiliki berahi?"
"Ah, benar juga. Daripada itu. Pakaianmu. Kau tidak cocok memakainya. Itu menyakiti mataku." Braheim berbalik, memunggungi Daxraj.
Spontan Braheim berbalik. "Mulut kurang ajar itu be--"
"Kita perlu bicara, Braheim," sela Daxraj.
"Apa? Sepertinya sangat serius."
"Benar. Ini tentang Gaana dan Salmalin Josha."
...¤○●¤○●¤○●¤...
Braheim mengangguk-anggukkan kepalanya, sembari mencoba mencerna kata demi kata yang dilontarkan seorang pria muda yang mengaku sebagai Jyostishee*. Namun entah kenapa sangat sulit untuk Braheim mencerna. Sungguh ibarat seperti Haala yang ditakdirkan menjadi milik Daxraj Natesh seorang.
Jyostishee* peramal masa depan yang berasal dari wilayah Narak.
"Jadi maksudmu, tubuh itu milik seorang pria bernama Firdoos Shyamali tapi roh yang ada di dalam tubuhnya adalah milik Salmalin Josha yang baru saja dikremasi dua jam lalu, begitu?"
"Benar, Yang Mulia."
"Jadi kau Firdoos Shyamali atau Salmalin Josha?" tanya Braheim lagi.
__ADS_1
"Untuk hari ini dan delapan hari ke depan, hamba adalah Salmalin Josha, Yang Mulia."
"Lalu saat hari kesembilan?"
"Tubuh ini akan kembali pada Firdoos Shyamali, Yang Mulia. Karena waktu hamba habis. Hamba harus membawa Gaana ke Daraar atau selamanya bergentayangan menjadi roh yang ditolak bumi."
"Jadi maksudmu, selama waktumu belum habis kita harus berperang melawan Gaana?"
"Hamba sudah membunuhnya di Chamakadaar*, Yang Mulia. Dengan bantuan Namakeen* dan salah satu pengawal bayangan Anda." Ayah Haala melirik ke belakang Braheim, di mana kedua pengawal bayangannya berada.
Chamakadaar* satu dari delapan benua yang hilang termasuk Benua Kumari Kandam.
Namakeen* sejenis Ghinauna yang mendiami salah satu danau keramat di Benua Chamakadaar.
Braheim menoleh ke belakang. "Jadi itu alasanmu tak kunjung kembali dari tugas pencarian ratu."
"Itu adalah kesalahan hamba, Yang Mulia. Hamba yang meminta pengawal bayangan Anda untuk membantu. Mohon izinkan hamba menjelaskannya."
"Baiklah, biar kudengar."
Ayah Haala mengangguk, dan mulai menjelaskan semua yang terjadi di Chamakadaar. Beberapa hari sebelum Ayah Haala meminta izin pada Braheim untuk pergi ke Chamakadaar, dirinya lewat kemampuan Firdoos Shyamali sebagai Jyostishee sudah mengetahui apa yang akan terjadi di benua penghasil sutra itu.
Gaana akan terjebak di tengah kepungan prajurit Chamakadaar. Di sana Ayah Haala akan diprovokasi oleh Gaana untuk membawanya keluar dari benua itu. Tetapi bukan keluar menuju jalan keluar yang sebenarnya, Ayah Haala malah membawa Gaana menuju tenggara Chamakadaar, tempat di mana Namakeen tinggal.
Ayah Haala berniat melemparkan Gaana pada Namakeen. Namun sialnya Gaana malah memakan ikan raksasa tersebut. Dan yang lebih sial lagi, jiwa Namakeen ternyata setara dengan tujuh ribu jiwa suci. Gaana pun menjadi kuat, hingga bisa menerobos portal masa depan dan mendengar semua yang dibicarakan Daxraj Natesh.
Ayah Haala mencoba menghentikan Gaana, tetapi tentu saja Gaana yang telah melahap tujuh ribu jiwa suci bukanlah tandingannya. Ayah Haala pun sekarat, dan benar-benar menjadi roh yang ditolak bumi andai saja bukan tubuh milik seorang Jyostishee yang dipinjamnya.
" ... Sebelum Gaana tiba di Chamakadaar, hamba sudah memberitahu Namakeen hasil penerawangan hamba. Akhirnya kami pun bekerja sama," terang Ayah Haala.
Braheim hanya mengangguk-angguk, tersirat kelegaan di wajah tampan Raja Kumari Kandam itu. "Namakeen memberi tahu hamba tentang ramuan yang bisa membuatnya terbunuh sementara. Dan saat itulah hamba bertemu dengan pengawal bayangan Anda. Dia pun ikut bekerja sama."
Braheim masih mengangguk-angguk. "Rencana kami berjalan sesuai dengan hasil penerawangan Firdoos Shyamali. Saat Gaana tahu tubuh ini milik seorang Jyostishee, dia naik pitam, tapi bersamaan dengan itu Namakeen hidup kembali. Gaana melemah, karena kekuatannya diserap habis oleh Namakeen. Dan Namakeen memakan Gaana," imbuh Ayah Haala.
"Lalu? Kenapa kau terlihat tidak senang?"
"Karena aku masih merasakan keberadaannya."
Spontan Braheim menoleh pada Daxraj yang sedari tadi duduk memandang ke luar jendela. "Bagaimana bisa dia masih hidup setelah Namakeen memakannya?"
Daxraj ikut menoleh. "Lalu bagaimana bisa kau tahu siapa yang memakan siapa?"
__ADS_1