
“Bas, kenapa kamu malah mengendus begitu. Aku tadi udah mandi yah, pakai parfum juga, gak mungkin bau!” cetus Kiara memanyunkan bibir nya dengan kesal, lantaran sejak tadi Bastian terus mengendus kanan kiri seolah mencari aroma sesuatu.
“Ada apa sih Bas?” tanya papa Krish ikut penasaran.
“Pah, Bastian nyium sesuatu,” kata Bastian sok misterius.
“Apa?” jawab ketiga nya bersama nya.
“Aroma cemburu!” seketika itu juga Bastian juga langsung tertawa terbahak bahak, melihat reaksi Kai yang cemburu membuat nya tak bisa menahan tawa. Untung saja, kakak nya sudah pergi, kalau belum bisa bisa ia kentut karena terlalu lama menahan tawa nya.
__ADS_1
“Aku gak cemburu yah!” seru Kiara salah paham.
“lah, kenapa jadi kamu!” kata Bastian masih tertawa, “Ra, saran ku, mending kamu berhenti bekerja. Kamu sudah punya suami, tampan, mapan dan pekerja keras. Kamu bisa manfaatin dia. Ngapain kamu capek capek kerja di kantor. Mending kamu kerja di kamar aja,” jelas Bastian dengan senyum lebar, namun Kiara masih juga belum paham arti kata dari Bastian.
“Sudah sudah, kamu ini Bas. Bukan cepet berangkat ke rumah sakit, malah menggoda kakak ipar mu. Ayo kita berangkat bareng,” ucap papa Krish beranjak dari kursi nya dan mengajak Bastian agar berangkat kerja bersama, daripada terus menggoda Kiara.
“Ngapain aku ke rumah sakit? Program apaan coba,” gumam Kiara menghela napas nya berat, lalu ia menatap mama mertua nya dnegan wajah melas.
“Mah, terus Kia ngapain coba? Udah susah loh Kia belajar, terus kok malah gak boleh keluar. Emang nya Kia burung yang harus di kurung,” curhat Kiara dengan sedih.
__ADS_1
“Gapapa Sayang, itu tanda nya, Kai sayang sama kamu. Dia gak mau kamu capek, dan dia mau kamu fokus padanya.” Ucap mama Irish tersenyum lega, “Lebih baik, kamu ikut mama, yuk.” Mama Irish mengajak Kia untuk ke kamar nya.
Kia hanya mengangguk, lalu mengikuti mama Irish ke kamar, mata nya menelisik melihat ke beberapa arah. Cukup banyak bingkai foto di dalam kamar itu, terutama foto yang berada di nakas samping tempat tidur, dimana itu ada tiga bingkai yang pertama foto pengantin mama Irish dan papa Krish, foto kedua mereka menggendong seorang bayi. Dan foto ketiga, mereka menggendong satu bayi lagi, namun ada satu anak juga yang sudah sedikit lebih besar.
Bisa Kia simpulkan bahwa foto kedua adalah saat mama Irish hanya memiliki Kaisar, dan di foto ketiga, saat dimana Bastian lahir dan Kaisar sudah lebih besar.
“Iya, itu suami kamu. Wajah nya masih sama kan seperti dulu,” ucap mama Irish terkekeh, ia seolah tahu saat mata Kiara hanya menatap pada foto di atas nakas nya.
Kiara hanya tersenyum, namun dalam hatinya tercubit, seolah ia kini ia baru mengerti, mengapa selama ini ia tidak pernah menemukan foto masa kecil nya bersama mama Rani dan Zaskia. Semua foto yang di pajang di ruang tamu, ruang keluarga dan dimana pun itu hanya ada foto mama Rani dan Zaskia, tanpa ada dirinya.
__ADS_1