TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 45


__ADS_3

Setelah Daxraj menyatakan ketidakikut sertaannya dalam perang melawan Gaana*, Braheim berulang kali menggelar rapat darurat. Dan dari rapat-rapat tersebut didapatkanlah tiga buah hasil. Pertama, para prajurit harus menambah intensitas latihan demi perang yang bisa datang kapan saja. Kedua, kuil-kuil harus memproduksi lebih banyak air suci yang merupakan senjata yang bisa melemahkan Gaana, dan sesegera mungkin membagikannya pada penduduk.


Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook.


Dan yang terakhir, Jihan Joozher, Ratu Kumari Kandam sekaligus bawahan Gaana yang sebenarnya harus diserahkan ke Rona*. Banyak pihak yang tidak menyetujui hasil rapat terakhir itu, karena Jihan terkenal dengan citra yang baik. Pihak tersebut pun akhirnya kompak menyimpulkan jika Braheim ingin melimpahkan kesalahan Haala pada Jihan. Namun pihak yang setuju percaya, Braheim Bhaavesh bukanlah raja zalim yang mengangungkan urusan hati.


Rona* adalah tempat di mana raja dan ratu akan diadili jika terbukti berbuat dosa yang berkaitan dengan rakyat. Rona terletak di tengah-tengah delapan benua termasuk Kumari Kandam. Dan orang yang akan menjadi hakim di Rona adalah setiap pemimpin dari delapan benua tersebut.


Hari penangkapan Jihan pun tiba. Terlihat Braheim didampingi penasihatnya serta wakil komandan perang Kumari Kandam, tengah berdiri di depan pintu kamar tidur Jihan. Para prajurit bersenjata lengkap, berikut para pelayan yang masing-masing memegang cawan berisi air suci, tampak gugup ketika Braheim mulai mengetuk pintu tersebut. Namun tak ada jawaban. Semua orang pun semakin gugup, saat Braheim memberi perintah untuk masuk secara paksa.


"Sepertinya dia sudah melarikan diri."


Aswin tiba-tiba bersimpuh di hadapan Braheim. "Mohon beri perintah untuk mengejar Yang Mulia Ratu, Yang Mulia."


"Ya. Ratu memang harus segera dikejar. Tapi situasi di luar sana sangat berbahaya karena Gaana yang berkeliaran. Aku akan memberikan tugas ini pada yang lain. Untuk sekarang kembalilah ke tempat kalian masing-masing."


"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia." Semua orang menjawab dan membungkuk kompak pada Braheim.


Braheim menoleh pada Murat yang masih berdiri di tempatnya. "Ada yang ingin kau katakan?"


"Apa yang akan Anda lakukan, Yang Mulia?"


"Seperti yang sudah kukatakan. Kita harus segera mengejar dan menangkap ratu."


"Untuk apa, Yang Mulia? Bukankah membiarkan beliau berkeliaran di luar sana tidak ada bedanya dengan mengirim beliau ke Rona?" tanya Murat lagi.


"Tentu berbeda."


"Hamba tidak mengerti, Yang Mulia."


"Setidaknya di Rona dia tidak akan mati."


"Yang hamba tahu, mereka yang dikirim ke Rona pasti akan divonis hukuman mati."


Braheim berjongkok, memungut perkakas yang berserakan di lantai. "Setiap kerajaan di semua benua mengirim putrinya untuk mengikuti ujian pemilihan selir. Dan mayoritas putri-putri itu berasal dari keluarga dengan latar belakang pasukan tempur terkuat."


Murat hanya mendengarkan, sembari ikut berjongkok dan memungut ini itu. "Bayangkan jika aku memilih tujuh selir dari tujuh pasukan tempur terkuat di benua ini dan menggabungkannya dengan pasukan tempur Kumari Kandam."


"Mungkinkah maksud Anda?"


"Ya. Tak peduli meski Rona memvonis hukuman mati untuk ratu. Jika aku berkata tidak, bukankah mereka akan memilih mengiyakan daripada berperang dengan Kumari Kandam yang jelas-jelas bisa membuat mereka menelan kerugian tujuh turunan?"


"Lalu untuk tujuan apa Anda mengirim Yang Mulia Ratu ke Rona?"


Braheim menghela napas. "Dia harus dibuat jera agar tidak berani lagi menyulut kebakaran hutan seperti waktu itu dan menghancurankan istana lain seperti insiden istana tenggara*."


Istana tenggara* sering disebut istana ratu karena seluruh tugas harian ratu berlangsung di sini. Selain itu, istana tenggara juga menjadi tempat tinggal orang-orang dengan status tinggi seperti penasihat raja, menteri, komandan perang, kepala penyidik, serta tamu-tamu dari luar Kumari Kandam.


"Hamba mengerti, Yang Mulia."


"Dan aku juga sudah berjanji pada mendiang orang tuanya untuk melindunginya seperti adik perempuanku sendiri."

__ADS_1


Murat tampak sangat terkejut, hingga tanpa sadar menjatuhkan sisir dalam gengamannya. "Tapi Gaana menghasutnya, memberinya mahkota Ratu Kumari Kandam, dan membuatnya terobsesi padaku," imbuh Braheim.


"Anda pasti kesulitan."


Spontan Braheim menoleh pada Murat. "Benar. Kenapa? Tertarik menggantikanku? Untuk menjaganya seperti adik perempuanmu sendiri?"


DEG!


...¤○●¤○●¤○●¤...


Celoteh kegirangan bayi-bayi yang bermain dengan sepoi angin laut, lantunan lagu romantis yang diputar dengan volume sedang, serta tawa malu-malu sekumpulan gadis yang menceritakan kisah asmaranya, menambah suasana hidup di kapal yang akan berlayar keluar dari Benua Kumari Kandam itu.


Namun siapa sangka ada malapetaka di tengah-tengah mereka. Malapetaka itu, siapa lagi yang pantas menyandangnya jika bukan Gaana. Dengan penampilan gadis belia berambut emas, makhluk dari jahanam tersebut menyeringai di balik selendang hijau yang menutup sebagian wajah palsunya.


Air liur Gaana menetes, tak kuat menahan aroma menggiurkan jiwa-jiwa suci yang ada di sana-sini. Tetapi Gaana harus bertahan, setidaknya sampai kapal itu keluar dari Kumari Kandam. Karena sia-sia-sia saja jika Gaana menyerang sekarang, petugas keamanan hanya akan menyeretnya pada Braheim Bhaavesh.


"Tunjukkan identitasmu." Seorang petugas keamanan menghampiri Gaana.


Gaana tak menjawab, hanya merogoh sekantong koin emas dari dalam jubah dan menyerahkannya pada petugas keamanan. "Ternyata penumpang gelap."


"Ya," balas Gaana.


"Ini tidak cukup. Sejak bulan Chhah* tarif berlayar untuk penumpang gelap sudah dinaikkan."


Chhah* bulan juni dalam bahasa hindi.


"Hanya itu yang kupunya."


Gaana beranjak. "Baiklah."


"Hah, dasar. Penumpang gelap memang merepotkan."


"Tahan . Aku tidak akan menang melawan petugas sialan itu karena tubuhku terlalu lemah. Jadi tahanlah. Tahan sedikit lagi," ujar Gaana dalam hati.


...¤○●¤○●¤○●¤...


"Turunkan senjata kalian."


"Yang Mulia. Mohon tarik kembali perintah Anda. Itu terlalu berbahaya. Bisa saja dia Gaana yang sedang menjelma, Yang Mulia."


"Benar, Yang Mulia. Jika pun bukan Gaana, bukankah kita semua tahu dia sudah mati? Akan lebih baik jika Anda memberi perintah untuk menyerang, Yang Mulia," timpal menteri pertahanan pada menteri keamanan.


"Jika Anda ragu, tanyakanlah pada pengawal bayangan Anda. Mereka pasti bisa merasakan hawa jahat darinya."


Braheim beranjak. "Mereka sedang bertugas."


"Apa? Jadi maksud Anda saat ini tidak ada siapa pun yang melindungi Anda, begitu?" tanya menteri pertahanan dengan nada suara setengah berteriak.


"Apa boleh buat."


"Yang Mulia, nyawa Anda sangat berharga. Tolong berhati-hatilah. Bagaimana bisa Anda bergerak tanpa dikawal siapa pun. Sebenarnya tugas segenting apa yang Anda berikan sampai mereka meninggalkan tempat?"

__ADS_1


Braheim beranjak. "Bukankah satu-satunya tugas genting di dunia ini adalah yang berkaitan dengan wanita?"


"Yang Mulia, tunggu. Pasukan satu. Lindungi Yang Mulia Ra--"


"Hentikan. Atau kuturunkan pangkatmu sekarang juga," sela Braheim pada menteri pertahanan.


"Tapi, Yang Mu--"


"Cukup. Aku paham kekhawatiran kalian tapi jangan memperburuk keadaan," sela Braheim lagi, pada menteri keamanan.


Serentak ratusan mata panah yang mengarah pada sosok yang berdiri di tengah-tengah halaman utama Kerajaan Kumari Kandam itu pun diturunkan, karena sang raja yang tiba-tiba turun dari singgasananya. Tak peduli meski menteri pertahanan dan menteri keamanan bergantian meneriaki mereka untuk kembali mengangkat senjata, prajurit tak takut maut itu tetap dalam posisi istirahat.


Sosok yang tak lain adalah Ayah Haala itu langsung membungkuk, ketika Braheim akhirnya berdiri tepat di hadapannya. Bukan sembrono atau tidak takut mati, Braheim hanya percaya pada insting tajamnya sejak Ayah Haala menginjakkan kakinya di Kerajaan Kumari Kandam satu jam yang lalu. Pria berambut emas dengan warna bola mata senada itu bukan jelmaan Gaana, pun bukan manusia.


"Panjang umur, dan terbekatilah selalu, matahari Kumari Kandam."


"Seperti yang kau lihat. Kehadiranmu membuat suasana di sini seperti perang. Jadi langsung saja," tutur Braheim pada Ayah Haala.


"Mohon ikut sertakan hamba dalam perang melawan Gaana, Yang Mulia."


"Hamba keberatan, Yang Mulia. Bagaimana mungkin mengikut sertakannya yang pernah menjadi bawahan Gaana?"


Menteri keamanan mengangguk berulang kali. "Itu benar, Yang Mulia. Bagaimana jika dia berkhianat di tengah-tengah perang? Mohon pikirkan dengan bijak, Yang Mulia."


"Bagaimana menurutmu? Aku tidak bisa menampik apa yang mereka katakan."


"Maka Anda harus memberikan hamba kesempatan, Yang Mulia," sahut Ayah Haala pada Braheim.


"Omong kosong! Bahkan Dewa Krpaya* tidak akan memberikan kesempatan pada pendosa speertimu," teriak menteri pertahanan.


Krpaya* merupakan Tuhan yang disembah orang Kumari Kandam.


"Kembalilah ke jahanam. Bawa juga tuanmu yang terkutuk itu." Menteri keamanan ikut berteriak.


"Karena itulah aku masih di sini. Dewa Krpaya baru akan membukakan gerbang Daraar* jika aku membawa Gaana ke hadapannya."


Daraar* dipercaya sebagai alam roh.


Para menteri dan bahkan Raja Kumari Kandam dibuat diam seribu bahasa oleh perkataan mengerikan mantan komandan perang Kumari Kandam itu. Memang tak ada ruginya mengikutsertakan Ayah Haala, namun perkiraan menteri pertahanan dan menteri keamanan pun tidak bisa hanya dianggap angin. Braheim butuh waktu untuk berpikir, tetapi sepertinya perang sudah ada di depan mata.


"Gaana sedang berburu di luar Kumari Kandam untuk memulihkan kekuatan. Jika dia berhasil mendapatkan sepuluh ribu jiwa suci, maka kekuatan delapan pasukan tempur terkuat pun hanya bagaikan debu untuknya," tambah Ayah Haala.


"Lalu? Hanya kau yang bisa membunuhnya, begitu?"


Ayah Haala menggeleng menanggapi Braheim. "Tidak, Yang Mulia. Tapi Ghinauna."


"Ghinauna? Penunggu Baadal*?" tanya Braheim lagi.


Baadal* adalah salah satu danau keramat di Kumari Kandam. Konon Baadal dijaga oleh ikan raksasa bernama Ghinauna. Mereka yang berendam di Baadal akan disucikan dari sisa perbuatan kotor manusia, sisa makanan serta minuman haram, atau racun yang mengendap di tubuh. Namun Ghinauna dikenal tidak ramah, sehingga hanya sedikit sekali orang yang bisa berendam di sana.


"Benar, Yang Mulia. Kita hanya perlu menghentikan Gaana mendapatkan sepuluh ribu jiwa suci, menyerangnya hingga lemah, dan menyeretnya ke Baadal. Dasar Baadal adalah garam beku, Gaana yang merupakan setengah lintah secara alamiah akan mati. Sementara setengah manusianya, akan dilahap Ghinauna yang sudah pasti menolaknya."

__ADS_1


__ADS_2