
"Bangkitkan yang terakhir. Bangkitkan yang terkuat. Hanya kau yang bisa membangkitkannya. Letakkan kedua telapak tanganmu di sana. Hanya kau yang bisa melakukannya."
"Sialan! Tutup mulutmu!" seru Faakhir sembari menyiramkan seember Gandh* pada Jihan.
Gandh* merupakan senjata baru buatan Kumari Kandam di masa lalu, berupa campuran garam dan air suci. Garam diketahui ampuh melemahkan Gaana yang setengah lintah, dan air suci memang sudah digunakan untuk mengusir iblis sejak ratusan tahun silam. Reaksi yang akan muncul jika Gandh mengenai tubuh Gaana adalah rasa perih yang perlahan berubah menjadi rasa seperti terbakar.
"Bangkitkan yang terakhir. Bangkitkan yang terkuat. Hanya kau yang bisa membangkitkannya. Letakkan kedua telapak tanganmu di sana. Hanya kau yang bi--" Jihan diam cukup lama setelah menjeda ucapannya sendiri.
"Hei, kau baik-baik sa–"
Jihan mengusap wajahnya. "Apa kau baru saja mengumpatku?"
"Hah, syukurlah." Spontan Faakhir menghambur memeluk Jihan.
"Ada suara di dalam sini." Jihan menunjuk kepalanya sendiri. "Aku bersumpah."
"Ya. Sekarang aku percaya. Apa yang suara itu katakan?"
"Membangkitkan orang mati. Ini pasti ulah tua bangka sialan itu," jawab Jihan seraya beranjak. "Kita harus melakukan sesuatu."
"Tidak bisa. Di luar sedang sangat kacau. Untuk sementara kita harus bersembunyi. Ayo cepat pergi ke ruang bawah tanah."
Jihan melepaskan gandengan tangan Faakhir. "Hei, setidaknya jika kau memang tidak punya otak maka gunakanlah ototmu itu."
"Apa?"
Jihan memandangi sekumpulan mayat hidup yang tengah berlalu-lalang di luar rumah. "Orang mati mana lagi yang akan dibangkitkan tua bangka itu? Aku tidak bisa mengingat suara yang lain."
"Bangkitkan yang terakhir. Bangkitkan yang terkuat. Hanya kau yang bisa membangkitkannya. Letakkan kedua telapak tanganmu di sana. Hanya kau yang bisa melakukannya. Kau sudah mengatakan itu sepuluh juta kali sampai membuat mentalku semakin terganggu."
"Bangkitkan yang terakhir. Bangkitkan yang terkuat." Jihan kembali memandang ke luar rumah. "Itu artinya mereka bukan yang terakhir dan ada yang lebih kuat. Tapi siapa?"
"Suku pengembara."
Seketika Jihan berbalik dan menoleh pada sang kekasih.
"Bukankah suku pengembara yang tempo hari mati di Baadal* dimakamkan di luar portal suci?" imbuh Firdoos.
Baadal* adalah salah satu danau keramat di Kumari Kandam. Konon Baadal dijaga oleh ikan raksasa bernama Ghinauna. Mereka yang berendam di Baadal akan disucikan dari sisa perbuatan kotor manusia, sisa makanan serta minuman haram, atau racun yang mengendap di tubuh. Namun Ghinauna dikenal tidak ramah, sehingga hanya sedikit sekali orang yang bisa berendam di sana.
"Kau, benar. Jika berbicara yang terakhir dan yang terkuat, maka hanya suku pengembara yang tersisa."
...•▪•▪•▪•▪•...
Sementara Jihan berhasil terbebas dari jerat efek jangka panjang Vakr*, Makshi, gadis baik hati asal Lagaam dan enam orang lainnya kini sedang menjalankan perintah kedua dari Sanjeev. Seperti apa yang dikatakan Faakhir, perintah itu adalah untuk membangkitkan suku pengembara yang tempo hari meregang nyawa setelah nekat menyucikan diri di Baadal.
Vakr* merupakan ramuan yang bisa membuat mata batin seseorang terbuka. Diketahui baru-baru ini jika ternyata Vakr memiliki efek jangka pendek serta jangka panjang. Efek jangka pendek yakni membuka mata batin, dan efek jangka panjang yakni menjadi sensitif terhadap mantra.
Berbeda dengan manusia. Suku pengembara lebih spesial. Mereka tidak hanya akan diam layaknya mayat hidup tetapi bersikap alami seperti terlahir kembali. Dan tidak hanya suku pengembara saja, para pemilik kekuatan suci seperti Mausam* dan Jyostishee* seperti Putri Gaurika Chander, Ejlaal Awlya serta Firdoos Shyamali pun masuk dalam kategori spesial.
__ADS_1
Mausam* adalah pengendali cuaca dan musim.
Jyostishee* peramal masa depan yang berasal dari wilayah Narak.
Mereka bisa berkomunikasi, makan, minum, tidur, dan tentu saja bercinta. Satu hal yang akan berbeda setelah mereka dilahirkan kembali, jika tiba saatnya Tuhan mereka memanggil, tidak ada tempat peristirahatan terakhir yang disediakan untuk mereka, baik itu di jahanam pun firdaus. Dan mereka hanya memiliki satu tujuan hidup yakni mematuhi perintah Sanjeev Rajak.
Tibalah saatnya rencana cadangan Sanjeev direalisasikan. Boneka-boneka Sanjeev sudah sampai di salah satu bekas tempat tinggal suku pengembara yang dijadikan pemakaman untuk suku pengembara yang tewas mengenaskan di Baadal. Mereka terus menggumamkan perintah kedua Sanjeev, dan bergegas menempelkan kedua tangannya ke tanah sambil merapal mantra.
Cukup butuh waktu lama untuk yang terakhir dan yang terkuat itu bangkit. Namun ketika mantra terlarang itu dirapalkan untuk yang keempat kalinya, akhirnya mereka pun bangkit dari kubur masing-masing. Sementara boneka-boneka Sanjeev terkapar sekarat, suku pengembara malah merasakan kekuatan yang luar biasa. Mereka benar-benar seperti terlahir kembali.
"Apa ini?"
"Kita bangkit." Suku pengembara yang lain menimpali rekannya.
"Ini luar biasa."
"Apa ini kemurahan Tuhan?"
"Oh ayolah jangan bawa-bawa Dia."
"Ini adalah kesempatan."
"Benar. Lebih tepatnya kesempatan emas."
"Untuk balas dendam."
"Ayo cabik-cabik ikan sialan itu."
"Jangan sebut dia Pemimpin kita. Dia tidak ada bedanya dengan Daxraj Natesh. Pemimpin sialan."
"Tepat sekali. Mereka hanya sekumpulan orang-orang sialan. Aku bahkan tidak bisa melupakan tatapan dingin Daxraj Natesh saat menyaksikan kita diceburkan ke jahanam."
"Lupakan itu. Sekarang kita bebas. Ayo bersenang-senang."
"Dan mengabdi pada Tuan yang sudah memberikan kita kesempatan emas ini."
Tanah yang dipenuh sisa ceceran darah dan air mata itu bergetar. Bergetar bukan karena Balaavan* dan Bhookamp* yang tengah bermain kejar-kejaran melainkan karena entak kaki suku pengembara yang bangkit dari kubur. Lonceng darurat Kumari Kandam pun langsung dibunyikan, pun Aswin, para Komandan Perang berikut pasukan tempur dari tujuh benua yang langsung membuat barikade baru.
Balavaan* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk singa raksasa.
Bhookamp* satu dari tiga makhluk supernatural peliharaan Daxraj Natesh yang berbentuk gajah raksasa.
Aswin menoleh ke luar pelindung, lalu menujukan tatapan murkanya pada Sanjeev yang saat ini sedang terbahak. "Dia benar-benar sinting."
...•▪•▪•▪•▪•...
Hanya tinggal jengkal sampai suku pengembara menerobos barikade Aswin dan pasukan tempur Kumari Kandam serta tujuh benua. Aswin ragu untuk menyerang karena yang ada di hadapannya saat ini masih belum jelas statusnya. Apakah musuh? Atau bala bantuan? Begitu pun Braheim dan ketujuh raja yang sama ragunya dengan Aswin. Hingga Haala yang tak tahan hanya mendekam di ruang bawah tanah itu keluar dari persembunyiannya dan menyumbang usul.
"Kenapa kau keluar?"
__ADS_1
"Walau bagimanapun hamba masih mengantongi lencana Komandan Perang Kumari Kandam, dan lagi, hamba lebih baik mendengar tambur perang daripada isak tangis para ratu, Yang Mulia," balas Haala pada Braheim. "Daripada itu, apa Anda melihat Vinder?"
"Terakhir kali aku melihatnya di menara lonceng."
"Mungkin sekarang dia berada di dalam portal suci." Raja Arshaq menoleh pada Haala. "Ratu, apa kau tidak bisa membuka portal suci?"
Haala menggeleng. "Hanya Vinder yang berkuasa atas itu, Yang Mulia."
"Bagaimana jika bertanya pada Jyostishee? Maksudku Ejlaal Awlya? Bukankah dia bisa melihat masa depan hanya dari jejak kaki?"
"Aku setuju, Raja Braheim. Lebih baik kita segera menemuinya." Raja Lagaam menimpali Raja Padachihn.
"Hamba sudah menemui Ejlaal. Dia belum sadar. Hamba juga sudah menemui Putri Gaurika. Beliau berkata Jyostishee tidak bisa membaca orang mati. Tapi masih mungkin jika itu Ejlaal."
"Sejak awal kita tidak percaya pada orang mati yang bangkit dari kubur. Jika sudah begitu, bukankah tidak ada gunanya ragu-ragu?"
"Segera turunkan perintah untuk menyerang, Raja Braheim."
Braheim mengangguk menanggapi Raja Jvaala dan Raja Shushk. "Aku bukan ragu karena kepercayaanku goyah, tetapi pada keselamatan pasukan tempur kita. Lawan sebanding untuk mereka hanyalah manusia, bukan iblis."
"Kita tidak memiliki pilihan, Raja Braheim," sahut Raja Hathelee.
Braheim menghela napas, dan akhirnya membalas tatapan Aswin. "Angkat pedangmu."
Spontan Raja Garjan berteriak, pun keenam raja yang lain. "Angkat pedang kalian."
Tambur ditabuh, lonceng kembali dibunyikan, dan tanda pecahnya perang ditembakkan ke langit Kumari Kandam yang diselimuti awan hitam. Wakil Komandan Perang Kumari Kandam, Aswin Nadeem, berikut rekan sesamanya kompak mengenakan penutup kepala, pun pasukan tempur delapan benua yang juga kompak mengubah kuda-kuda. Dan perang pun pecah, ketika delapan pedang mengudara. Namun portal suci tiba-tiba muncul tepat di antara pasukan berzirah dan pasukan berpakaian hitam itu.
"Bukankah aku tokoh utamanya? Berani-beraninya kalian memulainya tanpa aku? Tidak sabaran sekali."
Jerit kuda-kuda jantan yang dihentikan paksa, berikut derap kaki yang mundur bersamaan itu menyambut kehadiran sang tokoh utama perang, Devraaj Narvinder. Vinder menatap sukunya satu per satu, lalu beralih menatap pasukan mayat hidup di luar pelindung, dan terakhir menatap Daxraj Natesh palsu yang kini tengah dalam perjalanan mendekatinya. Sanjeev memamerkan raut wajah angkuhnya, begitu pula dengan Vinder. Kini keduanya sudah saling berhadapan.
"Sepertinya Dewa Krpaya terlalu banyak menenggak Goan Feni* saat menciptakanmu."
Goan Feni* adalah minuman beralkohol yang hanya diproduksi di Goa, India. Goan Feni dibuat dari getah kelapa atau apel mete dan kandungan alkohol di tiap botolnya mencapai 43-45%.
"Hei, rupa seperti ini bergantung pada kemampuan bercintamu," jawab Vinder pada Sanjeev.
Spontan Sanjeev terbahak. "Selera humormu lumayan juga."
"Berhenti membuat wajahnya terlihat semakin konyol. Daripada itu, ayo berdamai saja."
"Apa? Apa kau baru saja meminta belas kasihku? Rupanya kau hanya bisa membuat gelembung ini." Sanjeev menunjuk pelindung sembari terus membuat rupa Daxraj Natesh terlihat konyol.
"Bukan itu maksudku. Aku hanya tak tega pada keluarga mereka." Vinder menunjuk pasukan mayat hidup.
"Jadi kau ingin berdamai karena tak tega pada keluarga mereka dan bukan karena takut padaku?"
"Apa yang harus ditakuti dari seekor kutu?"
__ADS_1
"Apa?"
Vinder tiba-tiba menunjuk Braheim. "Dia matahari." Vinder beralih menunjuk Sanjeev. "Kau kutu." Vinder menunjuk dirinya sendiri. "Dan aku, malapetaka."