TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 126


__ADS_3

"Apa kau sedang mengipasi dirimu sendiri. Kenapa aku tidak merasakan apapun?"


Seorang pelayan buru-buru bersujud di hadapan tuannya. "Mohon ampuni kekurangan hamba."


Tak ada jawaban, namun jerit tertahan pelayan belia itu cukup memberitahu jawaban apa yang diberikan sang tuan. Tuan yang tak lain adalah satu dari sekian ratus selir Raja Kumari Kandam itu kini tengah menginjak kepala si pelayan. Selir lainnya hanya tertawa menyaksikan pemandangan nahas yang malah mereka anggap sebagai hiburan pengganti festival akhir tahun itu.


"Enyahlah sebelum kubuat kau berakhir di Tamaasha*."


Tamaasha* merupakan alat penggal raksasa yang sering digunakan untuk menghukum para penjahat.


Selir bertubuh kurus kering itu hanya membungkuk berulang kali tanpa mengucap sepatah kata pun, lalu berlalu dengan tangis yang ditahannya setengah mati. Selir lainnya kembali tertawa menanggapi rekan sesamanya yang tidak hanya tampak murka tetapi juga berderai peluh itu. Memang, musim kemarau tidak cocok untuk mereka yang terbiasa mengumpat perkara kecil.


"Pelayan sialan. Kemarau sialan. Sanjeev Rajak sialan."


Selir Haimi terbahak menanggapi Selir Aroob. "Hei-hei, Mausam*lah yang paling sialan. Jika saat perang kebinasaan mereka tidak ikut campur, sekarang pasti kita sedang menikmati hujan."


Mausam* adalah pengendali cuaca dan musim.


"Tapi kurasa mereka yang paling sialan." Selir Yamuna menunjuk rombongan kereta kuda dari kejauhan.


"Aku setuju. Sampai kapan mereka akan bergantung pada Kumari Kandam?"


"Dan bagaimana jika sumur di istana selatan* dan sumur di Aasha* habis karena mencukupi kebutuhan tujuh benua lain?" Selir Ramra menimpali Selir Sakshi.


Istana selatan* merupakan istana di mana raja tinggal dan melakukan segala aktivitas yang bersifat pribadi. Istana ini dibangun di atas lahan seluas lima ratus hektar. Meski demikian hanya istana tersebut satu-satunya bangunan yang ada di sana. Selebihnya, istana selatan hanya ditanami pohon bambu.


Aasha* kuil terbesar di Kumari Kandam.


"Entahlah. Membayangkannya saja aku enggan. Daripada itu, kudengar Penasihat kita kesulitan karena Haala."


"Jelas saja. Orang yang biasa berurusan dengan darah mustahil bisa memegang pena," balas Selir Haimi pada Selir Yamuna.


"Tapi meski begitu kudengar semua orang membantunya."


Selir Sakshi menoleh pada Selir Ramra. "Itu karena Yang Mulia Raja diramalkan akan memiliki anak perempuan. Mereka jadi berlomba mendapatkan perhatian Haala dengan cara membantunya. Padahal jelas-jelas Ejlaal Awlyalah yang akan mengisi singgasana."


"Takdir memang gila." Selir Aroob menghembuskan asap Shisha* ke langit. "Lalu bagaimana nasib para petinggi?"


Shisha* merupakan metode merokok asal Timur Tengah menggunakan tabung berisi air, mangkuk, pipa, dan selang. Di dalam tabung tersebut terdapat tembakau khusus yang dipanaskan dan ditambahkan perasa atau aroma, misalnya buah-buahan.


"Yang kutahu mereka mendapat skors selama enam bulan," jawab Selir Sakshi.


"Beruntung sekali kedunguan mereka hanya ditegur dengan skors. Memang hanya para dungu yang berani mengacuhkan usulan seorang Devraaj Narvinder."


Selir Haimi tertawa menanggapi Selir Ramra. "Mereka menghadap Yang Mulia Raja untuk masalah yang sama dan langsung tak berkutik saat Yang Mulia Raja memberikan usulan yang sama. Demi apapun aku ingin melihat wajah mereka saat itu."


"Benar-benar sekumpulan dungu. Daripada itu." Selir Aroob memberi kode pada rekan-rekannya untuk mendekat. "Milik Devraaj Narvinder cacat."


Selir Yamuna tampak antusias. "Jadi kemarin kalian benar bercinta?"


"Entahlah itu disebut bercinta atau penyiksaan. Yang pasti aku sangat kecewa. Padahal dia berkata aku wanita pertamanya."

__ADS_1


"Oh ayolah jangan bertele-tele. Jadi apa maksudmu mengatakan miliknya cacat? Dan kalian bercinta atau tidak?" tanya Selir Haimi.


Selir Aroob menghela napas. "Kita butuh tombak untuk bercinta, bukan adonan Laddu*."


Laddu* kue manis berbentuk bola-bola kecil. Laddu dibuat dari tepung dan gula yang dicampur dengan berbagai bahan seperti kacang mede, almond atau kismis. Beberapa jenis laddu juga dibuat dari kacang dan wijen lalu dicampur dengan sirup gula.


Selir Sakshi ikut menghela napas. "Sayang sekali. Apa gunanya wujud luar biasa jika tidak bisa berbuat apa-apa di ranjang? Bahkan pelayan rendahan jauh lebih berguna."


"Ternyata Dewa Krpaya* sangat adil sa–"


Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.


"Tolong berhati-hati dengan apa yang Anda sekalian katakan. Harus berapa kali hamba mengingatkan jika tembok kerajaan juga memiliki mata dan telinga?" Kepala Pengurus Harem, Leyla Rahsheda, tiba-tiba muncul, memotong ucapan Selir Ramra.


Tak ada yang menjawab, kelima selir itu terlalu terkejut dengan kemunculan Leyla. Mereka pun tak bisa menampik meski ingin. Sebab peraturan di harem berubah setelah insiden selir dari Shaasvat* menampar Leyla yang kala itu menampung Vinder yang dianggap sebagai ancaman. Sejak saat itulah Braheim memercayakan semua sanksi di harem pada Leyla.


Shaasvat* nama salah satu kerajaan kecil yang ada di Kumari Kandam.


"Lalu tolong panggil Yang Mulia Ratu dan Pangeran Vinder dengan benar. Karena hamba tidak akan membiarkannya untuk yang kedua kali," imbuh Leyla.


Lagi, tak ada yang menjawab. Para selir menolak patuh tapi juga takut. Sungguh, lebih baik menggigit lidah daripada harus berakhir dikurung di dalam bekas kamar pembunuhan tanpa setetes air. Kelima selir itu pun memilih meninggalkan puncak harem, tempat favorit mereka untuk saling bertukar kabar burung yang sudah dibumbui, daripada harus bertahan dan kehilangan harga diri.


Leyla membungkuk mengantar kepergian para selir sambil bergumam dalam hati, "Aku tidak boleh membiarkan nama baik Pangeran Vinder tercemar. Aku harus segera melaporkan ini pada Yang Mulia Raja."


...•▪•▪•▪•▪•...


Kemarau kian hari kian memamerkan keganasannya. Teriknya seperti jarum yang direndam dalam air mendidih, dan udaranya seperti asap panas yang dihembuskan obor raksasa. Banyak rakyat yang meregang nyawa karena terserang penyakit fisik dan jiwa. Banyak pula yang bercerai karena masalah ini itu dan terutama ekonomi, pun yang tak kalah banyak, berganti profesi menjadi pencuri air serta makanan di kerajaan-kerajaan kecil. Dan di situasi sekacau itu, Haala jatuh sakit.


Tabib beranjak. "Ini adalah tangisan bahagia, Yang Mulia. Karena Yang Mulia Ratu tengah mengandung."


Spontan semua orang berebut mengucap selamat pada Braheim dan Haala. Kabar kehamilan Haala langsung menyebar cepat, pun langsung mengubah halaman utama istana baru* menjadi lautan manusia. Namun Braheim tidak mengizinkan mereka bertemu Haala. Untuk alasan keselamatan, mulai hari ini sampai waktu yang tidak dapat ditentukan, semua orang yang ingin bertemu Haala harus memiliki tujuan yang jelas serta surat izin berstempel emas. Tanpa terkecuali.


Istana baru* istana yang diperuntukkan Braheim khusus untuk Haala dan Vinder. Istana baru dibangun tepat di samping istana selatan.


"Bukankah semua musuh Kumari Kandam sudah mati? Apakah alasan keselamatan itu ditujukan pada kita?"


"Menjengkelkan sekali jika jawabannya iya," sahut Selir Yamuna pada Selir Haimi.


"Memang masih ada orang sinting yang berani berulah meski tahu Yang Mulia Raja sudah meresmikan banyak sanksi baru?" Selir Aroob menghela napas. "Bahkan memberi salam dengan canggung pada Haala saja langsung didatangi Kepala Penyidik. Sebenarnya yang sinting di sini aturannya atau pembuatnya?"


Selir Sakshi tertawa. "Itu adalah ungkapan cinta Yang Mulia Raja. Jadi mari maklumi saja."


"Dan ungkapan cinta itu pasti semakin menjadi sekarang." Selir Yamuna berlalu.


Ya, ungkapan cinta Braheim memang semakin menjadi. Terbukti dari puluhan pengawal yang ditempatkan di sekitar Haala, kamar tidur Haala yang dijaga agar tetap dingin, serta aneka makanan dan minuman yang tak pernah terlambat menghiasi meja makan Haala. Meski begitu Braheim tetap memprioritaskan rakyatnya. Braheim membebaskan pajak, memberikan air bersih secara cuma-cuma, dan bahkan mengeluarkan harta pribadinya setiap minggu. Namun masih saja muncul orang-orang tak tahu berterima kasih.


"Apa kalian menganggap sanksi baru yang diresmikan Yang Mulia Raja hanya gurauan?"


Salah seorang pelayan memberanikan diri menjawab Kepala Pengurus Dapur, Noopur. "Kami hanya mengambil sisa. Kami bersumpah tidak menyentuh makanan atau minuman Yang Mulia Ratu sebelum beliau."


"Itu benar. Lagipula Yang Mulia Ratu sering menyisakan makanan dan minumannya. Kami hanya merasa sayang jika itu terbuang da–"

__ADS_1


"Lalu kenapa Yang Mulia Ratu meminta tambahan kari pada sisa Idli*nya? Itu karena Yang Mulia Ratu terbiasa makan dengan porsi kecil namun sering! Dan Itulah kenapa meja makan beliau tidak pernah dibersihkan!" Suara Noopur menggelegar hingga membuat kerumunan.


Idli* bentuk idli ini menyerupai pancake atau mirip dengan serabi ala Indonesia. Idli terbuat dari fermentasi lentil dan beras yang dikukus dan biasanya dimakan bersama dengan kari sayuran pedas.


"Tapi sudah hampir jam makan siang, dan Yang Mulia Ratu tidak kunjung datang ke meja makan la–"


"Meminta tambahan kari tidak ada bedanya dengan datang ke meja makan. Apa kalian tidak bisa memahami itu?" Noopur kembali memotong ucapan bawahannya.


"Tapi kami hanya mengambil sedikit. Bukankah itu tidak masalah? Kami yakin Yang Mulia Ratu juga tidak akan marah. Jika pun Yang Mulia Ratu marah, berarti beliau sangat keterlaluan."


"Benar-benar. Padahal semua orang menderita, tetapi Yang Mulia Ratu sangat sejahtera bahkan mungkin hanya beliau yang bisa menikmati Idli di Kumari Kandam ini." Ketiga pelayan itu saling menimpali rekannya.


"Rupanya kalian sudah tidak waras. Kemasi barang-barang kalian se–"


Ucapan Noopur terjeda, sebab tak sengaja menangkap sosok itu. Ya, Vinder. Terlihat Vinder ada di dalam kerumunan, menatap Noopur sesaat, dan berlalu setelah memamerkan gelembung permen ajaib berwarna merah jambu. Spontan Noopur mengejar Vinder, namun Vinder tak terlihat bahkan di ujung lorong dapur kerajaan yang sangat panjang itu. Dan ketika Noopur masih berusaha mencari, Vinder terlihat sudah berada di gerbang utama istana selatan, tepatnya di jalur menuju ruang kerja Braheim.


"Oh, tidak. Celaka sudah jika masalah ini sampai ke telinga Yang Mulia Raja," gumam Noopur sembari berlari menyusul Vinder.


...•▪•▪•▪•▪•...


"Apa kalian terlibat hubungan terlarang?" Braheim bergantian melihat ke arah Vinder dan Noopur.


Sementara Noopur ketakutan setengah mati sampai kesulitan menjawab tanya Braheim, Vinder malah asyik membuat gelembung permen ajaib.


"Hei, gelembung apa itu yang keluar dari mulutmu?"


"Big Babol," balas Vinder pada Braheim.


Braheim menoleh pada Murat. "Apa katanya?"


"Itu nama permen, Yang Mulia. Pangeran Vinder membelinya dari Minciuna."


Braheim hanya menggeleng seraya menghela napas. "Seperti yang kalian lihat aku sangat sibuk. Jadi cepat katakan kepentingan kalian de–"


"Bawahannya mencuri makanan bulan." Vinder menunjuk Noopur.


"Apa? Makanan bulan?"


Murat berdeham, "Bulan yang dimaksud Pangeran Vinder adalah Yang Mulia Ratu, Yang Mulia."


Mimik wajah Braheim seketika berubah menjadi angker, setelah berhasil mencerna apa yang dikatakan Vinder dan Murat. Spontan Noopur bersimpuh, sambil menjelaskan masalah yang dibuat oleh ketiga bawahannya. Braheim masih membisu meski Noopur sudah sampai pada penjelasan terakhirnya. Hening sempat merajai, sesaat sebelum gelembung Big Babol yang dibuat Vinder meletus menciptakan suara menggemaskan.


Braheim memutar kursinya menghadap jendela. "Apa kemarau juga berkuasa membuat seseorang menjadi tidak tahu berterima kasih?"


"Hamba ra–"


"Tentu saja. Buktinya mereka tidak cukup hanya dibebaskan dari pajak, diberi air bersih, dan diberi sekantong koin emas setiap minggu," sela Vinder pada Murat sembari beranjak. "Bahkan juga tak cukup kuselamatkan dari perang kebinasaan."


"Lalu akankah lebih baik jika mereka dibiarkan tidak selamat dalam perang kebinasaan?" Braheim menoleh pada Vinder.


Vinder ikut menoleh. "Itu harus dicoba sebelum dijawab, matahari."

__ADS_1


__ADS_2