
Hari berganti hari dengan cepat, tanpa terasa sudah satu bulan penuh Nisa berada di apartment Bastian. Setiap hari, akan ada seseorang yang datang mengantarkan makanan untuk Nisa. Karena kaki nya masih sakit hingga mengakibatkan nya belum bisa memasak. Ah maaf, di ralat, bukan belum bisa, namun memang tidak bisa, dan untung nya Bastian tidak mengetahui itu. Selama dua minggu terakhir ini juga Bastian tidak datang ke apartment itu, ia sendirian tidak ada teman berdebat dan tidak ada hiburan selain tv. Lebih tepatnya, setelah kejadian itu, Bastian menghindari Nisa, bila pun ia datang pasti hanya mengantarkan sesuatu dan tanpa mengucapkan kata apapun, ia lebih memilih mengunjungi apartemen Kai daripada miliknya sendiri yang kini di huni oleh Nisa.
Kadang ia juga berpikir, bagaimana bisa ia membiarkan Nisa, orang yang baru ia kenal itu untuk tinggal di Apartemen pribadi miliknya. Pribadi dalam artian, itu apartment khusus, tidak bisa sembarangan masuk ke sana.
Sebagai contoh, Kai hanya membawa Kiara ke sana. Calvin juga sama hanya membawa istrinya. Sementara dirinya malah membawa orang asing. Bahkan saat dulu Maya sangat ingin tinggal di lantai itu, Kai melarang keras, Kai memilih untuk membelikan apartment baru untuk Maya daripada membiarkan nya tinggal di unit itu. Karena bagi ketiga pria itu, lantai itu khusus hanya milik mereka bertiga.
Kini, kaki Nisa juga sudah sembuh meskipun belum total, namun ia sudah bisa berjalan seperti biasa, hanya saja belum bisa berlari. Merasa bosan, Nisa berniat untuk keluar dari apartment ingin mencari udara segar. Namun saat ia hendak membuka pintu, bertepatan dengan pintu yang terbuka dari luar.
Cklek!
Bastian, setelah dua minggu tidak datang, kini laki laki itu datang dengan membawa seorang anak kecil laki laki hingga membuat Nisa menganga lebar. Ia berfikir bahwa anak itu adalah anak dari Bastian, dan itu berarti laki laki itu sudah menikah. Tidak, ia tidak mau di anggap sebagai pelakor, tidak mau, jerit nya dalam hati. Berarti dia harus segera pergi.
“Kakak cantik!” tunggu. Nisa seperti mengenali suara itu, ia menatap kembali anak kecil yang tengah tersenyum begitu lebar pada nya, menampilkan dua gigi ompong di depan nya. Terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
__ADS_1
“Kenzo!” seru Nisa langsung tersenyum begitu lebar. Ia baru teringat dengan anak kecil laki laki yang sedang bertengkar dengan kekasihnya saat di supermarket, entah mengapa setiap mengingat kejadian itu membuatnya kembali terkekeh.
“Kok kakak cantik disini?” tanya Ken langsung menghampiri Nisa, “kakak tau gak, aku sama Naura selalu nungguin kakak cantik di taman itu. Tapi kakak cantik gak pernah datang lagi, eh sekarang malah bertemu disini.” Jelas Ken panjang lebar membuat Nisa tersenyum.
“Eh tunggu!” Ken nampak mengerutkan dahi nya, “Kok kakak cantik disini, inikah apartemen om Abas?”
Ken segera menatap om nya dengan tatapan penuh selidik, “OM Abas udah jual apartemen nya sama kakak cantik ini yah? Ken aduin sama papa loh, sama opa juga!” ancam Kenzo serius.
“Ngomong apaan sih bocah! Ini masih apartemen om!” cetus Bastian lalu segera melenggang masuk begitu saja.
“Jangan banyak ngomong deh, mending kamu bilang sama kakak kakak cantik atau apalah kamu itu, bilang suruh cepet bersiap. Om gak mau lama lama!” kata Bastian yang tengah meminum minuman kaleng dari dalam kulkas.
“Siap siap mau kemana?” tanya Nisa dengan mengerutkan dahinya.
__ADS_1
“Kakak cantik, ayo kita jalan jalan. Om mau traktir kita makan sama belanja!” seru Ken dengan penuh semangat.
“makan? Belanja,” gumam Nisa dengan senyum begitu lebar menghiasi wajah nya.
Sudah lama, ia terkurung di dalam apartemen, seperti nya akan seru bila ia jalan jalan, dan makan apalagi belanja, Huh, rasanya ia sangat merindukan kebiasaan nya dulu.
“Kamu yakin mau mengajak ku belanja dan jalan jalan?” tanya Nisa menatap Bastian.
“Hemm, bersiaplah!” saut Bastian cuek.
“Lima menit!” teriak Nisa dengan semangat, ia segera berjalan cepat menuju kamar dan mengganti pakaian. Terakhir bastian datang, ia membawakan Nisa beberapa pakaian untuk Nisa.
Setelah beberapa saat, janji nya yang awal bilang hanya lima menit. Nyatanya kini sudah hampir setengah jam, Nisa belum juga keluar dari kamar, membuat Bastian berdecak malas.
__ADS_1
‘Dasar perempuan! Heran, apaan sih yang di lakuin bisa selama ini dandan. Astaga!’ gumam Bastian dalam hati rasanya ingin mengumpat kasar.