Terjebak Cinta Gadis Tomboy

Terjebak Cinta Gadis Tomboy
Perasaan Kiara


__ADS_3

Kiara mengerjapkan matanya beberapa kali saat mulai sadar dari pingsan nya. Matanya menelisik, mencoba melihat sekeliling. Sepi, itulah yang ia dapatkan di sana. Tidak ada satupun yang menunggu nya, ia memijit kepalanya yang masih sedikit berdenyut, tangan kirinya sudah terpasang selang infus, membuatnya langsung menghela nafas berat.


“Maya, saudara, papa kita. Apakah maksudnya papa nya adalah papa ku? Tapi bagaimana bisa? Atau dia anak mama Adel? Atau—“ Kiara kembali mengernyitkan dahinya saat rasa pusing di kepalanya kembali datang.


Setiap kali ia mencoba mencerna ucapan Maya, membuat kepala nya selalu terasa sakit. Maya, ia seolah baru tersadar keadaan Maya, dia melihat jam, dan dengan tiba tiba ia mencabut selang infus nya begitu saja.


Dengan langkah tertatih menahan pusing di kepala nya, ia mencoba berjalan untuk keluar dari ruangan nya, tujuan nya ingin mencari Maya. Kiara merasa bahwa Maya tahu sesuatu tentang hidupnya. Tentang visi dan misinya dalam mencari fakta kehidupan nya.


****


“Bas,” sapa Calvin saat terburu buru memasuki kawasan rumah sakit. Calvin, baru saja mau pulang untuk mengurus pemakaman Maya.


“Vin, dimana Kia sama bang Kaisar?’ tanya Bastian gusar. Tadi saat dirinya hendak tidur dan mama nya menyuruh agar menelfon Kia atau Kai, untuk menanyakan kapan pulang karena hari sudah malam. Mama Irish memang sangat posesif pada anak anak nya, terlebih sekarang sudah ada anak mantu perempuan, sudah pasti ke posesif an nya semakin bertambah.


Dan saat tadi Bastian menelfon Kai, ia mengatakan bahwa tidak akan pulang karena Kiara pingsan dan sedang berada di UGD. Bastian begitu terkejut dan ikut panik, maka dari itu dirinya langsung beranjak dan pergi keluar dengan motor tanpa berpamitan pada orang tuanya. Bahkan ia sampai lupa mengabari mama nya.

__ADS_1


“Aku gak tahu. Pas tadi aku datang dia udah gak ada sama Kiara,” ujar Calvin ikut bingung.


“Lalu bagaimana keadaan Maya?”


“Justru itu, Maya sudah pergi. Ini aku mau pulang untuk mengurus pemakaman nya besok pagi.”


“Innalilahi, turut berduka Vin. Dan sorry nih, aku kayaknya gak bisa nemenin ke sana, besok pagi aku pasti akan datang,” ucap Bastian menepuk bahu Calvin, sambil mengucapkan kata belasungkawa nya.


“Oke thanks, aku pergi dulu. Anne juga sudah nunggu di mobil.” Sepergi nya Calvin, Bastian pun segera masuk dan mencari dimana kamar Kiara.


Ting!


Tepat saat dirinya keluar, ia melihat Kiara tengah tertatih memasuki lift. Hampir saja ia kehilangan jejak lagi, dengan cepat ia menahan pintu lift hingga membuat Kiara sedikit terkejut.


“Ra, gimana ceritanya, kamu lagi sakit tapi malah keluyuran begini hah!” seru Bastian menahan marah nya, ia berdecak dan berulang kali menggelengkan kepala nya.

__ADS_1


“Bas, aku ingin menemui Maya. Dan juga—"


“Dimana abang?” tanya Bastian dengan napas memburu, ia menari tangan Kiara perlahan dan menuntun nya keluar dari lift.


“A- aku gak tahu. Aku bangun, tidak ada siapapun di sana. Aku mau—"


“Ra, tolong pikir kesehatan kamu!” kata Bastian sebisa mungkin menahan geram nya.


“Bas, tolong juga, jangan memarahi ku! Memang nya aku melakukan kesalahan apa sam kamu hah, hiks hiks hiks.” Kiara menutup wajahnya dengan tangan dan ia langsung terisak.


“Ra- maksudku— ... “


“Cukup Bas!” potong Kiara dengan cepat, “Kamu sama saja kaya abang kamu! Laki laki tidak berperasaan dan tidak bertanggung jawab!” seru Kiara lalu ia perlahan beranjak pergi dan kembali ke kamar nya.


“Lagi dapet kali yah,’ gumam Bastian menghela napas lega, akhirnya ia berjalan di belakang Kiara menuju ruang perawatan Kiara.

__ADS_1


__ADS_2