TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 37


__ADS_3

Setelah api ketakutan Ratu Kumari Kandam yang diprovokasi angin ciptaan Mausam* berhasil dijinakkan oleh hujan buatan Daxraj Natesh dari masa depan, ingatan semua saksi yang ada di tempat kejadian langsung dihapus. Yang mereka ingat ketika mantra penghapus ingatan itu bekerja adalah, hujan turun karena belas kasih dari Yang Maha Kuasa.


*Mausam* adalah pengendali cuaca dan musim*.


Braheim yang tak teperdaya mantra penghapus ingatan seketika bingung melihat keadaan di sekitarnya. Orang-orang tidak lagi berterima kasih pada Daxraj. Mereka seakan lupa jika pria yang muncul dari dalam kobaran api putih setinggi gunung adalah orang yang beberapa detik lalu menurunkan paksa hujan di musim kemarau.


Hingga Braheim tersadar kebenaran ucapan Haala, tentang pemimpin suku pengembara yang memiliki kemampuan menghapus ingatan seseorang. Braheim menghampiri Daxraj yang terlihat tak tersentuh guyuran hujan yang sangat lebat itu, berniat menanyakan beberapa hal yang diyakininya hanya bisa dijawab oleh Daxraj.


"Setidaknya buatkan aku secangkir teh."


"Kau juga minum?" tanya Braheim pada Daxraj.


"Aku manusia."


Braheim mendecak, "Kau pikir ada manusia yang akan baik-baik saja setelah muncul dari dalam kobaran api setinggi gunung?"


"Ada. Aku."


Braheim kembali mendecak, "Lupakan saja. Ikut aku. Ada yang ingin kutanyakan."


Braheim menghentikan langkahnya karena tidak mendengar jawaban dari Daxraj. Braheim lalu menoleh ke belakang, tetapi pria bertabiat menjengkelkan itu sudah hilang entah ke mana. Braheim terus mendecak, dan terpaksa menyimpan pertanyaannya yang menguras otak itu lebih lama lagi. Namun ketika Braheim kembali ke Kerajaan Kumari Kandam.


"Aneh rasanya melihatmu minum seperti manusia."


Daxraj meletakkan cangkir tehnya. "Sudah kubilang aku manusia."


Braheim menggeleng-geleng. "Tidak biasanya kau bisa tinggal lebih dari dua menit."


"Karena Gaana* sedang lemah."


*Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook*.


Braheim duduk di seberang Daxraj. "Jadi kau hanya bisa muncul jika makhluk terkutuk itu lemah?"


"Ya," balas Daxraj.


"Pada akhirnya jiwa bayi-bayi tak berdosa itu terbunuh sia-sia."


Daxraj kembali menyeruput tehnya. "Selama berjenis perempuan dan berjiwa suci, mereka bisa menjadikan Gaana kuat. Kebakaranlah yang membuatnya melemah."


"Aku kehilangan banyak rakyatku karena kebakaran itu tapi kenapa rasanya lega? Hah, sepertinya aku sudah menjadi raja yang zalim," gumam Braheim seraya menghela napas.


"Jika jadi dirimu aku pun akan merasa lega. Lagipula mereka yang berpulang hari ini sudah menjadi incaran malaikat maut sejak beberapa hari lalu."


Braheim menatap Daxraj. "Kata-katamu itu untuk menenangkanku atau sebaliknya? Lupakan saja. Cepat jawab pertanyaanku. Kau pasti sudah mengetahuinya, bukan?"


"Aku bukan cenanyang."


Braheim kembali menghela napas. "Di mana kau selama ini berikut alasannya. Apa maksud ucapanmu dengan memutar waktu untuk mengelabui makhluk terkutuk itu? Lalu jelaskan lebih rinci tentang darah campuran."


Daxraj diam, entah diam karena memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan antusias Braheim atau diam karena cangkir tehnya telah kosong. Tidak ada yang bisa Braheim perbuat selain meluaskan sabarnya. Tetapi Daxraj masih setia membisu, meski menit telah berganti jam, dan meski cangkir tehnya kini sudah kembali terisi penuh.


Bola mata yang setia menatap dasar cangkir teh, laju napas yang tidak terdengar, serta posisi duduk yang tidak berubah sejak satu jam lalu membuat Braheim ingin sekali memastikan apakah benar ada jantung yang berdetak di balik tubuh raksasa itu. Namun saat Braheim hendak melancarkan aksi konyolnya, Daxraj akhirnya membuka mulut.


Pertanyaan pertama, selama ini Daxraj ada di masa depan. Karena hanya di masa depan dan di saat-saat Gaana melemah seperti sekaranglah Gaana tidak bisa merasakan kehadirannya. Pertanyaan kedua, tujuan Daxraj memutar waktu adalah karena di masa depan dirinya telah membuat kesalahan fatal yang berdampak pada runtuhnya Kumari Kandam.


"... Aku melakukan kesalahan. Kumari kandam runtuh, dan aku tidak bisa berbuat apapun karena tiba-tiba kekuatanku hilang, jauh sebelum perang kebinasaan pecah."

__ADS_1


Braheim tampak terkejut. "Jadi benar perang kebinasaan datang lebih cepat. Lalu kesalahan seperti apa yang kau maksud?"


"Kesalahan yang sangat fatal. Padahal perang kebinasaan bisa saja terhindarkan jika saat itu aku memenuhi permintaan Gaana."


"Apa makhkuk terkutuk itu memintamu untuk membunuhku?" tanya Braheim lagi.


"Ya."


Braheim beranjak. "Lalu kenapa tidak kau lakukan? Jika kau membunuhku, kau bisa memenuhi ramalan itu. Putramu akan lahir untuk memenangkan perang kebinasaan sehingga Kumari Kandam tidak akan runtuh. Apa sebenarnya yang kau pikirkan saat itu?"


Daxraj kembali menyeruput tehnya. "Aku tidak membunuh tanpa alasan, Braheim."


"Tapi lihatlah akibat karena kau tidak memilih membunuhku! Kau kehilangan kekuatanmu! Kau meruntuhkan Kumari Kandam!" seru Braheim.


"Maka dari itu aku memutar waktu. Karena di masa depan Gaana belum mati, dia bertapa untuk memutar waktu. Aku mengelabui Gaana seolah dialah yang memutar waktu. Aku mengikuti alur yang Gaana inginkan dengan menukar seribu tahun umurku untuk setiap satu kali perputaran waktu."


Urat-urat murka di wajah Braheim mulai mengendur setelah mendengar penjelasan dari Daxraj. Kini terjawab sudah di mana tempat persembunyian Daxraj serta alasannya memutar waktu. Tersisa satu pertanyaan terakhir, yang sepertinya tidak akan sempat terjawab karena portal masa depan berlatar siang hari yang sudah ternganga.


Daxraj beranjak, berjalan memasuki portal. "Darah campuran tidak abadi, dan tidak bisa menerima kekuatan pemimpin suku pengembara."


"Aku tahu. Tapi kenapa?"


"Karena setengah dari darah campuran adalah manusia biasa," jawab Daxraj.


"Kalau begitu, bukankah setidaknya aku juga memiliki setengah dari kekuatan pemimpin suku pengembara?"


Daxraj menoleh pada Braheim. "Tidak. Karena kekuatan nenek moyangmu yang berasal dari suku pengembara dicabut setelah menikahi manusia biasa."


"Begitu rupanya."


"Aku masih memiliki delapan detik," sahut Daxraj.


Daxraj tersenyum sebelum menghilang dari balik portal. "Maka jangan pernah relakan. Karena aku pun tidak akan merelakannya untukmu. Sampai mati."


...¤○●¤○●¤○●¤...


Murat Iskender akhirnya dibebaskan setelah dua hari menjadi tahanan rumah. Barang bukti berupa pemantik milik Murat yang dicuri dan sengaja dijatuhkan oleh kaki tangan Jihan di salah satu lokasi kebakaran, membuat Murat tidak bisa lagi mengelak dari tuduhan tersangka tunggal meski berulang kali bersumpah atas nama Tuhan.


Braheim menutup kasus kebakaran itu meski banyak menuai protes dari berbagai pihak, kecuali pihak Murat yang malah terlihat tenang. Semua orang yakin jika Braheim sudah mengantongi nama pelaku sebenarnya, namun memilih bungkam untuk alasan yang entah apa. Dan kasus itu pun berlalu bersamaan dengan angin kemarau yang panjang.


Bukan tanpa alasan Braheim bungkam meski tahu Mausam ikut andil dalam kebakaran terdahsyat sepanjang sejarah itu. Braheim yakin Mausam hanya kaki tangan, sebab pelaku sebenarnya yang sudah tentu Ratu Kumari Kandam. Murat pun memiliki keyakinan yang sama dengan Braheim, oleh karenanya sejak awal Murat enggan bergabung dalam protes.


Desas-desus tentang Braheim yang tak berhati mulai menyebar karena Braheim tidak memberi perintah untuk menangkap tersangka sebenarnya yang telah menghitamkan hampir separuh tanah Kumari Kandam. Braheim lebih memilih tetap bungkam, dan fokus pada rencana barunya untuk melenyapkan musuh utama Kumari Kandam, Gaana.


Sebab Braheim merasa tidak tenang meski Daxraj masih hidup. Mengingat ucapan Daxraj tempo hari yang mengatakan jika kekuatannya bisa hilang tanpa sebab, Braheim menjadi ragu untuk mengandalkannya membunuh Gaana. Satu-satunya cara yang bisa Braheim lakukan saat ini adalah, membuat Gaana melemah dengan terus membuatnya kelaparan.


"Sepertinya undang-undang baru cukup sukses."


"Benar, Yang Mulia. Sejak Anda meresmikannya, angka kelahiran terus menurun," balas Murat pada Braheim.


"Itu bagus. Makhluk terkutuk itu pasti semakin kesulitan mencari makanannya. Lalu bagaimana dengan pembangunan rumah-rumah penduduk yang terkena dampak kebakaran?"


Murat meletakkan selembar gulungan di hadapan Braheim. "Semuanya berjalan lancar, Yang Mulia. Tapi butuh dana tambahan karena ada beberapa bahan yang kurang. Hamba sudah mencatat kekurangannya di sana."


Braheim mengangguk-angguk sambil membaca isi gulungan. "Baiklah. Berikan ini pada menteri keuangan."


"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."

__ADS_1


"Kau boleh pergi," sahut Braheim.


"Yang Mulia, ada yang ingin hamba tanyakan."


Braheim hanya menoleh pada Murat. "Kenapa tiba-tiba Anda ingin memiliki selir?" tanya Murat.


"Untuk berjaga-jaga agar kemalangan yang menimpa Putri Gaurika Chander dari Narak tidak menimpa putri-putri yang lain."


Murat diam sesaat. "Jadi dengan kata lain, Anda ingin menutup semua celah agar Gaana tidak bisa mengincar posisi yang paling dekat dengan Anda, begitu?"


"Ya. Aku belum boleh mati."


Murat kembali diam. "Jadi itu juga alasan Anda mengampuni Yang Mulia Ratu?"


"Dia tidak hanya hampir melenyapkan Kumari Kandam tapi juga bersekutu dengan iblis. Dia tidak pantas untuk diampuni, Murat."


"Lalu kenapa Anda tidak menghukum Yang Mulia Ratu?"


"Karena hukuman dariku sama sekali tidak setimpal untuk semua kekejian yang dilakukannya. Dia yang memulai semua bencana ini, jadi dia jugalah yang harus mengakhirnya," jawab Braheim.


...¤○●¤○●¤○●¤...


DUAR.. DUAR. DUAR..


Serpihan cantik kembang api menambah kemegahan langit malam Kumari Kandam. Antrian kereta kuda bertabur emas murni terlihat tak putus memasuki gerbang utama kerajaan berukir burung phoenix itu. Semburat kekaguman di wajah setiap orang pun seolah tak habis karena terus disuguhi rupa-rupa cantik dari calon selir Raja Kumari Kandam.


Satu pekan lalu Kerajaan Kumari Kandam mengumumkan tentang pemilihan selir, dan malam ini adalah malam penyambutan para calon selir. Pemilihan baru akan dilangsungkan esok hari sampai pada waktu yang tidak dapat ditentukan, karena ternyata wanita yang ingin menjadi selir Raja Kumari Kandam mencapai ribuan.


Sejak hari diumumkannya pemilihan selir Braheim, Haala terus terlihat murung. Di satu sisi Haala merasa jika Braheim telah mengambil keputusan yang tepat mengingat tempo hari Gaana nekat mengincar posisi selir untuk mendekati Braheim dan membalas dendam. Namun di sisi lain, suatu ruang di hati Haala terasa sangat sakit seperti dicabik.


"Salam."


Spontan Haala beranjak. "Salam."


"Aku tidak tersesat. Aku memang sedang berjalan-jalan."


Haala tersenyum menanggapi calon selir Braheim. "Begitu rupanya."


"Kau juga pasti sulit tidur di tempat yang baru, bukan? Aku juga. Daripada itu, dari mana asalmu?"


"Aku berasal dari Kumari Kandam. Aku bekerja di sini," balas Haala.


"Ah, kau bukan sainganku rupanya. Maafkan aku. Jadi kau adalah?"


Haala tersenyum. "Haala Anandmayee. komandan perang Kumari Kandam."


"Komandan perang? Wah. Hebat sekali. Padahal kau terlihat kecil dan lemah. Sulit dipercaya. Ah, perkenalkan namaku Chitrali."


Haala kembali tersenyum. "Kumari Kandam sangat indah dan tenang. Walau begitu aku tetap menyesal sudah datang ke sini dari tempat yang sangat jauh," imbuh Chitrali.


"Apa ada masalah?"


Chitrali mengangguk. "Yang Mulia Raja ternyata sangat aneh. Aku mendapat giliran pertama untuk memberi salam pada Beliau hari ini, dan kau tahu, Beliau tiba-tiba memberi tahu kelemahannya."


"Kelemahan?"


Chitrali kembali mengangguk. "Aku bukan ahli pedang, selalu kalah saat berduel, dan akan selamanya meminta dilindungi. Tapi meski begitu, maukah kau menerimaku? Begitu kata Yang Mulia Raja. Aku tidak mengerti. Calon selir yang lain pun tidak mengerti. Sebenarnya apa maksud Beliau?"

__ADS_1


DEG! DEG! DEG!


__ADS_2