
Setelah Kai keluar, Kiara mendudukkan dirinya di kursi yang tadi di duduki oleh Kai. Tangan nya masih di genggam oleh Maya, membuat hati Kiara semakin merasa tak karuan.
“Ra ... “ panggil Maya dengan lemah.
“Hem,” jawab Kiara menatap Maya, entah mengapa berhadapan dengan Maya yang tidak bisa berbuat apa apa seperti ini, lebih mengerikan di banding Maya yang sehat dan bisa menyerang nya sewaktu waktu seperti dulu.
“A- aku titip Papa,” ucap Maya tersenyum lirih, namun malah membuat Kiara mengerutkan dahi nya.
“Papa siapa?” tanya Kiara tak mengerti, “Papa ku sudah meninggal saat aku kecil, dan papa kamu? Ya kali kamu menyuruh ku menjaga nya, apa kau mau aku meninggalkan Kai dan menjadi sugar baby papa mu! Jangan gila May!” sentak Kiara tak suka.
“Papa ... kita.”
Deg!
__ADS_1
Dada Kiara tampak begitu berdesir, detak jantung nya semakin cepat bekerja. Suara nya seperti tercekat di tenggorokan, ia tak mengerti dengan ucapan Maya, namun seolah hatinya bisa merasakan sesuatu saat Maya mengatakan hal seperti itu.
Melihat wajah Kiara yang nampak terkejut dan syok, Maya menggerakkan tangan kiri nya untuk mengambil sesuatu di laci meja nya. “Ka- kamar ku, meja biru di ujung ruang ganti. Kotak berwarna merah,” ucap Maya dengan susah payah sembari memberikan sebuah kunci kepada Kiara.
“A- aku takut. A- aku takut tidak bisa menebus semua kesalahan ku, to- tolong sampaikan maaf ku pada papa. A- aku bukan putri yang baik untuk nya,” gumam Maya menghela napas nya dengan panjang dan terlihat susah.
“Maya, aku, aku akan memanggil dokter. Ka- kamu jangan banyak bicara, kamu pulihkan dulu—" Kiara hendak berbalik dan mencari dokter, namun tangan nya masih di genggam oleh Maya.
“Aku, aku sudah mencari tahu semuanya. Dan semua yang kamu cari ada di sana.” Imbuh Maya penuh penyesalan.
“Maya, jangan paksa dirimu untuk terus berbicara! Kamu diam sebentar, aku akan memanggil dokter!” kata Kiara dan hendak pergi lagi, namun Maya menggelengkan kepala nya.
“A- aku hanya ingin di peluk mama. Ta- tapi mama ku tidak ada,” gumam Maya tersenyum getir, “Kiara, bi- bisakah kamu memeluk ku?” Maya menatap Kiara dengan mata berkaca kaca, membuat hati Kiara ikut merasakan sesak luar biasa.
__ADS_1
“Kiara, meskipun kita bukan sedarah. Tapi, aku sudah menganggap kamu saudara ku, aku- ... aku merelakan Kai bersama kamu. Jangan pernah menyakiti nya, aku—"
“May, yang harus nya kau ingatkan itu dia. Harusnya kau mengatakan padanya, jangan sampai dia menyakiti ku!” sungut Kiara dnegan kesal sambil memeluk Maya, membuat Maya sedikit terkekeh.
“Aku senang, bisa memiliki adik seperti kamu. A-“ Maya kembali menghela napas nya dengan panjang, “Aku Juga bahagia masih di berikan kesempatan untuk bertemu dengan kamu.”
Walaupun Kiara Masih bingung dan tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Maya, namun entah mengapa hati Kiara ikut merasakan sakit yang teramat dalam, ketika mendengar suara Maya yang begitu berat dan lirih.
“Bahagia Lah Kiara ... Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan itu, dan Kai ... Kai adalah laki laki yang pantas untuk kamu. Semoga, kalian akan selalu bahagia, aku- aku merestui kalian,” bisik Maya untuk yang terakhir kalinya, sebelum akhirnya ia menghembuskan napas terakhirnya.
Seolah tahu, bahwa Maya sedang berpamitan dengan nya dan kini sudah pergi. Kiara semakin mengeratkan pelukan nya, air matanya sudah tak bisa terkontrol, dan dada nya terasa semakin sangat sesak.
“Maya, aku gak tahu kamu siapa, dan apa yang kamu katakan aku kurang yakin dan mengerti. Tapi, tapi yakin, kamu adalah orang baik. Aku berharap, Tuhan memaafkan segala kesalahan kamu hiks hiks hiks, istirahatlah dengan tenang.” Bisik Kiara terisak dan semakin mengeratkan pelukan nya.
__ADS_1