
"Apakah Anda yakin, Nyonya?"
Haala tersenyum. "Andai aku memiliki pilihan, Sayee."
"Hamba akan selalu berada di sisi Anda, apapun situasinya. Hamba berjanji, Nyonya."
Haala kembali tersenyum, sesaat. Sebab senyum itu mulai dikikis oleh pemandangan puncak Kerajaan Kumari Kandam yang akhirnya terlihat jelas dari balik tirai kereta kuda yang dinaikinya. Setelah bertukar pikiran dengan Aryesh, wakil pemimpin suku pengembara, Haala pun memutuskan untuk pergi ke Kerajaan Kumari Kandam. Karena ada fakta lain yang lebih mencengangkan dibandingkan fakta Raja dari tiga benua yang ingin mengusirnya berikut sang putra.
*FLASHBACK ON*
"Kau harus membawa Vinder pergi dari sini."
"Kenapa? Apa masih ada yang kau sembunyikan dariku?"
Aryesh mengangguk berat menanggapi Haala. "Aku merasakannya, kedukaan mereka yang tidak wajar. Aku khawatir mereka akan menyakiti Vinder kelak."
"Apa?"
"Itu pernah terjadi sekali. Jadi bukankah tidak mustahil akan kembali terulang? Pergilah. Berlindunglah pada Yang Mulia Braheim. Beliau satu-satunya yang bisa menjamin keselamatan Vinder."
Haala tak kuasa berkata-kata, bahkan sekadar menggeleng pun tidak.
"Aku akan membantu semampuku. Pergilah. Bawalah Sayee. Dia akan sangat berguna terutama untuk mengawasi Vinder. Kumohon, lindungilah Vinder."
*FLASHBACK OFF*
"Nyonya, kita sudah tiba."
Spontan Haala tersadar dari lamunan yang menyeretnya pada kenangan buruk kemarin malam. Sampai pada akhirnya Haala memutuskan untuk pergi diam-diam meninggalkan suku pengembara, di tengah lolongan kelaparan kawanan serigala di malam Shukravaar*. Haala mengusir sisa-sisa kenangan buruk malam itu, dan bergegas menghampiri penjaga gerbang utama Kerajaan Kumari Kandam. Namun.
__ADS_1
Shukravaar* adalah hari jumat.
"Maaf, Komandan. Anda tidak bisa masuk," ujar seorang penjaga dengan suara bergetar.
"Sekali pun aku menunjukkan ini?"
Dua orang penjaga itu kompak menelan ludah, ketika Haala menunjukkan lencananya yang menyilaukan.
"Aku harus bertemu Yang Mulia Raja. Ini mendesak," imbuh Haala.
"Maaf, Komandan. Anda harus membawa surat izin berstempel untuk bisa masuk," balas penjaga yang lain, dengan suara tak kalah bergetar.
"Lencana ini setara dengan itu. Apa kalian tidak tahu? Sungguh?"
"Maaf, Komandan. Silakan kembali besok."
Haala berbalik sembari menghela napas. "Yang benar saja."
Spontan Haala menoleh ke asal suara. "Leyla?"
"Oh, ya Dewa. Ternyata benar. Akhirnya Anda kembali, Komandan."
Leyla Rahsheda, kepala pengurus harem itu langsung menghambur memeluk Haala. Suasana melepas rindu itu berlangsung begitu dramatis, hingga suara bersin menggemaskan Vinder mengacau semuanya. Haala memperkenalkan Sayee, dan sang putra, Vinder, Devraaj Narvinder. Leyla langsung menghampiri para penjaga dan mengancamnya, ketika Vinder bersin untuk yang kedua kali. Jelas saja. Meski ramah, gerimis tetaplah gerimis, bukan?
"Rupanya kalian sangat ingin naik ke panggung Tamaasha*. Apa kalian buta? Lihatlah, itu Komandan Haala. Lalu lihat juga itu, beliau datang dengan membawa seorang bayi. Dan lagi, mereka basah kuyup. Cepat buka gerbangnya."
Tamaasha* merupakan alat penggal raksasa yang sering digunakan untuk menghukum para penjahat.
"Maaf, tapi kami tidak bisa membukanya untuk Komandan Haala."
__ADS_1
"Apa katamu? Beraninya," balas Leyla dengan nada suara setengah berteriak.
"Menteri Pertahanan yang memberi perintah seperti itu. Mana mungkin kami berani melawannya."
Leyla menggeleng-geleng. "Siapa Rajamu, hah? Yang Mulia Braheim atau Menteri Pertahanan? Kubilang cepat buka!"
Dan akhirnya, perapian. Untuk sementara Leyla membawa Haala, putranya serta wanita paruh baya bernama Sayee itu ke ruang tamu harem. Dengan bersemangat Leyla menambah kayu di perapian, membuatkan minuman hangat, membawakan camilan, handuk, selimut dan ini itu. Leyla lalu meminta Haala untuk menunggu sementara dirinya pergi menemui Braheim di Istana Selatan*. Namun. Lagi-lagi.
Istana selatan* merupakan istana di mana raja tinggal dan melakukan segala aktivitas yang bersifat pribadi. Istana ini dibangun di atas lahan seluas lima ratus hektar. Meski demikian hanya istana tersebut satu-satunya bangunan yang ada di sana. Selebihnya, istana selatan hanya ditanami pohon bambu.
"Apa yang sedang kau lakukan, Leyla Rahsheda? Aku menyuruhmu membawakan seorang pria muda dan apa yang pada akhirnya kau bawakan padaku? Malapetaka?" Seorang selir tiba-tiba menampar Leyla.
"Mohon ampuni kekurangan hamba. Hamba hanya melakukan yang seharusnya."
"Yang seharusnya? Yang seharusnya adalah pria muda yang kuminta dan bukan malah Haala dan anak itu. Apa kau tidak tahu? Anak itu akan menjadi ancaman untuk kita di masa depan."
"Maaf?"
"Sudah kuduga. Dengar, anak itu tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Itulah kenapa dia akan menjadi ancaman. Dan kau malah mengundangnya masuk? Ditambah lagi, ingin memberitahu Yang Mulia Raja? Apa kau sudah tidak waras? Cepat usir mereka atau kau tidak akan bisa melihat matahari esok hari!"
Leyla jatuh terduduk, lalu bersujud di kaki selir bergaun tidur tipis itu sambil memohon belas kasihnya. Dan di balik pemandangan memilukan tersebut, ternyata ada kepala pengurus istana selatan yang menjadi penonton. Tanpa membuang waktu lagi, kepala pengurus istana selatan pun menunda tugasnya, dan berlari tunggang langgang menerobos gerimis menuju Istana Selatan.
BRAK!
"Yang Mulia, Yang Mulia. Mohon ampuni kelancangan hamba, Yang Mulia. Hamba bersedia dipenggal setelah ini tapi hamba mohon Anda harus bergegas sekarang juga."
Braheim hanya menutup buku yang dibacanya kasar, sembari memamerkan ekspresi yang benar-benar seperti akan menjatuhi hukuman mati pada siapa pun.
"Komanda Ha--"
__ADS_1
Spontan Braheim beranjak, menjatuhkan semua buku di pangkuannya. "Di mana?"
"Beliau ada di harem, Ya--"