
Terlihat Haala sedang dalam perjalanan pulang dari kediaman Jihan bersama beberapa orang penduduk Raseela*. Setelah menemukan Jihan di dalam Hutan Mook* kemarin malam, Haala tak sabar ingin segera meluapkan berjuta tanyanya pada Jihan. Namun sayang, ketika tersadar Jihan tiba-tiba saja menjadi tidak bisa berbicara.
Raseela nama desa yang ditinggali Haala** dan Jihan***.
*Hutan Mook* nama hutan yang ada di belakang Desa Raseela*.
Pertanyaan yang bergumul dalam benak Haala kian terasa menyesakkan, dan sialnya tidak ada yang bisa menjawab selain Jihan, serta sang adik, Laasya. Sebab pola musibah yang menimpa keduanya bisa dikatakan sangat mirip. Di mana kemungkinan besar tersangka yang menyerang keduanya merupakan orang yang sama.
Sama seperti Laasya, Jihan juga ditemukan di selatan Hutan Mook dalam keadaan tanpa mengenakan sehelai pakaian pun. Pakaian Jihan seolah raib entah ke mana. Lalu kondisi Jihan setelah sadar pun sama persis dengan kondisi Laasya. Keduanya sama-sama tidak bisa berbicara, dan hanya berhasrat menatap kosong ke dalam Hutan Mook.
Penduduk desa yakin jika si tersangka adalah seorang pria mesum, namun Haala memiliki keyakinan yang berkebalikan. Haala yang adalah saksi sekaligus penyelamat Laasya serta Jihan tidak menemukan aroma pun bekas sentuhan pria di tubuh keduanya. Lalu cengkeraman di bahu keduanya, terlalu lemah untuk cengkeraman seorang pria yang berahi.
Entah makhluk sungguhan atau makhluk yang kabur dari neraka, Haala yakin jika si tersangka adalah seorang wanita. Dan entah wanita sakit atau wanita yang tengah memperdalam ilmu hitam, Haala hanya ingin secepatnya menemukan si tersangka. Haala memukul kepalanya, berusaha menghentikan terkaannya yang kian liar berkelana. Namun.
"Bagaimana bisa semua gadis yang memasuki Hutan Mook kembali dalam keadaan tidak bisa berbicara?"
"Kurasa Hutan Mook memang dikutuk. Tapi kenapa korbannya selalu gadis muda?"
"Hei, para pria pun bisa menjadi korban, jadi berhati-hatilah."
"Aku pernah terpaksa melewati Hutan Mook. Ada banyak sekali tanaman herbal langka di sana. Hanya saja suasananya sangat menyeramkan."
"Benar. Saat itu aku juga terpaksa melewati Hutan Mook. Aku melihat tanaman Sunn, tapi aku tidak berani mengambilnya. Bisa saja setelahnya aku pun menjadi tidak bisa berbicara."
"Tanaman Sunn? Bukankah itu bisa dijadikan obat untuk penyakit lumpuh? Hei, setidaknya kau mengambilnya meski hanya rantingnya saja. Sayang sekali."
"Aku masih mau berbicara. Dan lagipula saat kau berada di dalam Hutan Mook, kau akan tiba-tiba merasakan ketakutan yang luar biasa karena seperti ada yang mengawasimu."
"Benar sekali. Saat itu pun aku merasa sedang diawasi oleh sesuatu. Aku tak yakin apa itu, tetapi yang jelas di dalam Hutan Mook tinggal makhluk yang sama menyeramkannya."
"Bagaimana ini? Apakah kita harus pindah dari Raseela?"
"Tenang saja. Komandan perang Kumari Kandam akan melindungi kita. Dia pun sering berpatroli ke dalam Hutan Mook untuk menangkap tersangka itu."
"Benar. Aku jadi merasa tenang karena komandan tinggal di desa kita. Tapi bukankah seharusnya dia berpatroli setiap hari?"
"Benar juga. Dia hanya berpatroli setiap tiga bulan sekali, itu pun hanya di malam Shukravaar*. Bukankah itu aneh?"
*Shukravaar* adalah hari jumat*.
"Ayah berpatroli ke Hutan Mook setiap malam Shukravaar? Mungkinkah yang dikatakan Daxraj benar? Mungkinkah, ayah memang berkaitan dengan insiden yang menimpa Laasya dan Yang Mulia Ratu?" tanya Haala dalam hati.
Terkaan Haala kian meluap, dan dirinya benar-benar tidak sanggup lagi untuk membendungnya. Haala pun langsung pergi ke Hutan Mook demi membuktikan jika si tersangka bukanlah sang ayah. Tetapi ketika tiba di mulut pintu Hutan Mook, Haala berpapasan dengan penasihat raja Kumari Kandam yang asli. Ya, Murat Iskender.
Tali kekang kuda hitam yang tengah asyik memamerkan kegesitannya itu tiba-tiba ditarik kuat, hingga terdengar suara tercekik yang sangat memekakkan telinga. Spontan Murat pun ikut menarik tali kekang kuda yang ditungganginya. Kini Haala dan Murat saling mengamati satu sama lain, dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Pakaian dari kulit hewan, rambut sebahu yang diikat sembarangan, kalung serta gelang dari gigi buaya, dan beragam senjata tajam yang melilit tubuh. Begitulah penampakan penasihat raja Kumari Kandam yang asli saat ini. Jika Murat dari masa depan hanya memiliki otak, nampaknya Murat dari masa lalu hanya memiliki otot.
"Ada yang ingin kau katakan, Nona?" tanya Murat.
"Murat Iskender?"
"Kau mengenalku?" tanya Murat lagi.
"Ya. Mmm tapi bagaimana aku menjelaskannya? Mungkin kau ti--"
"Kau hamil?" sela Murat.
__ADS_1
"Apa?"
Murat kembali mengamati Haala. "Kau salah satu wanita dari rumah bordil, bukan? Sejak dua bulan lalu aku bercinta dengan wanita yang sama. Kupikir itu kau yang akhirnya hamil."
Haala tak menjawab sebab terlalu terkejut. "Aku terkesan. Kau mengejarku sampai ke tempat berbahaya seperti ini hanya untuk memberitahu kabar buruk," imbuh Murat.
Haala menggeleng sembari melanjutkan perjalanannya. "Lupakan saja. Anggap aku tidak pernah mengenalmu."
"Hei. Kau mau mati? Jangan mengganggu Gaana yang sedang berjemur."
Spontan Haala menghentikan langkah kudanya. "Gaana?"
"Kau memasuki Hutan Mook tanpa mengetahui jika penunggunya adalah Gaana? Wah, kau membuatku kembali terkesan."
Haala diam, tampak sedang berpikir. "Gaana adalah makhluk pemakan jiwa, terutama jiwa-jiwa gadis yang masih suci," tambah Murat.
"Apa Gaana penghuni Hutan Mook adalah wanita?"
Murat mendekati Haala. "Dari mana kau tahu?"
Haala kembali tak menanggapi Murat, hanya tiba-tiba tersenyum sangat lega. Kekhawatiran Haala tentang keterkaitan sang ayah seketika hilang. Meski masih banyak tanyanya yang belum terjawab, setidaknya fakta bahwa sang ayah bukanlah tersangka dari insiden keji yang menimpa Laasya dan Jihan tidak bisa lagi dibantahkan.
Haala pun memutar balik kudanya menuju mulut pintu Hutan Mook. Sebab sekarang yang menjadi fokus utamanya bukanlah sang ayah melainkan Gaana. Haala berniat mencari tahu tentang Gaana dan menyusun rencana balas dendam. Namun, sisa senyum kelegaan yang terukir di wajah Haala langsung lenyap setelah mendengar apa yang dikatakan Murat.
"Kembalilah, Nona. Jangan sia-siakan nyawamu. Setajam apapun pedang yang kau asah, hanya pemimpin suku pengembara asli yang bisa melawan Gaana."
...¤○●¤○●¤○●¤...
Haala melangkah lesu menuju ruang pribadi Daxraj, sebab terus memikirkan perkataan Murat tempo hari. Sepertinya Daxraj dari masa depan tidak mengirim Haala ke masa lalu hanya untuk membenahi urusan hatinya saja, melainkan juga untuk membenahi urusan lain. Seperti menguak insiden yang menimpa Jihan dan Laasya, serta mencari tahu lebih banyak tentang Gaana.
Namun urusan yang paling penting dibanding itu semua adalah, memecahkan teka-teki tentang siapa pemimpin suku pengembara yang asli. Sebab jika sampai salah dalam memecahkan teka-teki tersebut, dunia beserta isinyalah yang akan menanggung akibatnya. Entah kenapa Haala merasa sedikit kecewa saat memikirkan jika pemimpin suku pengembara yang asli bukanlah Daxraj.
Haala mendengus merasakan benturan yang cukup keras menghantam dahinya, dan berencana sesegera mungkin mengomeli siapa pun yang dianggapnya tidak menggunakan mata dengan benar. Namun Haala buru-buru membungkuk hormat ketika omelannya sudah siap meluncur. Bagaimana mungkin Haala berani mengomeli pria yang sudah dengan sengaja dicampakkannya.
"Panjang umur, dan terbekatilah selalu, matahari Kumari Kandam."
"Temui aku di Shaanadaar*," balas Braheim pada Haala.
*Shaanadaar* adalah kolam air panas pribadi raja*.
Haala tampak terkejut. "Aku ingin membicarakan sesuatu, bukan bercinta," imbuh Braheim.
"Sesuai pe--"
"Atau kau ingin bercinta? Kebetulan sekali jika memang demikian," sela Braheim.
"Bukan se--"
"Segera temui aku di Shaanadaar," sela Braheim lagi seraya melanjutkan perjalanannya.
Haala hanya membungkuk mengiyakan perintah Braheim. Secara garis besar Haala sudah tahu apa yang ingin dibicarakan Braheim, jadi dirinya tidak terlalu merasa resah. Apalagi kalau bukan perihal kisah cinta mereka di masa depan. Dan benar saja, Braheim memang menanyakan itu. Tetapi ada hal lain yang membuat Haala lebih resah yakni, tanda lahir di tubuh Braheim.
"Jadi benar kita memiliki hubungan rahasia yang romantis. Lantas kenapa saat itu kau berkata sebaliknya?"
"Karena Anda tidak mengingat apapun, Yang Mulia," jawab Haala pada Braheim.
"Lalu kenapa kau tidak mengingatkanku?"
__ADS_1
Haala menggeleng. "Akan lebih baik jika Anda tidak mengingatnya."
"Ketahuilah dalam keadaan ingat atau pun tidak, hatiku tetap terasa seperti diremas saat melihatmu bersama pria lain. Daripada itu, jadi kau membuangku?"
Haala diam sesaat. "Hamba tidak melakukannya karena ingin, Yang Mulia. Hamba melakukannya demi keselamatan dunia."
"Kenapa hanya kau yang bertanggung jawab menyelamatkan dunia? Tanggung jawab seperti itu akan lebih tepat jika diberikan padaku, atau pemimpin suku pengembara."
Haala kembali diam. "Apa di masa depan Daxraj Natesh adalah pemimpin suku pengembara?" imbuh Braheim.
"Benar, Yang Mulia."
Braheim meraih kain penutup, lalu berjalan keluar dari kolam. "Lalu bagaimana jika di masa sekarang akulah pemimpin suku pengembara?"
Apa yang baru saja dikatakan Braheim berikut penampakan jelas tanda lahir di sekujur tubuh basahnya hampir saja membuat hati Haala goyah. Tanda lahir yang seharusnya hanya dimiliki satu orang di jagat. Spontan Haala menyentuh tubuh Braheim, mencari potongan-potongan ramalan tentang kebinasaan dunia yang terukir acak di tubuh bugar itu.
"Apa aku di masa depan setuju jika kau kembali ke masa lalu untuk membuangku?"
"Ampuni hamba, Yang Mulia. Sungguh satu-satunya cara hanyalah menikah dengan pemimpin suku pengembara," jawab Haala pada Braehim.
"Lalu menurutmu siapa pemimpin suku pengembara yang asli? Daxraj Natesh? Atau, aku?"
DEG!
"Kau bahkan ragu menjawabnya tapi sangat bernyali menikahi Daxraj? Bagaimana jika akulah pemimpin suku pengembara yang asli? Bukankah tidak ada gunanya kau ke kembali ke masa lalu untuk menyelamatkan dunia?" tanya Braheim lagi."
DEG! DEG!
Braheim masih melanjutkan. "Apa aku di masa depan sangat mencintaimu sampai tidak segan memberikan tahta dan nyawaku?"
DEG! DEG! DEG!
"Sepertinya iya. Karena di masa depan aku memilihmu, maka di masa lalu pun aku akan melakukan hal yang sama. Dudukilah singgasana Ratu Kumari Kandam," imbuh Braheim.
DEG! DEG! DEG! DEG!
...¤○●¤○●¤○●¤...
Waktu hampir menuju tengah malam, tetapi Haala masih setia menikmati pemandangan malam terakhir musim dingin dari balik jendela kamar tidur Braheim. Meski isi kepala serta tubuhnya meronta kelelahan, Haala memutuskan untuk tetap terjaga. Sementara si pemilik kamar, nampaknya masih sibuk bergelut dengan gulungan-gulungan kertas di ruang kerjanya.
Sejak perbincangannya dengan Braheim siang tadi, Haala tidak diizinkan keluar dari kamar tidur Braheim sampai dirinya setuju untuk menjadi Ratu Kumari Kandam. Meski sangat ingin, tetapi bagaimana mungkin Haala menyetujui. Ternyata Braheim dan Daxraj dari masa lalu sama gegabahnya. Sama-sama memaksakan kehendak meski sadar jika sikap mereka bisa membinasakan seisi jagat raya.
Haala membenturkan kepalanya ke kaca. Benturan yang mulanya hati-hati, namun perlahan menjadi benturan frustasi. Hingga aksi frustasi Haala terhenti, saat merasakan atmosfer aneh di sekitarnya. Sang waktu jelas kembali dipermainkan oleh sesuatu yang sama kejamnya. Semuanya berhenti hidup, kecuali Haala, dan sesuatu yang tengah berjalan keluar dari portal berlatar pagi hari.
"Kau? Bagaimana bisa kau ada di masa lalu dan masa depan?"
"Menurutmu?" Daxraj balik bertanya pada Haala.
"Aku tidak sanggup memikirkan apapun lagi. Sungguh, terlalu banyak hal yang tidak kumengerti. Ini bukan masa laluku, da--"
"Bertahanlah," sela Daxraj seraya mengusap kepala Haala.
"Setiap hari ada perubahan baru yang membuatku hampir gila. Katakan bagaimana caraku untuk bertahan?"
Daxraj masih mengusap kepala Haala. "Kau bisa melewatinya. Waktuku habis, aku harus kembali."
"Kembali? Ke mana? Lalu siapa Daxraj Natesh yang selama ini menjadi penasihat Yang Mulia?"
__ADS_1
Daxraj hanya tersenyum menanggapi Haala, dan dalam sekejap hilang dari balik portal. "Tunggu, Raj."