TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 87


__ADS_3

BRUK


"Bawakan yang lain. Cih. Dasar pengecut." Jihan berlalu setelah melangkahi tubuh seorang pria yang tergeletak di tanah.


Sudah delapan orang penduduk yang Jihan iming-imingi sekantong koin emas itu jatuh pingsan, tak lama setelah menenggak ramuan seribu persen buatan mantan Tabib Kumari Kandam, Sanjeev Rajak. Ramuan itu, Vakr, ternyata benar-benar membuat mati batin siapa pun terbuka dalam hitungan detik. Para penduduk yang jatuh pingsan terhitung sebagai korban selamat. Sementara korban yang tidak selamat? Lupakan saja.


"Ini gawat, Tuan Putri."


Jihan menoleh pada pengawalnya. "Sungguh? Lebih gawat dari cat kukuku yang tergores ini? Katakan."


"Keluarga korban yang tidak selamat mulai melakukan pencarian. Bahkan beberapa dari mereka sedang dalam perjalanan melaporkan kehilangan keluarganya pada Raja Lagaam."


"Hah, merepotkan saja. Untuk apa mencari orang yang tidak berguna?" Jihan mengeluarkan Vakr dari dalam sakunya. "Maka tidak ada cara lain."


"Apa tidak masalah, Tuan Putri?"


"Tentu saja masalah. Kenapa? Ingin menggantikanku menenggak ini?" Jihan menggoyang-goyangkan botol ramuan Vakr.


Pengawal berbadan kekar itu tak menjawab, hanya buru-buru menunduk merasakan jantungnya yang seolah bisa meledak kapan saja.


GLEK


"Ayo selesaikan ini dengan cepat dan kembali. Meninggalkan tua bangka sialan itu sendirian rasanya membuatku tidak tenang," imbuh Jihan seraya keluar dari kereta kudanya.


Sepuluh detik berlalu, pun sepukuh detik berikutnya. Namun Jihan tidak melihat apapun. Baik itu di darat atau di udara, semuanya tampak normal di mata Jihan. Tetapi di detik tiga puluh enam, bola mata hijau pekat itu mulai menangkap yang dicarinya selama sepekan. Alih-alih takut beradu tatap dengan segala sosok mengerikan itu, Jihan malah merasakan sensasi yang baru pertama kali dirasakannya.


"Luar biasa." Jihan bergumam memandangi sosok tak kasat mata yang berdiri tak jauh darinya. "Kenapa para rendahan itu malah ketakutan?"


Jihan bertanya pada para pengawal dan pelayannya yang sejak satu pekan lalu setia mengekor. Tentu saja tak ada yang bisa memberi jawaban. Namun benak mereka kompak mengatakan jika Tuan Putrinya itu benar-benar sudah hilang akal. Ketakutan adalah respon normal yang ditunjukkan oleh orang yang juga normal. Jadi wajar saja jika sebagian dari mereka jatuh pingsan bahkan melompat ke jurang tanpa ragu.


Dan sebaliknya. Takjub bukanlah respon yang ditunjukkan oleh orang normal. Seperti respon Jihan saat ini. Ingin rasanya para pengawal dan pelayan Jihan itu balik kanan, meninggalkannya mencari malapetaka seorang diri. Tapi seragam yang mereka kenakan seketika membuat mereka tersadar jika hidup dan mati mereka sudah diserahkan pada orang hilang akal yang sekarang tengah memimpin jalan.


"Berhenti."

__ADS_1


Pengawal dan pelayan Jihan serempak diam di tempat, mengikuti perintahnya. Terlihat Jihan mematung memandangi ujung tebing, di mana hanya ada batu seukuran roda kereta kuda di sana. Tentu saja mata biasa hanya bisa melihat itu, berbeda dengan mata buatan yang sudah dicemari ramuan Sanjeev Rajak. Yang susah payah Jihan cari-cari hingga memakan banyak korban itu ada di sana, sedang duduk menatap langit.


"Usiaku sudah enam ratus tiga tahun."


Jihan memberi kode pada para pengawal dan pelayannya untuk menjauh. "Beruntung sekali kau masih hidup."


Lipito, atau yang lebih tersohor dengan panggilan Gaana itu menyudahi aktivitasnya. "Kami abadi."


"Oh, benarkah? Yang kutahu ada satu sepertimu yang pada akhirnya mati dan menjadi abu yang meninggalkan aroma busuk."


"Itu karena dia masih anak-anak."


Jihan mulai tertarik, dan tanpa sadar melangkah mendekat.


"Bukankah semua anak-anak itu bodoh?"


"Hm? Ya. Jika diasuh oleh orangtua yang juga bodoh," balas Jihan.


"Kau datang untuk membuat kontrak?"


"Pergilah. Kami sudah berjanji tidak membuat kontrak denganmu."


"Janji? Pada siapa?"


Gaana berwujud wanita muda bak bidadari dengan mata berwarna amber itu menunjuk ke langit. "Dia."


Jihan mendongak. "Apa?"


"Seorang pria yang mengaku sebagai kekasihmu di masa lalu, Firdoos Shyamali."


Ada sesuatu yang tiba-tiba memukul tempurung lutut Jihan dengan sangat keras, hingga membuatnya jatuh bersimpuh di atas rerumputan tajam itu. Para pengawal serta pelayan Jihan pun langsung berlari menghampirinya, dan bergegas membawanya kembali ke kereta kuda. Di sepanjang perjalanan Jihan terus menangis sambil menyumpah serapahi hatinya yang semakin tak karuan digerogoti kenangan.


Sementara itu di Kerajaan Sitaara, Sanjeev Rajak yang ditelanjangi dan dipenjara di menara lagi-lagi berhasil meloloskan diri. Perasaan tidak tenang Jihan kini terjawab sudah. Berlawanan dengan Jihan yang sedang dalam perjalanan kembali dari Benua Lagaam, Sanjeev malah baru akan memulai perjalanannya ke sana. Sambil menenggak ramuan buatannya sendiri, Vakr, Sanjeev memacu kuda curiannya menuju pelabuhan.

__ADS_1


"Kumari Kandam, aku akan mengejutkanmu dengan kelahiran Gaana yang baru."


Tawa Sanjeev menggelegar mengusik gerimis yang ramah, mengusik pusara Daxraj Natesh yang masih sangat segar, pun mengusik istirahat damai lawannya yang belum genap berumur sepuluh hari. Awal dari perang kebinasaan di masa depan telah tercatat. Entah kapan tepatnya kiamat itu akan kembali mengguncang tanah Kumari Kandam namun satu yang pasti, perang itu benar-benar akan terjadi.


"Kau datang untuk membuat kontrak?"


"Benar, Tuanku." Sanjeev semakin membenamkan wajahnya ke tanah.


"Hmm ini yang pertama."


"Hamba bersedia dengan apapun bayarannya," sahut Sanjeev.


"Tentu saja jiwa suci."


"Dengan senang hati hamba akan memberikannya sebanyak yang Anda inginkan, Tuanku."


"Sepuluh ribu jiwa suci setiap satu bulan."


"Itu bukan masalah, Tuanku."


"Hei, manusia. Berpikirlah sebelum menjawab."


"Jika Anda ragu, hamba akan membawa sepuluh ribu jiwa suci ke hadapan Anda sekarang juga."


"Kadang kesombongan para manusia membuatku kagum."


Sanjeev mengangkat sedikit kepalanya. "Jadi, apa kita sepakat, Tuanku?"


"Apa yang kau inginkan?"


Sanjeev menyeringai. "Kebinasaan Kumari Kandam."


"Pilihan yang tepat. Tugas membinasakan sudah seharusnya diberikan kepada laki-laki, bukan wanita seperti Sannidhi Hessa. Benar?"

__ADS_1


__ADS_2