
Sekelompok burung pemakan bangkai terbang berhamburan kembali ke sarang masing-masing, seraya terus mengumpat. Bagaimana tidak. Saat tengah bersantai di bawah terik mentari yang bagaikan neraka, burung-burung bertubuh kurus tersebut tiba-tiba mencium aroma kematian yang sangat menusuk. Mereka pun langsung terbang saling mendahului mengikuti asal aroma.
Ternyata aroma kematian itu datang dari dalam kapal yang berhenti di tengah-tengah perairan Benua Chamakadaar, sebuah benua yang terletak di sisi kanan Kumari Kandam . Mereka pun berteriak kegirangan, karena bisa makan sepuasanya hari ini. Namun sial. Bangkai segar yang mereka tunggu-tunggu perlahan berubah menjadi abu, dan lenyap diterbangkan sang angin ke segala penjuru.
Sosok yang mereka umpat, Gaana*, tampak begitu puas setelah menyantap semua penumpang kapal. Tanpa terkecuali, penumpang laki-laki. Kini hanya tersisa seorang penumpang, yang tak lain adalah petugas keamanan. Sekelompok burung pemakan bangkai itu berharap Gaana berbaik hati menyisakan si petugas keamanan. Namun pada akhirnya, mereka hanya kembali mengumpat.
Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook.
"Apa katamu? Tarif untuk penumpang gelap sudah dinaikkan sejak bulan Chhah*?"
Chhah* bulan juni dalam bahasa hindi.
"M-m-maaf. A-a-aku b-b-bersalah." Petugas keamanan bersujud di kaki Gaana."
"Jelas kau bersalah. Bagaimana bisa kau membohongiku yang paling mengenal rajamu? Rajamu, Braheim Bhaavesh, adalah raja yang sangat mengasihi rakyatnya. Terutama rakyat miskin."
Si petugas keamanan tak menjawab, hanya menangis ketakutan. "Jadi sangat tidak mungkin dia menaikkan tarif untuk penumpang gelap sepertiku. Malah yang kutahu dia membebaskan tarifnya," imbuh Gaana.
"A-a-aku b-b-bersalah. K-k-kumohon a-a-ampuni a-a-aku."
Gaana berjongkok. "Sayang sekali. Tapi aku masih sangat lapar."
Dan, si petugas keamanan pun berakhir seperti semua penumpang kapal. Berakhir mengenaskan dengan tanpa jiwa, serta bangkai yang berubah menjadi abu berbau busuk. Gaana bersenandung, tak sabar untuk tiba di daratan. Benua Chamakadaar, tempat pertama yang hendak dijadikan Gaana sebagai tempat berburu sepuluh ribu jiwa suci itu perlahan mulai terlihat. Namun.
"Selamat datang. Bagaimana perjalananmu?" tanya seorang pria dengan zirah lengkap.
"Apa-apaan?"
"Apanya? Ini adalah sambutan. Kau beruntung karena ini pertama kalinya aku bersedia menyambut langsung tamu yang tidak diundang." Si pria berjalan mendekati Gaana.
Spontan Gaana memundurkan langkahnya. "Aku tidak tahu apa tujuanmu yang sebenarnya tapi seorang teman memintaku untuk berhati-hati karena musuh Kumari Kandam sedang berkeliaran untuk mewujudkan misi memburu sepuluh ribu jiwa suci," tambah si pria.
"Braheim Bhaavesh sialan."
"Aku setuju. Orang yang terlalu pintar memang sialan. Daripada itu. Apakah kau musuh Kumari Kandam yang dimaksud?"
Gaana tak menjawab, hanya melihat ribuan prajurit siap tempur yang entah sejak kapan sudah mengepungnya. "Jawablah. Karena di sini, di Chamakadaar, membuat dahi raja berkerut saja akan dijatuhi hukuman mati. Jadi, apakah kau musuh Kumari Kandam yang dimaksud?"
__ADS_1
"Jika iya?" Gaana balik bertanya, sambil berjalan menghampiri si pria, Raja Chamakadaar, Arshaq Zamir.
"Maka aku harus mencoba senjata baru untuk melumpuhkan iblis bernama Gaana yang disarankan oleh temanku itu."
"Sialan! Matilah kalian semua!" seru Gaana sembari berlari ke arah Raja Arshaq.
"Angkat senjata kalian! Pukul mundur siapa pun yang berniat menyakiti tanah Chamakadaar! Demi kedamaian Chamakadaar! Serang!" Raja Arshaq ikut berseru.
...¤○●¤○●¤○●¤...
"Yang Mulia, kami tidak menemukan Gaana di mana pun."
Raja Arshaq beranjak. "Aku bisa merasakannya. Dia masih ada di tanah kita. Tambah prajurit pencari. Lalu kirim pesan pada Raja Braheim jika Gaana tidak lagi hanya memburu jiwa wanita dan bayi."
Komandan perang Chamakadaar membungkuk. "Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."
"Gaana, tidak akan kubiarkan kau menyakiti tanah Chamakadaarku," gumam Raja Arshaq.
Sementara itu, Gaana. Terlihat bersembunyi di balik semak demi menghindari prajurit Chamakadaar yang tengah menyebar senjata baru untuk melumpuhkannya. Sambil mengatur napas dan mematahkan puluhan ujung panah yang menembus seluruh tubuhnya, Gaana berpikir keras tentang cara untuk keluar dari Benua Chamakadaar dan mengubah rute berburunya ke enam benua yang tersisa.
Gandh* merupakan senjata baru yang baru-baru ini dibuat Kumari Kandam, berupa campuran garam dan air suci. Garam diketahui ampuh melemahkan Gaana yang setengah lintah, dan air suci memang sudah digunakan untuk mengusir iblis sejak ratusan tahun silam. Reaksi yang akan muncul jika Gandh mengenai tubuh Gaana adalah rasa perih yang perlahan berubah menjadi rasa seperti terbakar.
"Sialan! Arshaq Zamir sialan! Chamakadaar sialan!" seru Gaana dalam hati.
"Tidak ada gunanya mengumpat. Kau tidak akan selamat."
Gaana tampak terkejut. "Kau?"
"Berbeda dengan Kumari Kandam. Chamakadaar memiliki komandan perang di setiap penjuru mata angin. Tidak ada jalan keluar."
Gaana menyeringai menanggapi Ayah Haala. "Bukankah kau bisa menjadi jalan keluar? Kau masih terikat denganku selama aku masih ada di dunia ini."
Ayah Haala berbalik. "Itu benar."
"Jika sudah mengerti maka berhentilah berbasa-basi dan cepat tunjukkan jalan keluarnya, dasar sialan!"
"Aku memang masih terikat denganmu, tapi aku sudah bukan lagi bawahanmu. Jadi carilah jalan keluarnya sendiri."
__ADS_1
"Apa katamu?"
Ayah Haala berlalu. "Aku datang ke Chamakadaar untuk menjadi anjing pelacak Gaana. Karena aku sudah menemukanmu, bersiap-siaplah."
"Aku tahu kau yang mengusulkan Gandh. Aku tahu kau yang menyelamatkan semua orang saat insiden istana tenggara*. Dan aku juga tahu, waktu kesepakatanmu dengan pemilik tubuh itu sudah hampir habis."
Istana tenggara* sering disebut istana ratu karena seluruh tugas harian ratu berlangsung di sini. Selain itu, istana tenggara juga menjadi tempat tinggal orang-orang dengan status tinggi seperti penasihat raja, menteri, komandan perang, kepala penyidik, serta tamu-tamu dari luar Kumari Kandam.
Ayah Haala menghentikan langkahnya. "Bukankah pemilik tubuh itu akan mati jika kau tidak mengembalikan tubuhnya sesuai waktu kesepakatan? Dan bukankah kau tidak akan bisa bereinkarnasi jika tidak berhasil membawaku ke Daraar* dengan tubuh itu?" imbuh Gaana.
Daraar* dipercaya sebagai alam roh.
Gaana masih melanjutkan, "Berpihaklah padaku. Bantu aku menuntaskan dendamku, dan aku akan dengan sukarela pergi bersamamu. Bagaimana? Adil bukan?"
...¤○●¤○●¤○●¤...
Raja Arshaq menggeleng menanggapi desakan komandan perang Chamakadaar yang memintanya memberi perintah melepaskan ribuan mata panah ke sana, ke sebuah perahu yang dinaiki Gaana dan seorang pria dari Kumari Kandam yang memperkenalkan dirinya sebagai anjing pelacak sekaligus malaikat maut kiriman Dewa Krpaya* untuk manusia setengah lintah, Gaana.
Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.
Meski semua orang berpikir pria tersebut membantu Gaana melarikan diri, berbeda dengan apa yang dipikirkan Raja Arshaq. Jika diperhatikan dengan kepala dingin, perahu itu tidak mengarah ke timur melainkan ke tenggara Chamakadaar. Dan tak banyak yang tahu jika arah tersebut merupakan jalan pintas menuju wilayah kekuasaan Namakeen, Ghinaunanya* Chamakadaar.
Ghinauna* ikan raksasa penjaga Danau Baadal.
"Kita sudah aman."
"Tapi, Yang Mulia. Gaana masih hidup," balas komandan perang Chamakadaar.
"Perhatikan baik-baik. Perahu mereka mengarah ke tengara Chamakadaar."
"Hamba tahu itu, Yang Mulia. Dan mereka akan segera lolos jika Anda terus mengulur waktu."
Raja Arshaq berlalu. "Maka kau belum memperhatikan dengan baik."
"Itu. Mungkinkah?"
"Ya. Mereka sedang menuju nerakanya Chamakadaar."
__ADS_1