Terjebak Cinta Gadis Tomboy

Terjebak Cinta Gadis Tomboy
Dokter ganteng


__ADS_3

Hari yang melelahkan, akhirnya usai. Setelah melalui drama yang teramat sangat panjang. Kini Bastian sudah mengantarkan Nisa pulang ke Apartment nya, sementara dia segera pulang karena Ken sudah tertidur akibat kelelahan.


Untung saja, dirinya dan Nisa menguasai gerakan tarian tersebut, sehingga bisa dengan mudah latihan dan langsung kompak. Meskipun tidak mendapatkan juara, yang penting mereka sudah tampil maksimal dan bisa membuat Ken senang.


Setelah sampai di rumah, Bastian segera mengangkat tubuh Ken dan meletakkan nya ke dalam kamar. Ia meminta pengasuh Ken agar mengelap tubuh Ken dengan air hangat sebelum menggantikan pakaian.


Brugg!


Bastian langsung merebahkan tubuh nya ke tempat tidur, meregangkan otot otot nya yang terasa sangat lelah. Lalu ia membuka ponsel nya dan melihat beberapa foto yang sempat di abadikan oleh kakak nya Naura tentang kebersamaan nya hari ini.


“Eh tunggu, tadi dia juga bawa ponsel, tapi ponsel siapa?” gumam Bastian seolah baru tersadar bahwa Nisa tadi sempat berfoto sendiri, padahal ia sangat ingat dengan jelas bahwa ponsel Nisa sudah ia serahkan pada keluarga nya beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


****


Sesuai kesepakatan, hari ini Bastian dan Nisa akan mengunjungi rumah Nisa. Dengan wajah yang terus di tekuk dan sedikit takut, Nisa memberanikan diri untuk turun dari mobil.


“Non Denis!” seru salah seorang wanita paruh baya yang melihat kedatangan Nisa, langsung menghambur dan memeluk nya dengan sangat erat.


Bastian hanya bisa terdiam, dan mengerutkan dahinya saat melihat Nisa di peluk oleh seseorang, namun tangan nya masih menggenggam tangan nya. Dan juga, kini ia harus membiasakan telinga nya karena semua orang memanggil gadis bar bar itu Denis, bukan Nisa.


Di banding kedua orang tua Denisa, tentu mbok Ratmi lah yang paling tahu segalanya. Bahkan apa yang di rasakan oleh Denisa, ia selalu menceritakan nya pada mbok Ratmi. Bukan karena ia tidak dekat dengan mama nya, namun dia sudah menganggap mbok ratmi sebagai nenek nya, lagi pula, bila ia curhat pada sang mama, maka akan mendapatkan ledekan dan juga waktu sang mama sangat sedikit, karena ia bekerja. Berbeda dengan mbok Ratmi yang memiliki banyak waktu untuknya.


“Hehehe jalan jalan Bi. Oh ya, gimana Mama? Papa di rumah gak?” tanya Nisa mengintip keadaan dalam rumah yang terlihat sepi.

__ADS_1


“Ada Non, Ibu sama Bapak ada di dalam. Ibu baru pulang kemarin dari rumah sakit.”


“Mama masuk rumah sakit lagi? Iks, di bilangin nya susah sih mama tuh! Orang tuh kalau udah sakit gampang capek, kenapa gak berhenti aja sih!” sungut Nisa dengan kesal hingga tanpa sadar tangan nya meremas kuat telapak tangan Bastian.


“Nisss!” geram Bastian memberikan tatapan pada Denisa, hingga membuat gadis itu baru tersadar dan segera melepaskan genggaman tangan nya.


“Ehh, ini siapa Non? Pacar non Denis yah? Calon suaminya?” Tanya mbok Ratmi melihat penampilan Bastian dan atas hingga bawah, “Ya Allah gusti, cakep Non, kaya itu, kaya dokter yang di tipi yang non Denis lihatin ke mbok waktu itu.” Imbuhnya masih menatap kagum pada Bastian.


“Dia juga dokter loh Mbok,” bisik Denis terkekeh di telinga mbok Ratmi.


“Walahh, bisa pas begitu Non, pantas saja non Denis nekat kabur dari rumah. Karena pacar nya lebih ganteng, begini.” Kata mbok ratmi begitu kagum pada Bastian, “Ayo den masuk, silahkan. Saya panggilkan bu Melda sama pak Doni dulu yah” imbuh nya lalu ia pamit pergi lebih dulu.

__ADS_1


“Cih ganteng, jangan gede kepala! Mata mbok Ratmi udah sedikit rabun, makanya gak bisa lihat dengan jelas!’ cetus Nisa sedikit mencibir namun Bastian malah tersenyum miring karena mengakui ketampanan nya.


__ADS_2