
“Jadi, kapan rencana kalian mau menikah? Mama sama papa tidak akan menjodohkan kalian lagi, karena kalian sudah saling mencintai dan memiliki keputusan sendiri!” seru mama Irish begitu heboh saat kedua calon pengantin itu sudah duduk berkumpul dnegan seluruh keluarga.
Nisa menatap Bastian yang nampak biasa saja, malah kini wajah itu terkesan datar dan dingin. Bagaimana bisa, Bastian malah nampak cuek dan tidak perduli. Rencana indah yang sudah mereka susun begitu mulus, nyatanya harus berakhir dan sia sia. Sungguh, bila kembali mengingat akan hal itu, membuat darah Nisa serasa ingin mendidih. Bagaimana bisa, dirinya terjebak dalam permainan nya sendiri.
“Mah, Pah, tante dan juga om. Emmt, begini, kita masih belum kepikiran jalan sampai sana, kita masih mau—“
“Seminggu lagi kita akan menikah Mah!”jawab Bastian memotong ucapan Nisa yang mana langsung membuat gadis itu membulatkan matanya dan menatap bastian dengan tatapan yang begitu tajam.
“Bas!” serunya pelan menahan geram.
“Kamu yakin seminggu?” tanya mama Irish sedikit kurang yakin dengan jawaban Bastian.
“Iya Mah, satu minggu.” Jawab Bastian kini sedikit tersenyum dan tangan nya langsung merangkul bahu Nisa agar terlihat seolah mesra, “Kami akan segera menikah satu minggu lagi.”
“Bastian, nyebut Bas! Kamu kesambet apaan?” bisik Nisa menatap tajam pada Bastian.
__ADS_1
“Sayang, bukankah kamu sendiri tadi yang mau pernikahan kita di percepat hem?” tanya Bastian menyeringai.
“Whatt! A—aku? No! A—“
“Iya, tadi kamu bilang seperti itu. Dan aku akan mengabulkan semua yang kamu inginkan, bahkan setelah itu kita akan honeymoon ke tempat impian kamu.”
“Bastiannnn!” jerit Nisa tiba tiba dan langsung berdiri dari tempat duduk nya.
“Denis!” panggil papa Doni memberikan isyarat menggelengkan kepala nya.
“Denis, apa maksud kamu!” tanya mama Melda menatap kecewa pada putrinya.
“Mamah, Denis gak mau di jodohin! Denis gak mau buru buru menikah, Denis masih mau mencari cinta sejati Denis. Jadi, malam pas Denis kabur, Denis kecelakaan,” ucapnya lirih dan menundukkan kepalanya, “Dan orang yang nabrak Denis itu dia,” imbuhnya menunjuk Bastian.
“Bukan aku yang menabrak, tapi kamu lari larian tengah malam. Nyebrang jalan sambil berlari tanpa melihat kanan kiri. Jadi, jangan salahkan mobil, salahkan diri kamu Sendiri.” Saut Bastian pada akhirnya, ia sudah sejak tadi ingin bersuara namun ia tahan.
__ADS_1
“Ya tapi kalau kamu gak kenceng bawa mobil nya, kamu gak akan nabrak aku sampai kaya gitu!” seru Nisa menatap Bastian lagi dengan tajam.
“kalau aku kenceng, pasti wajah kamu udah rusak, bisa juga kamu sudah tenang!” kata Bastian begitu santai hingga membuat semua orang terkejut.
“Kok kamu nyumpai aku mati!” sentak Nisa tak terima.
“Kamu yang mancing emosi ku. Aku sudah memelankan mobil sepelan mungkin, makanya hanya kaki kamu yang lecet. Jadi jangan menambah nambah cerita, dan satu lagi om tante dan semuanya. Saat saya ingin bertanggung jawab ingin mengantarkan dia pulang, dia malah menangis dan bilang kalau emmmtt—“
“Bastiannnnn!” jerit Nisa yang langsung menerjang tubuh Bastian dan membungkam mulut nya dengan kedua tangan nya.
Bisa gawat kalau sampai Bastian mengatakan kebenaran yang mengatakan dirinya akan di jual pada rentenir oleh orang tuanya, terlebih dirinya memang membuat cerita yang begitu dramatis, maka sudah di pastikan papa nya akan marah besar padanya.
Deg deg deg
Saking paniknya, takut Bastian membongkar semuanya, kini, tanpa ia sadar bahwa posisi keduanya bisa di katakan sangat abstruk. Dengan Nisa yang duduk mengangkang di paha bastian dan Bastian yang sampai seperti tertidur di sofa karena mulut nya di bungkam oleh Nisa dan mata yang saling menatap satu sama lain.
__ADS_1