
“Udah inget punya rumah?” pertanyaan yang di ucapkan oleh papa Doni dengan wajah datar nya, membuat Nisa hanya mampu tersenyum sedikit paksa.
Kini, dirinya sudah duduk di ruang tamu bersama Bastian, dan juga kedua orang tuanya tentu nya. Papa Doni yang melihat putrinya menyengir hanya mampu menghela nafas nya berat.
“Kamu sudah putuskan untuk pulang, itu berarti kamu menerima perjodohan yang papa dan mama siapkan!” kata papa Doni kembali membuka suara.
“Enggak Pa!” seru Nisa tiba tiba, lalu ia menggenggam tangan Bastian dengan mata yang masih fokus menatap kedua orang tuanya, “Denis sudah punya pacar! Dan kami saling mencintai, Denis Cuma mau menikah sama dia. Namanya Bastian, dia dokter—“
“Cukup,” kata Bastian memotong penjelasan Nisa membuat gadis nya itu langsung menatap nya tak suka, “Biar aku yang bicara.”
“Gak usah, kamu diem dulu!” bisik Nisa lalu ia hendak kembali melanjutkan penjelasan nya.
“Jadi kamu mau menikah sama laki laki ini?” tanya papa Doni mengulangi perkataan putrinya.
__ADS_1
“Tentu saja. Dia pacar nya Denis, dan kami akan menikah dalam waktu dekat, jadi papa sama mama harus batalin rencana perjodohan itu. Denis gak mau menikah sama orang yang Denis gak kenal!” cetus nya memanyunkan bibir dengan kesal, namun papa Doni tak menanggapi nya.
“Siapa tadi nama kamu?”
“Bastian Om.”
“Oke Bastian, apa kamu benar pacar putri saya? Apa kalian benar, bersungguh sungguh akan membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius? Tidak akan mempermainkan putri saya?” tanya papa Doni dengan tatapan tajam nya menatap Bastian.
“Nah kan, jadi papa ga usah khawatir sama Denis, apalagi sibuk nyariin jodoh, karena Denis bisa cari sendiri.” Kata Nisa dengan penuh semangat, “Jadi papa harus batalin perjodohan itu!”
“Baiklah,” jawab papa Doni membuat senyum Nisa langsung mengembang dengan sempurna, terlebih saat ia melihat papa nya nampak mengeluarkan ponsel untuk menghubungi teman sekaligus rekan bisnis nya.
“Kita berhasil,” bisik Nisa menatap Bastian dengan senyum yang teramat bahagia, hingga tanpa sadar malah membuat laki laki itu terdiam saat melihat senyum merekah Nisa yang sangat jarang ia lihat.
__ADS_1
Deg deg deg
Bastian semakin sulit untuk mengontrol dirinya sendiri, ah bukan dirinya, mungkin lebih ke hatinya. Karena sejak tadi, hatinya merasa seperti ada sesuatu yang terus mengganjal, bersamaan dnegan jantung yang berdetak semakin cepat, seolah akan ada sesuatu yang akan terjadi.
“Misi kita, tinggal satu langkah lagi!” kata Nisa lagi dan semakin mengeratkan genggaman tangan nya.
“Jangan bisik bisik’an, ayo kita makan siang dulu. Nanti kita sambung lagi obrolan kita, agar lebih santai,” ajak mama Melda membuat tatapan Nisa dan Bastian langsung teralihkan.
Selama acara makan siang, papa Doni terus memberikan pertanyaan untuk Bastian, dari yang biasa sampai ke ranah pribadi. Tentu saja, papa Doni harus tahu semua seluk beluk, bibit, bebet dan bobot calon menantu nya. Dan untung nya, Bastian bisa menjawab semua pertanyaan itu dengan mudah dan lancar, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.
Ya, walaupun ia harus merelakan kaki nya yang terus di injak oleh Nisa saat dirinya memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan skenario. Tapi, Bastian tidak memperdulikan nya, yang penting,tujuan nya segera usai, dan ia bisa segera lepas dari jerat perjodohan.
“Oh, jadi kamu disini!” seru seseorang yang tiba tiba datang dan membuat semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1