
Kilat tanpa suara yang menghiasi langit musim kemarau itu akhirnya pecah, bersamaan dengan seruan murka wakil pemimpin suku pengembara, Aryesh Farorz. Lagi-lagi Aryesh terlambat mencegah tindakan sembrono pemimpinnya. Sang pemimpin, Daxraj Natesh, lagi-lagi menukar umurnya untuk bersenda gurau dengan waktu.
Dan yang paling membuat Aryesh murka adalah, tampang tanpa penyesalan Daxraj yang pada akhirnya selalu sukses meredakan amarah sebesar apapun. Aryesh menjatuhkan tubuhnya ke kursi, sambil menarik napas dalam. Bersamaan dengan suasana hati Aryesh yang kembali membaik, sang surya pun kembali muncul, mengusir kilat-kilat misterius yang mengerikan.
Kemurkaan Aryesh berawal dari Daxraj yang untuk pertama kalinya jatuh pingsan. Daxraj melemah, oleh sebab umurnya yang terus diberikan pada sang waktu. Diketahui Daxraj kembali menukar umurnya untuk menyelamatkan Haala yang seharusnya dikembalikan ke masa depan sesuai dengan kesepakatan mereka. Namun Daxraj malah mengingkari kesepakatan itu.
" ... Jadi sekarang tidak peduli meski hati Haala goyah, waktu tidak boleh menyentuhnya sebelum mendengar jawaban apa yang akan dia berikan, begitu?"
"Ya," balas Daxraj pada Aryesh.
"Ya Dewa. Hei, apakah hanya ada hal-hal rumit di dalam kepalamu itu?"
Daxraj diam. "Maaf jika apa yang akan kukatakan terdengar kasar, tapi menurutku pemimpim suku pengembara hidup untuk mewariskan kekuatannya yang luar biasa. Bukan untuk bersaing dalam percintaan," imbuh Aryesh.
Daxraj masih diam. "Untuk apa kau bersusah payah membuat Haala mencintaimu? Bukankah sudah jelas hanya ada Yang Mulia Raja di hatinya? Nikahi Haala, buat penerus, wariskan kekuatanmu, dan selesai. Mudah, bukan?"
"Kau benar."
"Tentu saja. Dengar kawan, kau yang paling tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Gaana* bukanlah satu-satunya musuh Kumari Kandam, dan Dewa Krpaya* tidak akan menoleh jika saat itu tiba. Jadi berhenti mengurus hal-hal yang tidak penting. Fokuslah."
Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook.
Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.
"Ya, akan kupertimbangkan."
"Apa? Kenapa? Kenapa masih harus dipertimbangkan?" tanya Aryesh dengan nada suara setengah berteriak.
"Karena aku harus terus mengawasi Raja Kumari Kandam yang cabul itu."
"Ah benar juga. Kau bilang Haala hanya ditakdirkan memiliki dua orang anak, bukan? Dan jika Haala dan Bra--, ah maksudku Yang Mulia Raja sampai memiliki anak, mereka akan memiliki anak kembar dan itu tidak ada bedanya dengan membiarkan dunia binasa."
"Benar."
Aryesh menggeleng-geleng. "Hah, ternyata memang rumit. Rasanya aku ingin cepat-cepat membunuh Gaana dan mengembalikan semua ke tempatnya. Daripada itu, kau bilang sudah membunuh Gaana di masa depan tapi ternyata dia masih hidup, bukan? Lalu kenapa kau tidak memburunya dan membunuhnya lagi saja? Kenapa harus memutar waktu?"
"Karena aku tidak bisa merasakan keberadaannya di mana pun."
"Apa? Bukankah itu artinya dia sudah berhasil melahap sepuluh ribu jiwa?"
__ADS_1
Daxraj hanya mengangguk. "Sial. Rupanya kita dikelabui habis-habisan oleh makhluk jahanam itu. Lalu kau juga bilang kau pergi melihat masa depan? Apa yang terjadi?" tanya Aryesh lagi.
"Gaana berhasil menuntaskan dendamnya, dan perang di masa depan pecah tanpa aku bisa berbuat apa-apa."
"Apa?"
"Aku kehilangan kekuatanku setelah membunuh Haala. Karena dia terus melindungi Gaana yang merasuki tubuh adik perempuannya."
"Bukankah itu sama persis seperti yang sedang terjadi saat ini?"
"Tidak. Kali ini Haala tidak memilih melindungi siapa pun."
"Jadi itu sebabnya kau memutar waktu?"
Daxraj mengangguk. "Karena Haala sangat menyayangi adiknya. Bahkan Braheim sekali pun tidak akan bisa membujuknya. Dia harus diperlihatkan langsung konsekuensi apa yang akan ditanggungnya jika tetap memilih melindungi adiknya."
"Jadi begitu. Aku mengerti."
Daxraj beranjak. "Tapi firasatku buruk."
Spontan Aryesh ikut beranjak. "Kenapa? Kau merasakan Gaana kembali membuat masalah?"
"Itu tidak mungkin. Tidak ada yang bisa menembus portal masa depan kecuali orang-orang yang kau kehendaki."
"Itu benar. Tapi pernahkah firastku meleset meski hanya sedikit?"
...¤○●¤○●¤○●¤...
Jauh di dalam sebuah hutan keramat di Benua Chamakadaar*, terdengar suara rerumputan lebat yang disibak sesuatu. Dilihat dari bayangan yang dipantulkan sinar rembulan yang samar, seorang wanita tengah menyeret gundukan sebesar kapal dengan satu tangannya, sembari bersenandung riang.
Chamakadaar* satu dari delapan benua yang hilang termasuk Benua Kumari Kandam.
Wanita itu, terlihat sangat cantik sampai-sampai bisa membuat orang yang tidak sekarat pun akan berpikir jika diri mereka sedang sekarat. Karena kecantikannya yang sungguh bak bidadari. Namun jika dilihat dengan akal sehat, sosok cantiknya itu hanya tipuan dari sosoknya yang sebenarnya adalah makhluk dari jahanam.
"Jadi begitu caramu bermain, Daxraj Natesh," ujar si wanita bak bidadari, Gaana.
Gaana terkekeh, seraya melemparkan Namakeen*, Ghinauna*nya Chamakadaar. Gaana lalu menghampiri Ayah Haala yang tergeletak bersimbah darah di atas rerumputan. Seringai mengerikan tersungging di wajah protagonis itu, ketika melihat Ayah Haala yang tengah digelitik maut.
Namakeen* sejenis Ghinauna yang mendiami salah satu danau keramat di Benua Chamakadaar.
__ADS_1
Ghinauna* ikan raksasa penjaga Danau Baadal.
"Kau berpikir untuk menjadikanku makanan ikan itu tapi pada akhirnya ikan itulah yang menjadi makananku. Kau pasti tidak menduganya, bukan?"
"Hah, sialan."
Gaana kembali terkekeh menanggapi Ayah Haala. "Dan kau pun pasti tidak tahu jika jiwa ikan itu setara tujuh ribu jiwa suci," tambah Gaana.
"Ya. Aku baru mendengarnya hari ini."
"Lalu? Cepatlah memohon untuk nyawamu." Gaana menyeringai.
"Aku tidak semenyedihkan itu."
"Sepertinya kau sangat percaya diri jika aku akan mengampunimu."
"Meski benar tapi maaf saja aku tidak sudi menerimanya."
"Orang yang akan segera menjadi bangkai memang selalu bersikap angkuh. Ya, nikmatilah selagi ka--"
"Jadi berapa persen kekuatanmu kembali setelah melahap jiwa Namakeen?" sela Ayah Haala.
Gaana berjongkok, mendekatkan wajahnya pada Ayah Haala. "Selain angkuh, rupanya calon-calon bangkai juga sangat penasaran."
"Tidak ada salahnya menjawab, bukan? Anggap saja itu pertanyaan terakhirku sebagai mantan bawahanmu."
"Kau pikir aku tolol? Setelah kuberitahu semuanya, bukankah kau akan bergentayangan untuk menemui pemimpin suku pengembara sialan itu dan melaporkannya? Tidak akan kubiarkan."
Ayah Haala berganti terkekeh. "Ah, ternyata aku ketahuan. Sayang sekali."
"Sialan! Matilah kau, Salmalin Josha!"
Tinju Gaana meleset menghantam rerumputan, karena Ayah Haala, Salmalin Josha, yang tiba-tiba menghindar. Dengan cepat Gaana pun mengejar Ayah Haala, namun tentu saja Ayah Haala sudah menghilang sebelum Gaana sempat menjangkaunya. Menghilang dengan membuat Gaana dirajai kemurkaan.
"Kau pikir aku juga tolol? Aku sudah memprediksikan semuanya sebelum menemuimu. Karena tubuh ini milik seorang Jyostishee*." Ayah Haala menghilang.
Jyostishee* peramal masa depan yang berasal dari wilayah Narak.
"Tidak! Dia tidak boleh menemui Daxraj Natesh! Daxraj Natesh tidak boleh tahu jika aku sudah pulih dan bisa kembali mengawasi setiap gerik-geriknya! Tidak! Tidak boleh!"
__ADS_1