
“Dasar cowok rese, ngeselin, nyebelin!” seru Nisa berulang kali menghentak hentakkan kaki di lantai. Ia hendak menunggu lift, namun tanpa sadar matanya menatap beberapa orang yang tengah berjalan tergesa Menaiki tangga eskalator.
Panik, tentu saja, ia semakin panik saat salah seorang dari mereka matanya menatap ke arah nya, namun bersyukur orang tersebut belum begitu sadar. Hingga saat mereka sudah berada di lantai yang sama, Nisa segera berlari menuju tangga darurat. Ya tangga darurat adalah jalan paling aman baginya.
“Kayaknya gue disini dulu aja deh,” gumam Nisa masih mengatur nafas nya lelah, “Untung aja tadi gue masih bawa ini kartu,” imbuhnya terkekeh sambil memegang sebuah kartu kredit milik Bastian.
Ya, tadi dirinya sempat membayar mainan milik Ken, dan di karenakan bastian hendak ke toilet, makanya dirinya yang membayarnya, dan sampai akhirnya ia lupa untuk mengembalikan nya.
‘Anggap aja ini sebagai ganti, karena lo udah ngembaliin hp gue ke orang orang itu.” Gumam nya lagi terkekeh. Setelah cukup lama ia berada di tangga darurat, ia segera kembali ke tempat sebelumnya, dan ternyata Ken dan Bastian sudah tidak ada di sana.
Ia pun memutuskan untuk membeli ponsel dan segera pergi dari mall. Namun, saat dirinya hendak pulang ia bingung karena harus kemana dan pakai apa. Dirinya sudah tidak memiliki uang sepeser pun, tidak mungkin kan bayar taxi pakai kartu kredit. Batinnya.
“Kak rasya?” panggilnya saat melihat seseorang yang berada di dalam mobil dan hendak keluar dari parkiran.
Mobil itu berhenti sejenak, dan memang benar dialah Rasya, kakak kelas nya dulu, “Anna!” serunya sedikit terkejut saat melihat gadis yang berada di samping Rasya.
__ADS_1
“Denis, kak Denis!” ucap Rasya dan Anna bersamaan, “Kamu bukannya—“
“Kak, ceritanya panjang. Masalahnya sekarang aku gak ada duit sepeserpun, aku butuh tumpangan dan atau gak pinjami aku uang dong untuk pergi ke rumah teman ku.” Kata Nisa dengan wajah memelas nya, “Nanti aku ceritain semuanya tapi tolong jangan bilang siapa- siapa termasuk Michele!”
Beruntung, malam itu karena tidak tega, akhirnya Rasya dan Anna mengantarkan Nisa untuk pergi ke alamat tujuan nya. Dan Nisa bersyukur karena ia percaya bahwa Rasya dan Anna bisa menjaga rahasia nya.
****
Setelah mengantarkan Ken pulang ke rumah. Bastian pun tak lekas beristirahat di kamar. Ia kembali mengambil kunci mobil nya, dan kini tujuan nya ingin mencari Nisa. Walau ia tahu sudah kehilangan jejak jauh, namun ia akan tetap berusaha.
Khawatir, entah mengapa ia merasa sedikit cemas dan khawatir. Ia takut bila sampai Nisa benar kembali tertangkap oleh orang suruhan orang tuanya. Padahal, ini adalah kesempatan bagus untuknya agar tidak terus di jodoh- jodohkan oleh sang mama. Pilihan terakhirnya hanya pada Nisa, namun karena kesalahan nya, gadis itu malah kabur.
Drrtt Drttt ...
‘Halo, Bas. Kamu dimana? Udah jam segini kok gak ada di rumah? Kamu keluyuran dimana?” semprot mama Irish saat dirinya mengangkat panggilan telfon.
__ADS_1
“Mah, Bastian baru dari rumah sakit. Ini baru mau pulang, tapi kayaknya Bastian akan tidur di apartment, Bastian udah ngantuk banget, gak kuat nyetir.” Jawab Bastian berbohong, ya tentu dirinya harus berbohong tidak mungkin ia mengatakan bahwa dirinya masih di jalanan mencari seorang gadis.
Lagipula, posisi Apartment memang lebih dekat dari rumah sakit, di bandingkan rumah. Maka ini adalah alasan yang cocok dan masuk akal untuk menyelamatkan diri.
“Oh, ya udah kalau gitu. Orang tuh lain kali pamit gitu sama orang tua. Jangan bikin mama khawatir!”
“Iya mah iya maaf. Lagian mama kok belom tidur sih!” decak Bastian dengan kesal, karena ia berfikir bahwa tadi mama nya sudah tidur saat dirinya mengantarkan Ken pulang.
“Tadi mama sudah tidur tapi kebangun. Mama lihat kamar kamu gak di kunci pas mama buka ternyata penunggu nya gak ada!” cetus mama Irish dengan sebal.
“Astaga mama, ini anak mama yang paling ganteng loh mah. Masa di kata penunggu sih! Emang Bastian setan apa!”
“Percuma ganteng, tapi gak laku alias jomblo terus.Malu tuh sama umur!” semprot mama Irish membuat Bastian kalah telak.
“Dah lah ma, Bastian capek mau tidur dulu. Assalamualaikum.” Ucap Bastian dan tanpa menunggu jawaban mama Irish ia segera mematikan sambungan telfon.
__ADS_1
Bastian kembali menghela nafasnya kasar, lalu ia segera turun dari mobilnya dan masuk ke dalam apartemen.