TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 108


__ADS_3

Batuk tak berkesudahan bercampur umpatan itu terdengar sangat mengganggu. Ternyata suara yang sangat mengganggu itu datang dari dalam salah satu tenda milik suku pengembara, lebih tepatnya tenda milik wakil pemimpin suku pengembara, Aryesh Farorz. Terlihat Aryesh tengah bersandar di punggung ranjang sambil menggaruk lehernya berulang kali, berharap dengan begitu rasa gatal yang seolah tengah menari-nari di sepanjang lehernya itu bisa sedikit berkurang.


Aryesh melirik aneka dedaunan herbal dan peralatan meramu di meja. "Apa dia bodoh? Memberiku daun-daun itu tanpa mencucinya terlebih dahulu? Balavaan*, bawa dia padaku."


Balavaan* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk singa raksasa.


Namun Balavaan bergeming, begitu pula dengan kawan-kawannya, Chammach*, Bandar*, dan Bhookamp*. Mereka hanya memandang Aryesh dengan malas. Aryesh turun dari ranjang yang entah sudah berapa lama dia baringi, namun bukan untuk mencari sendiri keberadaan orang yang membuat kerongkongannya itu gatal melainkan karena merasakan kesunyian yang tak lumrah. Terik mentari seketika membuat pijakan Aryesh goyah, sesaat setelah dirinya keluar dari tenda.


Chammach* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk ular raksasa.


Bandar* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk kera raksasa.


Bhookamp* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk gajah raksasa.


"Birousk? Zerdad? Farasat? Sayee?" Aryesh menoleh ke sana ke mari, mengikuti suaranya yang menggema. "Aku sudah memaafkan kejahatan kalian waktu itu jadi keluarlah."


Suara Aryesh kembali menggema, dan perlahan, jantungnya mulai berdebar takut. Ini benar-benar suasana sunyi yang tak lumrah. Sakit kepala yang mendadak menyerang sekian detik itu mengingatkan Aryesh pada kejahatan lain yang dilakukan sukunya. Benar. Mereka tidak hanya memberi Aryesh racun ular viper tetapi juga berencana mengulang masa kelam dengan membunuh penerus pemimpin suku pengembara. Spontan Aryesh pun berlari menuju pintu portal suci. Namun.


"Sial. Siapa yang memindahkan portal su--, tunggu, mungkinkah?" Aryesh menggeleng-geleng. "Tidak. Mustahil. Usianya bahkan masih sangat kecil, dan tidak ada yang mengajarinya memindahkan portal suci. Tunggu. Jika portal suci sampai dipindah, bukankah itu artinya ada iblis yang pernah mendekat? Sial. Berapa lama aku tidak sadarkan diri?"


Aryesh berlari kembali ke tendanya, dan langsung mendekati Balavaan, hewan peliharaan Daxraj Natesh yang paling angkuh. Ditatapnya kedua mata tajam Balavaan, dan perlahan Aryesh bisa melihat semua yang terjadi selama dirinya tidak sadarkan diri, melalui mata itu. Terlihat Jihan tengah menyeretnya seperti kalkun, mengganti pakaiannya dan mencekokinya ramuan sambil memaki. Terlihat juga Jihan menggali liang lahad salah satu pemimpin suku pengembara.


"Wanita gila ini. Apa yang dilakukannya?" Aryesh kembali menatap Balavaan.


*FLASHBACK ON*


"Kudengar usianya belum genap satu bulan, dan dia diprediksi tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Tapi lihatlah pelindung luar biasa buatannya ini. Hmm menarik." Sanjeev terbahak.


Di tengah tawa Sanjeev yang terdengar ambigu, Balavaan beserta hewan peliharaan Daxraj Natesh yang lain tampak tengah berjalan mendekatinya. Perlahan tawa Sanjeev meluruh, pun perlahan, Sanjeev berubah wujud menjadi Daxraj Natesh. Untuk sesaat langkah Balavaan dan kawan-kawannya terhenti, namun bukan karena terkecoh melainkan karena bersiap untuk menerkam.


"Jangan marah. Aku hanya lewat. Tujuanku yang sebenarnya ada di sana." Sanjeev menunjuk Kerajaan Kumari Kandam. "Aku ingin bertegur sapa dengan musuhku."

__ADS_1


Balavaan berikut kawan-kawannya bergeming, sedang memilih bagian tubuh Sanjeev yang mana yang akan mereka cabik-cabik.


"Apa kalian tahu aturan bersekutu dengan Gaana? Jangan pernah setuju jika bukan kalian yang menjadi tuannya. Menyatulah dengan Gaana, dan milikilah kekuatannya yang maha dahsyat. Salah satunya, meniru wujud Daxraj Natesh tanpa perlu menggali liang lahadnya." Sanjeev kembali terbahak.


Keempat makhluk supernatural berukuran raksasa itu spontan berlari bersamaan ke arah Sanjeev. Sanjeev merentangkan kedua tangannya, menganggap mereka ingin memberinya pelukan. Namun ketika Balavaan dan yang lain hampir menembus portal suci, portal suci lenyap.


"Ah, sayang sekali. Padahal aku belum pernah dipeluk singa, ular, kera dan gajah." Sanjeev berjalan menuju Kerajaan Kumari Kandam. "Daripada itu, jika dalam wujud ini bukankah lebih tepat jika aku berkata ingin bertegur sapa dengan penerusku?"


*FLASHBACK OFF*


"Oh, tidak. Masa kelam benar-benar sudah di depan mata." Aryesh jatuh terduduk. "Tunggu. Lalu di mana yang lain?"


Aryesh melihat bergantian ke arah Balavaan, Chammach, Bandar dan Bhookamp. Namun tak ada jawaban. Ya, tak ada jawaban sampai sebelum air mata mereka menetes. Bahkan Balavaan yang angkuh saja ikut meneteskan air matanya.


"Sial. Dasar tidak berguna." Aryesh memukul kepalanya sendiri.


Sementara Aryesh masih terduduk putus asa di tempatnya, Sayee yang juga tersadar dari tidur panjangnya malah memutuskan mengakhiri hidup dengan melompat dari lantai tiga belas istana utara*. Sebelum memutuskan untuk bunuh diri, Sayee mendengar obrolan para perawat tentang pemimpin suku pengembara yang bangkit dari kubur dan menghebohkan delapan benua. Bayang-bayang akan masa kelam semakin erat mendekap, membuat Sayee sesak, dan hanya mampu melihat gelap.


Istana utara* atau yang lebih dikenal dengan istana gaduh, merupakan istana yang paling banyak dikunjungi. Karena ada rumah sakit, akademi meramu obat, juga kebun tanaman herbal langka. Tabib Kerajaan juga tinggal di sini sebab selain bertanggung jawab pada para pasien selama dua puluh empat jam, dia juga mengajar di akademi.


Dan bersamaan dengan itu, tangis Vinder kembali memorak-porandakan seisi Kerajaan Kumari Kandam. Merupakan kesialan jika sampai jatuh darah kotor menjelang hari-hari baik. Jika itu sampai terjadi, maka tidak ada cara yang lebih baik selain mengganti hari baik itu ke hari lain yang lebih baik. Ditambah lagi karena suatu alasan, calon pengantin saling bertemu dan bahkan bersentuhan. Mau tak mau sebelas ritual wajib calon pengantin pun harus diulang dari awal.


...•▪•▪•▪•▪•...


Kumari Kandam yang selama beberapa hari terakhir hanya didatangi suka cita kini berganti didatangi duka cita. Sayee memilih akhir hidup yang tak kalah mengenaskan dari sukunya yang berendam di Badaal*. Seakan tak ikhlas melepas kepergian Sayee, Vinder bahkan masih meneteskan air matanya meski tidak sedang menangis. Semua orang bersedih, sebab kepergiaan Sayee, sebab trenyuh melihat air mata Vinder, dan sebab merasa kasihan dengan perjalanan cinta Braheim dan Haala yang terlampau berliku.


Baadal* adalah salah satu danau keramat di Kumari Kandam. Konon Baadal dijaga oleh ikan raksasa bernama Ghinauna. Mereka yang berendam di Baadal akan disucikan dari sisa perbuatan kotor manusia, sisa makanan serta minuman haram, atau racun yang mengendap di tubuh. Namun Ghinauna dikenal tidak ramah, sehingga hanya sedikit sekali orang yang bisa berendam di sana.


Dan di puncak duka cita itu, portal suci muncul. Di sana. Tepat di atas pusara Sayee yang masih basah. Sinar portal suci yang terlewat terang membuat langkah berkabung semua orang terhenti. Mereka kompak berbalik, dan hampir terjungkal bersamaan karena terkejut. Terlihat Balavaan tengah berjalan mendekati mulut portal suci sambil memandangi semua orang satu per satu, dan mengakhiri pandangannya pada Braheim dan Haala yang terlihat saling merangkul. Lalu tak lama, Aryesh pun menampakkan diri.


"Panjang umur, dan terberkatilah selalu, matahari Kumari Kandam."

__ADS_1


"Syukurlah kau selamat, Aryesh Farorz," balas Braheim. "Ada banyak hal yang ingin kutanyakan. Aku akan meluangkan waktu."


Aryesh menggeleng. "Tidak ada waktu lagi, Yang Mulia."


"Karena masa kelam sudah dimulai."


Aryesh menoleh pada Kepala Penyidik dan mengangguk. "Tapi masa kelam kali ini berbeda dengan saat itu. Masa kelam kali ini terjadi bukan karena murka Tuhan melainkan karena takdir yang mengarah pada perang kebinasaan."


"Apa rencanamu?" tanya Braheim.


"Penerus pemimpin suku pengembara harus tinggal di dalam portal suci ka–"


"Bagaimana mungkin? Dia masih sangat kecil, Aryesh."


Aryesh berganti menoleh pada Haala. "Usia satu bulan setara dengan seratus tahun. Tapi jika di dalam portal suci, usia satu hari setara seratus tahun, Nyonya."


"Kalau begitu aku akan ikut."


Aryesh menggeser langkahnya ke sisi berlawanan, mempersilakan Haala menembus portal suci.


Spontan Braheim menahan Haala. "Kau tahu betul itu tidak mungkin, bukan?"


"Hamba sudah menyerahkan diri hamba demi kemenangan Kumari Kandam dalam perang kebinasaan." Haala menunjuk portal suci. "Bukankah dia yang keterlaluan jika sampai menolak hamba, Yang Mulia?"


Ucapan Haala yang penuh penekanan itu menyadarkan Braheim, pun semua orang. Mereka hanya terpaku pada kesucian, tanpa pernah memikirkan jika Haala pasti dikecualikan. Perlahan Braheim pun melepaskan genggaman tangannya dari Haala. Haala langsung mengambil alih Vinder dari gendongan sang ibu, dan bergegas mendekati mulut portal suci. Semua orang tampak tegang, pun Haala sendiri. Haala berdiam cukup lama di depan portal suci, hingga akhirnya melewatinya dengan mata tertutup.


"Jangan khawatir, Yang Mulia. Vinder tidak hanya melindungi hamba dan suku pengembara yang tersisa dengan memindahkan portal suci saja tetapi juga membuat pelindung untuk Kumari Kandam agar terhindar dari segala bencana selama waktunya belum tiba."


"Itu benar, Yang Mulia. Iblis serupa pemimpin suku pengembara yang muncul di Kumari Kandam waktu itu hanya berdiam seperti memandangi sesuatu. Hamba rasa itu pelindung yang Aryesh maksudkan. Hamba rasa dia tidak bisa melewati pelindung itu. Itulah kenapa dia akhirnya pergi begitu saja," timpal Murat pada Aryesh.


Aryesh mengangguk pada Murat. "Kalau begitu hamba mohon undur diri, Yang Mulia."

__ADS_1


"Sebentar saja. Tolong tunggu hamba, Yang Mulia."


Braheim hanya mengangguk menanggapi Haala. Portal suci pun lenyap, dan bersamaan dengan itu, Kumari Kandam kembali menangis.


__ADS_2