TEARS OF KUMARI KANDAM

TEARS OF KUMARI KANDAM
CHAPTER 72


__ADS_3

Setelah tahu alasan sebenarnya Braheim tidak menerima calon ratu dari Benua Jvaala, Padachihn, Garjan, dan Hathelee, para raja dari keempat benua tersebut pun kompak angkat tangan. Sayang rasanya membiarkan wanita yang mereka tunjuk sebagai alat penyejahtera rakyat dibiarkan mati begitu saja.


Keempat wanita itu tidak hanya memiliki wujud bak dewi, tetapi juga ketahanan mental di atas rata-rata. Bagaikan bunga mawar yang tetap merekah indah di tengah tandusnya gurun pasir, mereka adalah wanita-wanita yang memang ditakdirkan berada di tengah persaingan para selir serta kekasih raja.


Daripada mati sia-sia, akan lebih tepat jika mengirim mereka ke kerajaan lain. Sekali pun hanya sebuah kerajaan kecil di pelosok benua, setidaknya mereka masih bisa memberikan sejumput gandum untuk rakyat. Karena itulah keempat raja memutuskan menjadi penonton saat hari pemilihan calon ratu tiba.


"Yang Mulia, sudah waktunya."


Braheim menoleh pada Murat. "Apa? Minum obat?"


"Bukan, Yang Mulia. Para calon ratu sudah tiba."


"Ah." Braheim meletakkan gulungan laporan.


"Perlukah hamba mengulanginya, Yang Mulia?"


"Putri Shrila dari Shushk, Putri Chadna dari Chamakadaar, dan Putri Lavali dari? Dari?" Braheim kembali menoleh pada Murat.


"Dari Lagaam, Yang Mulia."


"Itu dia."

__ADS_1


"Tolong ingat setidaknya tempat asal mereka, Yang Mulia."


"Bagaimana dengan ukuran? Kau tahu aku lebih mudah mengingat perkara satu itu, bukan?"


"Tolong perhatikan ucapan Anda, Yang Mulia."


"Itulah kenapa aku bertanya, Murat."


"Putri Shrila dan Putri Lavali adalah selir yang mendapat julukan madu dalam cawan. Layaknya madu yang bisa dicemari air atau tinta hitam kapan saja, mereka juga bisa berpindah pihak kapan saja."


Braheim hanya mengangguk-angguk menanggapi Murat.


"Sementara Putri Chadna, dia satu-satunya selir yang mendapat julukan patung dewi kahyangan. Layaknya patung keramat yang tidak seorang pun berani menggeser, sulit untuk membuat Putri Chadna berpihak meski pada Anda."


Para pelayan berikut pengawal pribadi ketiga calon ratu langsung membungkuk ketika sosok Braheim muncul dari mulut pintu istana tenggara*. Pintu ruang pertemuan pun dibuka lebar, menampakkan ketiga calon ratu yang juga langsung membungkuk seraya kompak memberi salam pada Braheim.


Istana tenggara* sering disebut istana ratu karena seluruh tugas harian ratu berlangsung di sini. Selain itu, istana tenggara juga menjadi tempat tinggal orang-orang dengan status tinggi seperti penasihat raja, menteri, komandan perang, kepala penyidik, serta tamu-tamu dari luar Kumari Kandam.


"Panjang umur, dan terberkatilah selalu, matahari Kumari Kandam."


"Duduklah," jawab Braheim.

__ADS_1


Hening langsung merajai, karena Braheim tak mengucap apa-apa lagi sejak dua belas menit yang lalu. Braheim sibuk memandangi ketiga wanita di depannya. Memandang samar-samar karakter asli mereka dari riasan, pakaian, perhiasan dan lain sebagainya. Benar, ketiga wanita di depannya memang benar berbeda.


Putri Shrila dari Shushk, terlihat sangat keibuan, lembut, dan pengasih. Saree* yang dikenakannya pun tidak berlebihan meski sudah pasti berharga fantastis, begitu juga dengan riasan serta perhiasannya. Wajahnya begitu polos, tetapi ajaibnya bisa membuat siapa pun merasa segan.


Saree* atau shari adalah jenis kain yang dipakai wanita di negara India, Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka. Saree atau shari terdiri dari helaian kain yang tidak dijahit, variasinya beragam dengan panjang 4-9 meter yang dipakaikan di badan dengan bermacam-macam gaya.



Sementara Putri Lavali, terlihat begitu ceria. Tawanya seperti menularkan kebahagiaan pada siapa pun. Dia adalah yang termuda di antara calon ratu yang lain. Memandangnya benar-benar membuat panjang umur. Karena dalam tatapan mata hitam itu seperti hanya ada hal-hal yang membahagiakan.



Yang terakhir, Putri Chadna, atau yang tersohor dengan julukan patung dewi kahyangan. Dengan tanpa perhiasan namun riasan yang mencolok, karakter misteriusnya semakin terasa kuat. Dia menelanjangi dengan tatapannya, namun juga meminta maaf dengan suguhan rupa dan kemolekan tubuhnya.



"Aku hanya akan memberikan satu ujian. Pada waktu yang telah ditetapkan, kalian akan diberi tugas sehari-hari Ratu Kumari Kandam. Kalian hanya perlu menyelesaikannya. Aku akan menilai dari kecepatan, ketelitian dan solusi. Ada pertanyaan?"


Putri Chadna mengangkat sebelah tangannya. "Bolehkah hamba bertanya di luar ujian?"


"Coba kudengarkan," jawab Braheim.

__ADS_1


"Apa Ratu Kumari Kandam juga bisa memiliki kekasih seperti Anda?"


__ADS_2