TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 119


__ADS_3

Suasana pernikahan yang sederhana namun dipenuhi kebahagiaan tulus itu benar-benar yang pertama dalam sejarah Kumari Kandam. Bagaimana tidak? Braheim adalah Raja Kumari Kandam pertama yang melangsungkan pernikahan dengan adat benua lain, bahkan bukan hanya adat dari satu benua melainkan tujuh benua. Bukan tanpa alasan. Adat menikah Kumari Kandam cukup rumit, di mana calon pengantin diharuskan melakukan sebelas ritual di sebelas kuil. Masalahnya tiga kuil ada di luar pelindung, dan tidak mungkin ada calon pengantin yang ingin berganti status menjadi calon mayat meski terdesak, bukan?


Itulah kenapa pernikahan Braheim dan Haala dilangsungkan dengan adat benua lain. Lalu tidak mungkin pula menggunakan satu adat pernikahan saja mengingat para raja dari tujuh benua yang saat ini berada di Kumari Kandam. Pernikahan itu berlangsung sederhana namun penuh kekhusyukan. Tersisa satu adat terakhir sebelum Braheim dan Haala meninggalkan statusnya sebagai sepasang kekasih sengsara. Adat pernikahan Benua Chamakadaar. Sama seperti Raja-raja yang lain, Raja Arshaq pun diberikan kehormatan untuk memimpin momen sakral itu.


"Mengingat calon pengantin wanita sudah pernah menikah dan memiliki seorang anak, anak itu harus hadir di sini," tutur Raja Arshaq.


Spontan semua orang menoleh ke sana ke mari mencari keberadaan Vinder. Jika ada yang membuat mata silau, maka disitulah Vinder berada. Wajahnya yang menyilaukan ditambah rambut emasnya yang tersorot cahaya lampu membuat Vinder tidak sulit untuk ditemukan. Terlihat Vinder tengah asyik beradu gelas Goan Feni* dengan para selir sambil tertawa sangat lepas dan sesekali mencuri pandang ke arah yang tidak seharusnya. Vinder sudah menenggak alkohol sejak sebelum acara dimulai dan hebatnya belum juga tumbang. Sepertinya para selir harus lebih banyak mengerahkan usaha.


Goan Feni* adalah minuman beralkohol yang hanya diproduksi di Goa, India. Goan Feni dibuat dari getah kelapa atau apel mete dan kandungan alkohol di tiap botolnya mencapai 43-45%.


"Vinder."


"Oh ayolah, anak burung." Vinder beranjak malas.


"Apa ka–" Raja Arshaq berdeham, menekan emosinya. "Kemari sebentar. Pernikahan bisa diakhiri jika kau bekerja sama."


Vinder tak membalas, hanya melangkah enggan melewati ambal emas yang terhampar di tengah aula sembari membersihkan remahan Laddu* di pakaiannya yang tidak senonoh.


Laddu* kue manis berbentuk bola-bola kecil. Laddu dibuat dari tepung dan gula yang dicampur dengan berbagai bahan seperti kacang mede, almond atau kismis. Beberapa jenis laddu juga dibuat dari kacang dan wijen lalu dicampur dengan sirup gula.


"Benahi pakaianmu." Raja Arshaq menunjuk pakaian Vinder.


"Oh ayolah, an–"


Kata-kata pemprovokasi caci dan maki itu tak jadi lolos, sebab Murat yang melempar selendangnya tepat waktu untuk menyumpal mulut Vinder.


"Hah." Vinder melilitkan selendang hijau itu sembarangan dan duduk di tempat yang ditunjuk Raja Arshaq.


Upacara terakhir pun dilanjutkan, dengan upaya mati-matian semua orang menahan tawa. Berbeda dari adat pernikahan di benua lain, adat pernikahan Benua Chamakadaar benar-benar sesederhana itu. Setelah mengikuti janji pernikahan yang didiktekan Vinder dengan arahan dari Raja Arshaq serta meminum air suci dari cawan yang sama, Braheim dan Haala sudah resmi menjadi suami istri. Semua orang bersorak bahagia. Akhirnya dua insan yang selama berbelas tahun mengarungi perjalanan cinta yang berliku itu disatukan Dewa Krpaya* di waktu yang sangat tepat.


Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.


"Selamat." Vinder mengulurkan kedua tangannya pada Braheim dan Haala.


Spontan Braheim dan Haala tertawa dan menghambur memeluk Vinder.


"Lepaskan. Memang aku anak-anak. Cih," imbuh Vinder.


"Jaga sikapmu, Pemimpin bayi." Aryesh tiba-tiba muncul. "Selamat atas pernikahan Anda, Yang Mulia. Hamba benar-benar turut serta berbahagia. Ini adalah pernikahan terbahagia yang pernah hamba hadiri."


"Padahal baru kali ini kau menghadiri pernikahan seseorang. Bukankah setiap hari kau hanya sibuk mengupas kulit ubi?" Vinder berlalu.


"Dasar perusak suasana."


"Kurasa dia malah menghidupkan suasana," balas Braheim pada Aryesh. "Tabiat seperti itu benar-benar hanya miliknya."


"Anda benar, Yang Mulia. Dia adalah pemimpin suku pengembara pertama yang melanggar semua adat leluhur. Sejujurnya hamba sedikit khawatir dengan nasib suku kami kedepan. Dia lebih menyebalkan dari Daxraj Natesh."

__ADS_1


Braheim kembali tertawa, pun Haala.


"Tolong maklumi dia."


"Tolong jangan siksa hamba dengan permintaan seperti itu." Aryesh menatap Haala dengan sorot mata memohon.


Haala hanya tertawa menanggapi Aryesh. Begitu pula dengan Aryesh sendiri dan tentu saja Braheim.


"Salam." Birousk dan Zerdad menyusul memberi ucapan selamat pada Braheim dan Haala. "Semoga pernikahan Anda selalu dilimpahi kebahagiaan."


Braheim mengangguk seraya menepuk pundak Birousk dan Zerdad. "Bersenang-senanglah."


"Terima kasih, Yang Mulia." Zerdad membungkuk pada Braheim.


"Aku bersungguh-sungguh. Aku memperhatikan kalian meski tidak sering. Sepertinya kalian tidak menyentuh hidangan sedikit pun. Katakan saja jika ada hidangan tertentu yang kalian inginkan."


"Suku pengembara tidak mengonsumsi selain ubi, sayur dan buah, Yang Mulia."


"Ah, aku baru mengetahuinya." Braheim langsung memberi kode pada pelayan. "Siapkan meja tersendiri untuk suku pengembara. Lalu siapkan juga ubi, sayur dan buah-buahan."


"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia." Empat orang pelayan membungkuk sebelum berlalu ke dapur.


"Terima kasih, Yang Mulia. Tapi apa kami boleh membungkusnya?"


Braheim tak menjawab, hanya perlahan menoleh pada Haala, meminta penjelasan dari tanya Aryesh.


"Ah, begitu rupanya. Bayi itu benar-benar menyesatkan pengetahuanku tentang suku pengembara." Braheim menggeleng melihat Vinder yang saat ini kembali beradu gelas Goan Feni dengan selir-selir dari tujuh benua.


...•▪•▪•▪•▪•...


Pesta pernikahan yang sudah digelar selama dua hari berturut-turut itu pun berakhir. Meski begitu, aula pesta masih terlihat ramai. Bahkan pengantin pria, Braheim, masih bertukar kelakar dengan rekan-rekannya sambil menyantap aneka hidangan. Sementara di meja lain tampak Jihan tengah mengerjai sang kekasih, Faakhir, yang sudah dua hari ini bekerja menjadi pelayan tambahan di pesta pernikahan Braheim dan Haala.


"Silakan, Putri." Faakhir meletakkan sepiring Tandoori* di meja Jihan.


Tandoori* merupakan masakan ayam yang berasal dari daerah Punjab. Tandoori telah ada sejak zaman kesultanan Mughal di Asia Selatan dan bahkan menyebar hingga di Asia Tengah dan Asia Tenggara. Tandoori dibuat dari daging ayam yang direndam adonan susu asam kental dengan garam masala, bumbu, dan lada khas India.


Jihan menahan tawanya. "Katakan berapa banyak upah yang kau dapatkan."


"Selamat menikmati, Pu–."


"Bawakan juga Panipuri*," sela Jihan.


Panipuri* kue yang terkenal dengan cita rasa asam manis. Bentuk Panipuri mirip dengan bola ubi dan bertekstur renyah.


Faakhir menarik napas dalam, menoleh pada Jihan, dan melepas kopiahnya. "Ayo kita pulang."


"Seharusnya kau mengatakan itu sejak dua puluh menit yang lalu."

__ADS_1


Faakhir hanya menggeleng, dan membalas gandengan tangan Jihan. Namun pada akhirnya Jihan harus pulang sendiri karena sang kekasih yang ternyata masih harus mengenakan seragamnya selama para tamu belum kembali ke istana tenggara*. Apa boleh buat. Jihan pun melewati perjalanan panjang itu hanya dengan lolongan samar serigala, kusir, serta lima orang pengawal yang membosankan.


Istana tenggara* sering disebut istana ratu karena seluruh tugas harian ratu berlangsung di sini. Selain itu, istana tenggara juga menjadi tempat tinggal orang-orang dengan status tinggi seperti penasihat raja, menteri, komandan perang, kepala penyidik, serta tamu-tamu dari luar Kumari Kandam.


...Letakkan kedua telapak tanganmu di sana. Bangunkan mereka. Mereka sudah menunggumu. Hanya kau yang bisa membangunkan mereka....


Jihan buru-buru membuka jendela kereta kuda. "Apa kau mendengarnya?"


"Maaf, Putri?"


"Suara itu? Sungguh kalian tidak mendengarnya?" Jihan menatap seorang pengawal.


"Tidak ada suara apapun, Putri."


...Letakkan kedua telapak tanganmu di sana. Bangunkan mereka. Mereka sudah menunggumu. Hanya kau yang bisa membangunkan mereka....


"Itu. Itu terdengar lagi. Bukankah itu sangat keras? Apa telingamu itu hanya hiasan?"


"Maaf, Putri. Tapi sungguh hamba tidak mendengar apapun selain lolongan serigala dari arah selatan," balas si pengawal.


Jihan tak memberi respon apa-apa karena keterkejutannya yang seketika mengundang firasat buruk. Jihan hanya menutup jendela dan kembali duduk bersandar di punggung kursi. Ada yang salah. Bukan pendengaran Jihan pun pendengaran pengawal itu tetapi sesuatu yang lain yang entah apa. Jika suara sekeras itu tidak terdengar oleh orang lain, artinya suara itu berasal dari dalam kepala Jihan sendiri.


"Kita sudah tiba, Putri." Pengawal membukakan pintu kereta kuda untuk Jihan.


"Ya, kembalilah."


KLEK


Jihan buru-buru mengunci pintu rumahnya. Pun menutup semua tirai jendela. Lalu setelahnya Jihan duduk, menenangkan diri, mengatur napas sembari meyakinkan jika suara yang didengarnya dalam perjalanan hanyalah halusinasi. Namun.


...Letakkan kedua telapak tanganmu di sana. Bangunkan mereka. Mereka sudah menunggumu. Hanya kau yang bisa membangunkan mereka....


"Tidak! Aku tidak mendengar apapun! Pergi! Jangan ganggu aku!" Jihan berteriak ke segala arah.


...Letakkan kedua telapak tanganmu di sana. Bangunkan mereka. Mereka sudah menunggumu. Hanya kau yang bisa membangunkan mereka....


"Aku tidak akan melakukannya! Berhenti! Kumohon berhenti! Aku tidak mau! Aku tidak akan melakukannya untukmu! Pergi!" seru Jihan.


Tak peduli sekeras apapun Jihan menolak pun berteriak, suara itu malah kian bersemangat memenuhi kepalanya. Dan sekarang, Jihan pun telah sepenuhnya terpengaruh. Sorot mata tangguh di netra cantik itu hilang, digantikan kekosongan.


"Letakkan kedua telapak tanganmu di sana. Bangunkan mereka. Mereka sudah menunggumu. Hanya kau yang bisa membangunkan mereka," gumam Jihan.


Terlihat Jihan berjalan ke belakang desa, tepatnya ke sebuah pemakaman. Jihan kembali menggumamkan suara itu, sambil menempelkan kedua tangannya di mulut gerbang pemakaman. Bibir bergincu merah terang itu mulai merapalkan sesuatu, dan tak lama setelahnya, tanah pemakaman bergetar membangkitkan penghuninya yang terlelap. Ratusan mayat berwujud jauh dari menyeramkan itu bangkit, melangkahi Jihan yang pingsan.


Beberapa orang lainnya yang terpengaruh oleh suara itu pun sedang menjalankan tugasnya. Mereka menyebar mendatangi pemakaman yang ada di dalam pelindung dan merapalkan mantra pembangkit. Sementara Makshi, gadis baik hati dari Benua Lagaam, tampak tengah memandangi dasar Dhoosar*. Makshi pun mulai merapalkan mantra, dan sosok pertama yang naik ke permukaan adalah Komandan Perang Kumari Kandam pertama, Yusef Bahadir.


Dhoosar* merupakan sungai yang sejak beratus tahun lalu dijadikan tempat pemakaman khusus orang-orang yang berjasa untuk Kerajaan Kumari Kandam.

__ADS_1


"Kerja bagus, boneka-bonekaku." Sanjeev menyeringai memandang ke dalam pelindung Kumari Kandam. "Lalu, apa sekarang giliranmu?" Sanjeev berganti memandangi bumi terakhir yang ditapaki Sannidhi Hessa.


__ADS_2