
Ruang tunggu seukuran dua kali lipat dari pacuan kuda itu tampak sesak. Bahkan di luar ruang tunggu pun di sepanjang koridornya, benar-benar tak kalah sesak. Mereka yang sedari fajar berdesakan berebut tempat itu merupakan orang-orang berstatus tinggi yang tengah mengantri untuk menghadap Braheim. Entah itu menghadap dengan kemauan sendiri atau karena mendapat surat berstempel emas.
Satu per satu dari mereka akan dipanggil sesuai dengan urutan masalah yang paling mendesak. Nama para penghadap akan dipanggil sebanyak tiga kali oleh Murat, dan jika tidak ada tanggapan, apapun alasannya meski itu jatuh pingsan karena mengalami kram kaki parah, mereka harus kembali menghadap esok hari. Itu jelas sangat menyebalkan. Sebab sejak dahulu, prosedur menghadap Raja Kumari Kandam sangatlah rumit, serumit menebak isi hati para kaum hawa ketika mereka sedang merajuk.
Dan yang lebih menyebalkan, Braheim selalu mendahulukan wanita meski tujuan mereka menghadap hanya untuk menghidangkan camilan. Baru saja tiba tetapi langsung diizinkan menghadap. Apakah ada yang lebih menyebalkan daripada itu? Tetapi apa mau dikata. Daripada berdesakan dengan tubuh molek wanita-wanita milik Raja Kumari Kandam, para petinggi itu lebih memilih berdesakan dengan sejenisnya, meski keras.
"Selanjutnya, Menteri Luar Benua."
"Aku di sini. Aku di sini, Penasihat. Ah akhirnya. Untung saja aku menahan untuk buang air," gerutu Menteri Luar Benua.
"Silakan." Murat membukakan pintu ruang kerja Braheim dan menutupnya cepat.
"Panjang umur, dan terberkatilah selalu, matahari Kumari Kandam."
Braheim hanya mengangguk sembari menerima cangkir tehnya yang baru saja diisi oleh seorang pelayan. Diisi untuk yang ke sembilan belas kali meski waktu masih menunjukkan pukul delapan pagi.
"Perihal pemantauan aktivitas kubu kontra yakni Benua Garjan, Hathelee dan Padachihn. Mereka mulai bergerak untuk membuat kubu netral berada di pihaknya. Kita juga harus mulai bergerak, Yang Mulia."
"Begitu. Lalu bagaimana baiknya menurutmu?"
"Raja Padachihn memberikan sebagian wilayah barat dan utara Padachihn sebagai hadiah perayaan festival untuk Raja Shushk dan Lagaam. Menurut hamba, kita juga harus melakukan hal yang sama, Yang Mulia," balas Menteri Luar Benua.
"Memberikan wilayah? Itu hadiah perayaan festival atau mahar pernikahan?" Braheim meletakkan cangkir tehnya. "Duduk saja di tempatmu, Menteri."
"Maaf?"
"Kumari Kandam bukan penyuap."
Menteri Luar Benua membungkuk. "Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."
Menteri Luar Benua keluar dari ruangan, dan tak berselang lama langsung digantikan oleh Putri Chadna, calon ratu Kumari Kandam terpilih yang membongkar hubungan asmaranya dengan Murat Iskender di tengah persiapan pernikahannya yang sudah mendekati tahap enam puluh persen.
"Panjang umur, dan terberkatilah selalu, matahari Kumari Kandam."
Braheim mengangguk menanggapi Putri Chadna. "Ternyata satu pekan terlalu lama untukmu memikirkan pilihan dengan matang."
"Sejujurnya hamba sudah tahu mana pilihan yang akan hamba ambil sejak Anda memberikannya, Yang Mulia."
"Begitu. Lantas?"
Putri Chadna mengatur napasnya. "Sebelumnya hamba ingin meminta maaf karena telah merahasiakan hubungan asmara hamba dengan Penasihat Murat, Yang Mulia."
Braheim tak menjawab, sibuk melahap Tandoori, menu sarapannya hari ini.
Tandoori* merupakan masakan ayam yang berasal dari daerah Punjab. Tandoori telah ada sejak zaman kesultanan Mughal di Asia Selatan dan bahkan menyebar hingga di Asia Tengah dan Asia Tenggara. Tandoori dibuat dari daging ayam yang direndam adonan susu asam kental dengan garam masala, bumbu, dan lada khas India.
"Tentang pilihan yang Anda berikan. Antara dipulangkan ke Chamakadaar atau menjadi selir Anda. Hamba akan memilih pilihan yang kedua, Yang Mulia," imbuh Putri Chadna.
"Alasannya?"
__ADS_1
"Karena hukuman yang akan diberikan Chamakadaar pada hamba sudah jelas, Yang Mulia. Hamba akan diasingkan di kuil seumur hidup."
"Lalu kau pikir dengan menjadi selirku kau akan terbebas dari hukuman, begitu?"
"Tidak, Yang Mulia. Hamba tahu hukuman itu akan tetap menanti di mana pun hamba berada. Jadi hamba sudah menyiapkan diri."
Braheim mengusap bibirnya dengan lap makan. "Kau sudah mendapatkan hukumanmu, Putri."
"Maaf? Hamba tidak mengerti, Yang Mulia."
"Penasihatku itu orang yang mudah bosan. Bukankah membuat orang seperti itu bertahan adalah hukuman?"
Putri Chadna membungkuk menyembunyikan senyum kegirangannya. "Terima kasih, Yang Mulia."
"Tulislah surat untuk Raja Arshaq perihal keputusan yang kau ambil. Lalu berikan pada Murat untuk diberi stempel."
Putri Chadna kembali membungkuk, dan secepat kilat langsung digantikan oleh empat orang prajurit yang memberikan laporan palsu tentang kematian Firdoos Shyamali saat insiden penggusuran Svarg* dan rumah-rumah bordil.
Svarg* adalah tempat penampungan para budak pria berwajah rupawan. Sebagian dari mereka dikirim ke rumah bordil, dan sebagian lagi dikirim secara rahasia ke istana ratu atau harem.
"Menjaga situasi tetap kondusif adalah tugas utama kalian saat itu, pun membuat laporan setelah tugas selesai."
Keempat prajurit itu hanya menunduk merasakan tubuhnya yang bergemetar hebat meski belum mendengar vonis hukuman apapun dari Braheim.
"Aku tidak menyalahkan kalian atas kematian Firdoos Shyamali. Sebagai prajurit, kalian sudah melakukan hal yang benar." Braheim mengetuk selembar laporan di atas meja. "Tapi ini. Prajurit Kumari Kandam tidak melakukan ini."
Tubuh kekar keempat prajurit itu kian bergemetar hebat, seolah hanya mereka yang merasakan ada gempa bumi yang melanda Kumari Kandam saat ini.
"Tidak, Yang Mulia." Keempat prajurit itu menjawab kompak.
"Kalau begitu akan kuputuskan hukuman untuk kalian sekarang juga." Braheim melihat bergantian empat prajurit di hadapannya. "Hukum memalsukan laporan, menghilangkan nyawa, berdusta pada keluarga kerajaan, potong lidah dan penjara tiga puluh tahun."
Keempat prajurit itu keluar dari ruangan Braheim dengan wajah pucat pasi. Semua orang yang ada di ruang tunggu itu tahu pasti tentang hukuman apa yang mereka dapatkan. Seseorang masih bisa hidup tanpa lidah. Tetapi mendekam di penjara Kumari Kandam selama tiga puluh tahun? Satu hari saja sudah terasa seperti mendekam seratus tahun di jahanam.
"Selanjutnya. Wakil Komandan Perang Kumari Kandam, Aswin Nadeem," teriak Murat.
"Terima kasih, Penasihat."
"Kau yakin akan mengatakannya pada Yang Mulia Raja?"
Aswin mengangguk. "Yang lain juga menginginkan ini."
Murat hanya menghela napas, lalu memberikan jalan untuk Aswin memasuki ruang kerja Braheim.
"Aku ingat tidak mengirim surat berstempel emas untukmu. Ada masalah apa, Aswin?"
"Ini tentang kembalinya Komandan Haala, Yang Mulia," sahut Aswin pada Braheim.
"Apa yang salah dengan itu?"
__ADS_1
Aswin diam sesaat, terlihat jelas sekali jika dirinya tengah kesulitan merangkai kata. "Hamba juga yang lain sangat menghormati Komandan Haala, karena kemampuan beliau yang mengagumkan. Tetapi kami lebih baik mengundurkan diri daripada harus dipimpin oleh seorang wanita, Yang Mulia."
Braheim berganti diam, sebab yakin jika pria seusia dengannya itu belum selesai mengutarakan semua yang berlalu-lalang di pikiran pun benaknya.
" ... Sudah lama kami memaksakan diri, Yang Mulia. Sungguh, harga diri kami sebagai seorang pria seperti dilumuri kotoran. Mohon ampuni kelancangan ini, Yang Mulia. Hamba harap Anda mengerti."
Braheim masih diam, meski suara Aswin sudah tidak lagi terdengar. Braheim bingung mencari jawaban yang paling tepat di situasi yang tidak pernah diprediksinya. Di satu sisi Braheim mengerti rasanya kalah unggul dari seorang wanita, namun di lain sisi, adat istiadat menamparnya keras. Takdir keturunan Yusef Bahadir adalah menjadi perisai tanah Kumari Kandam. Jika pun terpaksa diganti, maka jawabannya hanya satu, Vinaash*.
Vinaash* merupakan ujian yang dibuat oleh Yusef Bahadir dengan keyakinan bahwa hanya keturunannya saja yang bisa melewatinya. Vinaash tidak dibuat dengan maksud kecongkakan, karena nyatanya puluhan orang biasa yang pernah mencobanya selalu berakhir menemui ajal.
"Saat ini aku belum bisa memberi jawaban untukmu dan yang lain, Aswin. Beri aku waktu," balas Braheim akhirnya.
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."
Aswin pun berlalu dari pandangan Braheim, digantikan orang-orang yang mendapat surat berstempel emas. Sebuah surat yang bagi sebagian orang bagaikan kabar bahagia, tetapi bagi sebagian yang lain yang bermain-main dengan kebenaran, surat berstempel emas itu bagaikan perintah untuk menggali liang lahad sendiri.
"Silakan, Yang Mulia sudah menunggu."
Lima orang itu hanya mengucapkan terima kasih pada Murat yang membukakan pintu.
"Panjang umur, dan terberkatilah selalu, matahari Kumari Kandam."
"Langsung saja. Kalian ingin menyelesaikan masalah ini di pengadilan terbuka atau langsung di sini?" tanya Braheim.
Kelima orang yang tak lain adalah Menteri Pertahanan, Leyla Rahsheda selaku kepala pengurus harem, dua orang penjaga gerbang utama Kerajaan Kumari Kandam, dan seorang selir, hanya menunduk. Mereka dipanggil setelah membuat pahlawan perang kebinasaan di masa depan, Vinder, terserang flu.
" ... Dia bahkan tidak tahu bagaimana cara membuang lendir di hidungnya. Lalu bagaimana bisa? Bagaimana bisa kalian membiarkannya berada di bawah guyuran hujan hanya untuk berdebat masalah sepele?"
Menteri Pertahanan berdeham, "Ancaman bukanlah masalah sepele, Ya--"
"Aku bersumpah akan menggorok lehermu dengan tanganku sendiri jika kelak yang kau sebut ancaman itu turun ke medan perang dan memenangkannya!" Braheim melempar cangkir tehnya ke arah Menteri Pertahanan.
"Mohon ampuni kelancangan hamba, Ya--"
"Apa kau sudah menemukan satu saja kesalahanku? Kalau begitu biar kudengar. Katakan," sela Braheim lagi.
"Mohon ampuni ke--"
"Maka ketahui batasmu, Ghanzafer El-Amin! Sudah kukatakan untuk tidak ikut campur perihal singgasana ratuku dan Devraaj Narvinder jika kau tidak bisa menemukan satu saja kesalahanku!"
Menteri Pertahanan, Ghanzafer El-Amin, hanya membungkuk menanggapi Braheim, tanpa berkata apa-apa, demi menghindari cangkir kedua Braheim yang mungkin akan membuat wajahnya melepuh.
Braheim menunjuk dua prajurit penjaga. "Upah kalian tahun ini akan diberikan pada kaum fakir. Lalu kalian diskors selama enam bulan." Braheim menoleh pada Leyla. "Leyla, kupercayakan nasib selir itu padamu."
Leyla tampak sangat terkejut, begitu pula dengan si selir. Namun Leyla buru-buru membungkuk. "Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."
"Dan kau, Ghanzafer El-Amin. Jika sekali lagi kau ikut campur, harga ampunanku hanya akan setara dengan leher keluargamu. Murat!"
Spontan Murat menerobos masuk, berjalan setengah berlari sambil membawakan papan catur Braheim, lalu dengan cekatan langsung menyiapkannya.
__ADS_1
"Kau pikir saat ini aku membutuhkan ini, Murat Iskender?"