TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 96


__ADS_3

KLEK


Langkah sosok misterius itu terhenti, setelah berhasil memasuki kamar tidur Vinder tanpa halangan. Penutup kepala yang mengganggu pandangannya disingkap setengah, meski begitu tetap saja tidak cukup membeberkan identitasnya. Perlahan, sosok itu pun melangkah menuju ranjang Vinder. Bayi laki-laki dengan mata dan rambut berwarna emas itu masih terjaga meski sudah menangis tanpa henti selama lebih dari tiga jam.


"Ancaman," gumam sosok itu.


Belati di genggamannya sudah siap untuk kembali mencicipi darah segar, tetapi sosok itu malah mematung, sebab mendadak dihanyutkan oleh ketakjuban. Tatapan makhluk yang lebih ringkih dari seekor semut itu seolah menghipnotisnya untuk semakin mendekat, hingga membuat sinar samar sang surya yang menerobos sela jendela tak sengaja melucuti identitasnya. Seorang pria muda. Berambut putih. Beserban hitam.


Pria itu mengerjapkan matanya berulang kali, berusaha mendapatkan kembali kesadarannya. "Ancaman yang sangat berbahaya."


Segera pria itu mengayunkan belatinya, khawatir kalau-kalau akan kembali kehilangan kesadaran. Namun, senyum Vinder membuat belati pria itu menghunjam ke tempat yang salah. Senyum yang tak kurang dari satu detik itu sungguh lebih membahayakan dari mantra-mantra Gaana. Lagi. Pria itu pun lagi-lagi mengerjapkan matanya, namun dengan cepat mencabut belati yang tertancap di bantal, dan menghunjamnya ke sana, ke jantung Vinder.


"Kembalilah ke jahanam kau pembunuh!"


JLEB


...•▪•▪•▪•▪•...


KLANG


Belati pria itu jatuh ke lantai, setelah sebuah panah misterius melesat menembus tepat di titik nadi pergelangan tangannya. Jerit kesakitan bercampur rasa takut akan didatangi malaikat pencabut nyawa itu menggelegar menambah kekacauan di dalam Kerajaan Kumari Kandam.


Pria itu mulai panik, dan yang bergumul di dalam kepalanya saat ini hanyalah cara untuk melarikan diri. Namun suara langkah kaki yang berlari mendekati kamar tidur Vinder membuat pria itu terpaksa memilih jendela sebagai jalan keluarnya, meski tahu arah panah misterius itu datang dari sana.


Dengan terburu pria itu pun naik ke jendela, bersiap terjun dari kamar Vinder yang ada di lantai delapan. Tetapi belum selesai pria itu mengumpulkan nyali, panah kedua dari arah yang sama kembali melesat menembus tempurung kepalanya. Dan pria itu pun terjun ke dasar, tanpa perlu nyali barang secuil.


"Terima kasih, Aswin."


"Sudah menjadi tugas hamba, Komandan," balas Aswin seraya memandangi Haala yang kini tengah berlari menuruni puncak gerbang utama Kumari Kandam.


Benar. Pemanah yang baru saja mengakhiri hidup pria itu dengan sangat mengenaskan adalah Haala. Sejak diketahui ada musuh di dalam Kerajaan Kumari Kandam, Haala mendapat perintah dari Braheim untuk menjaga gerbang utama. Siapa tahu musuh tersebut datang membawa bala bantuan, bukan?


Pada saat itulah Murat, Aswin, dan para prajurit yang baru saja kembali dari Hutan Mook memberitahu Haala jika kemungkinan besar musuh sudah ada di dekat Vinder. Haala pun langsung berlari menuju titik yang masih bisa menjangkau istana baru, setelah sebelumnya menangkap panah beracun dari Aswin.


*FLASHBACK ON*


Murat menggeleng memperhatikan Haala yang tengah fokus membidik. "Membidik target dari jarak sejauh itu? Mustahil."


*FLASHBACK OFF*


KLEK

__ADS_1


JLEB


"Ternyata tidak mustahil, " gumam Murat yang baru saja memasuki kamar tidur Vinder.


Murat tiba di kamar tidur Vinder bersamaan dengan panah kedua Haala yang melesat mengakhiri hidup pria berpakaian serba hitam itu. Sambil terus menampik kemustahilan yang nyatanya tidak mustahil, Murat berlari menuju ranjang Vinder. Beruntung Vinder tidak terkejut, malah sebaliknya, antusias melihat isi bantalnya yang beterbangan seperti dandelion.


"Vinder."


Murat menoleh pada Braheim yang baru saja tiba, diekori semua orang. "Katakan padaku jika dia terluka. Demi Dewa Krpaya* aku tidak akan beranjak satu langkah pun dari tempatku," imbuh Braheim.


Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.


"Dia baik-baik saja, Yang Mulia."


Spontan Braheim berlari, diekori semua orang. "Syukurlah." Braheim menghela napas lega. "Lalu di mana pelakunya, Murat?"


Murat melirik jendela. Braheim yang paham pun langsung menghampiri jendela, dan lagi-lagi, diekori semua orang.


"Siapa dia, Murat?" tanya Braheim lagi.


"Akan lebih baik jika hanya sedikit orang yang mengetahui perihal itu, Yang Mulia."


Braheim tak menjawab, firasatnya buruk. Meski hanya dugaan kasar. Namun belati yang jatuh di bawah ranjang Vinder serta pakaian serba hitam yang dikenakan si pelaku, jika bukan Sayee pastilah salah satu dari sukunya. Satu yang sudah pasti, pelakunya adalah suku pengembara. Tetapi kenapa? Apa yang mendasari suku suci seperti mereka melakukan perbuatan keji seperti ini?


"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia." Kepala Pengurus Istana Baru, Murat, berikut semua orang menjawab kompak seraya membungkuk.


"Ah, satu hal lagi." Braheim menghentikan langkahnya tanpa berbalik. "Jika aku mendengar sedikit saja desas-desus tentang hari ini ...."


GLEK


"Di perayaan festival akhir tahun nanti, aku akan mengganti lampion dengan kepala kalian semua," imbuh Braheim sembari melanjutkan langkahnya.


GLEK


...•▪•▪•▪•▪•...


Haala memandangi Vinder yang juga tengah memandanginya, sambil merasakan telunjuknya yang hangat dalam genggaman kecil itu. Sejak terbangun dengan tangis penuh teka-teki, pun sejak seorang pria misterius hendak melukainya dengan belati, Vinder masih saja terjaga. Entah apa yang dipikirkan Vinder, bukan hanya Haala seorang yang dibuat penasaran. Bayi seusia Vinder umumnya tertidur sepanjang hari, atau menangis. Namun Vinder malah sebaliknya, terjaga. Terjaga terlampau tenang.


"Dia sudah menunjukkan rasa tanggung jawab."


Haala menoleh pada Braheim yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya, lalu membungkuk seraya memberi salam. "Panjang umur, dan terberkatilah selalu, matahari Kumari Kandam."

__ADS_1


"Bangunlah."


"Terima kasih, Yang Mulia."


"Apa kau setuju denganku?"


"Hamba tidak mengerti, Yang Mulia," sahut Haala.


Braheim menyentuh pipi Vinder dengan telunjuknya. "Dia mencuri waktu istirahat semua orang, tapi dia bertanggung jawab dengan tetap terjaga sepanjang hari."


"Hamba rasa tidak begitu, Yang Mulia. Dia memang suka terjaga."


"Aku berani bertaruh dia akan tetap terjaga sampai semua orang berhenti beraktivitas."


Haala hanya tersenyum menanggapi Braheim, pun Vinder yang kini mengalihkan pandangannya pada Braheim dan ikut tersenyum.


"Vinder tidak pernah tersenyum pada hamba. Mungkin dia tahu jika hamba tidak mencintai Ayahnya."


Braheim menoleh pada Haala. "Lalu kau pikir dia tersenyum padaku karena aku mencintai Ayahnya?"


Haala kembali tersenyum. "Hamba tidak tahu bagaimana perasaan hamba pada Daxraj. Kadang hamba merasa berdebar, kadang juga merasa rindu. Entah itu cinta atau rasa takut, yang pasti perasaan hamba padanya berbeda dengan perasaan hamba pada Anda."


Braheim diam.


"Namun terlepas dari apapun perasaan hamba padanya, Vinder adalah putra hamba, dan hamba mencintainya," tambah Haala.


Braheim tiba-tiba menggandeng Haala ke ranjang. "Kau lelah. Beristirahatlah."


"Tidak, Yang Mulia. Kejadian hari ini tidak akan bisa membuat hamba tidur. Hamba harus menjaga Vinder."


Braheim mendudukkan paksa Haala di ranjang. "Tidak perlu khawatir. Kejadian hari ini tidak akan terulang. Aku sudah menempatkan satu pengawal bayanganku untuk menjaga Vinder."


"Ah, ya, itu, terima kasih, Yang Mulia."


Braheim tak menjawab, hanya kembali memaksa Haala, kali ini memaksanya untuk berbaring di ranjang. Namun Haala malah berdiri dengan gesit, membuat Braheim menggeleng menyerah.


"Bukankah Anda akan pergi untuk menginterogasi Sayee? Tolong izinkan hamba ikiut serta," imbuh Haala.


"Percuma saja melarangmu." Braheim mengulurkan tangannya pada Haala.


Haala meraih uluran tangan itu, dan meninggalkan kamar tidurnya setelah berpamitan dengan Vinder. Namun belum lama sejak Haala dan Braheim hilang dari balik pintu kamar tidur mewah itu, semua penerangan di dalam kamar tidur itu tiba-tiba saja padam. Dan perlahan, ada sosok hitam lain yang mendekati ranjang baru Vinder.

__ADS_1


"Salam untuk Anda wahai pelindung delapan benua, wahai perisai terkuat sejagat, wahai penakluk perang kebinasaan. Mohon ampuni kelancangan hamba yang lemah ini karena tidak kuasa menolak perintah dari Tuan hamba. Sungguh, bumi dan langit pun tahu, tidak ada yang bisa menyentuh Anda."


__ADS_2