TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 80


__ADS_3

Kerajaan Kumari Kandam mendadak dihebohkan dengan kabar dibangunnya sebuah istana megah di sisi utara. Alasan terkait untuk apa dan untuk siapa istana tersebut dibangun dirahasiakan rapat-rapat, dan langsung menjadi topik terpanas selama beberapa pekan terakhir, menggeser topik tentang pembatalan pernikahan Braheim dan Putri Chadna dari Chamakadaar.


Menurut pengakuan seorang pekerja bangunan yang berhasil disuap oleh para penggosip, istana megah tersebut dibangun untuk calon penerus Braheim. Tidak pernah meniduri wanita tapi memiliki penerus? Bagaimana mungkin? Para penggosip itu akhirnya bersepakat menyematkan label tak waras pada Braheim. Dan sungguh tepat label itu, karena semakin hari semakin terang-terangan saja Braheim menunjukkannya.


Tidak cukup membuat para pekerja bangunan menggeluti kesibukan yang tidak jelas, kini penjahit serta tabib pun ikut diseret. Para penjahit itu diperintahkan membuat pakaian untuk anak laki-laki berusia tiga tahun. Sementara si tabib, diperintahkan menghadap Braheim setiap hari untuk menjelaskan apa yang biasanya disuka dan dibenci anak berusia tiga tahun. Dan hari ini, giliran Murat.


"Mereka tidak kompeten." Braheim mengembalikan gulungan laporan pada Murat.


"Mohon ampuni kekurangan hamba, Yang Mulia. Hamba akan segera mencari penggantinya."


Braheim mengangguk. "Aku ingin guru-guru yang kompeten untuk pendidikan penerusku. Meski tidak mendesak, aku ingin membuat kontrak dengan mereka secepatnya."


"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."


Braheim tak menjawab, sibuk diputar-putar oleh pelayannya yang tengah memakaikannya Dhoti.



...Dhoti...

__ADS_1


Murat berdeham, "Maaf jika pertanyaan hamba ini mungkin akan terdengar lancang, Yang Mulia. Tapi bukankah untuk memiliki penerus Anda harus membuatnya terlebih dahulu?"


Spontan Braheim menoleh pada Braheim. "Maksudmu aku tidak tahu cara membuat penerus, begitu?"


"Mana mungkin ha--"


"Berahiku lebih liar dari kuda liar di musim kawin," sela Braheim.


Wajah Murat memerah, pun wajah para pelayan yang sedari tadi sibuk menyembunyikan kharisma Braheim di balik Dhoti sederhana itu. Ada satu dari sedikit yang Murat ketahui tentang Braheim. Jika Braheim sedang kesal, dia akan bermain catur hingga fajar. Lalu jika kekesalan Braheim tidak mendapatkan penawar, dia akan mengatakan hal-hal yang bahkan tidak akan terdengar di rumah-rumah bordil sekali pun.


"Apa aku menggunakan anggaran Kumari Kandam untuk membangun istana baru? Memanggil penjahit juga tabib? Dan memperkerjakan guru-guru itu?"


"Maka lakukan saja apa yang kuperintahkan dan jangan membahas berahi yang mati-matian sedang kutahan ini, Murat Iskender."


"Baik, Yang Mulia." Murat membungkuk pada Braheim.


"Ada yang lain yang ingin kau katakan?"


"Bolehkah hamba tahu ke mana Anda akan pergi, Yang Mulia?"

__ADS_1


"Bahkan jika Dewa Krpaya* tidak memiliki sifat maha tahu, aku tidak akan memberitahuNya," balas Braheim.


Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.


"Lalu berapa lama Anda akan pergi, Yang Mulia?"


"Entahlah. Aku akan kembali segera setelah urusanku selesai."


"Jika tempat yang Anda kunjungi memang seberbahaya itu, bukankah akan lebih baik jika Aswin ikut serta, Yang Mulia?"


"Tidak. Seribu prajurit sudah cukup."


Murat menyudahi usaha mengobati rasa penasarannya yang tak membuahkan hasil, dan mengekori Braheim yang telah selesai dihias. Hari ini Braheim akan pergi ke suatu tempat untuk memenuhi janjinya dengan seseorang yang entah siapa. Setelah menjalankan ritual keselamatan yang panjang, Braheim bersama rombongannya pun langsung bergegas, dan tiba setelah empat hari perjalanan tanpa istirahat.


Ternyata tempat yang dituju Braheim adalah Rona*. Seribu prajurit Braheim spontan mengangkat pedangnya, karena terkejut mendapati kedatangan yang lain. Terlebih tidak hanya satu orang melainkan ribuan orang, dan terlebih lagi bukan orang biasa melainkan prajurit berzirah lengkap. Braheim pun keluar dari kereta kuda, sambil memerintahkan para prajuritnya untuk menurunkan pedang.


Rona* adalah tempat di mana raja dan ratu akan diadili jika terbukti berbuat dosa yang berkaitan dengan rakyat. Rona terletak di tengah-tengah delapan benua termasuk Kumari Kandam. Dan orang yang akan menjadi hakim di Rona adalah setiap pemimpin dari delapan benua tersebut.


"Kupikir hanya kabar burung, tetapi tampaknya Kumari Kandam memang sedang kacau sampai-sampai aku yang datang dari tempat paling jauh bisa tiba lebih dulu."

__ADS_1


__ADS_2