
"Bayi sialan." Sanjeev terbatuk tanpa henti.
Kondisi Sanjeev terbilang cukup memprihatinkan setelah memaksa menembus pelindung Kerajaan Kumari Kandam. Awalnya separuh tubuh Sanjeev hanya terasa kebas, namun lambat laun menjadi lumpuh total, dan yang paling parah, kekuatannya yang luar biasa besar itu tiba-tiba saja hilang entah ke mana. Sanjeev mengubah posisi duduknya dengan susah payah, sambil memandangi tamu-tamu dari luar benua yang tengah berdesakan memasuki pelindung Kumari Kandam.
"Tapi tetap saja. Braheim Bhaaveshlah yang paling sialan." Sanjeev masih terbatuk.
Sanjeev yakin tempo hari Braheim sengaja memancingnya agar mendekati pelindung, dan Braheim berhasil. Sekarang Sanjeev tak ubahnya tikus selokan yang masuk perangkap murahan. Saat ini Sanjeev bersembunyi di salah satu rumah penduduk yang berada di Desa Raseela. Sesaat setelah menyentuh pelindung, Sanjeev langsung terpental hingga menabrak belasan rumah penduduk. Sanjeev pun merangkak mencari tempat sementara sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Nikmatilah cahaya itu selagi kalian bisa, dan tertawalah sepuasmu Braheim Bhaavesh."
Seringai yang tersungging di wajah yang dilaknat Dewa Krpaya* itu adalah penanda akan datangnya petaka. Ya, Sanjeev memang sudah menyusun petaka untuk Kumari Kandam dari jauh hari. Saat Sanjeev berhasil mengumpulkan kembali kekuatannya, petaka itu akan langsung dilepaskannya. Tak ada yang bisa menghentikan petaka itu, meski Braheim bersujud mencium kaki Sanjeev berulang kali. Pun meski bayi pembuat pelindung itu menangis meminta bantuan ayahnya yang hanya tinggal bangkai.
Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.
"Jika kalian tidak mengizinkanku bergabung dalam pesta, maka akan kubuat kalian keluar untuk bergabung denganku di pesta yang lain."
...•▪•▪•▪•▪•...
Para prajurit Kumari Kandam masih berusaha menangkap pria misterius yang tiba-tiba kabur saat Menteri Pertahanan Kumari Kandam, Ghanzafer El-Amin, memergokinya tengah melakukan aktivitas aneh. Saat itu si pria misterius terlihat sedang menendang tanah sambil memasukkan sesuatu ke dalam wadah bambu yang tersampir di punggungnya. Ternyata baru-baru ini diketahui jika pria misterius itu adalah Ejlaal, anak kandung Sanjeev Rajak yang semua orang tahu sudah mati bersama sang ibu saat proses melahirkan.
"Temukan dia meski nyawa kalian yang menjadi taruhannya! Ingatlah, itu perintah dari Yang Mulia Braheim!" seru Kepala Prajurit Kumari Kandam.
Pengejaran itu sudah dilakukan selama dua hari, tetapi sampai hari ini, hari keempat, masih juga belum membuahkan hasil. Karena Ejlaal pandai sekali bersembunyi, dan seperti sangat hapal seluk-beluk semua desa di pedalaman Kumari Kandam. Dan jika saja Haala tidak datang membantu, mungkin pengejaran itu akan berlangsung selamanya.
"Angkat kepalamu!" Kepala Prajurit memaksa Ejlaal mendongak pada Haala.
"Dia benar-benar terlihat tidak asing."
"Namanya Ejlaal, Komandan. Dia putra Sanjeev Rajak," balas Kepala Prajurit.
"Apa?"
"Dia diduga telah menjadi kaki tangan Ayahnya dalam mencari mangsa, dan bahkan mencoba menghilangkan barang bukti."
__ADS_1
Haala hanya mengangguk ragu, sambil berusaha mengingat di mana pertama kali dirinya dan putra Sanjeev Rajak itu bertemu. Tetapi sayangnya sampai Ejlaal dimasukkan ke dalam kereta kuda pun, Haala masih belum bisa mengingat apa-apa.
"Tapi, apa yang Anda lakukan di sini, Komandan?"
Haala menoleh ke sana ke mari. "Aku sedang mencari Vinder."
Kepala Prajurit diam, bingung. Wajar saja, saat itu Kepala Prajurit tidak ikut menghadiri upacara pemakaman Sayee karena suatu hal. Jadi wajar jika yang ditanyakannya dalam benak adalah tanya-tanya seperti, Bukankah usia Vinder masih dua bulan? Memang apa yang bisa dilakukan bayi berusia dua bulan di desa yang kini sudah menjadi area pemakaman? Dan lagi, tak peduli meski dia penerus pemimpin suku pengembara, bukankah tidak ada bayi berusia dua bulan yang sudah memiliki otot kaki?
"Saat ini Vinder sudah berusia lima tahun," imbuh Haala pada Kepala Prajurit.
"Begitu rupanya. Hamba jadi mengerti sekarang."
"Ya. Akhir-akhir ini Vinder sering sekali bermain di luar portal suci. Aku penasaran apa yang dilakukannya di luar portal suci karena dia hampir selalu kembali seperti gelandangan."
"Apa Anda butuh bantuan, Komandan?"
Haala menggeleng. "Lanjutkan saja tugasmu di–"
"Komandan, Ejlaal ingin mengatakan sesuatu pada Anda." Seorang prajurit tiba-tiba datang dan menggantung apa yang akan dikatakan Haala selanjutnya.
"Tolong jangan menghiraukannya, Komandan. Hamba yakin dia sama jahatnya dengan Sanjeev Rajak."
"Tapi tidak apa-apa jika kau mendampingiku, bukan?"
Kepala Prajurit tak menjawab, hanya mempersilakan Haala lewat. Kini Haala sudah berdiri tepat di depan pintu kereta kuda itu dengan didampingi Kepala Parajurit.
"Aku tak sabar mendengar apa yang ingin kau sampaikan itu, Ejlaal."
"Selamat atas pernikahan Anda, Komandan."
Haala membisu, oleh sebab ucapan selamat ambigu yang entah bagaimana bisa menyentuh hatinya.
"Karena keihklasan, pengorbanan, dan keyakinan Anda akan rencana Dewa Krpaya, hari bahagia yang Anda impikan sejak berbelas tahun silam, tidak akan menjadi sekadar khayalan dalam diam. Semoga Anda selalu dilimpahi kebahagiaan, Komandan," tambah Ejlaal.
__ADS_1
...•▪•▪•▪•▪•...
Terlihat Braheim beserta Raja Arshaq, Raja Hathelee dan Raja Garjan tengah melepas penat sejenak di Shaanadaar*. Sementara keempat raja dari benua tersisa, sebagian dari mereka masih dalam perjalanan menunju tempat tinggal pelindung benua masing-masing, dan sebagian yang lain masih dalam perjalanan ke Kumari Kandam.
Shaanadaar* adalah kolam air panas pribadi raja.
"Pelindung Benua Chamakadaar, Chhota*, mereka juga menolak untuk pindah sementara ke Kumari Kandam."
Chhota* atau Faot adalah makhluk berwujud setengah manusia setengah peri dan setengah banteng.
Raja Hathelee mengangguk menanggapi Raja Arshaq. "Pelindung Benua Hathelee pun menolak."
"Mengingat di masa lalu yang palsu para pelindung pernah dimanfaatkan oleh Gaana, apa benar tidak masalah?"
"Jangan khawatir. Ternyata Devraaj Narvinder juga membuatkan pelindung untuk mereka. Tapi pelindung itu hanya dikhususkan untuk mahkluk serupa mereka saja," balas Raja Hathelee pada Raja Garjan.
"Dan andai kata pelindung itu bisa ditembus?"
Raja Arshaq menoleh pada Raja Garjan. "Mereka berkata akan langsung bunuh diri daripada kembali menjadi terhina karena melawan yang benar."
Braheim menghela napas. "Kenapa akhir-akhir ini aku sering mendengar tentang bunuh diri? Mengerikan sekali. Apa mereka tidak memiliki sedikit saja kepercayaan pada Dewa? Memang mereka pikir jika melakukan bunuh diri lantas masalah akan selesai, begitu? Pantas saja hanya tersisa orang-orang tak takut mati dan tak tahu malu seperti Murat Iskender."
Spontan ketiga raja tertawa, pun Braheim sendiri. Itu adalah obrolan ringan yang seru seperti biasanya, sebab sama sekali tak terasa sudah berapa lama waktu berlalu. Hingga portal suci tiba-tiba terbuka, tepat di tengah Shaanadaar. Spontan Braheim dan rekan-rekannya itu beranjak bersamaan, tanpa memedulikan bagian bawah tubuh mereka yang polos.
Karena tak lama setelah portal suci itu terbuka, ada seorang anak yang tiba-tiba meluncur ke dalam Shaanadaar dengan teriakan kegirangan. Braheim pun langsung menyelam, diikuti ketiga raja. Bagaimana tidak? Bagian tengah Shaanadaar memiliki kedalaman lebih dari dua meter. Naluri mereka bergerak begitu saja, sampai lupa siapa yang mereka khawatirkan. Namun.
Raja Hathelee muncul ke permukaan. "Tidak ada."
"Apa kita mengalami halusinasi karena terlalu lama berendam?" Raja Arshaq menyusul Raja Hathelee.
"Raja Braheim, di sana," teriak Raja Garjan sembari menunjuk pinggiran kolam.
"Vinder."
__ADS_1
Spontan anak itu pun menoleh, dan membuat Braheim berikut ketiga raja mendadak kehilangan kata-kata karena memikirkan tanya yang sama dalam benaknya. Apa benar itu anak manusia? Tidakkah Dewa terlalu berlebihan? Bagaimana bisa semua yang indah ada pada sosok anak setinggi lutut itu?