TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 109


__ADS_3

Segala pernak-pernik mewah yang membuat mata tak bosan mengerjap itu diturunkan, pun ambal-ambal warisan Raja Bhaavesh I yang hanya dibentangkan saat hari pernikahan Raja Kumari Kandam tiba, semuanya kembali digulung dan dipojokkan di tempat tergelap di bawah sana. Tak ketinggalan kamar pengantin, bunga yang biasa ditaburkan dari jauh hari karena aroma layunya yang justru menebarkan harum yang pekat itu kini berakhir di tempat sampah.


Untuk pertama kali, mulut-mulut pemakan bangkai saudaranya sendiri itu terkatup, padahal banyak sekali bahan yang bisa mereka gunjingkan. Semua orang tampak bersedih, bahkan banyak dari mereka yang tiba-tiba menangis. Bukan tanpa sebab. Mereka tahu betul apa sebabnya. Senyum itu, senyum matahari Kumari Kandam itu, bagaimana bisa dia tetap tersenyum begitu ikhlas ketika Dewa Krpaya* lagi-lagi memisahkannya dari sang kekasih?


Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.


Rasanya kesedihan mereka malah akan berkurang jika Braheim menjadi zalim. Sudah cukup Braheim berkorban, pun Haala. Apakah di sepanjang garis takdir yang melilit sepasang kekasih itu tidak ada kebahagiaan? Meski secuil? Sungguh, kesedihan mereka malah akan berkurang jika sekarang Braheim mengurung diri di kamar, atau melampiaskan amarah pada semua orang. Sebenarnya terbuat dari apa hati Raja Kumari Kandam yang hanya manusia biasa itu?


"Yang Mulia, surat dari ketujuh raja sudah lengkap."


Braheim menyudahi kegiatannya memandang para pelayan istana yang berlalu-lalang di bawah guyuran hujan. "Jadi benar Raja Arshaq yang terakhir mengirim surat balasan?"


"Benar, Yang Mulia."


"Kirim kembali surat balasan. Katakan pada Raja Arshaq aku menyarankannya untuk menceraikan Ratu Chamakadaar yang gemar berselingkuh itu."


"Sesuai perintah An–"


"Itu lelucon," sela Braheim. "Apa aku terlihat sesenggang itu sampai harus bertanggung jawab mencari bukti perselingkuhan Ratu Chamakadaar yang bahkan Kepala Penyidik Chamakadaar saja angkat tangan? Daripada itu, kenapa akhir-akhir ini kau menjadi sangat serius?"


"Mohon ampuni ke–"


"Dan itu juga. Kenapa kau sangat sering mengatakan itu?" Braheim menggeleng seraya berlalu memasuki ruang rapat darurat.


Kekompakan mereka yang hadir dalam rapat itu sungguh tak kalah dengan pasukan penabuh genderang perang. Mulai dari posisi mereka berdiri, seberapa dalam mereka membungkukkan badan, bahkan tinggi rendahnya suara salam yang mereka tujukan pada Braheim. Braheim tersenyum menikmati itu, bahkan hampir gagal menahan gatal di tangannya yang ingin bertepuk tangan. Tak lama setelah Braheim menjatuhkan tubuhnya di kursi, rapat darurat pun dibuka.


"Sebelumnya aku ingin mengucapkan selamat bertugas kembali untuk Menteri Pertahanan Kumari Kandam, Ghanzafer El-Amin. Aku tidak memberikan kesempatan pada sembarang orang, Ghanzafer. Jadi ketahui batasmu."


"Terima kasih, Yang Mulia. Hamba akan menggunakan kesempatan yang Anda berikan ini dengan sebaik-baiknya." Ghanzafer kembali membungkuk pada Braheim juga semua orang.


"Baiklah, aku memberi izin berbicara untuk semua yang hadir di sini jadi katakanlah pendapat kalian tentang rencanaku untuk menyatukan delapan benua selama perang kebinasaan berlangsung."


"Hamba setuju, Yang Mulia. Mengingat penerus pemimpin suku pengembara hanya membuat pelindung di Kumari Kandam, maka tidak ada cara lain agar mereka selamat selain meninggalkan tanahnya dan bersatu dengan kita."


"Lalu ditambah lagi, iblis penjiplak itu terbukti tidak bisa menembus pelindung yang dibuat oleh penerus pemimpin suku pengembara. Itu artinya hanya di dalam pelindunglah satu-satunya tempat aman, Yang Mulia." Menteri Dalam Benua menimpali Menteri Luar Benua.


"Tapi sebelum menyatukan delapan benua, kita harus memprioritaskan rakyat kita yang ada di luar pelindung, Yang Mulia." Menteri Desa membuka catatannya. "Masih ada enam belas desa di pedalaman yang sepertinya belum mendengar berita kehebohan yang baru-baru ini terjadi."


"Berapa jumlah jiwa di tiap-tiap desa?"


Menteri Desa membalik lembar catatannya. "Paling sedikit delapan puluh jiwa dan paling bayak seratus empat puluh satu jiwa, Yang Mulia."


"Ghanzafer, diskusikan ini dengan Menteri Keamanan. Aku ingin melihat hasil kerja kalian di mejaku secepatnya. Kalian bisa memulainya sekarang."


Ghanzafer dan Menteri Keamanan membungkuk menerima perintah Braheim, dan langsung meninggalkan ruang rapat darurat dengan diantar oleh Murat.

__ADS_1


"Lalu bagaimana untuk tempat tinggal sementara ketujuh raja berikut keluarganya dan rakyat mereka?" tanya Braheim.


Para menteri tampak kompak berpikir, juga mengetukkan pena bulunya ke meja berulang kali, dan sesekali saling berbisik.


"Sebaiknya kita menempatkan ketujuh raja dan keluarganya di istana tenggara*, Yang Mulia."


Istana tenggara* sering disebut istana ratu karena seluruh tugas harian ratu berlangsung di sini. Selain itu, istana tenggara juga menjadi tempat tinggal orang-orang dengan status tinggi seperti penasihat raja, menteri, komandan perang, kepala penyidik, serta tamu-tamu dari luar Kumari Kandam.


Braheim mengangguk-angguk menanggapi Menteri Sosial. "Untuk berjaga-jaga mereka yang mungkin akan mengeluh sesak, siapkan juga istana baru* dan istana selatan."


Istana baru* istana yang diperuntukkan Braheim khusus untuk Haala dan Vinder. Istana baru dibangun tepat di samping istana selatan*.


Istana selatan* merupakan istana di mana raja tinggal dan melakukan segala aktivitas yang bersifat pribadi. Istana ini dibangun di atas lahan seluas lima ratus hektar. Meski demikian hanya istana tersebut satu-satunya bangunan yang ada di sana. Selebihnya, istana selatan hanya ditanami pohon bambu.


Tak ada jawaban. Para menteri hanya kembali berbisik, saling meyakinkan satu sama lain bahwa tidak ada yang salah pada pendengaran mereka. Menggunakan istana selatan masih mungkin, tapi bagaimana mungkin menggunakan istana baru? Semua orang tahu siapa pemilik istana baru.


" … Dan untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, pengawal bayangan ketujuh raja pasti akan sangat membantu jika mereka ditempatkan di sini. Murat."


"Beri hamba perintah, Yang Mulia."


"Perintahkan para pelayan untuk berhenti terbawa suasana dan fokus memperindah istana baru dan istana selatan untuk menyambut ketujuh raja dan keluarganya."


"Mereka hanya akan semakin terbawa suasana jika Anda membahas istana baru, Yang Mulia. Jadi hamba akan memerintahkan mereka untuk memperindah istana selatan saja."


Menteri Perhubungan berdeham, "Penasihat Murat sudah mengambil keputusan yang tepat, Yang Mulia."


"Ternyata kalian pun sedang terbawa suasana." Braheim menggeleng-geleng. "Kembali ke pembahasan. Lalu bagaimana dengan tempat tinggal sementara untuk rakyat dari tujuh benua? Rumah para penduduk?"


"Benar, Yang Mulia."


"Kurasa mereka benar-benar akan mengeluh sesak," balas Braheim pada Menteri Perhubungan.


"Jangan khawatir, Yang Mulia. Ada seratus enam kerajaan kecil yang tersebar di Kumari Kandam. Mereka pasti bersedia membantu. Anda hanya perlu mengirim surat berstempel emas."


"Baiklah, kita lakukan seperti itu." Braheim menoleh pada Menteri Sekretaris Benua. "Diskusikan ini dengan Murat. Aku ingin seratus enam kerajaan kecil itu mendapatkan surat berstempel emas secepatnya. Kau bisa memulainya sekarang."


Menteri Sekretaris Benua membungkuk menerima perintah Braheim, dan langsung meninggalkan ruang rapat darurat.


"Pembahasan terakhir." Braheim beranjak, mengambil salah satu gulungan kertas yang tertata rapi di nampan emas. "Di masa lalu yang palsu, kita baru tahu jika jiwa suci Ghinauna* setara dengan tujuh ribu jiwa suci manusia. Jadi, di mana kita harus menempatkan Ghinauna? Itu pertanyaan dari Raja Arshaq." Braheim mengambil gulungan kertas yang lain. "Dan apa yang harus kita lakukan agar pelindung lima benua tidak lagi menjadi incaran iblis penjiplak? Itu pertanyaan dari Raja Padachihn."


Ghinauna* ikan raksasa penjaga Danau Baadal.


Tak ada jawaban dari para menteri, pun ketukan pena bulu di meja, atau bahkan sekadar bisik-bisik. Tak ada waktu untuk itu, sebab apa yang ditanyakan Raja Arshaq serta Raja Padachihn membutuhkan jalan keluar sesegera mungkin. Namun di tengah keseriusan semua orang yang berlomba memaksa isi kepalanya agar menemukan jalan keluar, Murat datang membawa kabar yang tak bisa ditebak baik buruknya karena mimik wajahnya yang bercampur aduk.


"Yang Mulia." Murat berdiri di hadapan Braheim dengan napas tersengal, dan sesekali memamerkan senyum lega bercampur kerut-kerut kekhawatiran yang tebal. "Yang Mulia."

__ADS_1


"Kau sedang membacakanku puisi?"


Murat menggeleng sambil mengatur napasnya. "Mereka masih hidup."


"Apa?"


"Ternyata Baadal* menerima mereka, Yang Mulia." Murat menunjuk pintu rapat darurat.


Baadal* adalah salah satu danau keramat di Kumari Kandam. Konon Baadal dijaga oleh ikan raksasa bernama Ghinauna. Mereka yang berendam di Baadal akan disucikan dari sisa perbuatan kotor manusia, sisa makanan serta minuman haram, atau racun yang mengendap di tubuh. Namun Ghinauna dikenal tidak ramah, sehingga hanya sedikit sekali orang yang bisa berendam di sana.


Braheim tak membalas, hanya berjalan menuju pintu rapat darurat, diikuti semua orang termasuk Murat. Pintu ruang rapat darurat pun terbuka, dan dua pria berpakaian serupa Daxraj Natesh sudah berdiri di hadapan Braheim.


"Panjang umur, dan terberkatilah selalu, matahari Kumari Kandam." Dua pria itu memberi salam pada Braheim.


"Mereka adalah ya–"


Braheim mengangkat sebelah tangannya. "Atur saja napasmu yang seperti sedang digorok itu, Murat Iskender." Braheim berjalan mendekati dua pria itu. "Suku pengembara?"


"Benar, Yang Mulia. Perkenalkan hamba Birousk Zarar."


"Perkenalkan hamba Zerdad Aalam, Yang Mulia."


"Lalu tujuan kalian?" tanya Braheim lagi.


"Kami bisa membaca tanda yang akan mengurangi ketakutan Anda dan semua makhluk di muka bumi ini saat tiba waktunya, Yang Mulia," sahut Birousk.


Braheim diam sesaat, fokus mengamati Birousk dan Zerdad secara bergantian. "Sepertinya kalian belum disambut."


Zerdad menggeleng. "Itu tidak perlu, Yang Mulia."


"Tentu itu perlu." Braheim memunggungi Birousk dan Zerdad. "Aku akhiri rapat darurat hari ini. Tentang pembahasan terakhir, pikirkan solusinya dengan matang untuk rapat darurat selanjutnya." Braheim menoleh pada Murat. "Sambut mereka."


Murat diam cukup lama, mencerna perintah Braheim.


"Murat Iskender?"


Murat buru-buru membungkuk pada Braheim. "Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."


Braheim menatap Murat, menuntut jawaban dari diamnya.


"Hamba akan segera menyiapkan Gandh* untuk menyambut mereka, Yang Mulia."


Gandh* merupakan senjata baru buatan Kumari Kandam di masa lalu, berupa campuran garam dan air suci. Garam diketahui ampuh melemahkan Gaana yang setengah lintah, dan air suci memang sudah digunakan untuk mengusir iblis sejak ratusan tahun silam. Reaksi yang akan muncul jika Gandh mengenai tubuh Gaana adalah rasa perih yang perlahan berubah menjadi rasa seperti terbakar.


Braheim hanya tersenyum seraya berlalu melewati koridor.

__ADS_1


__ADS_2