
“Ken, kamu nanti harus meminta maaf pada Naura yah,” ujar Kai pada anak pertama nya. Semalaman ia mencoba memberikan pengertian pada Ken agar tidak terlalu cepat menyimpulkan pendapat sendiri tanpa tahu kejadian yang sebenarnya, karena itu akan merujuk ke arah fitnah.
“Iya pah, Ken mengerti,” jawab Ken begitu lirih sambil menundukkan kepala nya.
“Anak tuyul lagi di nasehatin,” ujar Bastian yang menuruni tangga dan melihat bagaimana Ken sedang di nasehati oleh Kai.
“Om Abas, juga harus ikut tanggung jawab!” seloroh Ken tiba tiba membuat bastian sedikit terkejut.
“Lah, kenapa aku woy!”
“Kan om Abas yang dokter disini! Jadi om harus bantu Ken untuk minta maaf sama Naura, om bisa bilang kalau itu salah paham! Selesai deh!” kata Ken begitu santai membuat Bastian melongo seketika.
“Ken, tidak boleh begitu. Kamu harus berbicara sama Naura sendiri, jangan bawa bawa om Abas apalagi pekerjaan nya!” tegas Kai pada Ken hingga membuat anak kecil itu memberengut kesal.
__ADS_1
“Cakep!” celetuk Bastian terkekeh.
“Ahh papa gak asik!” kata Ken dengan malas, “Papa gak mau bantu Ken, terus papa juga larang Ken minta tolong ke om Abas, masa Ken harus sendiri!”
“Ken, Sayang.” Panggil oma Irish menghampiri cucu pertama nya, “Ken yang berbuat, Ken harus bertanggung jawab. Jadikan pelajaran ya Sayang, tidak boleh seperti itu lagi, apalagi kepada perempuan.”
“Tuh dengerin!” cetus Bastian lalu ia segera pergi ke meja makan.
“Kan ini salah om Abas juga, kenapa om gak bilang dan jelasin ke Ken coba!”
“Oh sudah ingat sekarang kalau om sudah tua. Kirain Ken, om sudah lupa,” jawab Ken terkekeh sendiri membuat beberapa yang mendengarnya ikut tertawa kecil.
“Astaga, sabar sabar. Anak tuyul satu ini memang luar binasa! Dah lah, Bastian gak jadi sarapan, mau berangkat sekarang!” Bastian segera pamit dan segera pergi ke rumah sakit.
__ADS_1
Bukan merajuk karena ucapan Ken, namun ia baru teringat dengan Nisa, gadis yang ia tolong semalam. Ia ingin melihat bagaimana keadaan gadis itu saat ini. Setelah mengendarai mobil nya beberapa saat, Bastian sudah sampai di rumah sakit.Ia segera bertanya kepada perawat dimana kamar Nisa, dan setelah di jawab oleh suster, ia pun langsung pergi menuju kamar Nisa.
Cklek!
“Gimana?” tanya Bastian pertama kalinya saat masuk ke kamar rawat Nisa, terlihat gadis itu tengah berusaha untuk turun dari tempat tidur namun seperti kesulitan.
“Sakitt, bengkak kayaknya. Perih juga lutut nya.” Ringis Nisa menahan perih dan ngilu.
“Wajar lah, kesleo, sama lecet begitu. “ jawab Bastian menghela napas nya dengan berat, “Mau kemana?”
“Aku mau ke kamar mandi, udah gak kuat dari tadi. Tapi gak bisa jalan, sakit banget kaki yang ini,” ujar Nisa meringis seperti menahan sesuatu, memang benar kaki kanan Nisa yang kesleo kini sedikit membengkak, sementara kaki kiri terdapat beberapa jahitan di bagian atas lutut kiri nya.
Bastian berdecak dan menghela napas nya kasar, ia berniat keluar untuk memanggil suster perempuan, namun suara Nisa menahan nya dan membuat nya urung.
__ADS_1
“Tolong bantu jalan ke kamar mandi, plis.” Nisa mengatupkan dua tangan nya di dagu menatap Bastian dengan penuh permohonan.
Nisa yang di lihat oleh Bastian pagi ini, sangat berbeda dengan gadis yang ia temui semalam. Tidak ada lagi bahasa kasar, dan tidak ada umpatan umpatan yang memancing emosi nya. Kini Nisa terlihat lebih santai dan kalem, terlebih gadis itu kini sudah berganti pakaian dengan memakai pakaian pasien, bukan lagi pakaian seperti kemarin. Rambut nya yang panjang kini tergerai bebas, wajah nya pun juga polos tanpa riasan apapun, sehingga terlihat lebih segar dan enak di pandang.