TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 54


__ADS_3

"Aaakkk!"


Sekumpulan burung pemakan bangkai kompak memekik dan terbang berhamburan ke semua penjuru mata angin, ketika suara teriakan yang menggetarkan gendang telinga mendadak pecah. Ternyata suara itu berasal dari dalam sebuah rumah yang sejak tiga belas bulan lalu ditinggali oleh Ratu Kumari Kandam, Jihan Joozher.


Jihan beranjak dari ranjang, buru-buru menenangkan dirinya dengan segelas air. Namun bukan segera menenggak air tersebut, Jihan malah membantingnya ke lantai. Hanya karena seekor bayi laba-laba yang tengah asyik berenang. Jihan pun mencari cara lain untuk menenangkan dirinya yang baru saja diteror mimpi buruk.


Tetapi tentu saja tidak ada satu pun cara. Udara dingin yang menusuk meski di awal musim panas, langit yang selalu gelap gulita meski di siang hari, dan lolongan hewan misterius yang kian bersemangat melolong meski sudah ditakut-takuti cahaya obor, malah membuat Jihan seperti mendapat teror yang lebih buruk dari mimpinya.


"Semuanya gara-gara si sialan Braheim Bhaavesh!" seru Jihan dalam hati.


*FLASHBACK ON*


"Hari ini aku akan menjadi hakim untuk kasus pengkhianatan Ratu Kumari Kandam. Jika terbukti bersalah, aku berjanji akan menjatuhi hukuman yang setimpal atas nama Dewa Krpaya*. Sidang dimulai."


Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.


"Tidak ada yang ingin kukatakan."


Braheim menoleh ke kursi para saksi penuntut. "Ada sanggahan?"


Menteri hukum beranjak. "Meski hanya satu dua patah kata, bukankah seharusnya Yang Mulia Ratu mengatakan sesuatu, Yang Mulia?"


"Sanggahan diterima. Ratu, silakan katakan sesuatu meski hanya satu dua patah kata."


"Tidak ada. Itu dua kata. Jadi kurasa itu sudah cukup, bukan?"


"Ada sanggahan?"


Menteri hukum kembali beranjak. "Yang Mulia, Anda pasti paham bukan satu dua patah kata seperti itu yang hamba maksudkan."


"Sanggahan diterima. Ratu, silakan katakan satu dua patah kata yang berkaitan dengan pengkhianatanmu padaku."


Jihan menghela napas kesal, lalu menoleh pada kepala penyidik kerajaan. "Hei, bukankah aku sudah mengatakan semuanya padamu saat penyidikan? Jadi cepat katakan satu dua patah kata yang mereka inginkan dasar lamban."

__ADS_1


Kepala penyidik kerajaan berdeham, "Itu. Yang Mulia Ratu mengakui perbuatannya, Yang Mulia. Beliau mengakui telah bermalam dengan seorang Mausam* yang ternyata merupakan kaki tangan beliau dalam insiden kebakaran hutan."


Mausam* adalah pengendali cuaca dan musim.


"Ada sanggahan?"


"Jadi secara tidak langsung Yang Mulia Ratu mengakui jika beliau adalah tersangka utama dalam insiden itu?" tanya menteri sosial.


Braheim berikut semua saksi penuntut dan semua orang yang ada di ruang sidang itu kompak menoleh pada Jihan. "Aku diadili karena mengkhianati raja dan bukan karena insiden itu atau yang lain. Apa aku salah?"


"Ada sanggahan?"


Para saksi penuntut kompak menjawab, "Tidak, Yang Mulia."


"Maka akan langsung kuputuskan hukuman untuk terdakwa. Berdasarkan hukum Kumari Kandam untuk anggota kerajaan, Ratu seharusnya dijatuhi hukuman mati. Tapi, mengingat Ratu hanyalah Ratu palsu, maka aku akan menjatuhi hukumam pengasingan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Sidang berakhir."


*FLASHBACK OFF*


Urat-urat kekesalan di wajah tanpa riasan itu perlahan mengendur, ketika dua buah kereta kuda terlihat samar-samar menerobos kabut malam. Sang kakak, Murat, rupanya datang menjenguknya lebih awal. Jihan pun langsung meraih selendangnya, dan bergegas menyambut Murat yang sudah pasti membawa segunung makanan lezat.


Diketahui Jihan diasingkan ke sebuah tempat yang terletak di pinggiran Kumari Kandam, tepatnya di sebuah desa bernama Pahaad. Sebelum dilanda wabah aneh, Pahaad disebut-sebut sebagai desa dalam negeri dongeng. Bahkan Raja Bhaavesh I dan ratunya sering menghabiskan akhir pekan di sana.


Namun wabah aneh yang dinamai Rahasyamay itu membuat puluhan jiwa melayang. Desa Pahaad pun ditinggalkan, dan dibiarkan tak berpenghuni selama ratusan tahun. Namun pada saat masa kepemimpinan Raja Bhaavesh LXXVI, Desa Pahaad kembali terkenal karena dijadikan tempat pengasingan untuk ratu, selir, dan kekasih raja yang berkhianat.


"Makanlah perlahan. Tidak ada yang akan merampasnya darimu."


Jihan tak mengindahkan Murat. "Ini semua gara-gara si sialan Braheim Bhaavesh."


"Ini sudah yang kedua puluh kali kau mengumpatnya."


"Cih. Persetan."


Murat menuangkan air untuk Jihan. "Kali ini aku akan tinggal sedikit lebih lama."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Dibutuhkan hampir satu bulan untuk sampai ke sini meski sudah meminta kusir untuk menambah kecepatan. Dan kau bertanya kenapa? Tentu saja karena aku membutuhkan waktu untuk memulihkan tubuhku yang mati rasa."


"Lalu pekerjaanmu?"


"Firdoos menggantikanku untuk sementara," balas Murat.


"Firdoos? Nama yang asing."


"Entah dari mana Braheim memungut anak itu. Yang kutahu dia terus mengekori Braheim seperti anjing. Tapi meski demikian dia cukup bisa diandalkan."


"Lalu apa masih ada orang-orang yang membicarakanku?"


Murat menghela napas. "Sungguh aku perlu menjawabnya?"


Jihan hanya mendecak, "Daripada itu. Suasana di kerajaan menjadi lebih berwarna karena para selir yang terus mengganggu Haala," imbuh Murat.


"Percuma saja. Haala hanya akan menganggap mereka seperti serangga."


"Kau salah. Haala membalas. Bahkan dalam waktu dekat para selir yang mengganggunya akan diadili."


"Seharusnya mereka mempelajari struktur kedudukan kerajaan sebelum mengganggunya. Kupikir akan ada harapan untukku. Ternyata mereka semua hanya sekumpulan idiot."


"Tidak. Tidak semuanya."


Kunyahan lahap Jihan mulai melambat. "Para selir yang dijuluki madu dalam cawan dan patung dewi kahyangan berbeda," tambah Murat.


"Jadi aku masih ada harapan?"


Murat mengangguk. "Aku akan membuat mereka tertarik padamu. Setelahnya kau hanya perlu menjadikan mereka pion untuk mengakhiri hukuman pengasinganmu."


"Tidak-tidak. Aku lebih baik berada di sini selamanya. Aku memiliki rencana lain." Jihan menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2