
Pagi harinya, Kiara kekeuh ingin segera pulang, ia sudah merasa sangat baik. Dan ia sangat ingin menghadiri pemakaman Maya serta ingin membuktikan ucapan Maya. Meskipun Kai berusaha melarang seperti apapun itu, ia tidak bisa menolak keinginan Kiara. Semakin dia melarang, maka Kiara akan semakin melawan, membuat Kai pasrah dan mengikuti kemauan Kiara, asal masih dalam pantauan.
“Sayang, kamu yakin mau ikut?” tanya Kai yang melihat Kiara sudah rapi dengan pakaian nya yang serba hitam.
“Kamu kenapa sih? Dari tadi nanya itu mulu. Kaya seolah kamu itu gak seneng kalau aku ikut ke sana? Kenapa? Karena kamu nanti gak bisa nangis melepas kepergian Maya? Kamu takut aku cemburu atau kamu gak bisa ngerasa bebas, gak mau di ganggu sama aku begitu!” seru Kiara langsung menggebu, membuat Kai langsung menutup mulut nya dengan rapat dan tak berani mengatakan apapun lagi pada istrinya.
Beberapa hari belakangan memang sikap Kiara berubah, mudah emosi, mudah menangis dan juga mudah lapar. Awalnya Kai merasa kesal dan selalu ingin menjawab omelan Kiara, namun saat ini dirinya sudah mendapatkan jawaban mengapa Kiara seperti itu,ia hanya bisa pasrah. Ia akan mengalah, setidaknya sampai Kiara melahirkan. Yah, ini semua ia lakukan demi calon buah hatinya. Ia akan melakukan apapun demi kelancaran hamil Kiara.
‘Gapapa, ngalah. Banyakin sabar, harus bisa, mau jadi ayah kan?’ selalu kata kata itu yang dia ingat. Yah, itu adalah perkataan dari papa Krish, dan sejujurnya papa Krish dan mama Irish sudah tahu tentang kehamilan Kiara, namun sesuai permintaan Kai yang tidak ingin membuat Kiara marah lagi. Kai menyuruh orang tua nya agar berpura pura tidak tahu dulu.
Ribet memang, tapi begitulah. Kehamilan setiap orang berbeda, dan konon, menurut papa Krish, sewaktu mama Irish hamil Kai, dia bisa melakukan hal yang lebih parah.
__ADS_1
‘Kamu tahu Kai, dulu, bahkan mama kamu tidak mau papa sentuh. Empat bulan Papa di suruh tidur di luar, di sofa. Tidak boleh di kamar tamu.’ Kata papa Krish beberapa waktu lalu, membuat Kai sedikit merasa beruntung karena Kiara tidak menyuruh nya tidur di luar juga.
“Ayo kita berangkat. Hati hati,” ujar Kai menggandeng tangan Kiara dan lekas pergi menuju rumah Maya.
****
Acara pemakaman berlangsung cukup lancar. Dan saat pulang dari pemakaman, Kiara meminta izin kepada tuan Hilton ingin melihat kamar Maya. Karena ia mendapatkan pesan dari Maya agar mengambil sesuatu. Awalnya, tuan Hilton ragu untuk mengizinkan Kiara masuk, namun setelah beberapa saat, akhirnya ia mengizinkan Kiara untuk masuk ke sana.
“Kai, kamu silahkan tunggu di luar. Aku hanya sebentar,” kata Kiara mengusir Kaisar.
“Sayang, aku takut kamu—"
__ADS_1
“Aku gapapa Kai, plis, beri aku waktu sebentar.” Pinta Kiara, lalu akhirnya Kai menganggukkan kepala nya dan keluar, memilih untuk duduk bersama tuan Hilton dan keluarga tante Rita.
“Tuan Kaisar, dimana anda bertemu dengan istri anda? Apakah hingga kini orang tuanya masih ada? Eumtmt maksud saya—"
“Apa maksud anda?” tanya Kai dengan nada tak suka.
“Bukan seperti itu, saya hanya merasa bahwa wajah istri anda sangat mirip dengan sahabat saya. Dan kini, saya kehilangan jejak nya, saya berharap bahwa Kiara memang anak beliau dan saya bisa bertemu dengan nya kembali. Begitu maksud saya,” jelas tante Rita.
Kaisar hanya diam, karena sejujur nya, ia juga belum tahu dimana keberadaan makam mama mertua kandung nya. Ia hanya tahu bahwa ibu kandung Kiara sudah meninggal, namun hingga kini ia belum berhasil menemukan makam nya dimana. Dan kini, ia sedang berfikir, haruskah dia mengatakan pada beberapa orang di depan nya ini tentang kematian mama mertua nya? Atau memilih diam dan berpura pura tidak tahu.
‘Mungkinkah kalau aku mengatakan pada mereka, mereka bisa membantu ku mencari keberadaan makam mama Adel?’ gumam Kai dalam hati nya berfikir.
__ADS_1