
“Astaga, Sayang, kamu darimana?” tanya Kai yang hendak membuka pintu dan malah Kiara yang masuk.
“Abang darimana? Masa pasien gak di tungguin!” tanya Bastian berdecak kesal pada kakak nya.
“Aku dari toilet. Dan pas aku keluar, Kiara tidak ada. Baru aja aku mau keluar buat nyari, kalian masuk.” Jawab Kai sambil menggendong Kiara dan mengembalikan nya di tempat tidur rumah sakit “Kamu mau kemana? Kenapa gak bilang bilang hem? Kamu buat aku khawatir,” ucap Kaisar mengecup tangan Kiara dengan sangat lembut.
“Maya,” gumam Kiara lalu kembali terisak, “Dia—"
Kai yang tahu apa yang Kiara rasakan, langsung berdiri dan memeluk Kiara. Ia tahu, biar bagaimana pun, tadi Kiara lah yang melihat dan menemani Maya saat hendak pergi. Sudah pasti Kiara syok, terkejut dan takut. Sejujurnya Kai begitu penasaran mengapa Kiara bisa menangis dan memeluk Maya, namun ia urungkan karena kesehatan Kiara yang tidak memungkinkan.
“Sssttt, jangan menangis lagi. Katakan apa yang kamu rasakan, jangan seperti ini, aku gak mau kalian kenapa napa. KU mohon, jangan membuat ku khawatir lagi,” gumam Kai dnegan lembut dan masih terus menciumi pucuk kepala Kiara.
“Kalian?” Bastian yang mendengar perkataan Kai, langsung mengerutkan dahinya. Meskipun Kai mengatakan begitu pelan, namun telinga Bastian masih sangat berfungsi dengan baik.
__ADS_1
“Heem,” jawab Kai singkat membuat Bastian masih merasa bingung.
“Istri, dan calon anak ku.” Kata Kai menyeringai sat matanya bertatap dengan Bastian.
Kaget, syok, bahagia, bercampur jadi satu di hati Bastian. Lalu ia menatap Kiara dengan tatapan tak percaya, “Ra, serius? Kamu hamil?”
“Kok kamu udah tahu sih!” cetus Kiara Langsung melepaskan pelukan nya dari tubuh Kai, membuat dua laki laki itu nampak mengerutkan dahinya.
“Sayang, kamu gak suka?” tanya Kai tak percaya dnegan ekspresi istrinya.
“Ka- kamu sudah tahu? Aku pikir kamu belum tahu, dan tadi dokter—“ ujar Kai hendak menjelaskan, namun lagi lagi segera di potong oleh Kiara.
“Aku udah tahu dari seminggu yang lalu! Aku mau kasih kamu kejutan, tapi kamu sibuk terus. Dan sekarang aku sampai lupa, kamu, kamu malah udah tahu, hiks hiks hiks.” Kiara kembali menangis terisak, ia begitu kesal dan marah pada Kai lantaran ekspetasinya tidak sesuai dengan yang Kiara harapkan. Padahal, Kai sudah di buat terkejut dan bahagia saat tahu istrinya hami, namun ekspresi bahagia itu hanya dokter yang melihat nya karena tadi Kiara masih dalam mode pingsan.
__ADS_1
“Sayang, tapi ... “
“Gak mau tahu! Pokok nya kalian harus pura pura belum tahu! Jangan bilang juga sama mama dan papa, aku mau ngasih tahu sendiri, aku mau lihat kalian semua terkejut terus seneng begitu. Aku gak mau tahu, pokoknya, kalian berdua harus mengulang keterkejutan kalian!” kata Kiara dengan tegas dan tidak mau di ganggu gugat.
Glek!
Bastian dan Kai saling melirik dan menatap satu sama lain. Lalu bastian mengangguk dan menggelengkan kepalanya di ikuti oleh Kai. Membuat Kia semakin kesal lantaran ucapan nya tidak di dengar.
“Kalian berdua denger gak sih!” cetus nya menatap suami dan adik ipar nya.
“Iya Kiara Ayuwidya!” tekan Bastian dengan senyum paksa nya, lalu keduanya nampak menghela napas nya dengan berat.
‘Ya Tuhan, semoga firasat ku tidak benar. Itu bayi masih berupa darah, belum kelihatan nyawa nya, tapi sepertinya akan memiliki sifat melebihi emak nya! Ngeselin, harus siap siap jadi rich uncle!’ gumam Bastian dalam hati.
__ADS_1
“bas, jangan mengumpat kami! Dia ini calon keponakan kamu!” cetus Kiara menatap Bastian tajam, “Apalagi kamu, berani mengatai anak kamu sendiri, siap siap puasa seumur hidup kamu.” Ancam ya lagi pada suami nya.