
“Kiara!”
“Maya!”
Mendengar beberapa langkah mendekati nya, membuat Kiara langsung melepaskan pelukan nya dengan Maya. Seketika itu juga, tangan Maya langsung lemas dan terjatuh. Dengan cepat tante Rita berlari Memanggil dokter, tuan Hilton menghampiri Maya dan Kai menghampiri Kiara.
“Ka- Kai hiks hiks hiks,” gumam Kiara terisak menatap Kai, “Ma- Maya, di—"
Brukk!
Kiara sudah tak mampu bertahan lagi, dirinya tumbang tepat saat Kai sudah berdiri di hadapan nya, “Sayang, bangun! Kiara!” panggil Kai menepuk nepuk pipi Kiara namun masih tak ada respon.
Kai pun segera menggendong tubuh Kiara dan membawa nya menuju ruang UGD agar segera di tangani oleh dokter. Sementara itu, dokter yang sudah mengecek keadaan Maya menyatakan bahwa Maya telah tiada.
__ADS_1
Rasa bersalah tuan Hilton pada Maya semakin besar. Ia merasa gagal dalam hal merawat Maya, ia kini benar benar kehilangan putrinya.
“Kamu sabar, biarkan Maya tenang di sana.” Ujar tante Rita mencoba menenangkan tuan Hilton.
“Aku tidak pantas di sebut papa Rit! Selama ini, aku selalu sibuk dengan dunia ku, sampai aku tidak tahu dengan apa yang di lakukan oleh putri ku. Dia hancur, dan dia berantakan sejak kepergian mama nya. Tidak seharusnya, kemarahan ku pada mama nya, juga ikut terlampiaskan pada Maya.” Ujar tuan Hilton menyesal. Tante Rita hanya mampu menghela napas nya dengan berat sambil terus mengusap usap bahu tuan Hilton.
“Aku tidak menyangka, mengapa secepat ini dia meninggalkan ku Rit. Aku yang lebih tua, aku sudah tua, mengapa Tuhan tidak mencabut nyawa ku saja? Mengapa harus Maya, masa depan nya masih panjang dan dia belum bahagia, aku belum membahagiakan nya,” tutur tuan Hilton semakin terisak sambil memeluk tubuh Maya untuk terakhir kalinya.
****
Sementara itu, di ruangan UGD. Kai tanpak terus mondar mandir di depan pintu, menunggu dokter keluar dan mengatakan keadaan istri nya. Hatinya menjadi kacau, ia juga tidak tahu bagaimana keadaan Maya, dan kini Kiara juga tumbang.
Cklek!
__ADS_1
Pintu terbuka, Seorang dokter keluar, membuat Kai langsung bergegas menghampiri nya, “Bagaimana keadaan istri saya dok?” tanya Kai penuh kekhawatiran.
“Hiperventilasi, juga kadar gula nya sangat rendah. Sehingga membuatnya pingsan, tapi syukur sekarang keadaan keduanya sudah baik baik saja karena segera di tangani,” jelas dokter membuat Kai bernafas lega.
Namun, kelegaan itu seketika berubah menjadi rasa terkejut saat kembali mengingat perkataan dokter yang membuatnya sedikit terasa mengganjal.
“Apa maksud anda dengan keduanya?” tanya Kai mengerutkan dahinya, menatap dokter dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Keduanya, istri dan calon anak anda. Apakah anda belum mengetahui nya?” kata Dokter balik bertanya membuat Kai semakin terkejut.
“Ca- calon anak? Is- istri saya hamil?” pekik Kai terkejut.
“Iya, selamat,” Dokter mengulurkan tangan nya untuk memberikan selamat, namun Kai tak membalas nya, ia malah langsung menerobos memasuki ruang UGD untuk menemui Kiara.
__ADS_1