
Sudah satu pekan Kumari Kandam dilanda kemarau ganjil, pun sudah satu pekan pula bayang-bayang perang kebinasaan yang terlampau mengerikan itu mengekor. Meski begitu semuanya masih sama, kecuali satu, Dhoosar*. Penampakan Dhoosar pascaperang kebinasaan sangat jauh berbeda. Kini hampir setiap hari orang-orang datang menyalakan dupa, meletakkan sesaji, menabur bunga, dan menyanyikan puji-pujian.
Dhoosar* merupakan sungai yang sejak beratus tahun lalu dijadikan tempat pemakaman khusus orang-orang yang berjasa untuk Kerajaan Kumari Kandam.
Meski tahu tidak ada lagi jasad keluarganya di dasar Dhoosar, mereka bersikeras mengirim doa untuk yang lain yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Tidak hanya mengirim doa di malam-malam Shukravaar* atau di perayaan hari jadi Aasha* saja melainkan setiap hari, setiap waktu. Dan tidak hanya rakyat Kumari Kandam saja yang mengantri mengirim doa di sana tetapi juga rakyat dari tujuh benua.
Shukravaar* adalah hari jumat.
Aasha* kuil terbesar di Kumari Kandam.
Semua orang kembali beraktivitas seperti sedia kala, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Raja dari tujuh benua berikut rakyatnya juga sedang bersiap kembali ke benua masing-masing untuk bergabung dalam perjuangan menghadapi kemarau panjang. Kerajaan Kumari Kandam pun sibuk mencari pengganti para abdi yang gugur, serta memperbaiki rumah-rumah dan segala sarana yang rusak parah pascaperang kebinasaan.
Dan tak ketinggalan Haala, yang tengah berusaha tetap waras meski mengemban tanggung jawab sebagai Ratu sekaligus Komandan Perang. Kepergian tangan kanannya, Aswin Nadeem, membuat Haala terpaksa menyantap makan siang sembari melatih pasukan tempur Kumari Kandam. Satu-satunya pasukan tempur yang kembali dari perang kebinasaan dengan jumlah utuh dan luka fisik paling remeh.
"Panjang umur, dan terberkatilah selalu, bulan Kumari Kandam."
"Duduklah, Ejlaal."
"Terima kasih, Yang Mulia." Ejlaal membungkuk sebelum menjatuhkan diri di salah satu kursi.
"Selamat sudah berhasil lolos di tahap ketiga."
"Terima kasih, Yang Mulia. Tapi perjalanan hamba masih sangat jauh," balas Ejlaal.
"Setidaknya kau sudah mengalahkan mereka." Haala menunjuk tumpukan kertas setinggi pinggang orang dewasa di pojok ruangan.
"Terima kasih, Yang Mulia. Anda memang berbakat dalam hal mengobarkan semangat."
Haala tersenyum. "Ada yang ingin kutanyakan. Kau mungkin sudah tahu. Jadi, ingin langsung menjawabnya saja?"
"Baik, Yang Mulia. Itu, karena Pangeran Vinder yang menyuruh hamba."
"Maksudmu dia yang menyuruhmu mengajukan lamaran untuk mengisi posisi Wakil Komandan Perang Kumari Kandam?" tanya Haala lagi.
"Benar, Yang Mulia."
"Bukankah saat itu dia sedang mabuk?"
"Tapi saat itu Pangeran Vinder mengatakannya dengan sangat yakin, Yang Mulia."
Haala diam sesaat, sembari menyudahi kegiatannya membaca lembar lamaran Ejlaal. "Tanpa bermaksud mendahului kehendak Dewa Krpaya*, tapi kau akan gugur di tahap selanjutnya, Ejlaal. Aku bisa melihatnya dari hasil ujian kesehatanmu."
Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.
Ejlaal berganti diam.
"Entah apa maksud Vinder tapi kau benar-benar tidak layak menggantikan Aswin. Menurutku kau lebih cocok bekerja dengan Yang Mulia Raja," imbuh Haala.
"Kami para Jyostishee* tidak bisa melihat masa depan kami kecuali melalui mimpi. Masalahnya kami jarang sekali bermimpi. Tapi kemarin malam hamba bermimpi, Yang Mulia."
Jyostishee* peramal masa depan yang berasal dari wilayah Narak.
Haala kembali diam.
"Hamba melihat diri hamba di ujung tebing, mengenakan pakaian Wakil Komandan Perang Kumari Kandam, dan menggandeng tangan seorang wanita," tambah Ejlaal.
"Tidak ada alasan untukku menolak memercayai apa yang kau lihat di masa depan, Ejlaal. Karena itu sudah terbukti. Tapi di masa ini kau sungguh tidak memenuhi kriteria untuk menggantikan Aswin."
"Hamba bisa mengerti itu, Yang Mulia. Mohon ampuni hamba karena sudah membuat Anda kesulitan."
Haala tak menjawab, sibuk berpikir keras. "Mungkin masih ada sedikit harapan jika kau mau mengikuti jejak perjuangan Aswin."
Spontan Ejlaal mengangkat kepalanya, dan mengangguk-angguk antusias.
"Aswin memulai perjuangannya dari posisi prajurit terendah. Apa tidak masalah?"
__ADS_1
"Ya, Yang Mulia. Bagi hamba serendah apapun posisi seorang prajurit, tugas mereka tetaplah melindungi nyawa orang lain. Hamba akan melakukannya, Yang Mulia. Itu adalah impian hamba."
"Baiklah, aku akan segera mengurusnya."
"Terima kasih, Yang Mulia."
Haala hanya mengangguk sembari tersenyum menanggapi Ejlaal.
"Kalau begitu hamba mohon undur diri, Yang Mulia."
Haala kembali mengangguk, pun kembali tersenyum.
"Yang Mulia?"
Spontan Haala mendongak ke arah Ejlaal yang ternyata belum keluar dari ruang kerjanya. "Bukankah Anda dan Yang Mulia Raja harus meluangkan waktu untuk berbulan madu?"
...•▪•▪•▪•▪•...
Braheim dan ketujuh raja tengah menunggu giliran untuk bertukar tatap dengan seorang pria misterius yang tiba-tiba bergabung dalam perang kebinasaan sepekan silam. Bagaimana tidak? Pria misterius itu termasuk satu dari sekian bala bantuan paling hebat yang dibawa Vinder entah dari mana. Hanya dengan sekali ayunan kapaknya, pria itu mampu membelah jurang jahanam dan menguburkan hampir separuh pasukan mayat hidup.
Pria itu tidak terlihat seperti orang dari delapan benua. Pakaiannya sangat aneh, terutama celana ketat hitam itu. Para raja sampai kompak membatin apakah milik pria itu lebih kecil dari milik Raja Arshaq? Potongan rambutnya pun tak kalah aneh. Sepertinya rambut pria itu baru saja tumbuh setelah digunduli karena melakukan kejahatan pemberontakan. Dan yang tak kalah aneh adalah bahasa yang digunakan pria itu. Demi apapun itu lebih rumit daripada bahasa Videsh*.
Videsh* merupakan bahasa Kumari Kandam yang digunakan para leluhur terdahulu. Sudah tidak digunakan lagi di masa sekarang karena terlalu rumit.
"Raja Braheim, bukankah kita membutuhkan Murat Iskender yang terkenal menguasai banyak bahasa aneh itu?"
Braheim menggeleng menanggapi Raja Padachihn. "Dia masih dalam masa cuti. Dia berkata akan membutuhkan banyak waktu untuk menata hatinya."
"Kalau begitu kita butuh Devraaj Narvinder, Raja Braheim."
Braheim berganti menggeleng pada Raja Lagaam. "Dia berkeliaran entah ke mana sejak Balavaan* tak sengaja mematahkan sisir favoritnya."
Balavaan* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk singa raksasa.
Raja Arshaq menghela napas. "Padahal aku sudah berjanji membuatkannya sisir emas yang baru."
"Kita bahkan tidak tahu satu pun huruf yang dikatakannya." Raja Shushk menimpali Raja Hathelee.
"Pemimpin lima pelindung akan segera datang dan menjadi penerjemah kita jadi bersabarlah sedikit lagi."
Raja Garjan menoleh pada Raja Jvaala. "Kita sudah menunggu selama hampir satu jam. Apakah biasanya mengoles salep memang selama ini?"
Dan tiga puluh enam menit kemudian, pemimpin lima pelindung pun muncul bersamaan dengan para pelayan yang membawa cangkir teh berikut camilan yang sudah diisi ulang untuk yang kesebelas kalinya. Tanpa membuang waktu lagi, pemimpin lima pelindung langsung bergantian menerjemahkan dengan bahasa semudah mungkin. Jadi, pria misterius itu adalah Rodion Szilard, Chhota* asal Minciuna, serta Pemimpin enam pelindung.
Chhota* atau Faot adalah makhluk berwujud setengah manusia setengah peri dan setengah banteng.
"Enam pelindung?"
"Benar, Yang Mulia. Satu pelindung yang lain adalah Gaana. Sebelum menjadi sesat, Gaana adalah pelindung Benua Lagaam," balas Pemimpin Pelindung Benua Chamakadaar pada Raja Shushk.
Spontan Braheim dan ketujuh raja menoleh pada Raja Lagaam yang tampak sangat terkejut itu.
"Tanyakan padanya. Apa dia bergabung dalam perang kebinaaaan secara sukarela?"
Pemimpin Pelindung Benua Garjan mengangguk menanggapi Braheim. "Ya, Yang Mulia."
Braheim membalas senyum Rodion. "Tapi kurasa tidak begitu. Dia pasti meminta imbalan."
"Entah ini bisa disebut meminta imbalan atau sebaliknya, tapi dia berniat membawa kami kembali ke Minciuna da–"
"Apa? Lalu siapa yang akan menjadi pelindung lima benua? Memang dia akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada lima benua?" sela Raja Padachihn pada Pemimpin Pelindung Benua Shushk.
"Tenanglah." Raja Garjan menuntun Raja Padachihn untuk kembali ke kursinya.
"Mohon jangan khawatir, Yang Mulia. Balavaan, Chammach*, Bandar* dan Bhookamp* akan menggantikan kami …."
__ADS_1
Chammach* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk ular raksasa.
Bandar* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk kera raksasa.
Bhookamp* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk gajah raksasa.
" … Balavaan akan melindungi Benua Kumari Kandam dan Benua Chamakadaar. Chammach akan melindungi Benua Hathelee dan Benua Garjan. Bandar akan melindungi Benua Jvalaa dan Benua Lagaam. Dan Bhookamp akan melindungi Benua Shushk dan Benua Padachihn," timpal Pemimpin Pelindung Benua Padachichn pada Pemimpin Pelindung Benua Hathelee.
Setelah mendengar penjelasan dari para makhluk supernatural berwujud mengerikan itu, barulah Braheim dan ketujuh raja kembali tenang. Lalu setelah dipastikan tak ada lagi pertanyaan dari para raja, Rodion pamit undur diri. Rodion berkata akan datang kembali ke Kumari Kandam untuk menjemput rakyatnya yang saat ini masid dalam perawatan tabib. Rodion pun beranjak, diikuti semua orang, lalu membuka sebuah portal yang seketika membuat kedelapan raja membulatkan mulut.
"Apa itu Minciuna?"
"Sepertinya begitu," balas Braheim pada Raja Arshaq. "Ternyata hampir semua pria di sana mengenakan celana ketat hitam dan digunduli."
"Itu artinya hukuman pemberontakan di Minciuna tidak hanya digunduli tapi juga diwajibkan mengenakan celana ketat hitam."
"Hukuman yang mengerikan. Tapi kereta kuda macam apa itu? Kenapa bisa mengangkut banyak sekali orang?" Raja Lagaam menimpali Raja Hathelee.
"Astaghfirullah." Spontan Raja Jvaala memunggungi portal. "Apa para wanita di Minciuna pun dihukum karena pemberontakan? Mereka tidak diwajibkan memakai celana ketat hitam tapi tidak memakai celana? Apa Raja Minciuna seorang yang cabul?"
Braheim menoleh pada para raja selain Raja Jvaala. "Tapi yang lain terlihat sangat menikmatinya. Begitu pun aku. Benua yang menyegarkan. Jika terjadi perang lain di masa depan, kuharap Vinder membuat pelindung di Minciuna."
...•▪•▪•▪•▪•...
Sejak Murat mengambil cuti, pekerjaan Braheim bertambah menjadi berkali lipat. Bahkan sudah beberapa hari ini Braheim pulang sangat larut. Sejujurnya Braheim bisa mengakhiri kesengsaraannya dengan merekrut Penasihat yang baru, tetapi sungguh, membuka diri untuk orang baru jauh lebih membuatnya sengsara. Dan kesibukannya itu membuat Braheim hampir tidak memiliki waktu untuk menikmati makan siang pun makan malam dengan Haala.
Begitu pun dengan Haala. Karena terlalu lelah, Haala kerapkali pergi tidur lebih dulu setelah sebelumnya meninggalkan surat berisikan kata-kata manis untuk Braheim. Tetapi malam ini tak terlihat surat apapun di atas meja rias. Ranjang berkelambu sutra itu pun tampak rapi seperti belum dijamah. Jelas saja. Karena Haala masih terjaga, sengaja untuk menunggu Braheim. Terlihat Haala langsung muncul dari balkon setelah mendengar langkah kaki Braheim yang sangat hati-hati.
"Kenapa belum tidur?"
"Hamba sengaja menunggu Anda, Yang Mulia." Haala menutup tirai dan berjalan mendekati Braheim.
Braheim meletakkan tiga buah buku tebal di meja. "Baguslah. Jujur saja hari ini aku sudah berniat untuk mengganggu tidurmu."
Haala hanya tersenyum sembari menerima jubah yang baru saja dilepas Braheim.
"Apa kau sengaja terjaga untuk membahas bulan madu kita?"
"Bukankah sudah seharusnya kita membahas itu?" Haala berganti melempar tanya.
"Kau benar. Tapi jujur saja aku sedikit tidak berhasrat setelah tahu kita akan memiliki anak perempuan yang akan jatuh cinta pada Ejlaal Awlya. Apa tidak ada cara untuk membuat kita memiliki anak laki-laki saja?"
Spontan Haala tertawa menanggapi Braheim.
"Aku tidak ikhlas memberikan anak kita pada Ejlaal Awlya. Menjadi Komandan Perang wanita saja sudah banyak mendatangkan masalah, dan dia masih ingin menambahnya dengan menjalin cinta dengan putra dari tokoh utama antagonis dalam perang kebinasaan? Apa itu masuk akal? Demi Dewa Krpaya aku tidak ikhlas," imbuh Braheim.
Haala kembali menanggapi Braheim dengan tawa.
"Hei, aku bersungguh-sungguh."
"Hamba tahu, Yang Mulia. Hamba tahu," sahut Haala seraya menuangkan air untuk Braheim. "Tapi tidak ada yang bisa melawan takdir, bukan? Kita tahu betul tentang itu karena pernah mencobanya."
Braheim menerima segelas air dari Haala dan menenggaknya cepat. "Aku ingin mengatakan sesuatu yang menjadi kebiasaanku saat sedang jengkel tapi kau pasti akan langsung meminta cerai jika mendengarnya."
Haala tertawa lagi, semakin geli.
"Jadi, ke mana kita harus pergi berbulan madu?"
"Hamba tahu satu tempat yang bagus, Yang Mulia," jawab Haala.
"Pastikan tidak ada satu pun orang di sana."
Haala menyambut pelukan Braheim. "Boleh hamba tahu alasannya?"
"Kau tidak akan bisa turun dari ranjang. Itu adalah balas dendam yang sudah kurencanakan sejak lama."
__ADS_1
"Entah kenapa itu terdengar lebih mengerikan dari tambur perang." Haala lagi-lagi tertawa.