
Pintu sebuah kamar terbuka, menampakkan kondisi kamar yang seperti baru saja disatroni pencuri. Meski begitu, si pemilik kamar, Haala, malah merasa lega. Haala tak menyangka jika dirinya bisa terbebas dari vonis hukuman mati, dan yang lebih tak disangkanya lagi adalah, ada begitu banyak orang yang memihaknya saat proses persidangan. Berbeda jauh dengan persidangan yang di hadapinya di masa depan.
"Sepertinya aku memang orang baik," gumam Haala.
"Aku akui. Tapi ketahuilah kau orang yang sangat kejam jika itu berkaitan denganku."
"Panjang umur, dan terbekatilah selalu, matahari Kumari Kandam."
Braheim mencolek debu di pinggiran meja. "Pindahlah ke istana timur*."
Istana timur* adalah istana khusus prajurit laki-laki yang sedang mengikuti pelatihan untuk bergabung di pasukan tempur Haala.
"Bolehkah hamba tahu alasannya, Yang Mulia?"
"Anggap saja itu hadiah untuk merayakan kembalinya nama baikmu sekaligus bentuk permintaan maafku karena sudah membuatmu diburu seisi Kumari Kandam."
"Hamba yakin Anda memiliki alasan, Yang Mulia."
"Tidak juga."
"Maaf?"
"Aku sudah menyiapkan kamar di istana timur. Pergi dan istirahatlah."
"Terima kasih, Yang Mulia."
"Ah, lalu kau tidak boleh pindah dari istana timur tanpa seizinku."
Haala diam sesaat. "Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."
Braheim berlalu seraya tersenyum. "Aku menunggumu."
"Ya?"
"Pelayan. Maksudku semua pelayan yang kupekerjakan untuk melayanimu sudah menunggu di istana timur."
"Baik, Yang Mulia. Hamba akan segera bergegas."
...¤○●¤○●¤○●¤...
Haala pun tiba di istana timur, setelah mengemasi barang-barangnya yang bisa dihitung jari. Ketika sampai di sana, Haala sudah menduga jika hadiah berupa kamar tidur itu akan terlampau mewah. Namun Haala enggan menyuarakan protes, pun enggan bertanya perihal apa alasan di balik senyum malu-malu para pelayan yang kini melayaninya.
Haala hanya ingin segera melepas pakaian yang sudah satu bulan melekat di tubuhnya, menceburkan diri ke dalam air hangat, dan menarik selimut yang sepertinya terbuat dari sutra itu. Dan saat yang sangat dinanti Haala pun tiba. Akhirnya para pelayan pamit undur diri setelah memadamkan penerangan. Haala pun terlelap.
Namun Haala terbangun di tengah tidur lelapnya yang langka, karena merasakan rasa dingin yang ganjil. Perlahan Haala membuka matanya, sembari mengumpulkan keping-keping kesadaran. Ternyata rasa dingin yang ganjil itu berasal dari tubuh seorang pria yang memeluknya. Seorang pria yang siapa lagi kalau bukan matahari Kumari Kandam.
"Yang Mu--"
Spontan Braheim menarik Haala. "Diam dan tutup kembali matamu."
"Tapi, Ya--"
"Jangan katakan 'tapi'. Aku sudah muak mendengar itu dalam rapat sepanjang hari ini."
__ADS_1
"Hamba tidak nyaman, Yang Mulia."
"Aku tahu. Jadi tahan saja karena ini perintah."
Haala tak menjawab. "Beritahu aku sesuatu. Apa yang terjadi padaku di masa depan?"
"Anda sekarat, Yang Mulia. Anda mencoba menyucikan diri di Baadal* demi bertemu Daxraj untuk mendiskusikan cara menyelamatkan masa depan tanpa harus menikahi hamba."
Baadal* adalah salah satu danau keramat di Kumari Kandam. Konon Baadal dijaga oleh ikan raksasa bernama Ghinauna. Mereka yang berendam di Baadal akan disucikan dari sisa perbuatan kotor manusia, sisa makanan serta minuman haram, atau racun yang mengendap di tubuh. Namun Ghinauna dikenal tidak ramah, sehingga hanya sedikit sekali orang yang bisa berendam di sana.
Braheim melepaskan pelukannya. "Wah, ternyata aku sangat mencintaimu."
Haala mendongak, menunjukkan ekspresi tak mengerti. "Aku takut ikan," tambah Braheim.
Haala menahan tawanya. "Kulit licin bersisik dengan mata tajam yang seperti selalu mengawasi. Itu sungguh menyeramkan. Lalu, apa yang terjadi padamu di masa depan?"
"Hamba sedang dihukum mati."
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Saat itu hamba dituduh melakukan percobaan pembunuhan pada Anda dan juga dituduh meracuni penghuni harem dengan Shaant*."
Shaant* adalah madu dari bunga langka yang dipercaya bisa membuat wanita menjadi mandul.
"Sepertinya aku sudah tahu siapa hakim yang menjatuhimu hukuman mati."
"Benar, Yang Mulia."
DEG!
"Padahal kau bisa saja meraih tanganku, dan menghadapi masa depan bersama. Karena siapa pun musuh Kumari Kandam di masa depan, Dewa Krpaya* tentu lebih hebat dari Daxraj Natesh, bukan?" tambah Braheim.
Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.
DEG! DEG!
Braheim masih melanjutkan, "Dan bukankah kemungkinan dunia akan selamat lebih besar melalui pertolongan Dewa Krpaya daripada pertolongan penerus Daxraj Natesh?"
DEG! DEG! DEG!
...¤○●¤○●¤○●¤...
Haala memandang sekitar, bingung sejadinya. Dirinya yang sebelumnya berada di sebuah kamar tidur mewah di istana utara, kini entah bagaimana bisa berada di padang rumput yang diselimuti langit mendung.
Tak ada seorang pun di padang rumput itu selain Haala dan, seekor singa raksasa yang tengah bermalas-malasan. Keberadaan singa raksasa itu mendadak membuat Haala yakin, jika dirinya ada di dalam portal masa depan.
Spontan Haala berlari ke segala penjuru, berniat mencari si pemilik portal masa depan, Daxraj Natesh. Dan akhirnya, setelah menguras habis tenaganya, Haala menemukan pria beserban itu, sedang sibuk beradu tatap dengan sang surya.
"Apa ini mimpi?"
"Apa kau berharap begitu?" Daxraj balik bertanya.
"Apa boleh?"
__ADS_1
Spontan Daxraj menoleh pada Haala. "Sepertinya kau sudah tahu alasan kenapa kau bisa berada di sini."
Haala menggeleng. "Hatimu goyah. Oleh karenanya waktu membawamu padaku," imbuh Daxraj.
"Ah, begitu. Janjiku waktu itu, bukan?"
*FLASHBACK ON*
"Terima kasih."
"Sama sekali tidak cukup hanya dengan ucapan terima kasih," sahut Daxraj pada Haala.
Haala diam sesaat. "Akan kulakukan. Apapun itu."
"Kenapa baru sekarang?" tanya Daxraj.
"Karena aku baru menyadari jika memang hanya ada dua pilihan untuk menyelamatkan dunia ini dari kebinasaan."
"Lalu pilihan mana yang akhirnya kau pilih?"
Haala kembali diam. "Semuanya."
Daxraj tak menjawab, hanya sedikit mengerutkan dahinya. "Kembalikan aku ke masa sebelum menjadi komandan perang Kumari Kandam, dengan status baru sebagai kekasihmu," imbuh Haala.
"Kekasih?"
Haala mengangguk menanggapi Daxraj. "Bukankah waktu itu kau bilang tidak sudi mendapatkan hati serta tubuh wanita yang melihatmu sebagai pria lain? Oleh karenanya aku akan mencoba melihatmu sebagai dirimu sendiri."
"Aku menolak."
"Kenapa?" tanya Haala.
"Karena hatimu mudah goyah," jawab Daxraj.
"Apa kau juga memiliki kemampuan untuk memutar waktu ke masa kini?"
Daxraj mengangguk menanggapi Haala. "Maka jika nanti kau mendapati hatiku goyah, kau hanya perlu mengembalikanku ke masa kini, ke situasi yang sama persis seperti saat ini," tambah Haala.
*FLASHBACK OFF*
"Benar," jawab Daxraj pada Haala.
"Aku akui hatiku memang goyah saat Yang Mulia Raja mengatakan itu."
"Jadi kau mengakuinya."
"Tentu saja. Tapi apa kau tahu jawaban apa yang akan kuberikan pada beliau?"
Daxraj diam. "Aku tetap akan memilih menikah denganmu dan melahirkan penerus yang akan menjadi pahlawan dalam perang di masa depan," tambah Haala.
Daxraj masih diam. "Kenapa? Karena aku tidak mau menghancurkan dunia ini untuk yang kedua kali hanya demi orang-orang yang kucintai."
Daxraj hanya mengangguk-angguk. "Karena aku melanggar janji kita maka silakan, kembalikanlah aku ke masa depan. Aku siap untuk kembali menghadap kematianku yang tertunda."
__ADS_1