
Api ketakutan yang dikirim Ratu Kumari Kandam, Jihan Joozher, sukses melahap habis satu per satu hutan hingga rumah-rumah penduduk. Sang api ketakutan seakan tak mengenal jera meski sudah berulang kali dihadapkan musuh bebuyutannya. Seiring dengan kobar api ketakutan yang semakin tidak terjinakkan, jerit serta tangis pilu pun terdengar semakin menyayat.
Terlihat di tengah kekacauan salah satu desa yang paling terdampak kebakaran, Haala bersama Rakshak* sedang bahu-membahu menyelamatkan penduduk dari jilatan api ketakutan yang teramat ganas. Meski tidak mendapatkan izin resmi dari Braheim, Haala nekat melewatkan rapat darurat hari itu dan memilih terjun ke lapangan untuk bergabung dengan Rakshak.
*Rakshak* merupakan pasukan yang bertugas menangani bencana alam di Kumari Kandam*.
"Komandan, terima kasih atas bantuanmu tapi sebaiknya kau kembali."
Haala tersenyum menanggapi ketua Rakshak. "Kau mengusirku bahkan tanpa memberi seteguk air?"
Ketua Rakshak ikut tersenyum. "Aku hanya khawatir Yang Mulia Raja akan marah."
"Tidak akan."
Ketua Rakshak menoleh pada Haala. "Pria mana yang tidak akan marah saat mengetahui wanitanya mendekati bahaya diam-diam? Kupikir ruang rapat darurat pasti sedang kacau sekarang."
Tidak. Tidak sekadar kacau tapi sangat kacau. Setelah mengetahui wakil komandan perang Kumari Kandam menghadiri rapat darurat untuk menggantikan Haala yang saat ini sedang membantu Rakshak, Braheim langsung membatalkan rapat dan bergegas menyusul Haala. Meski tidak mengucap sepatah kata pun, semua orang tahu jika Raja Kumari Kandam itu tengah sangat marah.
"Panjang umur, dan terbekatilah selalu, matahari Kumari Kandam."
Braheim mengangguk. "Komandan ada di tenda merah, Yang Mulia," imbuh ketua Rakshak.
Braheim berdeham, "Berapa banyak korban jiwa untuk saat ini?"
"Lima puluh dua jiwa, Yang Mulia," balas ketua Rakshak.
"Lebih banyak dari perkiraanku."
Ketua Rakshak membungkuk. "Ampuni kekurangan hamba, Yang Mulia."
"Jelaskan situasinya secara detail padaku."
"Kami kesulitan memadamkan api karena sungai-sungai yang ternyata juga diberi Aasaan*. Tapi syukurlah. Meski membutuhkan waktu enam jam, api berhasil dipadamkan," terang ketua Rakshak.
*Aasaan* getah pohon yang mudah terbakar*.
Braheim kembali mengangguk. "Lalu apa makna warna pada tenda-tenda itu?"
"Tenda hitam untuk korban tidak selamat. Tenda merah untuk korban selamat yang kritis. Tenda hijau untuk korban selamat dengan luka ringan, dan tenda putih untuk tempat penyimpanan obat serta peralatan penanganan bencana."
Braheim mengangguk lagi. "Segera kirim pesan padaku jika ada yang kalian butuhkan."
"Baik, Yang Mulia."
Ketua Rakshak pun langsung pamit undur diri ketika Braheim menghentikan langkahnya di depan mulut pintu tenda merah. Terlihat dari tempat Braheim berdiri saat ini, Haala tengah membantu anggota Rakshak mengobati para penduduk yang terkena luka bakar. Tak terlukis raut wajah enggan, terpaksa, atau sekadar membentuk citra baik, Haala benar-benar tulus memberikan waktu dan tenaganya.
__ADS_1
Bahkan meski memiliki kedudukan jauh di atas Rakshak, Haala tidak keberatan diberi perintah ini dan itu bahkan oleh yang lebih muda dari dirinya. Haala hanya terus berlari menuju kematian, nyawa yang di ujung tanduk, dan sebuah senyum kehilangan dari mereka-mereka yang ditinggalkan. Meski awalnya Haala dicurigai bermuka dua, namun pada akhirnya yang tulus pasti tersampaikan.
Dari aksi tanpa pamrih Haala, Braheim belajar satu hal. Bahwa kedudukan yang lebih tinggi tidak boleh membuat seseorang hanya menjadi penonton, tetapi semestinya turut serta merasakan ketakutan, kesakitan, dan kehilangan. Braheim masih setia mengimbangi bayangan Haala diam-diam, meski tahu situasi di dalam kerajaannya tidak kalah hancur dari lokasi kejadian kebakaran.
Braheim berjongkok di belakang Haala yang tertidur. "Bagaimana kabarmu setelah benar-benar mencampakkanku? Sudah tentu baik-baik saja, bukan?"
Braheim tersenyum seraya mengusap air matanya. "Ternyata memang hanya aku yang tidak baik-baik saja," tambah Braheim.
Braheim masih melanjutkan, "Jika kita dipertemukan lagi di kehidupan yang akan datang, kuharap kau memilihku meski aku tidak mahir mengayunkan pedang."
...¤○●¤○●¤○●¤...
Suara tak senonoh terdengar sangat jelas dan tanpa jeda dari dalam kamar tidur megah Ratu Kumari Kandam. Tak perlu ditanya apa yang sedang dilakukan sang ratu. Apalagi jika bukan bercinta dengan pria-pria yang didatangkannya dari rumah bordil, atau pria-pria yang sukses dijebaknya untuk menjadi pion sekali pakai.
Dan kali ini, pria yang berhasil menikmati tubuh molek sang ratu adalah Mausam*. Sulit dipercaya memang, seorang Mausam yang dikenal dekat dengan Dewa-dewa bersedia bersujud pada kenikmatan dunia yang semu. Mausam hanya terus beraksi seperti binatang, seolah tak mengindakan meski akan kehilangan gelar agungnya.
*Mausam* adalah pengendali cuaca dan musim*.
Awal mula aksi tak senonoh itu terjadi karena ketakutan Jihan yang tidak kunjung meluruh meski sudah membuat Kumari Kandam diselimuti kobaran api setinggi gunung. Jihan takut Gaana* berhasil bertahan dari lahapan api, atau yang paling buruk, berhasil meloloskan diri dan mendapatkan makanan.
*Gaana* makhluk pemakan jiwa-jiwa suci yang tinggal di Hutan Mook*.
Atas saran dari salah seorang pelayan pribadinya, Jihan pun mendatangi Mausam. Jihan meminta Mausam untuk menciptakan angin agar kebakaran terus berkobar di Kumari Kandam sampai ketakutannya hilang. Namun tentu saja Mausam menolak, sesaat sebelum Jihan membuka lebar kedua kakinya.
"Kau boleh mencobaku sekali sebagai bentuk permintaan maaf. Tapi kau boleh mencobaku sebanyak yang kau mau jika berubah pikiran," ujar Jihan dengan suara menggoda.
Braheim menggeleng. "Ya Tuhan, habis sudah Kumari Kandam."
"Yang Mulia, Anda harus segera pergi dari sini."
"Tidak. Mulai hari ini aku akan ikut berjuang bersama kalian," balas Braheim pada ketua Rakshak.
"Tapi terlalu berbahaya, Ya--"
"Maka dari itu aku mengatakan akan ikut berjuang bersama kalian. Jika rakyatku merasakan bahaya, bagaimana bisa aku hanya duduk tenang di singgasanaku?" sela Braheim.
"Baiklah jika Anda bersikeras. Mari merasakan bahaya bersama, Yang Mulia."
Braheim hanya tersenyum menanggapi ketua Rakshak, dan berlari mengekor menuju sisi utara hutan yang kini kembali dikuasai api ketakutan Ratu Kumari Kandam. Melihat Braheim yang ikut serta memadamkan api, para prajurit Kerajaan Kumari Kandam pun berinisiatif melakukan hal yang sama.
"Lebih cepat. Jangan biarkan api semakin menjalar," teriak ketua Rakshak.
"Bukan api yang harus kita jinakkan."
Ketua Rakshak hanya menoleh pada Braheim yang sedari tadi mendongak. "Tapi angin," imbuh Braheim.
__ADS_1
Ketua Rakshak ikut mendongak. "Anda benar, Yang Mulia. Ada yang tidak beres dengan anginnya. Angin di bulan ini tidak seharusnya bergerak ke arah barat."
Braheim diam sesaat. "Bawa semua penduduk ke Kerajaan Kumari Kandam. Hanya di sana satu-satunya tempat yang tidak akan tersentuh api."
"Lalu apa yang akan kita lakukan dengan apinya, Yang Mulia?"
"Tidak ada. Mausam pun tidak akan berani menampakkan batang hidungnya karena tahu bencana ini merupakan ulah salah satu dari mereka. Kita hanya bisa berdoa agar Tuhan mendatangkan hujan," jawab Braheim.
"Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."
Hembus angin semakin bersemangat memprovokasi kobar api. Puluhan kereta kuda mewah yang hanya dinaiki tamu-tamu kehormatan Kerajaan Kumari Kandam kini berganti penumpang untuk pertama kalinya dalam sejarah. Tak ada upaya tersisa, karena api yang kian liar melahap apa saja.
Kiriman bantuan dari kerajaan lain pun tampak berdatangan satu demi satu. Mulai dari Kerajaan Narak yang mengirimkan senjata raksasa airnya untuk memadamkan api. Lalu disusul Kerajaan Shaasvat yang mengirim ratusan prajuritnya untuk membantu mempercepat proses penyelamatan penduduk.
Tetapi tetap saja, korban jiwa terus berjatuhan, dan kobar api terus merajalela. Di tengah keputusasaan yang mulai menghinggapi hati setiap orang, bala bantuan terakhir pun datang. Bala bantuan yang tidak akan pernah ada yang mau memercayainya selain anak-anak setinggi lutut.
Ya. bala bantuan itu adalah pemimpin suku pengembara, Daxraj Natesh. Meski mustahil ditangkap mata, Daxraj benar-benar muncul dari dalam kobaran api dengan menuntun seekor kuda. Semua orang yang melihat langsung kejadian itu hanya bisa ternganga sembari terus bertanya dalam hati apakah mereka telah mati dan berada di surga.
"Kacau sekali, Braheim Bhaavesh."
Braheim mendecak, "Simpan keangkuhanmu itu dan cepat lakukan sesuatu, Daxraj Natesh."
"Sesuai perintah darimu yang lebih angkuh."
ZRASH!
Dan hujan hebat pun langsung membanjiri tanah Kumari Kandam yang kesakitan, sesaat setelah Daxraj mengangkat tinggi satu tangannya ke udara. Semua orang seketika berebut mengucap syukur pada Tuhan yang sudah mengusir bencana di awal musim kemarau panjang dengan cara yang tidak bisa diterima akal sehat.
ZRASH!
...¤○●¤○●¤○●¤...
Malam itu, disaksikan bulan sabit yang bersinar redup, jiwa seorang gadis belia dilahap habis oleh Gaana. Jiwa serta raga si gadis belia, Laasya, kini telah seutuhnya diambil alih Gaana. Padahal di masa depan Gaana bersumpah tidak akan lagi mendekati adik perempuan satu-satunya Haala demi bisa mengelabui Daxraj sampai akhir.
Tetapi apa boleh buat. Upayanya memulihkan kekuatan dengan bertapa di dasar sungai hancur total karena ulah gila Jihan. Dengan berbekal sisa tenaga terakhirnya, Gaana merangkak menuju kediaman Haala. Dan ketika melihat makanan yang tampak sangat lezat tersaji cuma-cuma di tengah ranjang, Gaana pun mengabaikan sumpahnya.
Gaana yang kini bersemayam di tubuh Laasya, menoleh pada cermin di sebelahnya. Seringai senyum mengerikan tersungging di wajah kurus itu. Sebuah senyum yang jelas sekali menggambarkan sejuta rencana jahat. Di masa depan Laasya telah banyak membantu Gaana untuk menuntut balas, di masa ini pun, harus.
Gaana beranjak dari ranjang. "Ruang bawah tanah. Buku kuno milik leluhur suku pengembara. Dan, isi ramalan masa depan yang kuubah, semua itu adalah ulahku melalui ragamu."
"Kali ini Daxraj Natesh tidak akan bisa membunuh kita, karena aku sudah terlebih dulu membunuhnya," imbuh Gaana.
Gaana menghentikan langkahnya. "Tapi, benarkah Daxraj Natesh yang sangat kuat mati semudah itu? Ya, bisa saja. Karena di masa ini dia tidak ubahnya seperti manusia biasa."
__ADS_1
Gaana masih melanjutkan, "Tapi apa maksud jala*g itu meragukanku sebagai pengendali waktu? Mungkinkah? Tidak. Aku yakin Daxraj Natesh sudah mati. Aku harus makan lebih banyak dan memastikan kebenaran ucapan jala*g itu."