
Rintik gerimis yang perlahan berubah menjadi hujan hebat itu membuat langit-langit tenda menjerit mengemis pertolongan. Pun semilir angin ganjil yang berhasil menerobos celah-celah tenda, membuat sang lentera tak jarang merasa terancam. Bukan main memang cuaca di Kumari Kandam, yang semakin hari semakin membuat frustasi, sama seperti rajanya.
Hujan memang dianggap berkah bagi sebagian orang. Konon, doa apapun yang dipanjatkan saat hujan turun akan langsung menembus langit. Tapi bagi sebagain yang lain, suku pengembara misalnya, hujan bagaikan kesenangan pahit. Mereka bisa melewatkan rutinitas ibadah pagi yang membosankan tetapi juga harus menahan lapar sampai kurun waktu yang tidak dapat ditentukan.
Suku pengembara cukup kesulitan saat musim penghujan tiba. Mereka yang biasa hidup tanpa dinding dan perapian, sering kali terserang hipotermia. Makanan tertentu yang menjadi konsumsi mereka sehari-hari pun menjadi sulit didapat karena medan menuju lokasi yang sudah pasti tergenang air. Mereka pun memilih berpuasa, sambil menanti pemimpinnya turun tangan.
"Sepertinya kali ini kita harus menahan lapar sedikit lebih lama." Seorang pria dari suku pengembara memulai percakapan.
"Kenapa?"
"Lihatlah, tenda pemimpin kita masih gelap."
"Ah, benar juga. Ini memang suasana yang cocok untuk bercinta."
"Kasihan sekali Raja Braheim. Jika ada di posisinya mungkin aku sudah bunuh diri."
"Itulah mengapa bukan kau yang menjadi Raja Kumari Kandam."
"Hei, sekali pun seorang raja pasti memiliki hati. Memang kau masih bisa hidup dengan menyimpan fakta bahwa wanita yang kau cintai ditakdirkan bersama pria lain?"
__ADS_1
"Memang hanya ada satu wanita di dunia ini?"
"Aku berbicara tentang cinta, cinta. Dasar berhati dingin. Daripada itu, kapan musim penghujan ini berakhir?"
"Kau sebut ini musim? Ini adalah air mata Raja Braheim yang tidak ikhlas melepaskan wanita yang dicintainya. Kumari Kandam akan terus basah sampai luka di hati Raja Braheim membaik."
"Luka karena cinta tidak akan pernah bisa membaik. Kau akan membawa luka itu sepanjang hidupmu."
"Benarkah? Wanita yang kutemui di Chamakadaar melukai hatiku tapi aku baik-baik saja sampai sekarang. Sungguh."
"Sepertinya ada bongkahan es di hatimu. Berbicara tentang Chamakadaar, kudengar Tabib Kerajaan Kumari Kandam ditemukan di sana."
"Ya. Kudengar Raja Braheim diam-diam mencari keberadaannya. Beliau bekerja sama dengan Raja Chamakadaar sejak mereka kembali dari masa lalu. Sanjeev Rajak ditemukan di bekas tempat tinggal leluhur kita, sedang membuat ramuan aneh."
"Dasar tua bangka sinting itu! Lalu bagaimana? Apa Raja Braheim sudah menghukumnya?"
"Bukan Raja Braheim yang menghukumnya tetapi Raja Chamakadaar. Itu karena tempat ditemukannya Sanjeev Rajak ada di wilayah beliau."
"Begitu rupanya. Syukurlah. Semoga tua bangka sinting itu segera diadili dan dijatuhi hukuman mati."
__ADS_1
"Lalu? Jika Sanjeev Rajak mati, siapa yang akan kita lawan dalam perang kebinasaan di masa depan?"
Semuanya terdiam, pun Daxraj yang sejak awal mendengarkan pembicaraan sukunya. Yang semua orang tahu, pencetus perang kebinasaan di masa depan adalah Sanjeev Rajak. Tabib Kerajaan Kumari Kandam itu menuntut balas atas ketidakpedulian Ratu Kumari Kandam padanya yang gagal dalam misi menyingkirkan Haala. Dan semua orang juga tahu, jika yang bisa menumbangkan Sanjeev Rajak hanyalah putra pemimpin suku pengembara dan penerus sumpah setia Yusef Bahadir.
Lalu jika Sanjeev Rajak benar-benar mati di bawah hukuman Raja Chamakadaar, apakah itu berarti tidak akan ada perang di masa depan? Atau sebaliknya, ada musuh yang lain? Jika pun benar ada musuh yang lain, apakah akan bisa ditumbangkan juga oleh putra Daxraj Natesh dan Haala Anandmayee? Entahlah. Daxraj pun memikirkan tanya yang sama. Katakanlah musuh lain itu Gaana. Itu artinya saat ini Gaanalah yang memegang kendali, sementara Daxraj dan semua makhluk di muka bumi, berganti menjadi bonekanya.
Daxraj menyudahi kegiatannya memandangi langit-langit tenda, berniat menjalankan tugas untuk memberi makan sukunya. Seketika segudang kekhawatiran Daxraj meluruh, saat menoleh dan mendapati seorang wanita yang tengah berbaring di ranjangnya. Wanita tanpa busana itu, Haala, telah resmi menjadi miliknya sejak Braheim memerintahkannya untuk pergi menyelamatkan tanah Kumari Kandam dari perang kebinasaan di masa depan. Namun sial, situasi berubah terlalu jauh.
"Aku mendengar semuanya."
Daxraj menyelimuti tubuh Haala. "Aku tahu."
"Lalu? Kau mengetahui sesuatu?"
Daxraj diam sesaat, membalas tatapan Haala yang sangat tidak sabar.
"Perang kebinasaan tetap akan terjadi," jawab Daxraj akhirnya.
"Tapi melawan siapa?"
__ADS_1