TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 116


__ADS_3

"Hamba menolak semua tuduhan yang ditujukan pada hamba, Yang Mulia."


Braheim diam, bingung harus memberi respon apa pada pengakuan Ejlaal Awlya, putra semata wayang Sanjeev Rajak. Masalahnya kursi saksi penuntut dan saksi pembela kosong, jadi tak ada alasan untuk Braheim melanjutkan sidang. Jika saja ada satu orang yang mengisi salah satu kursi, terlepas dari itu kursi saksi penuntut atau saksi pembela, setidaknya Braheim bisa membuat keputusan antara menangguhkan hukuman Ejlaal, atau mengirimnya kembali ke sel, dan atau, mengirimnya ke Tamaasha*.


Tamaasha* merupakan alat penggal raksasa yang sering digunakan untuk menghukum para penjahat.


Dan di tengah keseriusan Braheim mencari jalan keluar, rakyat yang hadir sebagai penonton di halaman ruang sidang kembali gaduh. Ternyata Putri Gaurika Chander dari Kerajaan Narak*lah yang memicu kegaduhan itu. Suasana pun semakin gaduh, ketika Putri Gaurika tanpa ragu memilih duduk di kursi saksi pembela. Dan kegaduhan tidak berhenti sampai di sana. Haala yang tiba-tiba keluar dari portal suci dan kini dalam perjalanan menuju ruang sidang pun kian membuat kegaduhan itu bak puncak peperangan.


Kerajaan Narak* merupakan kerajaan pembuat senjata perang terhebat.


"Panjang umur, dan terberkatilah selalu, matahari Kumari Kandam." Haala membungkuk pada Braheim, dan duduk tak jauh dari Putri Gaurika.


"Saree* yang indah. Itu sangat cocok untukmu."


Saree* atau shari adalah jenis kain yang dipakai wanita di negara India, Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka. Saree atau shari terdiri dari helaian kain yang tidak dijahit, variasinya beragam dengan panjang 4-9 meter yang dipakaikan di badan dengan bermacam-macam gaya.


Murat berdeham menanggapi Braheim yang terlihat sangat terang-terangan sedang membicarakan Haala.


"Maksudku kalian berdua. Ya, itu Saree yang cocok untuk kalian berdua," imbuh Braheim seraya ikut berdeham. "Ya, mmm, jadi, mari kita lanjutkan sidang hari ini." Braheim menoleh pada Ejlaal. "Silakan ulangi pengakuanmu."


Ejlaal membungkuk pada Braheim. "Hamba menolak semua tuduhan yang ditujukan pada hamba, Yang Mulia."


"Ada sanggahan?" Braheim hanya menoleh pada Putri Gaurika, bukan tanpa alasan. Fokusnya benar-benar akan langsung lebur jika melihat saksi pembela di sebelah sang putri.


Putri Gaurika beranjak. "Terlepas dari apapun tuduhan itu, hamba yakin Ejlaal Awlya tidak bersalah, Yang Mulia."


"Kau mengenalnya?"


"Tidak tapi hamba mengenal mendiang ibunya, Awlya Syreeta. Beliau adalah orang asli Narak. Dan juga, guru hamba. Sungguh beliau orang yang sangat baik, Yang Mulia," balas Putri Gaurika.


"Maksudmu mendiang ibunya seorang Jyostishee*?"


Jyostishee* peramal masa depan yang berasal dari wilayah Narak.


"Benar, Yang Mulia. Beliau adalah yang terhebat. Berbeda dengan kemampuan yang dimiliki Jyostishee pada umumnya yang hanya bisa melihat masa depan melalui mata, beliau juga bisa melihatnya dari jejak kaki." Putri Gaurika menoleh pada Ejlaal. "Dan kemungkinan besar dia mewarisi kemampuan langka itu, Yang Mulia."


Braheim hanya mengangguk-angguk sembari ikut memandangi Ejlaal yang sedari tadi menunduk memainkan tali yang melilit kedua tangannya yang diikat di depan. Perlahan tapi pasti, benang merah yang kusut itu mulai terurai.


"Oleh karena itu hamba mohon pada Anda untuk mempertimbangkan hukumannya, Yang Mulia," tambah Putri Gaurika.


"Akan kupertimbangkan." Braheim berganti menoleh pada Haala, ragu. "Lalu bagaimana denganmu?" tanya Braheim akhirnya, setelah berdeham berulang kali.


"Hamba juga yakin dia tidak memberi pengakuan itu untuk mengelak, Yang Mulia. Orang yang baik tidak mungkin melakukan itu …."


*FLASHBACK ON*


"Aswin, gantikan aku sebentar. Aku harus pergi menemui tabib." Haala menyerahkan busurnya pada Aswin.


"Syukurlah akhirnya Anda menyerah pada sakit kepala Anda, Komandan."


"Ya. Aku hanya akan membuatmu kesulitan jika meamaksa bertahan lebih dari ini. Kalau begitu kuserahkan padamu."


"Sesuai perintah Anda, Komandan," balas Aswin.


Haala pun bergegas menuju istana utara* untuk menemui tabib kerajaan, Sanjeev Rajak. Ketika tiba di sana Haala harus menunggu giliran, karena hari ini sedang dilangsungkan ujian kesehatan pada abdi kerajaan baru. Setelah menunggu kurang lebih sebelas menit, tibalah giliran Haala. Haala berpapasan dengan Ejlaal yang baru saja keluar dari ruangan Sanjeev. Haala mempersilakan Ejlaal untuk lewat terlebih dahulu, namun Ejlaal malah mematung memandangi Haala, dan tiba-tiba saja memperkenalkan diri.


Istana utara* atau yang lebih dikenal dengan istana gaduh, merupakan istana yang paling banyak dikunjungi. Karena ada rumah sakit, akademi meramu obat, juga kebun tanaman herbal langka. Tabib Kerajaan juga tinggal di sini sebab selain bertanggung jawab pada para pasien selama dua puluh empat jam, dia juga mengajar di akademi.


"Sebuah kehormatan bisa bertemu langsung dengan Anda, Komandan."


"Ah, ya. Terima kasih," jawab Haala.

__ADS_1


"Hamba berharap bisa bergabung dengan pasukan tempur Kumari Kandam."


Haala mengangguk-angguk. "Kau akan berhasil jika bersungguh-sungguh."


"Hamba akan mengingatnya, Komandan. Daripada itu, apa Anda juga mengalami sakit kepala?"


"Dari mana kau tahu?" Haala balik bertanya.


"Dari Tuan Tabib. Beliau berkata akhir-akhir ini banyak sekali yang mengeluhkan sakit kepala. Termasuk hamba."


"Ah, begitu rupaya."


"Obat sakit kepala yang mujarab ada di botol berwarna cokelat. Jika Anda diberi obat dengan botol berwarna hitam, sebaiknya Anda meminumnya di kamar tidur Yang Mulia Raja."


"Apa ma–"


"Maaf tapi hamba harus pergi, Komandan."


*FLASHBACK OFF*


" … Saat itu hamba belum menyadari jika dia sudah menyelamatkan hamba. Karena ternyata obat dalam botol hitam itu bukan obat untuk sakit kepala tetapi obat untuk meningkatkan berahi."


"Ah, kalau begitu benar apa yang dikatakannya. Kau harus meminumnya di kamar tidurku," sahut Braheim.


Murat kembali berdeham, berdeham sangat keras. Bahkan ketujuh raja yang duduk berderet mengisi kursi tamu di pojok ruang sidang itu sungguh tak akan ragu melepaskan tawanya jika saja tidak sedang mengenakan mahkota di kepala.


"Oleh karena itu hamba juga memohon pada Anda untuk mempertimbangkan hukumannya, Yang Mulia,"


Braheim tak henti berdeham, "Ya, baiklah, ya. Akan kupertimbangkan." Braheim menoleh lagi pada Ejlaal. "Jadi, Ejlaal Awlya, ada empat pertanyaan untukmu. Jawablah dengan hati-hati, karena hidup dan matimu bergantung pada jawaban itu."


"Baik, Yang Mulia."


"Apa benar kau memiliki kemampuan langka seperti yang dikatakan Putri Gaurika Chander?"


"Lalu apa yang kau lakukan di Desa Buraee saat itu menyangkut apa yang kau lihat di masa depan?" tanya Braheim lagi.


"Ya, Yang Mulia."


"Dan apa yang kau lihat?"


"Kebangkitan massal yang paling mengerikan, Yang Mulia. Masalahnya kali ini tidak akan bisa diatasi hanya dengan bantuan Dhoosar*. Dan yang lebih parah, bukan hanya tulang-belulang saja yang bisa dibangkitkannya tetapi juga sisa abu kremasi dan sisa abu korbannya."


Dhoosar* merupakan sungai yang sejak beratus tahun lalu dijadikan tempat pemakaman khusus orang-orang yang berjasa untuk Kerajaan Kumari Kandam.


Lagi. Kehebohan penonton lagi-lagi terdengar dari halaman ruang sidang. Ada kebangkitan massal yang jauh lebih mengerikan dari tempo hari? Dan lagi, belum ada cara untuk mengatasinya?


"Lalu pada siapa kau berpihak, Ejlaal Awlya? Pada Kumari Kandam atau, Ayahmu?"


"Hamba hanya berpihak pada mendiang Ibu hamba, Yang Mulia," jawab Ejlaal mantap.


...•▪•▪•▪•▪•...


Sidang kasus Ejlaal Awlya berakhir ditunda dan akan dilanjutkan paling lama satu pekan. Selain karena alasan mempertimbangkan permintaan Putri Gaurika dan Haala, Braheim juga memiliki pertimbangannya sendiri. Ejlaal memang terkesan penuh misteri, tetapi keraguan Braheim selama berhadapan dengan Ejlaal tidak bisa dilewatkan begitu saja. Ada yang perlu ditimang jika keraguan sudah membayang, bukan?


Terlepas dari apapun maksud keraguan yang membayangi Breheim, ada yang aneh dengan semua orang di ruang sidang itu. Mereka terlihat keluar terburu, dan menahan Braheim serta Haala dengan obrolan tak jelas. Hingga akhirnya, hanya tersisa Braheim dan Haala di ruang sidang itu. Ternyata tujuan dari obrolan yang tak jelas arahnya itu adalah untuk memberikan waktu berdua pada Braheim dan Haala. Manis sekali.


Ini adalah kali pertama Braheim dan Haala merasa canggung, dan kecanggungan di antara keduanya pun semakin menjadi ketika tiba-tiba teringat ucapan selamat ambigu dari Ejlaal. Padahal belum pasti siapa yang akan menikah dengan siapa. Hanya saja ada semacam keyakinan yang kuat. Merekalah pengantin yang dimaksud Ejlaal. Benar, tidak salah lagi. Entah kini atau nanti, Braheim dan Haala akan menjadi sepasang suami istri.


"Apa kau akan langsung kembali?"


"Tidak jika Anda meminta hamba untuk menikmati makan siang bersama, Yang Mulia," balas Haala.

__ADS_1


"Apa kau sedang menggodaku?"


"Ya, Yang Mulia. Demi bisa menikmati makan siang yang lezat."


Braheim tertawa. "Kupikir demi bisa menghabiskan waktu bersamaku."


"Menghabiskan waktu dengan Anda tidak akan cukup hanya di jam makan siang saja, Yang Mulia."


"Benar-benar. Berbahaya sekali mulutmu itu jika sudah menggoda."


Haala berganti tertawa.


"Kau sangat cantik hari ini. Aku benar-benar suka melihatmu saat mengenakan Saree," imbuh Braheim.


"Hamba akan mengenakannya mulai hari ini, Yang Mulia."


Spontan Braheim menghentikan langkahnya, pun Haala. Karena maksud perkataan Haala yang sangat jelas. Mengenakan Saree berarti menyimpan zirah, menyimpan zirah berarti menyerahkan lencana Komandan Perang Kumari Kandam, dan tidak lagi menjadi Komandan Perang berarti hanya akan menjadi wanita biasa.


"Kuharap kali ini kita benar-benar bisa bersatu."


Haala tersenyum sembari mengulurkan tangannya pada Braheim. "Jika pun tidak, bukankah masih ada kehidupan yang lain, Yang Mulia?"


Braheim ikut tersenyum, dan perlahan meraih uluran tangan Haala. "Ya. Cukup seperti ini saja sudah membuatku bahagia."


Sementara Braheim dan Haala saling melepas rindu, dapur utama Kumari Kandam seperti sedang dihakimi waktu. Demi menghidangkan masakan paling lezat untuk Braheim dan Haala, ketujuh raja sampai memerintahkan juru masaknya untuk ikut serta berkontribusi dalam kencan di siang yang mendung itu.


...•▪•▪•▪•▪•...


"Di mana makan siangku?"


Aryesh mengurungkan niatnya melahap sepotong besar ubi dan menunjukkannya pada Vinder. "Memangnya kau suka ini?"


"Aku bertanya di mana makan siangku."


"Oh ayolah, Vinder. Untuk apa kau menanyakan makanan yang pada akhirnya hanya akan kau biarkan diselimuti jamur? Berhenti membuang makan siang buatan Ibumu dan bermainlah saja dengan Balavaan*. Bukankah yang kau suka hanya bermain?"


Balavaan* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk singa raksasa.


"Aku tidak melihatnya."


Aryesh menyemburkan kulit ubi ke tanah. "Siapa? Balavaan atau Ibumu?"


"Wanita itu."


"Ibumu pergi ke luar portal untuk menjadi saksi pembela Ejlaal Awlya," sahut Aryesh malas.


Vinder keluar dari tenda. "Aku pergi."


"Jangan mengganggu Ibumu. Biarkan dia sedikit bernapas di luar sana." Aryesh menghela napas. "Kusarankan untuk mengusirnya saja jika kau hanya akan memperlakukannya dengan buruk seumur hidup."


Perlahan, tanah di dalam portal suci itu bergetar. Balavaan dan kawan-kawannya yang tengah bermalas-malasan di bawah pohon pun mulai beranjak bersamaan dan memasang kuda-kuda. Tidak. Getaran ramah yang mulai tak ramah itu tidak disebabkan oleh Sanjeev Rajak yang saat ini ada di dekat portal suci melainkan karena sumbu kesabaran Vinder yang akhirnya berhasil disulut amarah.


Spontan Aryesh menelan ubi berikut kulitnya, dan beranjak dari duduknya diikuti Birousk dan Zerdad.


"Daxraj Natesh yang meminta diberi makanan buatan wanita itu, itulah kenapa aku membiarkannya diselimuti jamur! Dan apa katamu? Yang kusuka hanya bermain?" Vinder menunjuk Balavaan dan kawan-kawannya. "Jika kau bisa merasakan apa yang mereka rasakan, kau bahkan tidak akan sempat mengupas kulit ubi itu! Aku sedang menghibur mereka! Karena mereka masih berduka atas matinya separuh suku kita!"


Getaran tak ramah itu mulai mencampur aduk segala perkakas yang ada di dalam tenda.


Vinder masih melanjutkan seruannya yang terlewat menggelegar. "Dan siapa yang memperlakukan wanita itu dengan buruk? Aku katamu? Justru wanita itulah yang memperlakukanku dengan buruk! Dia hanya memikirkanku dan terus mengorbankan kebahagiaanya! Kau pikir aku senang dengan itu?"


"Hei, pencuri. Bagaimana bisa kau memanggil Ibumu dengan sebutan wanita itu? Sepertinya Daxraj Natesh pernah berselingkuh dengan Jihan Joozher."

__ADS_1


DEG


__ADS_2