
Sayee hampir jatuh terjengkang, saat mengetahui tamu yang datang adalah Braheim. Tanpa mengucap salam pun sepatah kata sambutan, Sayee langsung buru-buru keluar dari kamar Haala. Sikap Sayee pada Braheim berubah drastis sejak hari itu, ketika dirinya melihat pengawal bayangan Braheim. Sosok setinggi dua meter dengan bahu terlewat kokoh serta pakaian hitam pegam berikut serban, benar-benar mengingatkan Sayee pada mendiang pemimpinnya, Daxraj Natesh.
"Sayee."
Spontan Sayee menghentikan langkah terburunya, berbalik penuh keraguan, dan membungkuk cepat.
"Aku hanya mampir sebentar untuk melihat keadaan Vinder," imbuh Braheim.
"Silakan, Yang Mulia." Sayee kembali melanjutkan langkahnya, lebih terburu, sesaat setelah Braheim hilang dari balik pintu.
"Apa kalian yang membuatnya seperti itu?"
"Benar, Yang Mulia." Dua pengawal bayangan Braheim tiba-tiba menampakkan dirinya.
"Alasannya?" tanya Braheim lagi.
"Dia berbahaya, Yang Mulia."
"Dia hanya melindungi Tuannya. Sama seperti kalian melindungiku. Jujur saja aku menyukainya. Dia orang yang cocok berada di samping Haala."
Tak ada jawaban dari pengawal bayangan Braheim, keduanya hanya mengekori Braheim yang kini tengah berjalan mendekati ranjang Vinder. Terlihat dari balik selimut, Vinder terjaga, namun entah bagaimana bisa begitu tenang. Braheim menyentuh lembut kening Vinder, memastikan kebenaran laporan tabib kerajaan tentang kondisi bayi laki-laki itu yang sudah sembuh total. Ternyata benar. Demam Vinder sudah sepenuhnya hilang, pun bersin-bersin dan batuknya yang menyayat hati.
"Hanya perasaanku saja atau dia memang sedang melihat kalian?"
"Benar, Yang Mulia." Pengawal bayangan Braheim masih kompak menjawab.
"Begitu rupanya. Tidak aneh jika itu putra Daxraj Natesh. Tapi tidakkah menurut kalian dia terlalu tenang? Mungkinkah?"
"Tidak, Yang Mulia. Dia bisa berbicara."
"Syukurlah." Braheim menyentuh ujung hidung Vinder, membuat bibirnya yang kecil membulat seolah melihat botol susu. "Apa benar dia akan menjadi ancaman di masa depan?"
Hening. Lagi-lagi. Setiap kali Braheim menanyakan itu, kedua pengawalnya seolah langsung menyatu dengan keheningan. Meski begitu Braheim enggan mengumpat, apalagi memaksa. Belajar dari masa lalu, ketika pengawal bayangannya juga memilih bungkam saat ditanyai seputar Daxraj Natesh, kebungkaman mereka adalah pertanda baik.
"Aku sudah tahu jawabannya." Braheim menoleh mencari keberadaan Haala setelah membenahi selimut Vinder. "Ah, di sana rupanya."
Terlihat Haala tengah menonton pasukan tempurnya yang sedang dilatih oleh sang wakil, Aswin Nadeem. Spontan Braheim menahan tawanya, melihat mimik wajah Haala yang tampak sangat kesal. Jelas saja. Pemimpin mana yang tidak akan kesal saat mengetahui pasukan tempurnya yang selama beberapa dekade dikenal sekuat perisai, kini malah melakukan gerakan pemanasan seperti wanita yang sedang menarikan tarian patah hati.
Tawa Braheim pun lolos. "Aku tidak bisa menahannya lagi."
"Panjang umur, dan terberkatilah selalu, matahari Kumari Kandam."
Braheim masih tertawa. "Kau seperti ingin melompat dari sini dan memukul kepala Aswin dan pasukan tempurmu."
__ADS_1
"Ah. Ya. Anda benar, Yang Mulia," sahut Haala.
"Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku tertawa selepas ini." Braheim mengusap sudut-sudat matanya yang berair. "Daripada itu, bagaimana perasaanmu melihat mereka?"
"Hamba sangat prihatin, Yang Mulia."
"Kenapa?"
"Karena jika Anda mengirim mereka ke medan perang, kemungkinan mereka untuk menang tidak akan mencapai empat puluh persen."
Braheim kembali tertawa. "Jadi haruskah aku mengirim mereka ke pentas untuk festival akhir tahun nanti?"
Haala menoleh pada Braheim, dan tertawa bersamaan.
"Aswin menemuiku beberapa hari yang lalu."
Haala mengangguk-angguk menanggapi Braheim. "Hamba sudah menduganya, Yang Mulia. Sekarang atau sepuluh tahun lagi, dia pasti akan menemui Anda. Apa yang dikatakannya menyangkut harga diri?"
"Benar." Pandangan Braheim menerawang jauh. Mengingat pembicaraannya dengan Aswin hari itu.
*FLASHBACK ON*
"Ini tentang kembalinya Komandan Haala, Yang Mulia," sahut Aswin pada Braheim.
Aswin diam sesaat, terlihat jelas sekali jika dirinya tengah kesulitan merangkai kata. "Hamba juga yang lain sangat menghormati Komandan Haala, karena kemampuan beliau yang mengagumkan. Tetapi kami lebih baik mengundurkan diri daripada harus dipimpin oleh seorang wanita, Yang Mulia."
Braheim berganti diam, sebab yakin jika pria seusia dengannya itu belum selesai mengutarakan semua yang berlalu-lalang di pikiran pun benaknya.
" ... Sudah lama kami memaksakan diri, Yang Mulia. Sungguh, harga diri kami sebagai seorang pria seperti dilumuri kotoran. Mohon ampuni kelancangan ini, Yang Mulia. Hamba harap Anda mengerti."
* FLASHBACK OFF*
"Lalu, apa jawaban yang Anda berikan, Yang Mulia?"
Braheim menghela napas. "Aku belum memberinya jawaban sampai hari ini. Bagaimana denganmu? Jawaban apa yang akan kau berikan jika berada di posisiku?"
"Tidak ada yang bisa membuat hamba mundur dari posisi ini, Yang Mulia. Apapun alasannya. Jika pun ada orang yang menginginkan posisi ini tanpa ada darah Yusef Bahadir di tubuhnya, maka yang harus dilakukannya hanya satu."
"Vinaash*."
Vinaash* merupakan ujian yang dibuat oleh Yusef Bahadir dengan keyakinan bahwa hanya keturunannya saja yang bisa melewatinya. Vinaash tidak dibuat dengan maksud kecongkakan, karena nyatanya puluhan orang biasa yang pernah mencobanya selalu berakhir menemui ajal.
"Benar, Yang Mulia," balas Haala.
__ADS_1
"Itu juga yang kupikirkan selama beberapa hari terakhir." Braheim kembali menerawang, pun kembali mengingat. "Sejujurnya masalah seperti ini pernah terjadi di masa lalu."
*FLASHBACK ON*
Menteri Pertahanan berdeham, "Di mana Anda akan meletakkan harga diri seorang pria jika yang memimpin baris terdepan medan perang adalah seorang wanita, Yang Mulia?"
"Meski belum pernah terjadi dalam sejarah, tapi kita harus tetap menjaga adat istiadat."
"Benar, Yang Mulia. Karena sejak beratus tahun silam, kursi komandan perang Kumari Kandam hanya pantas diduduki oleh keturunan Yusef Bahadir," timpal Menteri Sosial pada Menteri Agama.
Menteri Hukum menoleh pada Menteri Sosial. "Apakah putri mantan komandan Perang Kumari Kandam yang diam-diam bersekutu dengan iblis masih bisa disebut pantas? Bagaimana jika dia mengikuti jejak ayahnya?"
"Menurut pendapat hamba, siapa pun bisa menjadi komandan perang Kumari Kandam, Yang Mulia. Lalu yang paling penting di sini adalah kepercayaan rakyat. Nama baik Yusef Bahadir sudah tercoreng, jadi tidak ada gunanya lagi menjaga adat."
Menteri Agama menggeleng menanggapi Menteri Politik. "Hanya karena kekuasaan kau melanggar adat yang sudah ratusan tahun dijaga nenek moyang kita dan Raja-raja Kumari Kandam terdahulu?"
Spontan Menteri Politik berseru, "Apa maksudmu hanya karena kekuasaan! Daripada mengatakan hal-hal yang tidak berguna, pikirkan setidaknya satu solusi! Bagaimana mungkin seorang wanita memimpin! Dan apa kau akan bertanggung jawab jika nantinya rakyat menjadi tidak patuh pada Yang Mulia Raja?"
"Cukup."
Menteri Politik buru-buru membungkuk pada Braheim, lalu kembali duduk di kursinya. "Mohon ampuni ketidaksopanan hamba, Yang Mulia."
"Aku tidak ingin melanggar adat, tapi aku juga tidak ingin rakyat menjadi tidak patuh karena dosa yang diperbuat mantan komandan perang kita. Ada satu solusi dariku."
"Beri kami perintah, Yang Mulia." Suara para menteri kompak menggema memenuhi ruang rapat megah itu.
Braheim beranjak. "Umumkanlah sampai ke pelosok Kumari Kandam tentang Vinaash. Barang siapa yang bisa melewati Vinaash, maka dialah yang pantas menduduki kursi kehormatan komandan perang benua ini."
*FLASHBACK OFF*
"Daripada harus kehilangan orang-orang berbakat seperti Aswin dan pasukan tempur Kumari Kandam, akan lebih baik jika memecat mereka. Meski akan sama-sama kehilangan, tetapi setidaknya mereka masih hidup."
Braheim mengangguk pada Haala. "Aku sependapat denganmu."
"Tapi hamba siap memberikan lencana hamba jika pada akhirnya mereka tetap memaksa mencoba Vinaash. Tidak ada yang tahu rahasia Dewa, Yang Mulia. Bisa saja ada yang berhasil."
"Lalu apa yang akan kau lakukan jika pada akhirnya benar-benar kehilangan lencanamu?"
Haala mengerti betul maksud dari pertanyaan Braheim, pun jawaban yang diinginkan oleh orang nomor satu di Kumari Kandam itu. Begitu pula dengan Braheim, dirinya tahu betul jawaban apa yang akan terlontar dari bibir merah pucat itu. Memang, menjadi Ratu Kumari Kandam bukanlah hal yang mudah. Duduk membaca laporan yang tidak akan ada habisnya, menghadiri acara ini itu setiap hari, dan yang paling menambah frustasi, menanggapi kecemburuan para selir.
"Hamba tidak berperang di luar medan perang, Yang Mulia," jawab Haala akhirnya.
"Maka anggaplah ini benar-benar medan perang."
__ADS_1
DEG DEG DEG