Terjebak Cinta Gadis Tomboy

Terjebak Cinta Gadis Tomboy
Pemandangan mata


__ADS_3

“Huuhh segar.” Gumam Nisa saat baru selesai mandi, kini dirinya tengah berdiri di depan cermin dan menatap dirinya dari pantulan cermin, masih mengenakan handuk yang ia lilitkan sebatas dada dan di atas lutut, ia memandangi perban yang ada di lutut nya.


Menghela napas nya kasar, ia bingung harus melakukan apa sekarang. Ia sudah tak mungkin mengaktifkan ponsel nya di apartemen itu, karena itu bisa membuat posisi nya terancam karena ketahuan oleh orang tua nya. Ia harus membeli ponsel dan nomor baru, tapi bagaimana, sementara semua kartunya sudah di blokir oleh papa nya, dan juga uang cash nya hana tinggal beberapa lembar uang berwarna merah dan biru.


Cklek!


Mendengar suara pintu kamar yang terbuka, membuat Nisa langsung mengalihkan pandangan nya. Ia segera berbalik dan begitu terkejut saat melihat seorang laki laki tengah berdiri di sana dengan membawa sebuah paper bag berwarna hitam.


Glek!


Tubuh Bastian langsung kaku dan menegang seketika saat matanya mendapatkan pemandangan seperti itu.


Aaaaaaaaaaaa


Teriakan Nisa begitu menggema di seluruh ruang kamar itu, ia segera berlari karena sadar dengan penampilan nya. Namun karena kaki nya masih sangat sakit, akhirnya dirinya terjatuh dan kaki nya semakin terasa sakit.

__ADS_1


“Auuwhhh sakittt hiks hiks.” Ringis Nisa yang sudah terduduk di lantai, tanpa sadar air matanya mengalir deras membasahi pipi nya karena menahan sakit.


Bisa dong bayangin, kaki kesleo dan satu lagi dapat jahitan. Jalan masih seperti semut, namun tiba tiba di buat lari. Jleb banget, gak percaya SILAHKAN DI COBA! Dan kalau gak kuat lambaikan tangan ke kamera.


“Ckckc, dasar ceroboh!” decak laki laki itu yang tak lain adalah Bastian.


Ia segera berjalan ke arah Nisa yang terisak, ia mengangkat tubuh Nisa dan meletakkan nya di tempat tidur.


Glek!


‘Ini masih pagi Bas, jangan ngaco!’ gumam Bastian dalam hati di sertai oleh helaan nafas panjang.


“Kamu itu ngagetin!” seru Nisa tak terima, ia segera menari selimut dan menutup diri nya dengan selimut.


“Kaki kamu basah lagi, aku akan mengganti perban nya!” Bastian segera bangkit dan beranjak mengambil kotak obat nya. Sebelum datang tadi, ia sengaja mampir ke apotik untuk membeli beberapa kebutuhan untuk mengganti perban Nisa.

__ADS_1


“Jangan di buka!” seru Nisa saat melihat Bastian hendak membuka selimut nya.


“Kalau gak di buka, gimana perban nya mau di ganti!” cetus bastian kesal, “Yang mau di perban kaki kamu bukan selimut nya!”


“Ta—tapi ... “


“Kamu bisa sendiri? Kalau bisa silahkan!” Bastian memberikan sekantong plastik yang berisi obat dan perban kepada Nisa, namun gadis itu malah terisak.


Setelah cukup lama berdebat dengan hatinya, akhirnya Nisa mulai membuka selimut bawah nya dengan perlahan, hanya satu kaki, sebelah kakinya masih ia tutup dengan selimut.


“Jangan ngintip!” seru gadis itu saat melihat Bastian seolah tak sabar menunggu dirinya membuka selimut.


“Kamu lihat itu jam berapa?” Bastian menunjuk ke arah jam dinding, “Aku bukan pengangguran, aku punya kerjaan. Dan aku gak bisa nunggu kamu lama seperti ini, jadi jangan banyak drama!”


Dengan cepat, karena tidak sabar, Bastian segera membuka selimut yang menutupi kaki Nisa. Dengan telaten dan penuh kesabaran, ia membuka perban dan mengganti nya dengan yang baru. Berulang kali juga ia melihat reaksi wajah Nisa yang nampak menahan sakit. Wajar, karena tadi Nisa berlari.

__ADS_1


'Dasar dokter mesuum! Harga diri gue, sialan! Manaaa pengen pulang!" rengek nya dalam hati menjerit, 'Eh gak jadi deh, kalau pulang, nasibku akan lebih sial lagi.' ralat nya sambil cemberut kesal.


__ADS_2