
“Kakak!” Sambil di gandeng oleh Kai, Kiara menuruni tangga dengan perlahan.
Zaskia hanya diam, menatap Kia yang tengah tersenyum begitu lebar ke arah nya. Namun, bukan itu yang berhasil mencuri perhatian Zaskia. Yakni, cara jalan Kia yang terus di gandeng oleh Kai. Dan juga, Zaskia memperhatikan pakaian yang di kenakan oleh Kia sedikit aneh. Bagaimana tidak aneh, bila kini, Kiara memakai sebuah dress di bawah lutut, namun ia juga memakai jaket yang lumayan tebal. Zaskia sangat ingat, jaket itu adalah pemberian darinya.
“Kamu sakit?” tanya Zaskia langsung saat Kiara sampai di depan nya, “Kalau sakit harusnya kabari Kakak. Kamu itu udah bikin kakak khawatir tahu gak. Kakak nungguin kamu dari pai, kamu gak ada jawab telfon dari kakak!”
"Kamu habis jatuh? kok jalan nya kaya gitu? pakai di gandeng lagi juga, kamu jatuh dimana? gimana sih kok bisa, ayo Kia jawab Kakak. Jangan bikin kakak khawatir begini!" tanya Zaskia beruntun, tanpa memberikan kesempatan Kiara untuk menjawab.
“Hehehe, maaf kak. Eummt, itu ..." Kira sendiri bingung, bagaimana akan menjelaskan nya kepada Zaskia, untuk sesaat ia melirik ke arah samping dimana Kai berada. Namun—
“Aku akan pergi ke ruang kerja. Kalian mengobrol lah.” Jurus jitu dari Kai, ia memilih kabur sebelum terjadi sesuatu hal yang akan mempermalukan dirinya.
“Ehh, kok pergi!” seru Kia menatap Kai.
__ADS_1
“Aku harus menghubungi Fadil, nanti aku akan kembali,” tanpa berlama lama, Kai pun melenggang pergi meninggalkan ruangan itu.
"Kia, jawab Kakak!" desak Zaskia lagi karena merasa cemas.
Kiara menghela napas nya kasar, lalu ia ikut duduk di samping kakak nya. Ia masih mendengarkan semua omelan dari sang kakak lantaran dirinya tidak menjawab dan membalas chat wa nya. Sementara Liam, sejak tadi memilih diam. Iya diam, ia diam menatap Kiara dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
Liam menangkap suatu gerak gerik aneh, dan Liam cukup pandai untuk menebak nya, hingga tiba tiba ia mengatakan suatu hal yang membuat Kiara dan Zaskia menatap ke arah nya.
"Sampai berapa kali sih?" celetuk Liam menggelengkan kepalanya menatap Kiara.
“Sepertinya kalian sudah saling mencintai, kamu sudah menjadi milik nya seutuhnya kan?”
Deg!
__ADS_1
Liam menghela napas nya dengan sedikit kasar, lalu ia tersenyum, walau tipis. Ia menggenggam tangan Zaskia dan mengusapnya dengan perlahan, “Aku harap, aku dan Zaskia segera memiliki keponakan.”
Seketika itu juga Zaskia langsung menutup mulut nya dengan tangan nya yang satu lagi, ia tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Liam. Lalu ia menatap Kiara seolah meminta penjelasan. Ia bukan orang bodoh, tentu saja, Zaskia mengerti arti dari ucapan Liam.
“Kiara ... Jadi ... jadi kamu menghilang karena—"
“Kakak, Liam, bisakah kalian tidak membahas itu?” sungut Kiara dengan kesal, “Lagipula juga ini gara gara kakak! Kenapa semalam kakak terus menelfon ku hah! Aku itu lagi mandi, gara gara telfon terus, itu mengganggu orang kerja! Jadinya kan begini!” sungut nya dengan kesal. Bukan ia menyesal karena telah menyerahkan mahkota nya pada Kaisar, namun ia malu karena terus di pojok kan oleh kakak dan sahabat nya.
“Jaaadiiii ... ?” tanya Zaskia, namun di iringi dengan senyum menggoda.
“Jadi .. ya jadi begini. Ya udah, aahhh udah lah jangan di tanya lagi. Kenapa bahas itu sih ah!”
Zaskia dan Liam langsung terkekeh, saat melihat wajah Kiara yang nampak sangat memerah menahan malu. Berikutnya, ruangan itu di penuhi oleh canda tawa Kia, Zaskia dan Liam. Kiara terus menjadi bulan bulanan kakak dan sahabat nya sore itu, sementara Kai, ia memilih melakukan pekerjaan yang sudah ia tinggalkan.
__ADS_1
Baginya, bekerja lebih baik, daripada bergabung dengan Zaskia dan Liam, terlebih saat seperti ini, ia tidak mau dirinya ikut menjadi bahan tertawaan.