
“Darimana saja kamu waktu di Bali?” tanya Kai saat keduanya sudah berada di dalam kamar berdua.
Tadi, setelah selesai makan siang, Kai memutuskan untuk mengajak Kiara masuk ke kamar, karena ia merasa bahwa ada sesuatu yang harus ia luruskan dengan Kia. Mengingat, sejak hari pernikahan nya kemarin hingga tadi pagi, gadis itu masih acuh dan tampak tidak mendengarkan setiap ucapan nya.
Termasuk kejadian beberapa waktu lalu saat mereka di Bali, ia sudah mencari keberadaan Kia semalaman, namun tak menemukan nya. Hingga saat pagi harina Kia pulang sendiri ke Villa dengan berjalan kaki.
“Gak kemana mana,” jawab Kia acuh, ia memilih pergi menuju walk in closed untuk merapikan pakaian nya, namun saat ia masuk ternyata pakaian nya sudah tertata rapi berdampingan dengan pakaian milik Kai.
“Apakah kita akan terus seperti ini?” Kai mengikuti Kia hingga walk in closed, dan kini dirinya berdiri bersandar pada pintu sambil bersedekap dadaa.
__ADS_1
“Entahlah, kau sendiri bagaimana? Aku sih ikut aja, asal jangan buang aku. Ah, atau kalau kau ingin menceraikan ku dan membuang ku, setidak nya tunggu sampai aku sudah memiliki duit sendiri untuk menyewa Apartment. Dan setelah itu kita bisa bercerai.” Ucap Kiara masih tanpa menatap Kai.
“Apa maksud mu?” Kai mengerutkan dahinya, perlahan, ia pun mendekati Kiara agar lebih dekat, “Aku menanyakan kemana kau saat di Bali, kenapa jawaban mu merembet kemana mana!”
“Kai!” Kiara menghela napas kasar, ia membalikkan tubuh nya dan menatap Kia dengan wajah santai seperti biasa, “Aku tidak pergi kemana pun, dan kau sudah mendengar jawaban ku bukan?”
“Apa kau tahu, aku semalam penuh mencari kamu. Dan sekarang kamu bisa berkata kalau kamu tidak kemana – mana! Kiara, apa kau sedang menguji kesabaran ku?” tanya Kai menahan geram nya.
“Kai, sepertinya, pertanyaan itu tidak penting. Dan kamu tidak harus tahu semua tentang ku. Berhenti mencari tahu tentang aku, cukup perlakukan aku seperti biasa, itu sudah cukup!” imbuh Kiara masih dengan senyum di wajah nya.
__ADS_1
“Apa kau pergi dengan laki laki lain?” tanya Kai tanpa memperdulikan ucapan Kia yang panjang lebar.
“Tidak ada urusan nya dengan mu!” cetus Kiara yang sudah malas berdebat, rasanya percuma ia menjawab pertanyaan Kai, toh juga laki laki itu tidak perduli padanya, “Jangan merasa seolah kita ada hubungan penting yang mengharuskan aku selalu memberikan laporan padamu!”
“Aku suami mu, kalau kau lupa!” Kai menahan pergelangan tangan Kiara saat hendak meninggalkan nya.
“Suami? Hahaha saat ini oke, kau bisa mengatakan itu. Lalu bagaimana dengan yang lalu? Apa kau mengakui ku sebagai calon istri mu? Hahaha, aku Cuma karyawan mu bukan? Bahkan kau tidak ada sedikit pun niat untuk memperkenalkan aku pada wanita itu, atau sekedar mengatakan alasan mengapa dida ke Jakarta bersama kita. Hahaha, kita itu bukan partner spesial Kai. Sadar diri akan batasan itu, kita hanya partner kerja, ingat KARYAWAN!” ucap Kiara panjang lebar, lalu ia menghempaskan tangan Kai dan meninggalkan kamar Kai begitu saja.
Seperti benar dugaan nya, bila ia berlama lama dengan Kai berdua, hanya berdua, maka emosi nya pasti akan langsung naik. Entah mengapa, ia begitu sangat sensitif sekarang bila mengenai laki laki itu, terutama bila mengingat kembali perjalanan mereka saat dari Bali ke Jakarta, dimana Maya terus berada di dekat nya. Dan Kiara bisa tahu bahwa Kai mengenalkan dirinya sebagai karyawan karena tanpa sepengetahuan Kai, Maya sempat mendatangi Kiara.
__ADS_1
‘Cih, mau sok jadi suami posesif, hah, siapa lo!’ decak Kiara dalam hati, mulut nya terus berkomat kamit mengumpat Kai. Rasanya ia butuh sesuatu yang dingin agar pikiran nya kembali dingin dan tenang. Sambil memikirkan bagaimana malam nanti dirinya akan tidur, tidak mungkin ia meminta kamar lain kepada mertua nya.