TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 62


__ADS_3

Senandung mengerikan itu menggema, mengacaubalaukan kekhusyukkan para ahli sepertiga malam. Si pemilik senandung, Gaana, terlihat tengah mendaki sebuah gunung dengan diekori ribuan Chhota*. Diketahui gunung yang hendak dituju Gaana merupakan tempat tinggal makhluk supernatural lain yang dimaksudnya, Hoo.


Chhota* atau Faot adalah makhluk berwujud setengah manusia setengah peri dan setengah banteng.


Hoo, makhluk berwujud setengah manusia setengah phoenix itu sudah ada sejak Benua Hathelee masih menjadi bulan-bulanan keganasan Samudera Hindia. Hoo mendapat mandat dari Dewa untuk melindungi Hathelee dari segala yang hitam. Sama seperti mandat yang diterima Chhota untuk melindungi tanah Chamakadaar.


Setiap benua memiliki pelindungnya masing-masing. Pelindung berumur panjang dengan kekuatan supernatural yang dahsyat. Mereka menolak patuh selain pada Dewa yang memberi mereka mandat. Oleh karenanya sangat mustahil membuat mereka bertekuk lutut, kecuali dengan cara licik seperti yang dilakukan Gaana pada Chhota.


"Enyahlah! Iblis tidak terima di Hathelee!"


Gaana tertawa menanggapi salah satu Hoo. "Sambutan yang manis. Aku cukup tersentuh. Haruskah aku membalasnya dengan terima kasih?"


"Enyah kau iblis! Terimalah hukuman Dewa atas dosa-dosamu dan meringkuklah di dasar jahanam hingga kiamat datang!"


Gaana masih tertawa. "Sepertinya kalian pun tidak bisa diajak berbicara baik-baik. Kalau begitu, apa boleh buat. Serang."


Ribuan Chhota dengan tatapan kosong itu pun berlari serentak ke arah Hoo yang sedari tadi memasang kuda-kuda. Gaana menikmati aksi berdarah itu sambil menyisir rambutnya dengan jari, dan ketika dirinya mulai bosan, bibirnya yang disapu warna menggairahkan itu mulai merapalkan sesuatu. Sesuatu yang tak lain adalah mantra pengendali pikiran.


Dalam sekejap, suara gaduh senjata yang saling beradu pun hilang. Sama seperti Chhota, kini pikiran Hoo pun sudah sepenuhnya dirajai mantra. Sekarang apapun yang Gaana perintahkan, tak peduli meski perintah untuk bunuh diri atau membunuh saudaranya sendiri, Hoo akan dengan senang hati melakukannya detik itu juga.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti kenapa Dewa memilih kalian yang sangat lemah ini sebagai pelindung? Kupikir Dewa juga harus dihukum. Bagaimana menurut kalian?"


"Jika itu yang Anda inginkan, Tuanku," jawab Chhota dan Hoo kompak.


Gaana kembali tertawa. "Menyenangkan sekali. Aku jadi semakin bersemangat. Ayo pergi. Masih banyak tempat menyebalkan yang harus kita datangi."


Gaana beserta pasukannya itu pun bergegas menuju benua selanjutnya. Benua Garjan, benua yang dilindungi Ăscut, makhluk berwujud setengah manusia setengah hiu. Seperti di dua benua sebelumnya, Gaana tidak disambut ramah. Gaana pun enggan berbasa-basi lagi, dan langsung merapalkan mantra pengendali pikiran.


"Apa kali ini aku disambut? Akhirnya ada pelindung yang bisa diajak berbicara baik-baik," ujar Gaana.


"Kami bisa membantumu."


Gaana mengangguk menanggapi salah satu Ăscut. "Kalian memang harus membantuku."


"Apa?"


"Meski jiwamu sudah hancur dan kau tidak berkesempatan memiliki kehidupan kedua, tapi masih ada kemungkinan gerbang Daraar* dibukakan untukmu. Bertobatlah saudaraku. Itulah satu-satunya cara."


Daraar* dipercaya sebagai alam roh.

__ADS_1


Gaana mendecak, "Ternyata kalian pun tidak tidak bisa diajak berbicara baik-baik. Cih."


Dan, pelindung Benua Garjan pun masuk dalam barisan pasukan tempur Gaana, pun pelindung Benua Shushk, Ninos, makhluk berwujud setengah manusia setengah kalajengking. Tersisa satu benua terakhir, Padachihn. Benua yang dilindungi makhluk seukuran kunang-kunang, peri. Gaana sudah menebak akan sulit menaklukan peri, karena peri juga menguasai sihir seperti dirinya.


"Tak peduli sehebat apapun sihir yang kalian miliki, kalian bukanlah tandinganku."


Dan, pelindung benua terakhir itu pun dihabisi tanpa sisa. Sebuah hutan yang dianggap aneh oleh penduduk Padachihn karena selalu mengeluarkan cahaya baik di siang dan malam hari itu kini akan menjadi hutan pada umumnya. Hutan yang bergantung pada sang surya dan sang malam. Gaana mendecak, menyayangkan kematian pelindung tanah Padachihn.


"Padahal sedikit lagi mereka juga ada di genggamanku. Jika saja aku memakan sepuluh ribu jiwa suci."


"Haruskah kami berburu, Tuan?" tanya salah satu Ninos.


Gaana menggeleng. "Kita tidak punya banyak waktu. Hah, andai saja si sialan Daxraj Natesh itu hanya melindungi Kumari Kandam, aku pasti akan memiliki pasukan tempur yang lebih banyak."


"Masih ada Ghinauna* di Kumari Kandam dan tujuh benua tersisa, Tuan. Anda bisa memakan mereka untuk menambah kekuatan," saran Ăscut.


Ghinauna* ikan raksasa penjaga Danau Baadal.


"Hmm tidak buruk. Jika itu kalian, pasti tidak apa-apa jika terkena garam dan air suci. Aku akan memikirkan itu nanti. Sekarang mari jalankan rencana terakhir."

__ADS_1


"Sesuai perintah Anda, Tuan."


"Hah, aroma kemenangan yang pekat ini. Apa kalian juga bisa merasakannya?" Gaana menyeringai.


__ADS_2